Cultural Trip Solo: Semangat Pertemanan Dalam Bedug Asyiik 2015

IMG_4395.bedug

Rangkaian Cultural Trip Solo pada hari Selasa, 7 Juli 2015 itu sampailah di stadion Bekonang, Mojolaban, Sukoharjo. Tempat dimana puncak acara Bedug Asyiik 2015 Solo diselenggarakan. Memasuki stadion menjelang waktu Ashar kami sudah disambut oleh panggung yang megah di tengah lapangan. Sebuah panggung dan area pertunjukan yang nampak didesain interaktif. Saat itu panitia sedang menyelesaikan tahapan akhir persiapan acara ini.

Dari tenda ngobrol/tenda media, kemudian suara tetabuhan mulai terdengar bersahutan dengan audio dari panggung utama yang sedang dilakukan check sound. Berdasarkan itinerary, jam 16:00 wib seharusnya acara lomba Tabuh Bedug sudah dimulai. Kami pun bergegas menuju ke sana. Benar saja salah satu grup Tabuh Bedug sudah unjuk kebolehan sementara beberapa yang lain, kira-kira 5 grup lainnya sedang menunggu gilirannya masing-masing.

IMG_4478.bedug

Saya dan rombongan media pun segera mengambil tempat terbaik untuk memotret dan menikmati akustik tabuhan Bedug yang rampak dengan improvisasi dan kreatifitasnya masing-masing. Sore itu matahari masih tinggi, namun suhu udara sudah mulai turun. Langit biru yang bersih sebagai latar belakang panggung membuat suasana tambah adem seolah ingin menjadikan acara ngabuburit yang sempurna.

Kompetisi Bedug Asyiiik 2015 Solo yang diselenggarakan oleh PT Sampoerna hari itu dimenangkan oleh Komunitas Terminal Induk  Wonogiri, mengalahkan tim rampak bedug Komunitas Tani Rahayu, tim rampak bedug Komunitas Klaten I, dan beberapa tim lain yang merupakan 5 besar hasil seleksi di kota itu sebelumnya.

IMG_4487.bedug

Acara bincang-bincang dengan pemenang kompetisi sore itu yang sekaligus menghadirkan Joko Gombloh, seorang pengamat seni budaya sekaligus pakar etnomusikal dilaksanakan di tenda ngobrol. Dari bincang-bincang singkat itu ada beberapa hal baru yang saya dapatkan. Diantaranya adalah sejarah Bedug itu sendiri. Bedug yang selama ini saya kenal identik dengan budaya Islam karena keberadaannya di Masjid-Masjid tradisional dan acara-acara kebudayaan Islam, ternyata di Indonesia, Bedug sudah ada jauh sebelum Islam memasuki nusantara. Islam yang saat itu masuk Indonesia melalui jalur budayalah yang kemudian melalui proses akulturasi dan asimilasi yang tidak sederhana kemudian menjadikan Bedug sebagai ‘mualaf’.

Berkembang di masyarakat Indonesia yang komunal, perkembangan Bedug tidak berhenti sebatas untuk ditabuh sebagai tanda waktu memasuki shalat atau waktu lain misalnya waktu berbuka puasa. Bedug dalam perjalanan berikutnya mulai bisa diterima di luar Masjid, salah satunya menjadi instrumen musik karena suara akustik tetabuhannya mempunyai suara yang khas. Kemudian berproses menjadi alat musik yang berasimilasi dengan semangat pertemanan dan gotong royong masyarakat dimainkan sebagai suatu rampak.

Bedug yang dulunya tidak Islami, kemudian menjadi mualaf dan masuk masjid, dalam berkembangannya semakin menjadi inklusif bisa dimainkan dalam suatu rampak oleh siapapun terlepas dari agama yang dianutnya. Seni Rampak Bedug ini, masih menurut Joko Gombloh, bisa ditemukan di banyak daerah di Indonesia, bahkan tidak hanya di Jawa. Acara Bedug Asyiik di Solo sendiri merupakan acara ke-7 yang digelar oleh PT Sampoerna. Sedangkan Bedug Asyiik 2015 sendiri merupakan acara ke-2 setelah sukses menggelar acara yang sama pada tahun 2014. Sebenarnya bila pada tahun 1998 – 2008 kita mengenal Parade Bedug, Bedug Asyiiik merupakan hasil dari proses evaluasinya setelah melalui banyak pertimbangan.

IMG_4498.bedug

Apa yang paling menarik sebagai penutup acara Bedug Asyiik 2015 ini adalah kolaborasi antara Etno Musik yang diaransemen oleh Joko Gombloh dengan Pemenang Kompetisi Rampak pada Bedug Asyiik 2015 ini. Kolaborasi musik yang hebat yang ternyata dipersiapkan secara spontan. Saya di depan panggung menikmati Etno Music Performance itu. Sayang saya tidak bisa membagikan di sini karena saya kebetulan tidak mempunyai perekam video yang mumpuni.

Penonton rangkaian acara Bedug Asyiik 2015 Solo di Lapangan Bekonang, Mojolaban, Sukoharjo yang meriah pada saat itu kemudian dihadiahi penutup yang luar biasa dengan penampilan band nasional Repvblik dan Tipe-X. Meski tidak menonton penampilan band nasional sampai selesai, karena saya harus segera pulang ke Jogja, acara yang digelar oleh PT Sampoerna pada malam itu benar-benar luar biasa dan mampu mengangkat semangat pertemanan yang dibawakan sebagai tema Bedug Asyiiik 2015.

Tulisan terkait:

  1. Cultural Trip Solo: Mengunjungi Sentra Kerajinan Gamelan di Desa Wirun, Sukoharjo
  2. Cultural Trip Solo: Mengunjungi Masjid Ageng Keraton Solo
Iklan

9 thoughts on “Cultural Trip Solo: Semangat Pertemanan Dalam Bedug Asyiik 2015

  1. Ping-balik: Cultural Trip Solo: Kerajinan Gamelan di Desa Wirun | Menuliskan Sebelum Terlupakan

  2. Ping-balik: Cultural Trip Solo: Masjid Agung Keraton Solo | Menuliskan Sebelum Terlupakan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s