5 Alasan Untuk Mengikuti Jakarta Marathon 2019

Foto diambil dari FP Jakarta Marathon

Ada semacam pameo: Jakarta Marathon, lomba lari yang banyak dicaci sekaligus banyak dinanti.

Saya pertama kali mengikuti Jakarta Marathon pada tahun 2016. Saat itu saya mengikuti kategori Half Marathon. Tahun berikutnya saya mencoba naik kelas dengan mengikuti kategori full marathon di Jakarta Marathon 2017.

Pengalaman saya mengikuti Jakarta Marathon tidak semuanya manis. Memang saya berhasil mencetak Personal Best di kategori half pada Jakarta Marathon 2016 (1.42) dan memperbaiki catatan waktu marathon pada percobaan saya di Jakarta Marathon 2017 (4.27). Namun ada beberapa hal yang membuat hati saya jengkel ketika turun di event marathon di ibukota itu. Hal-hal menjengkelkan seperti tersesat/salah jalur di suatu persimpangan yang tidak dijaga marshal (Jakarta Marathon 2016), antrian toilet dan drop bag yang mengular di race central, rute yang tidak steril, dan yang paling menyakitkan adalah saya terlambat start marathon karena waktu start kategori marathon diajukan 10 menit lebih cepat dari jadwal (Jakarta Marathon 2017). Baca lebih lanjut

Membangun Running Endurance Bagi Pelari Pemula

Mendapat pertanyaan bagaimana cara melatih daya tahan berlari atau running endurance membuat saya bingung. Saya memang sudah menyelesaikan beberapa kali marathon, namun sampai sekarang saya belum merasa mempunyai cukup daya tahan atau endurance yang baik. Saya selalu terngiang betapa lelah lahir batin campur aduk di sepanjang sepertiga terakhir lintasan perlombaan demi sekeping finisher medal.

Mundur ke belakang, kira-kira ke 5 tahun yang lalu, tepatnya September 2014, ketika saya mencoba untuk memulai berolah raga lari. Menyelesaikan sebuah marathon, berlari sejauh 42,2 km, sama sekali bukan cita-cita saya. Terlintas dalam mimpi pun tidak pernah. Tujuan saya berlari sangat sederhana. Berlari adalah pilihan olah raga yang saat itu saya pikir paling mudah dilakukan dibanding jenis olah raga lainnya. Tujuan berolah raga supaya hidup lebih sehat. Supaya saya bisa mengurangi anggaran untuk ke dokter.

Untungnya saat itu saya sudah mengenal aplikasi Nike+ Running, aplikasi yang sekarang berganti nama menjadi Nike Running Club. Dengan Nike+ Running yang saya gunakan saat itu (dan sampai sekarang masih saya gunakan) saya bisa dengan mudah menengok lari pertama saya dan memperhatikan lagi setapak demi sejangkah perkembangan saya.

Baca lebih lanjut

Seoul Marathon, Pilihan Lomba Marathon Awal 2019

Bagi para pelari amatir dan “pelari kantoran”, event lomba apa saja yang akan diikuti dalam satu tahun ke depan biasanya sudah ditentukan sejak awal tahun. Sebagai pelari marathon amatir yang sudah menamatkan beberapa event marathon saya sering kali diminta untuk memberikan rekomendasikan beberapa perlombaan lari jarak jauh yang aman dan pantas diikuti.

Borobudur Marathon dan Bali Marathon bagi saya merupakan lomba marathon di dalam negeri yang pantas dinikmati oleh pelari segala kemampuan. Saya merekomendasikan keduanya. Kedua lomba yang telah mendapatkan sertifikasi IAAF dan mendapatkan banyak penghargaan akan kualitas penyelenggaraannya itu secara rutin dihelat pada akhir tahun.

Memilih even marathon di dalam negeri pada awal tahun, pada semester pertama tahun 2019 rupanya tidak mudah. Setidaknya tidak semudah menyebutkan Borobudur Marathon dan Bali Marathon seperti sebelumnya.

Mandiri Jogja Marathon yang digadang – gadang akan diselenggarakan di kompleks Candi Prambanan pada pertengahan bulan April tahun ini sampai sekarang belum terdengar kabarnya. Ini bisa dimaklumi mengingat 2019 merupakan tahun politik yang mana Pemilu diselenggarakan. Saya percaya semua penyelenggara even marathon memilih berhati – hati demi kebaikan bersama.

Akan tetapi bukan berarti para pelari marathon amatir tidak mempunyai pilihan lomba. Meskipun kita harus melirik event lomba yang diselenggarakan di luar negeri. Sekarang mari kita melihat kalender marathon di beberapa negera tetangga terdekat di halaman ini.

Baca lebih lanjut

Review Borobudur Marathon 2018, Tanjakan Bukan Penghalang Finish FM Sub 4

Perlu waktu sampai menjelang ganti tahun menunggu foto di garis finish diunggah oleh rungrapher ke fan page Borobudur Marathon. Saya hampir frustasi dibuatnya. Meski foto finish saya biasa-biasa saja dibanding foto pelari lain yang bagus-bagus saya urung menulis review negatif even marathon ini. 😀

Menembus batas waktu 4 jam dalam berlomba lari marathon barangkali merupakan perjalanan yang paling lucu dalam hidup saya.

Percobaan pertama bermarathon sub4 saya lakukan pada bulan Oktober 2017 di Jakarta Marathon. Hasilnya jauh panggang dari api. Dengan alasan – alasan yang seharusnya tidak perlu. Saat itu saya hanya mencapai finish 04:36:21 (gun time) atau 04:27:25 (nett time).

Bulan April 2018 saya melakukan percobaan yang kedua, di Mandiri Jogja Marathon. Hasilnya? Sama – sama gagal. Meskipun percobaan kali ini tidak begitu jauh meleset. Di Jogja Marathon saya bisa finish 4:05:50. Meleset sekitar 6 menit dari target sub4.

Mengikuti kegagalan percobaan bermarathon sub4 untuk yang kesekian kalinya sederet kata – kata penghiburan terucap manis dari mulut teman – teman saya.

Mas, latihan dan usahamu kali ini tidak sia – sia. Gagal marathon sub4 bukan akhir segalanya. Apalagi “hanya” meleset 5 menitan. Next marathon pasti bisa sub4”.

Selamat atas PB marathonmu mas. Luar biasa lho bisa memperbaiki catatan waktu sampai 30 menit. Apalagi di Jogmar yang tanjakannya sepanjang aduhai”, hibur teman saya yang lain.

Mulanya saya sempat merasa terhibur dengan kata-kata semacam itu. Sampai ketika teman – teman saya menanyakan kapan akan membalas kegagalan marathon sub4 dan saya menjawabnya di Borobudur Marathon 2018.

Di Borobudur Marathon? Ah yang bener saja?”, begitu umumnya secara spontan teman – teman saya merespon misi balas dendam ini. Suatu respon yang menyadarkan saya bahwa segala puja dan puji yang mereka ucapkan sebelumnya sebatas pemanis bibir. Baca lebih lanjut

CTC Night Trail Ultra 2019 Hadir Lagi Tawarkan Trail Race Run Bercita Rasa Jogja

“Apakah di sepanjang rute CTC ini aman?” tanya seorang kawan saya ketika akan mengikuti CTC Night Ultra 2017.

Ketika saya menjawab aman, teman saya berusaha meyakinkan dengan mempertegas pertanyaannya lagi. Rupanya yang dimaksud aman bukanlah tidak adanya ancaman orang – orang jahat, melainkan aman dari penampakan makhluk ghoib.

“Seingat saya mulai pertama kali event ini digelar sampai sekarang belum pernah mendengar kabar ada pelari yang kesurupan atau pernah dijumpai makhluk halus. Bila ternyata besok (pada CTC Night Ultra 2017) ada yang disambangi dedemit berarti itu akan menjadi yang pertama kali 😀 “. Begitu saya menambahkan sambil berkelakar.

Baca lebih lanjut

Kembali Berlatih Pasca Berlomba Marathon

Kita mengenal recovery run sebagai lari dalam easy pace untuk menempuh jarak yang tidak jauh. Recovery run umumnya dilakukan setelah seorang pelari menjalani sesi yang berat seperti interval, fartlek atau long run pada hari sebelumnya. Dalam sebuah program latihan, recovery run diletakan bertujuan membantu tubuh melakukan fungsi pemulihan, menjaga kemampuan aerobik dan menyiapkan tubuh untuk menghadapi sesi latihan berikutnya.

Sejak pekan lalu di media sosial kita melihat teman-teman kita yang pada pertengahan bulan ini menyelesaikan lomba Borobudur Marathon mengunggah aktivitas lari mereka dengan diberi tajuk recovery run.

Kita bisa memahami maksud mereka melakukan recovery run. Mulai ingin membantu tubuh melakukan fungsi pemulihan sampai keinginan untuk menjawab kekhawatiran kehilangan kualitas aerobik bila latihan berhenti pasca berlomba marathon.

Menemukan “sweet spot” antara memberi kesempatan tubuh untuk melakukan fungsi pemulihan dengan optimal dan kekhawatiran akan menurunnya kapasitas aerobik yang sudah kita bangun berbulan-bulan pada periode latihan memang tidak mudah, tricky dan sangat personal. Baca lebih lanjut

7 Fakta Menarik Seputar Borobudur Marathon 2018

Perhelatan Borobudur Marathon akan dilaksanakan pada akhir pekan ini. Tepatnya pada hari Minggu, 18 November 2018.

Beberapa hari sebelum perlombaan marathon umumnya para pelari sudah memasuki periode tapering. Tidak berhenti latihan sama sekali tetapi menurunkan intensitas latihan sehingga mencapai performa terbaik pada hari lomba.

Selain itu para pelari akan menuntuskan persiapan terakhir seperti menata perlengkapan seperti running gears, bekal nutrisi, transportasi, akomodasi dan berusaha mengenal lebih dekat marathon impian ini.

Kali ini disela-sela masa taper dan mempersiapkan itu semua saya menyempatkan diri untuk menulis sebuah blogpost yang mudah-mudahan bermanfaat bagi kita untuk mengetahui lebih banyak fakta-fakta seputar Borobudur Marathon. Baca lebih lanjut