Helm Untuk Anak Kecil. Penting!

Peraturan Lalu Lintas di Indonesia mewajibkan setiap pengendara sepeda motor di jalan raya untuk memakai helm keselamatan. Kewajiban itu berlaku baik kepada pengemudi maupun pembonceng. Kita umumnya akan kena semprit tilang polisi bila ketahuan  tidak mengenakan helm keselamatan ketika berkendara dengan sepeda motor di jalan-jalan raya.

Itu bila baik pengemudi maupun pembonceng adalah orang yang sudah dianggap tidak anak-anak lagi oleh polisi. Namun bila pembonceng itu anak-anak, saya sering melihat polisi lalu lintas membiarkan begitu saja. Menegur pengendara pengemudinya (yang memboncengkan) saja tidak.

Bukankah tujuan peraturan mengenakan helm selama mengendarai sepeda motor itu demi keselamatan pengendara itu sendiri bila ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Apakah anak-anak tidak perlu diperhatikan keselamatanya? Apakah kepala anak-anak tidak riskan dari benturan ketika katakanlah terjadi tabrakan atau kecelakaan lalu lintas yang lain?

Beberapa waktu yang lalu saya sempat mengomongkan hal ini dengan seorang teman. Teman saya mengakui hal ini sebenarnya sangat berbahaya. Meskipun ia sendiri sering menjemput putranya sepulang sekolah dan tanpa melengkapi anaknya dengan helm keselamatan. Bahkan ia juga mengakui sering memboncengkan beberapa anak sekaligus ketika menjemput anak dari sekolah.

Menurut teman saya itu, helm yang wajib dipakai selama mengendarai sepeda motor di jalan raya adalah helm yang memenui Standard Nasional Indonesia (SNI). Penggunaan helm selain yang berstandard SNI dianggap pelanggaran lalu lintas. ‘Helm Ciduk‘ yang dulu populer sekarang sudah tidak ada yang memakai di jalan raya.

Permasalahannya, sekarang ini teman saya itu belum melihat ada helm anak-anak berstandard SNI. Mungkin itu alasan kenapa polisi seolah enggan dan membiarkan anak-anak tanpa helm pengaman diboncengkan sepeda motor.

Ini sebenarnya pantas menjadi perhatian banyak pihak, pengendara sepeda motor sendiri, pembuat peraturan lalu lintas, penegak aturan lalu lintas (polantas). Sekaligus peluang inovasi untuk mendesain helm yang aman, nyaman, portable, mungkin perlu desain satu helm anak untuk semua ukuran kepala anak-anak. Tidak kalah penting, harus terlihat trendy dan bagus secara desain agar anak-anak suka memakainya. Dan mungkin tidak dengan memenuhi semua persayaratan itu, tapi harga helm tetap terjangkau (murah) ­čÖé

Lakalantas Pagi Bikin Hilang Mood

Saya sering menjadi hilang mood tiap kali melihat korban kecelakaan lalu lintas pada pagi hari. Seperti pada pagi tadi.  Di perempatan Playen, perempatan arah Dengok, saya melihat seorang remaja berseragam Pramuka terkapar akibat kecelakaan lalu lintas. Saya hanya melihat sekilas dan tidak merasa tahan melihat wajah dan hidungnya yang berdarah. Hingga anak remaja berseragam Pramuka itu dievakuasi dengan mobil Katana untuk mendapatkan pertolongan medis.

Memang di perempatan ini termasuk tempat rawan kecelakaan lalu lintas (lakalantas). Kecelakaan serupa sudah terjadi sejak saya masih SMP yang mana pada saat itu populasi kendaraan (sepeda motor) belum sepadat sekarang. Biasanya kendaraan dari arah Dengok melaju kencang sesukanya mengira kalau jalan melintang utara – selatan sedang tidak ada kendaraan. Padahal itu karena tidak kelihatan saja karena view-nya yang kurang terbuka. Mungkin lampu lalu lintas sedikit – sedikit bisa mengurangi lakalantas. Tetapi ya kembali pada mental pengguna jalan itu sendiri untuk menjaga etika dan keselamatan di jalanan.

Ngomong – ngomong masalah kebiasaan berlalu lintas yang abai terhadap keselamatan sesama pelalu lintas seperti yang sudah sering saya ceritakan. Kontributor besar┬ákecelakaan ┬álakalantas di jalanan di Wonosari, Playen, Paliyan dan sekitarnya adalah kebiasaan anak – anak sekolah dan beberapa oknum karyawan kantoran yang sering berangkat kerja pada menit – menit terakhir menjelang jam masuk sekolah dan kantor. Mereka pikir mereka bisa sampai dengan memacu kendaraan mereka. Dan jadilah jam 06:45 WIB – 07:30 sebagai jam rawan lakalanatas. Untuk penyebab lakalantas yang kedua ini memang hanya bisa dikurangi dengan “penyadaran”. Dan sangat sulit.

 

Pengendara Motor Usia Belia dan Kenyamanan Lalu Lintas

Kejadian ini terjadi beberapa hari yang lalu. Pagi – pagi ketika saya sedang di dalam angkudes kobutri dikagetkan oleh suara gemertak benturan. Rupanya ada pengendara sepada motor yang terjatuh. Peristiwa ini terjadi di sebelah selatan Masjid Pemanahan, dekat Pasar Desa Grogol Kecamatan Paliyan. Beberapa saat kemudian saya dibuat lebih kaget oleh suara pisuhan dan umpatan yang diteriakan secara lantang.

Saya kaget bukan karena tidak pernah mendengar umpatan pisuhan dengan kalimat – kalimat sekotor itu sebelumnya. Melainkan kekagetan saya itu lebih karena pisuhan itu keluar dari mulut anak – anak seusia SMP atau SD. Saya kurang dapat membedakan karena pengumpat – umpat itu mengenakan seragam Pramuka. Pengumpat umpat itu adalah pengendara sepeda motor yang baru saja terjatuh. Saya katakan pengedara itu mereka karena satu sepeda motor digunakan untuk berboncengan bertiga. Rupanya mereka ini menyalahkan pengemudi kendaraan pick up yang sedang mengangkut sapi sebagai penyebab kecelakaan sepeda motor yang mereka alami.

Tidak mudah untuk mengatakan siapa benar siapa salah dalam peristiwa kecelakaan itu. Bagi saya yang paling menyebabkan rasa miris di jalanan adalah pengendara – pengendara sepeda motor berusia sangat belia yang jarang – jarang bisa mengindahkan etika berlalu lintas. Memang sih, secara mereka juga belum cukup umur untuk mengantongi SIM sebagai lisensi untuk bisa mengendarai kendaraan di jalan raya. Ditambah lagi kultur berlalu lintas di daerah dimana saya tinggal yang menurut saya sangat semrawut. Dan menurut saya sangat – sangat membahayakan keselamatan terutama pada jam – jam menjelang masuk sekolah.

Demi keselamatan bersama, utamanya untuk kepedulian kita pada adik – adik usia belia ini, bukankah kasih sayang dan partisipasi orang tua bisa sangat membantu ….