Kamu yang menjadi Imam. Tidak Kamu saja

Di suatu shalat Isya di suatu masjid, hanya ada beberapa pemuda yang bertampang tidak alim. Tidak seperti biasa, jamaah yang lain sepertinya sedang tidak akan  bershalat Isya’ di masjid itu.

Beberapa pemuda itu entah kenapa terus saja ngobrol entah apa yang dibicarakan. Mereka cuek atau memang tidak mendengar kalau di masjid tetangga, Iqamah sudah dikumandangkan. Atau mungkin ada yang mereka tunggu. Mungkin menunggu biar jamaah lain terkumpul agar jamaah lebih banyak. Atau apa?

“Kamu yang jadi imam ya” dari ngobrol tidak karuan mereka, kalimat itu yang agak terdengar.
“Ngga bisa, kamu saja”
“Kamu …”
“Kamu …”

Salah satu pemuda tidak alim itu kemudian menyudahi pertengkaran dan legawa menerima musibah untuk mengimami jamaah isya yang tidak banyak itu.

Shalat Isya berlangsung cepat. Bacaan shalat di baca cepat. Tajwid dan Qalqalah sepertinya bukan isu yang perlu diseriusi malam itu.

Beberapa pemuda itu tanpa banyak apa segera menuju tempat nongkrong di perempatan yang biasanya. Memang itulah rutinitas mereka sehari hari.

Tidak terlalu lama  waktu berselang. Di jalan itu lewat serombongan orang yang sepertinya mirip dengan mereka mereka yang menjadi pemuka dan berjamaah di masjid. Kalau tidak salah loh … Mereka itu dari menunaikan acara kenduri, ‘genduren‘ untuk selamatan bagi orang yang telah meninggal di kampung mereka.

Oh jadi itu sebabnya jamaah pada malam itu tidak biasa!