Buka Puasa Bareng Jogja Scrummy

19228002_448330955533857_6104705474735636480_nSelama Ramadhan kali ini saya lebih banyak menghabiskan berbuka bersama keluarga puasa di rumah. Bukan karena tidak banyak ajakan Buber. Saya memang memilih-milih di antara undangan dan ajakan buber itu mana saja yang worth it diikuti. Karena untuk setiap buka puasa di luar rumah saya harus membarternya dengan quality time di rumah.

Salah satu buka bareng yang susah saya tolak adalah yang datang dari Jogja Scrummy. Kenapa susah ditolak? Karena Buber ini diselenggarakan di De Kendhil Resto Jalan Kaliurang yang terkenal menyajikan makanan yang lezat-lezat. Ke De Kendhil Resto saya rela menempuh perjalanan jauh Gunungkidul – Jakal. Alasan lainnya tentu karena yang diundang dalam Buber kali ini adalah teman-teman saya para nara blog Jogja yang hit itu.

Sedangkan alasan penting bangetnya adalah Jogja Scrummy itu sendiri. Jogja Scrummy bagi saya adalah sebuah penasaran tersendiri. Sedikit yang saya tahu ia adalah gerai oleh-oleh yang baru di Jogja, yang dimiliki oleh Dude Herlino, yang belum lama membuka bisnis saja bisa membuka beberapa gerai baru lagi.

Ya, bagaimana saya bisa tahu lebih, toh ke gerai dan mencicipi Scrummy di sana juga belum pernah. Maka di event Buber ini saya membawa harap untuk bisa mencicipi scrummy andalan mereka sekaligus tahu lebih banyak apa sih Jogja Scrummy itu.

Baca lebih lanjut

Iklan

Kuliner Malam Paliyan: Bakmi Jawa Pak Kamto

Bakmi Jawa "Pak Kamto" Depan Pasar Trowono Paliyan Gunungkidul Yogyakarta

Bakmi Jawa “Pak Kamto” Depan Pasar Trowono Paliyan Gunungkidul Yogyakarta

Habis menikmati indahnya matahari tenggelam di Pantai Laut Bekah di Panggang – Gunungkidul, kami ingin menuntaskan perjalanan dengan menikmati kuliner malam di sekitar Pasar Trowono.

Meski di sepanjang jalan kami pulang ada banyak pilihan kuliner, namun apa yang langsung ke pikiran adalah Bakmi Jawa di sebelah barat Pasar Trowono. Saya mendadak ingat dengan nenek penjual bakmi yang pernah saya kunjungi beberapa tahun yang lalu.

Saya pun  langsung mengajak adik saya, Sumar dan Mas Teguh ke sana. Sayangnya sesampai di sana, rupanya penjual bakmi yang rasa dan porsinya tak terlupakan itu belum siap. Sudah nampak buka namun belum bisa melayani pembeli.

Daripada lama menunggu, tadi malam kami memilih untuk mencari kuliner yang lain. Sempat bingung antara sate dan tongseng dengan bakmi yang lain, akhirnya pilihannya jatuh ke Bakmi Jawa “Pak Kamto”. Baca lebih lanjut

Puas Kecewa 3 Kali Bukber di Taman Kuliner Wonosari

Taman Kuliner yang baru dibuka oleh Pemda Gunungkidul hanya beberapa hari sebelum bulan puasa baru-baru ini sukses menjadi tempat pilihan orang-orang untuk menikmati Buka Bersama.

Live Music di Taman Kuliner Wonosari

Live Music di Taman Kuliner Wonosari

Sepanjang yang saya lihat, tiap jam 5 sore di sepanjang jalan baru penuh oleh sepeda motor yang telah rapi parkir berjajar. Pengunjung pun mulai tumpah ruah di area Tamkul. Tenda-tenda dan gazebo diisi oleh pengunjung yang sudah duduk menunggu waktu berbuka. Bahkan di halaman digelari tikar untuk digunakan pengunjung.

Saya sendiri selama Ramadan ini sudah 3 kali bukber di Taman Kuliner Wonosari. Kali ini saya akan menuliskan pengalaman saya bukber di Tamkul baru di Gunungkidul ini.

1. Taman Kuliner Wonosari : Sate Kambing Mbah Darmo

Sabtu sore, 11 Juni 2016 saya bukber untuk pertama kali di Tamkul. Saya mengajak adik saya, Krismawati. Tiba di Tamkul sebelum jam 5 membuat kami leluasa untuk jalan-jalan meliha-lihat dan memilih tempat duduk.

Pilihan saya jatuh ke Sate Kambung Mbah Darmo. Memilih tempatnya pun di tenda depan lapak sate ini.

Sebelum waktu berbuka pesanan kami berupa 2 porsi sate sudah tersaji di atas tikar kami. Sate Kambingnya disajikan apik dan nampak menggoda selera. Tampilan sate yang cukup fotogenik sehingga pantas dipamerkan di IG dan di sini:

sate-kambing-mbah-darmo-taman-kuliner-wonosari

Tidak hanya bagus ditampilan, sate kambing Mbah Darmo saya akui cukup enak. Hanya sedikit alot.  Baca lebih lanjut

Sate Kambing

Bagi saya puasa bukan halangan untuk menikmati Sate Kambing. Maklum saya adalah penggemar, penyuka dan penikmat Sate Kambing kelas berat.

Bila pada bulan selain ramadan saya biasa menikmati Sate pada siang dan malam hari, khusus pada bulan puasa ini saya tidak mungkin menikmatinya pada siang hari. Saya adalah muslim yang taat. Sengiler ngilernya lidah saya kepingin makan sate harus ditunda sampai malam hari.

Puji syukur alhamdulillah, selama dua per tiga Ramadhan ini saya senantiasa kuat menahan diri dari godaan sate kambing pada siang hari. Dan berikut ini adalah 3 Sate Kambing yang berbeda yang saya nikmati selama Ramadan tahun ini.

Sate Kambing “Mbah Darmo” di Taman Kuliner Wonosari

Ini terjadi pada awal-awal Ramadan. Saat itu sebenarnya saya belum terlalu ngebet ingin makan Sate Kambing. Hanya untuk pertama kalinya saya ingin menikmati ngabuburit di Taman Kuliner Wonosari yang baru dibuka, saat itu saya dan Krismawati bingung, ada terlalu banyak jenis kuliner di sana. Haaa, untuk mudahnya saya dan Krismawati memilih Sate Kambing. Kebetulan kami memang sama-sama penyuka Sate.

Sate Kambing "Mbah Darmo" Taman Kuliner Wonosari

Sate Kambing “Mbah Darmo” Taman Kuliner Wonosari

Dibanding Sate Kambing Sate Kambing yang ada di Gunungkidul, Sate Kambing “Mbah Darmo” ini tidak begitu istimewa. Rasanya standar. Bahkan daging kambingnya cukup alot. Meski rasanya sendiri tidak mengecewakan lidah saya. Baca lebih lanjut

Unik, Nasi Goreng Kecombrang Kedai Nyah Tanli

Apa yang menjadi daya tarik suatu destinasi kuliner, selain cita rasa, bagi saya adalah keunikannya. Buat apa saya jauh-jauh turun menuruni lantai dua Yogyakarta ke Kasongan – Bantul bila hanya dijanjikan dengan makanan enak. Di Gunungkidul toh makanan enak ada banyak sekali.

Dari namanya, kedai yang saya tuju untuk berbuka puasa di Kasongan ini sudah unik. Namanya Kedai Nyah Tanli. Meski bila tahu apa arti Nyah Tanli bisa jadi malah antara mengernyitkan dahi sampai tersenyum-senyum seorangan. Sabar. Apa itu Nyah Tanli akan saya kasih tahu nanti belakangan.

Di Kedai yang dimiliki dan dikelola oleh Bapak Timboel beserta istri ini menawarkan semua jenis makanan ala desa yang njawani. Sebut saja ada bakmi jawa, nasi goreng, sambal, tahu dan tempe goreng, teh, kopi dan sejenisnya.

Tempe Goreng Kedai Nyah Tanli

Tempe Goreng Kedai Nyah Tanli

Apa yang membuat perbedaan adalah kecombrang. Bila tidak tahu kecombrang coba googling kata “kecombrang”. Baca lebih lanjut

Mengenal Hokben Restoran Halal Bersama Ibu Osmena Gunawan

Paket Hokben

Paket Hokben

Hokben sebenarnya bukan nama restoran yang asing di telinga saya. Saya pun dengan mudah melihat Restoran Hokben di kota-kota besar seperti Yogyakarta dan Jakarta. TV Commercial Hokben pun sesekali muncul di layar kaca. Namun begitu sejujurnya saya baru 2 kali mencicipi makan Hokben. Baca lebih lanjut

Taman Kuliner Wonosari, Tamkul Baru di Gunungkidul

Taman Kuliner Wonosari Malam Hari

Taman Kuliner Wonosari Malam Hari

Janjian dengan teman-teman Komunitas Wonosari.com untuk ngobrol bareng dan wedangan di Taman Kuliner Wonosari, semalam saya berangkat dari rumah sebelum jam delapan. Agar tidak terlambat untuk ngobrol yang sedianya akan membahas agenda Ramadhan dan Syawalan.

Sampai di depan Tamkul Wonosari yang baru diresmikan 1 Juni 2016 oleh Bupati itu saya bingung mau parkir dimana. Area parkir di Taman Kuliner penuh sesak. Pengunjung Tamkul tumpah ruah, berjejalan. Saya akhirnya memarkir motor di depan Taman BNI, di seberang Tamkul. Baca lebih lanjut