Menikmati Kuliner Gunungkidul di Festival 1001 Sompil

Festival 1001 Sompil di Patuk Gunungkidul

Festival 1001 Sompil di Patuk Gunungkidul

Sompil dalam benak saya adalah binatang semacam kerang yang banyak ditemui di persawahan di Gunungkidul. Festival kuliner 1001 Sompil dalam bayangan saya adalah pesta beraneka macam jenis kuliner dari olahan berbahan dasar kerang.

Ternyata saya salah. Di Festival 1001 Sompil yang berlangsung pada siang hari tadi ( Minggu, 24 April 2016 ) di Dusun Ngasem Ayu, Desa Salam, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul saya sama sekali tidak mendapatkan jenis makanan yang terbuat dari kerang Sompil.

Sompil adalah makanan yang terbuat dari bahan baku beras, dibungkus dengan daun pisang, kemudian direbus. Kira-kira mirip dengan Lontong atau Ketupat. Disebut Sompil karena pembungkus daun pisang itu dibuat berbentuk kerucut. Bentuknya mirip dengan kerang Sompil yang banyak ditemukan di sawah. Nama makanan ini konon memang terinspirasi dari jenis kerang sawah yang bernama Sompil.

Dalam penyajiannya, Sompil secara tradisional disandingkan dengan jangan lombok. Jangan lombok adalah sayur bersantan, pedas, dan berbahan tahu, tempe, cabe dan rempah-rempah lainnya. Tempe dan Tahu bacem adalah pelengkap dalam menikmati Sompil tradisional. Baca lebih lanjut

Sate Kambing Ledoksari, Kenyal dan Gurih

Salah sendiri bila selama ini sebagai penikmat sate saya terlalu fanatik dengan Sate Kambing Pak Turut. Saya akui dengan sesubyektif yang saya bisa, sate kambing Pak Turut memang enak. Rasanya gurih di atas pengecapan saya, daging kambingnya empuk dan sate-sate tersebut dibakar dengan tingkat kematangan yang menurut saya pas. Lebih dari itu, Pak Turut di semua cabangnya menyediakan Ruang Makan yang luas dan nampak bersih.

IMG_8457

Sate Kambing Ledoksari

Sampai beberapa waktu yang lalu ketika saya mengantre service motor di Yamaha Sumber Baru Motor Wonosari. Merasa antrean saya masih terlalu lama, saya merasa akan sia-sia bila hanya duduk di ruang tunggu. Saat itu sebenarnya belum memasuki jam makan siang ketika saya akan mencoba mencicipi Sate Kambing yang terletak tidak jauh dari service center Yamaha SBM Wonosari. Tepatnya persis di depan SMK N 2 Wonosari.

Kepada pelayan saya segera memesan seporsi Sate Kambing. Saya secara khusus memesan Sate Kambing yang tidak terlalu pedas.

Meski belum jam makan siang, rupanya di Sate Kambing Ledoksari pun saya juga harus mengantre. Antrean di depan saya pun tidak sedikit. Saya harus menunggu pesanan saya beberapa lama di sini.

Bedanya, apa yang tidak membuat saya tidak begitu bosan menunggu pesanan sate di sini adalah interior ruang tempat makan yang nampak klasik. Sate Kambing Ledoksari menggunakan sebuah Rumah Limasan (rumah adat Jawa) yang nampak gagah dengan kaso-kaso kayu yang nampak kokoh. Di ruang makan ini meja-meja dan kursi-kursi kayu di tata dengan rapi dan bagi saya nampak artistik. Kebersihan pun nampak dijaga baik di sini. Ini seolah berusaha menegaskan kepada saya bahwa makanan di sini pun dioleh secara higienis.  Baca lebih lanjut

Menikmati Alam di Puncak Gunung Ireng – Gunungkidul

image

Menikmati lanskap dan wisata alam di Kabupaten Gunungkidul rasanya tidak akan ada habisnya. Bahkan bagi saya yang bertumpah darahkan Bhumikarta Dhaksinarga pun tetap tidak pernah bosan menikmatinya.

Mendung menggelayut dan hujan yang terus berjatuhan pada Selasa sore pekan lalu tidak menyurutkan nekad saya untuk menikmati sunset di Gunung Ireng yang terletak di desa Pengkok, kecamatan Patuk, kabupaten Gunungkidul.

Menurut Google Map, sebenarnya letak Gunung Ireng tidak begitu jauh dari rumah saya. Kira-kira 16 km saja. Rute menuju Gunung Ireng yang saya tempuh adalah: Paliyan => Playen => Gading => Sambi Pitu => Beji => Jelok kemudian mengikuti petunjuk arah ke Gunung Ireng. Kalau Rute menuju Gunung Ireng dari arah Jogja sebenarnya juga mudah. Tinggal ikuti jalan Jogja Wonosari. Sesampainya di kantor kecamatan Patuk tinggal cari jalan aspal menuju Desa Pengkok dan Gunung Ireng.

Sepanjang jalan yang saya lalui sudah beraspal mulus. Hanya ruas jalan ada yang rusak sepanjang kira-kira 500 m. Dari jalan aspal yang bertuliskan gerbang selamat datang ke Gunung Ireng menuju area parkir juga merupakan jalan yang dicor.

Hujan makin deras ketika hampir Maghrib itu saya memarkir motor. Tidak apa-apa. Ada jas hujan yang sebelumnya saya persiapkan dan tinggal dipakai saja. Petang itu bakalan tidak akan ada sunset. Pun begitu hujan sore itu di Gunung Ireng tidak boleh disia-siakan. Apalagi sore itu tidak ada banyak pengunjung. Gunung Ireng yang jauh dari kegaduhan mungkin kelak akan menjadi sesuatu yang langka.

Saya berjalan kaki melalui setapak di antara bebatuan cadas. Sambil berjalan saya selalu merapikan jas hujan agar air tidak sampai membasahi tubuh. Sesuai namanya di puncak itu saya mendapati batu-batu cadas berwarna hitam, Gunung Ireng. Pemandangan yang kontras saya dapati ketika melemparkan pandang ke sisi selatan. Di sana ada hamparan sawah dengan padi menghijau.
Baca lebih lanjut

Sop Buntut, Makan Murah di Stasiun Tugu

sop buntut

Murah itu relatif. Bagi saya yang mutlak adalah yang mahal-mahal. Apalagi untuk urusan perut saya yang siap menampung apa saja dan lidah dengan indra pengecapan yang seolah punya pengaturan batas ambang rasa enak yang bisa disesuaikan kapan saja sesuai kebutuhan. Sederhanya dengan “pengaturan” itu saya merasa tidak harus mengeluarkan uang lebih dan repot untuk urusan makan.

Seperti ketika suatu kali saya menunggu keberangkatan kereta api Gajayana menuju Jakarta di Stasiun Tugu – Yogyakarta. Demi alasan kepraktisan, saya memilih makan malam di dalam lingkungan stasiun. Makan di luar stasiun kadang bisa membawa kerepotan tersendiri bila waktu keberangkatan kereta tidak cukup senggang. Saat itu kereta berangkat pukul 20:30 WIB. Sehabis Isya tentu saya tidak punya banyak pilihan bila memilih makan keluar. Pilihan saya adalah Resto di sebelah selatan deretan kursi tunggu utara. Maaf lupa nama restonya 😀

Saya memilih resto itu alasannya sederhana saja. Saya melihat di daftar menu yang ditempel terdapat kata “Sop Buntut”. Pikir saya, ini lumayan untuk makan malam. Toh nanti kalau lapar lagi bisa memesan makanan di kereta Gajayana.

Sekitar pukul delapan malam, Resto itu sepi. Seingat saya, kami berdua satu-satunya yang duduk di kursi dan memesan makan malam. Kami memesan Sop Buntut dan Teh Panas. Kedua jenis pesanan kami, Sop Buntut dan Teh Panas datang bersamaan. Padahal kami ingin Teh Panas datang lebih dulu. AC di ruang makan itu terlalu dingin bila pesanan sop tidak kunjung datang. Baca lebih lanjut

Sate Klathak “Pak Bari” Pasar Jejeran, Enak, Saya Habis 3 Porsi

Sate Klathak "Pak Bari" Pasar Jejeran

Sate Klathak “Pak Bari” Pasar Jejeran

Saya berbuka puasa dengan sebotol Pocari Sweat, kemudian shalat Maghrib berjamaah di Mushala di Jogja Digital Valley. Sore itu saya masih berpuasa Syawal ketika melanjutkan ngobrol-ngobrol tentang Hackathon at Istana dengan kawan-kawan developer. Tidak langsung makan, selesai Maghrib saya menghubungi kawan saya yang lain, Ifan dan kawan-kawan untuk makan sate. Saya langsung menuju ke sekitar Jalan Imogiri Timur Km 7.5. Daerah Jejeran yang tersohor dengan Sate Klathaknya.

Ini sekaligus untuk menuntaskan hasrat saya mencicipi Sate Klathak yang lama terpendam. Ifan menolak ketika melalui Whatsapp saya tawari Sate Klathak “Pak Pong”. Padahal “Pak Pong” dibenak saya adalah bayangan surga pengecapan. Menurut Ifan, ada Sate Klathak yang lebih enak sekaligus tempatnya nyaman untuk ngobrol. Tempatnya di Pasar Jejeran.

Beberapa saat menunggu di perempatan Jejeran, Ifan akhirnya datang dan membawa saya ke Sate Klathak “Pak Bari” yang berjualan di kompleks Pasar Jejeran. Sekitar jam setengah delapan malam, nampak beberapa orang telah menikmati sajian berbahan kambing. Mereka ada yang makan di meja, ada pula yang lesehan di tikar. Saya mengajak Ifan untuk memilih lesehan. Makan secara lesehan di atas gelaran tikar akan lebih nikmat.

Baca lebih lanjut

Foe Yung Hai Jamur dan Sate Jamur di RM Jejamuran Yogyakarta

sate jamur

Menu panganan khas berbahan jamur di RM Jejamuran di Yogyakarta sebenarnya sudah lama saya dengar. Karena Rumah Makan itu memang sangat terkenal. Pangan berbahan jamur juga bukanlah sesuatu yang baru apalagi aneh bagi saya. Saya sudah mengenal makan jamur sedari kecil.

Kali ini saya baru pertama kali mencicipi menu jamur di RM Jejamuran karena alasan jarak saja. RM Jejamuran terletak di ujung utara jogja, tepatnya di: Jl. Magelang KM. 11 RT. 01 RW. 20, Desa Niron, Pandowoharjo, Tridadi, Kec. Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sedangkan saya tinggal di Gunungkidul. Suatu jarak hampir 60 km atau satu setengah jam perjalanan bila lalu lintas cukup lancar.

Siang itu (Sabtu, 25 Juli 2015), saya merasa beruntung berkesempatan ngobrol dan makan siang dengan Mas Ainun Najib (tangan dan otak di balik situs http://kawalpemilu.org yang fenomenal pasca Pilpres 2014 lalu) dan tempat makannya pun tidak kalah menarik: RM Jejamuran dengan menu khas berbahan jamur. Terang saja, saya berangkat ke sana dengan penuh semangat.

Namanya juga undangan makan siang. Acara utamanyatentu makan-makan. Selingannya adalah ngobrol-ngobrol santai tentang software development, IT for public service yang mengerucut kepada Hackathon@Istana yang akan diselenggarakan di Setneg pada tanggal 22-23 Agustus 2015 yang akan datang. Kami pun mulai ngobrol sambil membuka-buka daftar menu di RM Jejamuran.

ngobrol di jejamuran

Seperti biasa ketika dihadapkan dengan daftar menu saya selalu bingung. Bingung karena pilihannya terlalu banyak. Tetapi kebingungan ini tidak perlu membuat saya berkecil hati. Rupanya hampir satu teman di meja makan yang panjang ini mengalami hal serupa. Hanya satu teman kami yang cukup familier menangani buku menu di sini.

Atas rekomendasinya saya pun memilih Foe Young Hai. Kemudian pesanan saya yang lain adalah Carica Squash dan Air Mineral. Yang terakhir ini tentu bukan menu khas di sini, hanya saya merasa perlu sesuatu untuk menyegarkan diri di siang hari yang panas. Baca lebih lanjut

Kuliner Malam: Mie Des Khas Pundong

Berawal dari chit chat di WhatsApp dengan beberapa kawan lama, Senin malam yang lalu saya meluncur ke Jimatan, Imogiri, Bantul yang dari rumah saya berjarak 40 menit perjalanan dengan sepeda motor. Bukan untuk ziarah ke makan raja-raja Mataram yang ada di sana. Kami janjian untuk wedangan, menikmati Wedhang Uwuh yang merupakan minuman khas daerah Imogiri, tepatnya di sekitar makam raja-raja Imogiri.

IMG_3788

Bagi yang belum tahu apa Wedhang Uwuh adalah sejenis minuman hangat yang berperasa yang berbahan jahe, serutan kayu secang, pala, biji cengkih, batang cengkih, daun kayu manis dan pemanisnya adalah gula batu/gula kristal. Dari bahan perasa yang digunakan saja sudah bisa diduga jenis minuman ini akan memberikan efek hangat bagi tubuh. Cocok dinikmati pada malam awal musim kemarau apalagi bagi saya yang baru saja menembus gelap malam melewati bukit dan hutan perbatasan Gunungkidul – Bantul.

Satu jam ngobrol mengeringkan gelas wedhang uwuh belum cukup bagi tiga laki-laki. Tujuan kuliner berikutnya masih di kabupaten Bantul, sedikit ke selatan dari Imogiri, yaitu ke Pundong. Tidak jauh dari rumah kawan kami yang lain di Pundong terdapat kuliner malam, yaitu Mie Des. Saya baru pertama kali akan mencicipi makanan ini. Baca lebih lanjut

Mencicipi Nasi Liwet Jambal Roti

Buku Menu di The KiosK Dago

Buku Menu di The KiosK Dago

Saya selalu bingung ketika dihadapkan dengan daftar menu di rumah makan seperti ini. Memilih beberapa dari banyak sekali jenis masakan yang fotonya bagus-bagus semua jelas susah. Memesan semua yang ada di daftar menu jelas bukan pilihan. Nanti repot di akhir dengan apa membayarnya. Untungnya, malam itu di The KiosK Food Market Dago ada teman lama saya, Ermaya, yang merekomendasi beberapa yang harus saya coba.

Kami pun kemudian menulis: Cireng Cipaganti, Tahu Gejrot, Nasi Liwet Jambal Roti,Jus Jeruk, Teh Lemon dan air mineral. Dua yang terakhir saya pesan karena biasanya saya sulit makan tanpa cukup minum. …

Cireng Cipaganti

Cireng Cipaganti

Tahu Gejrot Sukabumi

Tahu Gejrot Sukabumi

Nasi Liwet Jambal Roti

Nasi Liwet Jambal Roti

Baca lebih lanjut

Sarapan: Soto Ayam Pak Gareng

Fyuh! Hari ini saya cape sekali. Jadinya saya mau posting yang ringan-ringan saja. Memang kapan pernah posting serius? hehe Begini, tadi pagi habis shalat Subuh saya buru-buru mandi agar tidak tertinggal bus pertama dari Paliyan yang menuju Yogya. Bus itu biasanya berangkat jam 05:30 wib. Sarapan mana sempat. Lebih baik saya sarapan di pinggir jalan daripada terlambat menghadiri undangan ngomong-ngomong launching Tap Izy dan ticketing kereta api Pramex di stasiun tugu yang sedianya dimulai jam 08:00 wib.

Benar saja, naik bus jam 05:40 wib. Kira-kira jam tujuh -an saya sudah sampai stasiun Tugu Yogyakarta. Satu jam lebih dari cukup untuk sarapan. Saya langsung teringat dengan Soto Pak Gareng yang buka lapak di Jalan Pangeran Mangkubumi dan berjalan menuju TKP. Hanya beberapa ratus meter sebelah utara stasiun. Terakhir kali ke soto ini kira-kira dua bulan yang lalu bareng Annosmile. Soto Pak Gareng enak.

Saya tidak bisa lebih lanjut menuliskan enaknya gimana, baca di sini saja ya. 😀 Menurut saya yang lebih membuat Soto Pak Gareng cocok untuk sarapan adalah suasana dan pemandangan aseli jogja di sepanjang jalan Pangeran Mangkubumi yang mudah dilihat. Becak, orang bersepeda, orang berjalan kaki, bangunan-bangunan peninggalan jaman Belanda dan lain-lain.

Lagi pula harga Soto Pak Gareng dan ‘asesoris’-nya cukup murah dan transparan. Daftar harga bisa dilihat pada tempelan banner yang besar. Murah? Murahnya seperti apa? Coba pikir, harga soto ayam campur: Rp 5.000,- Sate Ayam Ati: Rp 1.500,- Sate Telor Puyuh: … (lupa) Teh Panas: Rp 1.500,-

Soto Ayam Pak Gareng

Soto Ayam Pak Gareng

Sate Telur Puyuh Pak Gareng

Sate Telur Puyuh Pak Gareng

Sate Ayam Pak Gareng

Sate Ayam Pak Gareng

Kalau Anda berkunjung ke Jogja menggunakan Kereta Api dan sampai stasiun Tugu pada jam pagi, Soto Pak Gareng layak Anda coba. Bener! Satu-satunya kekurangan dari Soto Ayam Pak Gareng menurut saya adalah pengamen yang silih berganti menghampiri orang-orang yang sedang makan.

Oh, Iya! Acara launching Telkomsel Tap izy nya secara umum bagus. Namun karena saya sekarang sudah ngantuk, daripada saya malah menuliskanya secara mbulet, lebih baik saya tuliskan lagi pada posting berikutnya bila mata saya sudah tidak kriyip-kriyip. 🙂

Bakso Markatam : Ikon Lebaran di Kampung

t KuBagi yang besar di kampung dimana saya dibesarkan dan bertempat tinggal sampai saat ini, terutama mereka – mereka yang seusia sebaya dengan saya, pasti tidak akan asing lagi dengan Bakso Pak Markatam. Bakso Pak Markatam sudah tersohor di seantero kampung kira – kira sejak tahun 90 an, saat itu saya masih SD /SMP.

Pada masa beheula itu, bakso merupakan makanan favorite di seantero kampung yang bernilai gengsi tinggi. Kalau jaman sekarang saya kira tidak akan kalah moncer dengan produk warung kapilatis seperti KFC, Mac D, HokBen, dll

Sampai saat ini, meski harus berkelahi habis – habisan dengan moderisme, aroma sedap dan rasa gurih bakso Markatam masih mempunyai tempat tersendiri di lidah para penggemar, utamanya penduduk dusun Gerjo, Karangmojo B dan sekitarnya.

Bila anda sedang mudik dan belum sempat halal bihalal dan bernostalgila dengan cita rasa bakso Markatam dipersilakan. Mumpung belum habis.

Sebenarnya ada satu lagi legenda bakso di kampung sini, yaitu Bakso Bapak Saekat. Sayang saya belum sempat mencicipi. 🙂