Wedang Teh Nasgitel & Pak Beder

Saya sudah berulangkali memposting foto – foto ini dan foto – foto yang mirip baik di blog ini, di blog saya yang ada di sebelah maupun di beberapa social media. Ya, karena saya memang menikmati wedang teh “nasgitel”.

Nasgitel berarti panas, legi (manis), kentel (kental). Sebuah akronim yang dipopulerkan oleh iklan sebuah merek teh yang entah sejak kapan mengudara melalui radio lokal yang pada jamannya akrab bagi keluarga di pedesaan.

Di desa dimana saya tinggal, teh merupakan minuman bagi semua. Bisa dipastikan anda akan mendapati suguhan wedang teh bila bertamu. Teh menjadi minuman default pada pesta tradisional atau rapat rembug desa di balai padukuhan/kelurahan. Bila  tidak minum teh maka anda boleh memesan sesuai selera. Ingin air putih, kopi atau yang lain. Silakan. Asal jangan minta coca cola, fanta atau terlebih vodca martini. Kecuali anda siap dipisuh pisuhi dan diumpat tidak tahu adat unggah ungguh tata krama tata trapsilo. hehe

Selain sebagai suguhan keluarga, wedang teh tersedia di warung – warung minum seperti yang ada di pasar atau di warung – warung makan. Di malam hari banyak  penjual wedang teh poci lesehan ditemukan di kota Wonosari.  Memang agak jauh dari desa dimana saya tinggal. Meski jarak tidak membuat saya malas untuk menghabiskan malam dan bercangkir – cangkir teh nasgitel gula batu sambil ngobrol ngalor ngidul tak tentu arah.

Lesehan Pak Beder yang buka lapak di depan BNI wonosari merupakan tempat nge-teh nasgitel kegemaran saya. Saya bisa nge-teh dan menikmati gorengan dengan harga yang patut, tak perlu kuatir dengan uang terkuras dari dompet seiring terkurasnya cairan pekat, sepet bercampur manis pada cangkir minum. Yah, menyesap rasa sepet – sepet yang dibauri oleh manis gula batu sampai pada tuang terakhir  semakin terasa nikmat dibaurkan dengan pemandangan malam kelap kalip “down town” kota wonosari.  Halaaah …

Cita rasa dan suasana “ngangeni” yang membuat para penge-teh nasgitel untuk meluangkan waktu kembali ke laptop, eh, maksudnya kembali ke Pak Beder. Tidak hanya saya loh, yang selalu tuman. Teman – teman saya yang telah menjadi kelana merantau mencari nafkah ke ibu kota pun senantiasa mengatur bagaimana cara agar bisa meluangkan waktu menikmati teh nasgitel Pak Beder.

Oh iya, pada malam minggu kemarin, saya menanyakan resep racikan teh spesial pak Beder agar saya bisa mencoba menikmati cita rasa ini di rumah. Apa resepnya adalah racikan dengan komposisi adonan setiap 2 “teh pecut” tambahkan 1 “teh tang super” warna cokelat. Jangan lupa gula batu yang sudah tua dan jangan lupa panaskan air dengan arang, sebisa mungkin jangan gunakan kompor gas atau kompor minyak.

Selamat Mencoba.

Posting ini saya tulis dengan menggunakan ponsel sebagai penghilang rasa kantuk yang tidak tahu diri di pagi hari ini.

Iklan

5 thoughts on “Wedang Teh Nasgitel & Pak Beder

  1. tak gateke piranti unjukane kok ngadopsi slogan bineka tunggal ika, ono sing bahane seko beling, seko blek lan seko lemah opo kuningan kuwi ora pati jelas

  2. Ping-balik: Teh Tarik « Menuliskan Sebelum Terlupakan

  3. Jujur saya belum pernah beli Nasgitel gitum tapi seingat saya sih dulu depan gang kost saya pas di Malang dulu ada setiap pagi….asumsi saya ya ketan yang pake kelapa ama koya plus kopi kental 🙂

  4. Ping-balik: Regenerasi “Jayeng” « Menuliskan Sebelum Terlupakan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s