Lecet – Lecet Jatuh Dari Motor

Telapak tangan kanan saya masih berbalut perban saat mengetik posting ini. Ujung jari telunjuk masih terasa ngilu. Sakit bukan alasan untuk tidak nge-blog. Nah, biarlah posting ini membuktikannya. hehe

Ceritanya begini. Sore tadi, dengan sepeda motor, saya  dari main – main ke air terjun Sri Gethuk yang terletak di dusun Menggoran, desa Bleberan, kecamatan Playen. Kebetulan saya tadi yang mengendarai sepeda motor. Beda dari biasanya yang mana saya lebih suka di belakang pengendara sambil foto sana foto sini dengan kamera ponsel.

Tulisan tentang tips praktis melakukan pertolongan pertama luka-luka lecet lecet pada kecelakaan kendaraan sepeda motor bisa dibaca pada artikel ini:

Pertolongan Pertama Luka Lecet Jatuh dari Sepeda Motor

Apes bagi saya yang jarang mengendarai motor, rupanya keterampilan bermotor saya yang pas – pasan harus dihadapkan dengan sepanjang jalan aspal yang rusak. Lebih separo jalanan yang kami lalui rusak. Kubangan hampir ditemukan tiap 10 meter. Doh! Padahal ini jalan utama menuju tempat wisata air terjun Sri Gethuk yang sedang gencar-gencarnya dipromosikan. 😦

Nah, ketika tadi mau menghindari gundukan dan lobang pada jalan, saya menginjak pedal rem dan menarik rem depan pada saat yang kurang tepat. Saya mengerem motor ketika motor sedang berada di aspal yang berpasir.

Motor menjadi oleng tak terkendali. Saya jatuh. Tubuh saya jatuh ke tengah jalan. Untungnya mobil yang berjalan dari arah berlawanan bisa menghentikan lajunya sehingga tidak menginjak tubuh saya yang terjatuh. Alhamdulillah. Alhamdulillah lagi teman boncengan saya bisa bangun lebih cepat dari saya. Artinya dia tidak luka parah akibat terjatuh.

Untungnya lagi, di tempat saya kecelakaan motor itu, tinggal orang-orang yang berbaik hati untuk segera menolong saya. Motor segera mereka bawa ke pinggir jalan. Dan saya pun pelan – pelan bisa bangun.

Setelah bangun saya memastikan kalau saya tidak terluka parah. Saya tidak pusing. Saya tidak mual. Yang terlihat hanya lecet – lecet pada telapak tangan kanan, punggung tangan kiri, dengkul, dan lecet – lecet pada kulit pinggang. Alhamdulillah. Teman boncengan saya juga hanya lecet – lecet pada punggung tangan dan jari – jari. Alhamdulillah.

Kemudian motor. Spion motor terlepas dan patah. Penutup lampu sein kanan pecah. Stang agak miring. Sepertinya itu saja. Sementara motor dinomor duakan dulu. Urusan tubuh orangnya lebih penting.

Oleh warga sekitar tadi, kami diberikan pertolongan awal. Mereka memberikan betadine pada luka – luka kami. Dan seorang cewek cantik yang menolong kami memastikan apakah mau bila luka – luka saya diobati dengan Albotyl. Karena reaksi Albotyl akan sangat pedih pada mulanya. Saya setuju.

Sambil mengobati luka – luka, warga yang menolong kami bercerita kalau di tempat dimana saya terjatuh sudah berulang kali terjadi kecelakaan. Menurut mereka telah lebih dari 10 kejadian yang mana salah satu diantaranya terdapat korban meninggal dunia. Seren sekali. Untung lagi saya bukan termasuk korban meninggal itu.

Orang Indonesia walau sedang tertimpa musibah masih pandai bilang “untung” ya. 🙂

Penyebab utama kecelakaan di tempat itu menurut mereka adalah karena pengendara sering kali harus mengemudi zig zag untuk menghindari jalanan yang rusak berlubang – lubang. Cewek cantik yang menolong saya itu juga bilang kalau telah berulang kali kecelakaan motor sambil menunjukan bekas luka yang lebar pada sekujur kaki.

Saya pulang terlebih dahulu sebelum memeriksakan luka – luka ke Puskesmas. Tentu saja saya meminta bantuan teman untuk dijemput. Tangan kanan saya yang lecet tidak cukup meyakinkan untuk mengendarai motor sendiri sampai rumah. Kenapa saya tidak langsung ke Puskesmas saja?

Saya ingin agar keluarga di rumah tahu kalau saya tidak menderita luka parah karena jatuh dari motor. Biasa orang tua suka panik bila mendengar ada kecelakaan. Apalagi menimpa si anak sulung tersayang ini. 😀

Setelah beberapa saat cerita – cerita dengan orang rumah dan cukup meyakinkan mereka kalau saya hanya luka lecet, dengan diantar kawan, saya segera ke Puskesmas kecamatan Playen.

Di Puskesmas kecamatan Playen ini sedang jaga dua perawat cantik yang melayani kami. Luka – luka pada tangan kami cukup dibersihkan dari aspal dan pasir. Kemudian bagian terparah pada telapak tangan kanan cukup dibalut untuk sementara. Menurut perawat, luka pada tangan saya cukup diberikan Betadin saja. Sayangnya di Puskesmas sedang kehabisan stok Betadin. Tidak apa – apa. Saya bisa membeli Betadin di Minimarket terdekat.

Oh, iya. Tidak perlu saya berikan foto kecelakaan saya sore tadi. Orang tertimpa kecelakaan mana sempat foto – foto. Untuk foto air terjun Sri Gethuk akan saya upload dan jadikan posting terpisah. hehe

Lakalantas Pagi Bikin Hilang Mood

Saya sering menjadi hilang mood tiap kali melihat korban kecelakaan lalu lintas pada pagi hari. Seperti pada pagi tadi.  Di perempatan Playen, perempatan arah Dengok, saya melihat seorang remaja berseragam Pramuka terkapar akibat kecelakaan lalu lintas. Saya hanya melihat sekilas dan tidak merasa tahan melihat wajah dan hidungnya yang berdarah. Hingga anak remaja berseragam Pramuka itu dievakuasi dengan mobil Katana untuk mendapatkan pertolongan medis.

Memang di perempatan ini termasuk tempat rawan kecelakaan lalu lintas (lakalantas). Kecelakaan serupa sudah terjadi sejak saya masih SMP yang mana pada saat itu populasi kendaraan (sepeda motor) belum sepadat sekarang. Biasanya kendaraan dari arah Dengok melaju kencang sesukanya mengira kalau jalan melintang utara – selatan sedang tidak ada kendaraan. Padahal itu karena tidak kelihatan saja karena view-nya yang kurang terbuka. Mungkin lampu lalu lintas sedikit – sedikit bisa mengurangi lakalantas. Tetapi ya kembali pada mental pengguna jalan itu sendiri untuk menjaga etika dan keselamatan di jalanan.

Ngomong – ngomong masalah kebiasaan berlalu lintas yang abai terhadap keselamatan sesama pelalu lintas seperti yang sudah sering saya ceritakan. Kontributor besar kecelakaan  lakalantas di jalanan di Wonosari, Playen, Paliyan dan sekitarnya adalah kebiasaan anak – anak sekolah dan beberapa oknum karyawan kantoran yang sering berangkat kerja pada menit – menit terakhir menjelang jam masuk sekolah dan kantor. Mereka pikir mereka bisa sampai dengan memacu kendaraan mereka. Dan jadilah jam 06:45 WIB – 07:30 sebagai jam rawan lakalanatas. Untuk penyebab lakalantas yang kedua ini memang hanya bisa dikurangi dengan “penyadaran”. Dan sangat sulit.