Kuliner Malam: Mie Des Khas Pundong

Berawal dari chit chat di WhatsApp dengan beberapa kawan lama, Senin malam yang lalu saya meluncur ke Jimatan, Imogiri, Bantul yang dari rumah saya berjarak 40 menit perjalanan dengan sepeda motor. Bukan untuk ziarah ke makan raja-raja Mataram yang ada di sana. Kami janjian untuk wedangan, menikmati Wedhang Uwuh yang merupakan minuman khas daerah Imogiri, tepatnya di sekitar makam raja-raja Imogiri.

IMG_3788

Bagi yang belum tahu apa Wedhang Uwuh adalah sejenis minuman hangat yang berperasa yang berbahan jahe, serutan kayu secang, pala, biji cengkih, batang cengkih, daun kayu manis dan pemanisnya adalah gula batu/gula kristal. Dari bahan perasa yang digunakan saja sudah bisa diduga jenis minuman ini akan memberikan efek hangat bagi tubuh. Cocok dinikmati pada malam awal musim kemarau apalagi bagi saya yang baru saja menembus gelap malam melewati bukit dan hutan perbatasan Gunungkidul – Bantul.

Satu jam ngobrol mengeringkan gelas wedhang uwuh belum cukup bagi tiga laki-laki. Tujuan kuliner berikutnya masih di kabupaten Bantul, sedikit ke selatan dari Imogiri, yaitu ke Pundong. Tidak jauh dari rumah kawan kami yang lain di Pundong terdapat kuliner malam, yaitu Mie Des. Saya baru pertama kali akan mencicipi makanan ini. Baca lebih lanjut

Bakmi Jawa yang Enak di Wonosari, Dimana?

Bakmi Jawa

Bakmi Jawa

Kawan dari Cianjur (Jawa Barat) ketika semalam kami tawari ajakan makan memilih ingin mencicipi Bakmi Jawa. Ia penasaran dengan Bakmi Jawa asal Gunungkidul yang terkenal enak-enak.

Bicara kuliner malam khas Wonosari memang belum afdol tanpa mencicipi Bakmi Jawa. Bakmi Jawa ada dimana-mana di tiap sudut malam kota Wonosari dan sekitarnya. Mana yang enak?

Bibir saya hampir menyebutkan nama seorang tukang Bakmi Jawa di Piyaman Wonosari. Untungnya nama itu belum terlanjur terlisankan. Saya spontan teringat apa kata Herman Saksono. Apa yang membuat Bakmi Jawa khas adalah lidah tiap orang selalu berbeda dalam merasai Bakmi Jawa. Tidak ada selera umum yang menobatkan Bakmi Jawa yang paling enak dimana. Tidak ada hegemoni selera seperti Soto Tan Proyek untuk cita rasa persotoan, Pak Turut untuk persatean, Mbok Sidas untuk persambelgorengan, Yu Jum untuk pergudhegan dan sebagainya.

Foto di atas adalah Bakmi Jawa yang dimasak oleh chef Suradi yang mangkal di depan garasi bis Maju Lancar. Kalau lidah saya merasa bakmi jawa pak Suradi ini agak manis-manis gurih. Meski saya tidak suka manis pada makanan berasa gurih, toh saya melahapnya dengan tuntas. 😀

Kalau menurut Anda, Bakmi Jawa mana yang paling enak cocok dengan selera? Atau belum pernah mencicipi? Yuk bareng kulineran malam Wonosari. 🙂