Secangkir Kopi di Balik Jendala (Andai)

Menyaksikan hujan turun membasahi tanah dan dedaunan di pekarangan dari balik jendela, bagi saya merupakan pemandangan yang menentramkan sekaligus aroma harapan. Apalagi bila diperlengkap dengan aroma kopi hitam yang tidak terlalu dikhianati oleh manis gula. Secangkir saja.  Menyeruput kopi panas kental hitam itu sambil sesekali menengok status, komentar dan feed di facebook, membalas chat, dan kadang men tweet akan apa yang bagi saya menarik.

Ahhh, sudahlah, tidak usah terlalu menghayal. Saat ini perut tidak akan sedikitpun mau berkompromi dengan kopi. Sedikit saja ingkar janji, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama, maag akan segera mendemo, iri dengan kenikmatan sekejap yang baru dikecap. Internet?

Lihat berapa tenaga yang masih tersisa di baterai, mungkin tidak akan beberapa lama lagi. Tidak ada yang perlu dipertanyakan dan dipertentangkan dengan keberadaan listrik PLN yang byar pet. Meski bagaimanapun, tetap nikmatilah dari balik jendela selama waktu masih menyisakan sempat (halaah)

2 komentar di “Secangkir Kopi di Balik Jendala (Andai)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s