Secangkir Kopi di Balik Jendala (Andai)

Menyaksikan hujan turun membasahi tanah dan dedaunan di pekarangan dari balik jendela, bagi saya merupakan pemandangan yang menentramkan sekaligus aroma harapan. Apalagi bila diperlengkap dengan aroma kopi hitam yang tidak terlalu dikhianati oleh manis gula. Secangkir saja.  Menyeruput kopi panas kental hitam itu sambil sesekali menengok status, komentar dan feed di facebook, membalas chat, dan kadang men tweet akan apa yang bagi saya menarik.

Ahhh, sudahlah, tidak usah terlalu menghayal. Saat ini perut tidak akan sedikitpun mau berkompromi dengan kopi. Sedikit saja ingkar janji, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama, maag akan segera mendemo, iri dengan kenikmatan sekejap yang baru dikecap. Internet?

Lihat berapa tenaga yang masih tersisa di baterai, mungkin tidak akan beberapa lama lagi. Tidak ada yang perlu dipertanyakan dan dipertentangkan dengan keberadaan listrik PLN yang byar pet. Meski bagaimanapun, tetap nikmatilah dari balik jendela selama waktu masih menyisakan sempat (halaah)

Kecele dan Sepele

Kata “kecele” menarik perhatian saya ketika diucapkan berkali kali oleh Khotib  pada suatu Khotbah Jum’at yang saya ikuti di Masjid Al Mutaqin dusun Karangmojo A pada beberapa hari yang lalu. Tepatnya hampir seminggu yang lalu, karena besok sudah hari jum’at lagi. Bapak Tukirman, pada khotbah yang disampaikan dalam bahasa Jawa itu, beberapa kali menggunakan kata “kecele” untuk menjelaskan akibat dari apa yang saat ini orang – orang kerjakan untuk meraih banyak hal tetapi pada akhirnya (mungkin maksudnya di akherat kelak) tidak benar – benar mendapatkan apa yang berguna dan memberi manfaat bagi mereka. Orang – orang yang kecele ini adalah orang – orang yang mencari selain apa yang ditunjukan dalam ajaran agama. Dan atau adalah mereka yang meniti jalan selain yang dituntunkan oleh Rasulullah.

Alih  – alih membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring karena ingin lebih mengerti  tentang arti kata “kecele”. Kata “kecele” juga merupakan bagian dari perbendaharaan kosakata bahasa Indonesia. Yang dijelaskan demikian, ke·ce·le /kecelé/ a cak dl keadaan tidak mendapat (menemukan, memperoleh) apa yg diharapkan (diduga, dicari, dsb): penonton — krn setelah menunggu lama sekali, ternyata pertunjukan dibatalkan.

Sedangkan kata “sepele” dijelaskan dengan se·pe·le /sepélé/ a remeh; enteng; tidak penting: masalah –; banyak penduduk yg menganggap — thd KTP; me·nye·pe·le·kan v menganggap sepele: kita tidak boleh – masalah yg penting itu.

Loh kemudian apa hubungan antara kata “kecele” dan “sepele” yang saya gunakan sebagai judul posting ini? 🙂

Ingin memerika arti kata dalam bahasa Indonesia? Silahkan klik pranala dibawah ini :

http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php

Keyboard untuk yang berkuku panjang : Ada ngga?

Mulai tadi pagi saya merasakan bete ketika sedang mengetik. Keyboard ini terasa membuat jari – jari tangan tidak nyaman seolah sedikit – sedikit tergelincir dan keseleo. Habis itu suara berisiknya tidak mengenakan telinga. Saya juga tidak habis pikir dengan keyboard yang belum beberapa bulan saya ganti dan kenapa akhir – akhir ini telinga saya menjadi sensi dan mudah alergi.

Mengalihkan penglihatan dari monitor untuk memastikan biang penyebab kebetean, mendapati bahwa memang benar bahwa keyboard itu baru berusia beberapa bulan dan kelihatan tidak berubah, yang kelihatan kemudian menimbulkan pertanyaan adalah, sudah berapa bulankah saya tidak memotong kuku. (lol) Ketahuan masalahnya kalau saya sedang 130/80, yang menjadikan ngasalnya menjadi jadi.

Sekali ngasal tetap ngasal. Adakah keyboard yang di desain untuk nyaman digunakan bagi yang kurang menerima bahwa memotong kuku itu suatu kebenaran? Atau lebih benarnya malas memotong kuku.

Chrome Browser Beta di Karmic Koala

Google Chrome Beta on Karmic Koala

Google Chrome Beta on Karmic Koala

Kesan pertama adalah warna dasar default dan desain antar muka penjelajah laman Chrome yang biru lembut terlihat pas dengan googlewave. Habis dari dapur yang sama, sih. Bagi saya warna dasar default ini bahkan serasi dengan kebanyakan situs favorit saya yang berwarna dasar biru itu. Meski masih versi beta, dan baru beberapa jam menjajal, kecepatan dan kesederhanaan antar muka Chrome, menurut saya layak untuk diandalkan. 😀

Bagaimana saya bisa me review secara obyektif kalau dengkul sudah dibuai dengan kesan pertama. Jadi bagi yang tertarik silahkan men download di link berikut :

http://www.google.com/chrome?platform=linux

Dan silahkan juga menengok :

http://www.google.com/chrome/intl/id/features.html?platform=linux

http://www.google.com/googlebooks/chrome/index.html

Kenali cewe itu dengan ponsel mu!

Google introduced several other products at its event on Monday. The most ambitious, called Google Goggles, allows people to send Google a cellphone photograph of, say, a landmark or a book, and have information about the contents of the image returned to them instantly.

The technology has one potentially provocative use: someone could conceivably send Google a photo of a person — if they fail to remember an acquaintance’s name, for example — and get enough information about him or her to avoid an awkward encounter.

http://www.nytimes.com/2009/12/08/technology/companies/08google.html?ref=technology

***

Mari kita sedikit ber andai – andai. Andaikan di suatu sore ketika sedang berliburan dengan jalan – jalan  di Malioboro bersama geng – geng kita. Kita sedang menikmati pemandangan sore khas jogja lengkap dengan lalu lalang di antara pedagang kaki lima yang banyak berjualan souvenir apik dan khas. Mungkin Anda atau teman anda juga sedang mengamat amati akan memilih salah satu cendera mata itu untuk menjadi pengisi kamar. Namun belakangan anda mengetahui, bahwa sebenarnya yang tampak lebih menarik adalah beberapa cewek cantik yang sedang memilih bandana bermotif batik. Baca lebih lanjut

Bukan Kendaraan Perang

Apa Jenis Kendaraan ini?

Apa Jenis Kendaraan ini?

Dilihat dari bentuk rupanya, kendaraan ini memang aneh. Suatu kendaraan beroda dua yang berbeda dari kebanyakan yang sehari – hari saya tumpangi. Meski bukan kendaraan perang militer, mungkin anda bahkan belum pernah sekalipun menumpangi.

Gambar ini sengaja saya ambil dengan tidak jelas dengan kamera ponsel pada kemarin siang di salah satu ruas jalan desa menuju rumah saya karena terbersit di kepala akan suatu kenangan masa kecil seusia sekolah dasar dengan banyak teman sebaya berebutan untuk menumpangi kendaraan “istimewa” ini. Maklum, bagi anak – anak kampung sebaya saya pada jamannya, menumpangi kendaraan merupakan kenikmatan tersendiri yang tidak setiap saat bisa didapatkan.

Bila Anda masih penasaran kaitannya dengan gambar tersebut, mungkin gambar berikut merupakan alenia selanjutnya. Baca lebih lanjut

Fatwa Haram Mie Ayam

Mie Ayam

Mie Ayam

Ini adalah saat – saat dimana saya harus memperteguh pendirian dan lebih menahan diri. Penampilan menggoda dari nona nona muda dengan pose menantang dan mie ayam beraroma sedap gurih seolah berkata merayu, “Monggo Mas, silahkan mencicipi. Gurih loh. Sedap loh, Uenak loh, Uenak tenan mas.”

Tidaaak!”

“Demi apapun, saya tidak akan dengan (mie ayam) kamu!”

Boleh dong saya memberi fatwa  halal haram akan sesuatu. Asal tidak memaksakan apa fatwa saya kepada orang lain. Dengan mengingat, memperhatikan, mempertimbangkan  dan seterusnya bahwa mag saya berpotensi kambuh memarah bila nekad menuruti nafsu dengan melahab seperti apa yang dipertontonkan nona nona dalam foto itu.

Tentu, mie ayam bukan satu – satunya jenis makanan yang saya harus berpantang. Masih ada sederet do and don’t bagi pengidap mag  agar kesehatan dan stamina tetap prima. Ada sederet panjang senarai yang disodorkan seolah tanpa rasa bersalah oleh google. Semoga do and don’t itu senantiasa tertempel di depan mata kesadaran  sehingga sampai kapanpun saya tidak akan lupa sehingga  sampai terjadi tindakan bodoh. Amiin.

Dan posting ini bukan merupakan sentimen pribadi atau sentimen kolektif terhadap mie dan penjual mie 😀

Peace

Iedul Adha 1430 H: 2 sapi, 5 kambing, tidak ada yang hitam

Iedul Adha tahun ini bertepatan dengan awal penghujan. Habis hujan pula. Dingin pula. Pasti tanah lapang desa becek. Pasti jalanan menuju lapangan desa becek. Eh tidak, tahun ini, ruas – ruas jalan utama di desa Grogol sudah bercor blog, sebagian beraspal meski sebagian yang lain dalam pengerjaan.

Shalat Ied di lapangan #grogol #indonesiabanget 02

Masih belum jam 06:00 WIB saya sudah berjalan menuju tanah lapang. Tentu saja setelah saya memenangkan pertarungan dengan kemalasan diri. Mandi bersiramkan kedinginan dan tubuh menggigil dengan pilek menyumbat hidung. Saya berjalan kaki berbarengan dengan Fajar. Sementara bapak dan simbok sudah berangkat lebih dulu. Konon, Shalat Ied tahun ini akan dilaksanakan lebih awal dari tahun – tahun sebelumnya. Karena bertepatan dengan Jum’at, sehingga diharapkan waktu untuk penyembelihan hewan Qurban tidak mengganggu Ibadah Jum’at. Begitu isi Surat Edaran dari P2A Desa Grogol. Setahu saya Ibadah Jum’at sudah tidak wajib bagi yang telah menunaikan Shalat Ied. Tetapi biarlah, mungkin mereka punya pertimbangan tersendiri. Baca lebih lanjut

Google Wave : Belum Mudeng

Still don't know what to do with this #googlewave priview #wave

Google Wave Preview

Akhirnya, saya dapat kesempatan juga untuk dapat mencicipi google wave. Terimakasih atas kebaikan hati mas Fajar Saptono yang telah mengirimkan invitasi. Meski sampai saat ini saya masih bingung akan bagaimana cara menggunakan wave.

Maklum untuk hal beginian saya masih terlalu gaptek bin ndeso 😀

Paperless dan Limbah Batu

Sampah Jaman Batu

Sampah Jaman Batu

Tidak tahu apa jenis makhluk yang  tinggal di lingkungan sekitar tempat ini, namun dari apa yang diperlihatkan oleh foto ini membuat saya menduga bahwa mereka bukanlah Homosapien. Bukan manusia kebanyakan seperti kita. Limbah yang memenuhi keranjang – keranjang itu jelas – jelas adalah batu. Bukan limbah rumah tangga ala kebanyakan. Tidak ada plastik  dan kertas.

Jadi bagi teman – teman penggiat gerakan Plasticless atau Paperless mungkin bisa mengambil studi banding di tempat ini. Siapa tahu bermanfaat.

Foto ini saya ambil pada kemarin siang didepan/sebelah utara Puskesmas Playen.