Etika di Toilet Umum

Seorang bapak-bapak setengah baya mengetuk pintu toilet. “Kenapa diketuk pak?” tanya saya. Dijawab “Biar ia (orang di dalam toilet) bergegas keluar.

Entar kalau dianggap orang tua tidak tahu sopan-santun (Anda) sakit hati?” tukas saya.

Di banyak posting blog kita sering menjumpai tulisan-tulisan mengenai etika online. Sampai begitu seriusnya  onliner-onliner  perwakilan dari berbagai komunitas di Indonesia pada tahun lalu berkumpul di Bogor untuk membahas dan kalau bisa membuat rumusan etika online. Saya tidak akan mengatakan kalau etika online itu paling penting dibahas lebih penting dari etika-etika lain dalam kehidupan sehari-hari.

Kejadian yang tidak menyenangkan terkait dengan etika bisa terjadi dimana saja, bahkan di toilet/di antrian toilet umum. Salah satu contohnya telah saya berikan pada paragraf awal tulisan ini yang mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita semua. Biasa-biasa saja ya bila kita melihat orang bermimik muka bak orang kebelet ngomel-ngomel di antrian toilet sampai saling serobot antrian. Berapa banyak sih orang yang sabar tahan mengantri pada antrian no. 17. 😀 Ada lagi saya pernah melihat orang keluar dari toilet umum dengan pakaian yang belum sempurna dikenakan. Hewduh.

Saya bukan menulis dalam kapasitas ingin mengajukan proposal etika ngantri/masuk/di toilet, tapi kalau saya boleh usul sebaiknya siapapun yang sedang menggunakan toilet umum agar ponselnya ditinggal di luar toilet atau dititipkan dulu pada petugas penjaga toilet. Bukan saya was-was dengan camera pada ponsel mereka. Saya tidak ingin orang itu malah sibuk keasyikan chating, facebook-an, twitter-an tanpa bersimpati pada penderitaan orang-orang kebelet yang sedang mengantri.

Dilarang membawa ponsel/gadget ke toilet sebaiknya diatur dalam etika online atau etika di toilet ya?

Saya tidak jarang merasa jengkel tidak nyaman dengan perilaku orang-orang mengantri di toilet umum, namun bukan berarti saya tidak pernah membuat jengkel orang lain. Pernah. Beberapa tahun lalu, dengan tekanan jiwa seorang yang kebelet setelah nonton film di Studio 21 Ambarukmo Plaza, saya buru-buru berlari ke toilet. Nah setelah hajat tertunaikan dan dengan perasaan lega saya melangkahkan kaki kanan keluar dari toilet, saya kaget diteriaki banyak sekali wanita dengan mimik muka muram. Ternyata saya tadi salah masuk menggunakan toilet wanita. Masa Alloh! 😀

Launching BlackBerry 9790 Berakhir Rusuh

Berikut ini saya repost email Mas Arif Setyawiyoga yang dikirim langsung dari tempat antrian Blackberry Bellagio 9790 di Pasific Place pada pagi ini.

 Ternyata antrian untuk mendapatkan BlackBerry 9790 dengan diskon 50% berakhir dengan RUSUH

Saya menyaksikan sendiri ada sedikitnya 4 orang wanita terinjak2 dan beberapa lainnya pingsan karena berdesak2an

Kerusuhan terjadi sekitar jam 6 pagi ketika barisan terdepan adalah perkiraan barisan yang sudah mendekati limit 1000 orang yang berhak mendapatkan diskon 50%. Selanjutnya panitia menyampaikan bahwa barisan belakang lebih baik membubarkan diri karena tidak akan mendapatkan BlackBerry dengan diskon 50%.

Dari sinilah kerusuhan terjadi.. Baca lebih lanjut

Tidak Percaya Dengan Petugas Pengisian SPBU

Siapa tidak jengkel berlama – lama mengular antri untuk mengisi bensin di SPBU yang mana di musim mudik lebaran ini seolah olah semua motor dan mobil berebut minuman energi bau fosil. Entah itu diguyur hujan entah itu di tengah terik, mau tidak mau ya harus antri. Agar kuda – kuda besi mereka dapat dihela mengantar ke tujuan.

Tidak salah bila semua orang ingin dapat pelayanan cepat. Kalau perlu berebut. Untung ada mekanisme antri. Saya kira kebanyakan orang Indonesia tidak mau antri, kecuali bila terpaksa, termasuk saya tentu saja.

Uniknya ketika di POM bensin pak sopir tidak hanya harus ikhlas ngantri, tetapi juga harus turun dari dashboard kemudi. Apa yang dilakukan seorang pak sopir itu adalah untuk memperhatikan indikator volume pengisian bahan bakar dan jumlah biaya yang harus dibayarkan. Memang, bukan rahasia lagi bila di banyak SPBU banyak petugas – petugas pengisian yang nakal yang mencari THR secara diam – diam secara tidak legal. Tidak tahu apakah cara seperti ini dilakukan karena juragan SPBU tidak mengganti labor hour secara layak, Tunjangan Hari Raya yang tidak comply dengan kebutuhan berlebaran minimum propinsi atau memang itu sudah gawan bayi/ sifat warisan nenek moyang bawaan sejak mereka dilahirkan ke muka bumi yang konon subur tongkat kayu dan batu jadi tanaman itu.

Imaginasi liar saya hanya bisa berandai, bila ke insyaf an terjadi secara masal berjamaah terhadap semua petugas SPBU, dengan asumsi waktu untuk pak sopir turun dari mobil memeriksa indikator pengisian adalah 2 menit maka pengantri ke 30 di suatu pom bensin akan menikmati discount waktu seharga 60 menit.

Kapan mimpi saya itu menjadi kenyataan? Silakan tanya pada gurita Paul yang telah sukses meramal kemenangan pertandingan di Word Cup Africa