Taman Kuliner Wonosari, Tamkul Baru di Gunungkidul

Taman Kuliner Wonosari Malam Hari

Taman Kuliner Wonosari Malam Hari

Janjian dengan teman-teman Komunitas Wonosari.com untuk ngobrol bareng dan wedangan di Taman Kuliner Wonosari, semalam saya berangkat dari rumah sebelum jam delapan. Agar tidak terlambat untuk ngobrol yang sedianya akan membahas agenda Ramadhan dan Syawalan.

Sampai di depan Tamkul Wonosari yang baru diresmikan 1 Juni 2016 oleh Bupati itu saya bingung mau parkir dimana. Area parkir di Taman Kuliner penuh sesak. Pengunjung Tamkul tumpah ruah, berjejalan. Saya akhirnya memarkir motor di depan Taman BNI, di seberang Tamkul. Baca lebih lanjut

Mencicipi Chicken Shish Kebab di Mediterranea Resto by Kamil

Chicken Shish Kebab di Mediterranea Resto by Kamil Tirtodipuran Jogja

Chicken Shish Kebab with Mediterranean Salad  di Mediterranea Resto by Kamil Tirtodipuran Jogja

Bisa dibilang saya jarang mencicipi jenis-jenis makanan ala Eropa seperti ini. Lidah saya sudah terlanjur mesra dengan kuliner nusantara. Tetapi apalah artinya hidup tanpa mencoba-coba hal baru.

Kali ini untuk pertama kalinya saya mencicipi Kebab. Chicken Shish Kebab ala Mediterranea Resto by Kamil. Shish Kebab ala Mediterania ini cukup unik. Daging-daging ayam tidak dilepas dari tusukan yang digunakan untuk memanggang. Disajikan dengan semacam irisan tomat, saus, salad dan nasi.

Saya tidak tahu persis apa nama-nama (istilah) yang digunakan untuk menamai masing-masing bagian dari menu yang tersaji. Mungkin foto saya di atas lebih mudah dipahami dengan singkat daripada saya ribut menuliskannya.

Apa yang pertama kali saya coba cicipi dari Shish Kebab ini tentu adalah daging ayamnya. Tidak sulit memisahkan daging dari tusukan dengan pisau makan dan garpu. Untuk kemudian perlahan-lahan saya kecap. Saya tidak langsung menggigitnya sebagaimana saya biasanya memakan sate. Dengan cara ini daging Kebab terasa cukup empuk.  Baca lebih lanjut

3 Makanan Nyeleneh di Bale Raos Fusion Jogja City Mall

Apa yang menurut saya nyeleneh, aneh, unik, belum tentu nyeleneh bagi orang lain. Apalagi mengenai makanan. Karena satu dan lain hal saya termasuk konservatif untuk urusan makan. Jadi preferensi makanan saya bisa dibilang terbatas, pas-pasan.

Makanan “makanan yang aneh” ini saya cicipi di Bale Raos Fusion. Sebuah Resto yang terletak di ground floor Jogja City Mall. Saat itu, Minggu siang itu, saya makan siang di sana karena sedang ada gathering Smartfren Community.

Bistik Lidah Sapi

Dari namanya saja sudah terdengar aneh bagi saya. Bistik lidah sapi berarti suatu bistik yang bahan utamanya adalah daging bagian lidah dari sapi. Bistik ini berupa irisan-irisan daging yang tipis. Berwarna cokelat tua. Dari cara mengirisnya tidak nampak bila itu daging bagian lidah sapi. Saya tidak akan tahu kalau itu Bistik Lidah Sapi bila saya tidak membaca tulisan menu yang tertara di sana.

Untuk melauki sepiring nasi yang saya ambil, saya mengambil beberapa potong daging Bistik Lidah Sapi ini. Kalau tidak salah 3 potong.

Saya pun langsung menuju meja makan. Bistik Lidah Sapi ini adalah yang pertama saya cicipi. Karena namanya yang nyeleneh. Rupanya bukan namanya saja yang nyeleneh. Rasanya bagi saya lebih nyeleneh lagi. Rasa manisnya sangat dominan dan entah ada rasa apa lagi yang sudah saya gambarkan.

Bale Raos Fusion, Jogja City Mall

Jeanot Makan di Bale Raos Fusion Jogja City Mall

Mendapai Bistik Lidah Sapi yang rupanya tidak cocok dengan lidah saya, saya pun bertanya pada Jeanot, teman semeja saya, apakah Bistik Lidah Sapi ini enak. Jeanot menggelengkan kepala.  Baca lebih lanjut

Menikmati Kuliner Gunungkidul di Festival 1001 Sompil

Festival 1001 Sompil di Patuk Gunungkidul

Festival 1001 Sompil di Patuk Gunungkidul

Sompil dalam benak saya adalah binatang semacam kerang yang banyak ditemui di persawahan di Gunungkidul. Festival kuliner 1001 Sompil dalam bayangan saya adalah pesta beraneka macam jenis kuliner dari olahan berbahan dasar kerang.

Ternyata saya salah. Di Festival 1001 Sompil yang berlangsung pada siang hari tadi ( Minggu, 24 April 2016 ) di Dusun Ngasem Ayu, Desa Salam, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul saya sama sekali tidak mendapatkan jenis makanan yang terbuat dari kerang Sompil.

Sompil adalah makanan yang terbuat dari bahan baku beras, dibungkus dengan daun pisang, kemudian direbus. Kira-kira mirip dengan Lontong atau Ketupat. Disebut Sompil karena pembungkus daun pisang itu dibuat berbentuk kerucut. Bentuknya mirip dengan kerang Sompil yang banyak ditemukan di sawah. Nama makanan ini konon memang terinspirasi dari jenis kerang sawah yang bernama Sompil.

Dalam penyajiannya, Sompil secara tradisional disandingkan dengan jangan lombok. Jangan lombok adalah sayur bersantan, pedas, dan berbahan tahu, tempe, cabe dan rempah-rempah lainnya. Tempe dan Tahu bacem adalah pelengkap dalam menikmati Sompil tradisional. Baca lebih lanjut

Sate Kambing Ledoksari, Kenyal dan Gurih

Salah sendiri bila selama ini sebagai penikmat sate saya terlalu fanatik dengan Sate Kambing Pak Turut. Saya akui dengan sesubyektif yang saya bisa, sate kambing Pak Turut memang enak. Rasanya gurih di atas pengecapan saya, daging kambingnya empuk dan sate-sate tersebut dibakar dengan tingkat kematangan yang menurut saya pas. Lebih dari itu, Pak Turut di semua cabangnya menyediakan Ruang Makan yang luas dan nampak bersih.

IMG_8457

Sate Kambing Ledoksari

Sampai beberapa waktu yang lalu ketika saya mengantre service motor di Yamaha Sumber Baru Motor Wonosari. Merasa antrean saya masih terlalu lama, saya merasa akan sia-sia bila hanya duduk di ruang tunggu. Saat itu sebenarnya belum memasuki jam makan siang ketika saya akan mencoba mencicipi Sate Kambing yang terletak tidak jauh dari service center Yamaha SBM Wonosari. Tepatnya persis di depan SMK N 2 Wonosari.

Kepada pelayan saya segera memesan seporsi Sate Kambing. Saya secara khusus memesan Sate Kambing yang tidak terlalu pedas.

Meski belum jam makan siang, rupanya di Sate Kambing Ledoksari pun saya juga harus mengantre. Antrean di depan saya pun tidak sedikit. Saya harus menunggu pesanan saya beberapa lama di sini.

Bedanya, apa yang tidak membuat saya tidak begitu bosan menunggu pesanan sate di sini adalah interior ruang tempat makan yang nampak klasik. Sate Kambing Ledoksari menggunakan sebuah Rumah Limasan (rumah adat Jawa) yang nampak gagah dengan kaso-kaso kayu yang nampak kokoh. Di ruang makan ini meja-meja dan kursi-kursi kayu di tata dengan rapi dan bagi saya nampak artistik. Kebersihan pun nampak dijaga baik di sini. Ini seolah berusaha menegaskan kepada saya bahwa makanan di sini pun dioleh secara higienis.  Baca lebih lanjut

Menikmati Alam di Puncak Gunung Ireng – Gunungkidul

image

Menikmati lanskap dan wisata alam di Kabupaten Gunungkidul rasanya tidak akan ada habisnya. Bahkan bagi saya yang bertumpah darahkan Bhumikarta Dhaksinarga pun tetap tidak pernah bosan menikmatinya.

Mendung menggelayut dan hujan yang terus berjatuhan pada Selasa sore pekan lalu tidak menyurutkan nekad saya untuk menikmati sunset di Gunung Ireng yang terletak di desa Pengkok, kecamatan Patuk, kabupaten Gunungkidul.

Menurut Google Map, sebenarnya letak Gunung Ireng tidak begitu jauh dari rumah saya. Kira-kira 16 km saja. Rute menuju Gunung Ireng yang saya tempuh adalah: Paliyan => Playen => Gading => Sambi Pitu => Beji => Jelok kemudian mengikuti petunjuk arah ke Gunung Ireng. Kalau Rute menuju Gunung Ireng dari arah Jogja sebenarnya juga mudah. Tinggal ikuti jalan Jogja Wonosari. Sesampainya di kantor kecamatan Patuk tinggal cari jalan aspal menuju Desa Pengkok dan Gunung Ireng.

Sepanjang jalan yang saya lalui sudah beraspal mulus. Hanya ruas jalan ada yang rusak sepanjang kira-kira 500 m. Dari jalan aspal yang bertuliskan gerbang selamat datang ke Gunung Ireng menuju area parkir juga merupakan jalan yang dicor.

Hujan makin deras ketika hampir Maghrib itu saya memarkir motor. Tidak apa-apa. Ada jas hujan yang sebelumnya saya persiapkan dan tinggal dipakai saja. Petang itu bakalan tidak akan ada sunset. Pun begitu hujan sore itu di Gunung Ireng tidak boleh disia-siakan. Apalagi sore itu tidak ada banyak pengunjung. Gunung Ireng yang jauh dari kegaduhan mungkin kelak akan menjadi sesuatu yang langka.

Saya berjalan kaki melalui setapak di antara bebatuan cadas. Sambil berjalan saya selalu merapikan jas hujan agar air tidak sampai membasahi tubuh. Sesuai namanya di puncak itu saya mendapati batu-batu cadas berwarna hitam, Gunung Ireng. Pemandangan yang kontras saya dapati ketika melemparkan pandang ke sisi selatan. Di sana ada hamparan sawah dengan padi menghijau.
Baca lebih lanjut

Sop Buntut, Makan Murah di Stasiun Tugu

sop buntut

Murah itu relatif. Bagi saya yang mutlak adalah yang mahal-mahal. Apalagi untuk urusan perut saya yang siap menampung apa saja dan lidah dengan indra pengecapan yang seolah punya pengaturan batas ambang rasa enak yang bisa disesuaikan kapan saja sesuai kebutuhan. Sederhanya dengan “pengaturan” itu saya merasa tidak harus mengeluarkan uang lebih dan repot untuk urusan makan.

Seperti ketika suatu kali saya menunggu keberangkatan kereta api Gajayana menuju Jakarta di Stasiun Tugu – Yogyakarta. Demi alasan kepraktisan, saya memilih makan malam di dalam lingkungan stasiun. Makan di luar stasiun kadang bisa membawa kerepotan tersendiri bila waktu keberangkatan kereta tidak cukup senggang. Saat itu kereta berangkat pukul 20:30 WIB. Sehabis Isya tentu saya tidak punya banyak pilihan bila memilih makan keluar. Pilihan saya adalah Resto di sebelah selatan deretan kursi tunggu utara. Maaf lupa nama restonya 😀

Saya memilih resto itu alasannya sederhana saja. Saya melihat di daftar menu yang ditempel terdapat kata “Sop Buntut”. Pikir saya, ini lumayan untuk makan malam. Toh nanti kalau lapar lagi bisa memesan makanan di kereta Gajayana.

Sekitar pukul delapan malam, Resto itu sepi. Seingat saya, kami berdua satu-satunya yang duduk di kursi dan memesan makan malam. Kami memesan Sop Buntut dan Teh Panas. Kedua jenis pesanan kami, Sop Buntut dan Teh Panas datang bersamaan. Padahal kami ingin Teh Panas datang lebih dulu. AC di ruang makan itu terlalu dingin bila pesanan sop tidak kunjung datang. Baca lebih lanjut