Pengungsi #merapi yang berada di Gunungkidul kelaparan?

Petang kemarin, saya ditelepon seorang teman. Inti telpon itu adalah mengkonfirmasi newsticker yang ia dan temannya baca di MetroTV yang memberitakan kalau pengungsi – pengungsi Merapi yang berada di wilayah gunungkidul KELAPARAN. Kelaparan?

Tentu saja saya kaget.  Dan penasaran pengin tahu. Yang diberitakan metroTV itu pengungsi di Gunungkidul sebelah mana. Atau Posko mana?  Karena saya sendiri termasuk relawan di posko pengungsian besar di Gunungkidul, yaitu di rest Area Bunder. Di Posko ini saya memastikan semua kebutuhan logistik dan pakaian aman sampai satu minggu.

Memang di Gunungkidul, posko rest area Bunder bukanlah satu – satunya yang digunakan sebagai tempat pengungsian. Pengungsi terbagi menjadi kelompok – kelompok kecil yang berjumlah antara 20 – 80 jiwa dan tersebar di hampir seluruh penjuru gunungkidul yang seluas 18 kecamatan. Pengungsi – pengungsi yang tersebar ini kebanyakan menempati rumah tinggal penduduk Gunungkidul, bangunan balai desa dan bangunan bangunan yang mereka anggap aman untuk mengungsi.

Karena jumlah jiwa per kelompok pengungsi relatif kecil dan tersebar, kelompok ini sempat luput dari publikasi dan kurang mendapatkan perhatian dari relawan dan penderma bantuan. Seorang teman juga bercerita kepada saya kalau pengungsi yang bertempat di desanya sangat kekurangan logistik. Selama mengungsi kehidupan mereka hanya mengandalkan topangan dan kebaikan hati pemilik rumah yang ditempati dan warga sekitar yang terketuk hatinya.  Agak memiriskan juga.    Karena banyak penduduk yang rumahnya ditempati pengungsi juga bukan semuanya merupakan orang yang berekonomi mampu. Warga sekitar yang rela membantupun tidak cukup meyakinkan akan sampai kapan masih bisa memberikan bantuan jatah makan.

Saya ingin mengumpulkan data tentang jumlah pengungsi yang tersebar ini. –walaupun saya juga tidak bisa berbuat banyak untuk membantu mereka. Tidak mudah ternyata mendapatkan data yang baik tentang tempat dan keadaan kelompok pengungsi ini. Data yang bisa diberikan oleh teman yang diambil dari PB Gunungkidul hanya menyebutkan jumlah jiwa pengungsi per kecamatan. Sedangkan data yang saya butuhkan adalah termasuk alamat, jumlah pengungsi per kelompok. contact person, demografi, angka difabel, sarana MCK dan lain – lain.

Berikut adalah jumlah pengungsi per kecamatan se Gunungkidul :

Baca lebih lanjut

Akurasi, Korban Berita Cepat Saji

Meninggalnya mbah Maridjan, Juru Kunci Gunung Merapi telah menjadi simpang siur sejak dini hari sampai saat sekarang saya mengetik posting ini. Mulanya beredar kabar kalau mbah Maridjan meninggal bersama belasan orang lainnya di dalam rumah mbah Maridjan yang terbakar awan panas. Tidak lama berselang disusul kabar mbah Maridjan dtemukan dalam kondisi lemas tetapi masih hidup oleh tim evakuasi. Dan pagi ini santer beredar mbah Maridjan ditemukan meninggal dengan posisi bersujud di ruang dapur, ada versi di dalam kamar mandi. Berita dari sumber yang berbeda melaporkan mbah Maridjan meninggal dalam perjalanan ke RS Sarjito – Yogyakarta.

Kesimpangsiuran berita yang lain yang membuat orang awam seperti saya kebingungan tujuh keliling adalah mengenai jumlah korban meninggal dan hilang pada bencana Tsunami yang terjadi di Mentawai – Sumatra Barat. Dalam waktu hampir bersamaan beberapa media berita online telah melansir jumlah korban yang sangat berbeda.

Sekarang ini tiap – tiap media berita, terlebih media online, media televisi dan media radio, seolah berlomba untuk adu cepat dalam mempublikasikan hasil liputanya dan menomor sekiankan akurasi berita. Saat ini saya mulai merasakan efek samping dari mengkonsumsi berita cepat saji. Media 2.0 . Web 2.0 Yah OK -lah kalau begitu.

Paling tidak di era dimana mendapatkan dan menyebarkan lagi berita bisa dilakukan dengan mudah dan seketika, saya harus lebih berhati – hati dalam menerima kebenaran suatu kabar dan tidak tergesa – gesa untuk menyebarkan kembali suatu berita sebelum benar – benar verified.