Iedul Adha 1430 H: 2 sapi, 5 kambing, tidak ada yang hitam

Iedul Adha tahun ini bertepatan dengan awal penghujan. Habis hujan pula. Dingin pula. Pasti tanah lapang desa becek. Pasti jalanan menuju lapangan desa becek. Eh tidak, tahun ini, ruas – ruas jalan utama di desa Grogol sudah bercor blog, sebagian beraspal meski sebagian yang lain dalam pengerjaan.

Shalat Ied di lapangan #grogol #indonesiabanget 02

Masih belum jam 06:00 WIB saya sudah berjalan menuju tanah lapang. Tentu saja setelah saya memenangkan pertarungan dengan kemalasan diri. Mandi bersiramkan kedinginan dan tubuh menggigil dengan pilek menyumbat hidung. Saya berjalan kaki berbarengan dengan Fajar. Sementara bapak dan simbok sudah berangkat lebih dulu. Konon, Shalat Ied tahun ini akan dilaksanakan lebih awal dari tahun – tahun sebelumnya. Karena bertepatan dengan Jum’at, sehingga diharapkan waktu untuk penyembelihan hewan Qurban tidak mengganggu Ibadah Jum’at. Begitu isi Surat Edaran dari P2A Desa Grogol. Setahu saya Ibadah Jum’at sudah tidak wajib bagi yang telah menunaikan Shalat Ied. Tetapi biarlah, mungkin mereka punya pertimbangan tersendiri. Baca lebih lanjut

Sepi itu Bentuk Sederhana, atau sebaliknya?

Kini jam di Komputer saya sudah menunjukan sekian puluh menit lepas dari tengah malam. Bisa di bilang suasana malam ini tenang dan higienis. Disini pada malam hari hampir tidak terjadiΒ  polusi bunyi. Istilah keren nya ber noise level rendah. Entah, saya lupa, kalau dalam Fisika sepi malam – malam di desa seperti ini diproyeksikan berapa dB (desiBell), yang jelas sangat beda dengan tingkat kebisingan dimana disiang hari saya buruh untuk menyambung kehidupan. Bedanya lagi, disini, sepi ini aseli tanpa rekayasa. πŸ˜€

Bagi saya, sepi itu terasakan sederhana. Dan Sederhana itu membuat saya saat ini masih tetap bersemangat untuk menulis blog. Sepi itu tidak cepat lelah. πŸ˜€ Entah benar atau tidak apa kata saya mengataan bahwa sepi itu sederhana. Sekarang ijinkan saya untuk sedikit mengarang.

Sepi berarti semakin sedikit masukan informasi ke dalam diri.

Entah informasi itu masuk melalui pintu telinga, pintu mata, pintu hidung, atau pintu belakang, pokoknya masuk begitu saja dengan cara yang tidak mudah dikendalikan. Baca lebih lanjut

Khotbah Jum’at : Doa (belum) terkabul

Kita berdoa karena kita mengimani tentang Tuhan. Dan sebagai muslim kita berdoa kepada Allah SWT. Keyakinan bulat kita adalah Allah itu Maha Pengasih, Maha Penyayang, punya superioritas untuk melakukan apa saja bahkan untuk sesuatu yang tidak dibayangkan ummat.

Harapan setiap pendoa pasti terkabulkan apa – apa yang diminta. Dan Allah sebagai Maha Penguasa, pasti mengabulkan setiap doa, kecuali atas beberapa sebab. Kata kecuali saya pertebal supaya maksudnya jelas. Beberapa dari kecuali itu, antara lain, Allah tidak akan mengabulkan doa hamba yang masih melakukan perbuatan dosa dan belum bertobat (1), Makan dan Minum dengan rejeki yang tidak halal (2), Allah bemaksud mengabulkan doa yang dipanjatkan di surga kelak (3), dan lain – lain.

Bahkan menurut para Ulama, banyak hikmah yang bisa di dapat dari belum terkabulnya doa. Wah, mengenai hikmah dari doa yang belum terkabul menurut apa yang disampaikan khotib siang tadi, saya tidak bisa mengingat dengan baik. Dari pada salah menuliskan, lebih baik tidak dituliskan dulu. Andai ketika mengikuti khotbah Jum’at diperbolahkan membawa catatan dan menuliskan poin poin yang disampaikan pengkhotbah. Mungkin saya dapat menyusunnya kembali dan membagikan di blog ini untuk pembaca.

Tekun dan Konsisten, susah!

Dulu ketika awal – awal bulan Ramadhan, saya berencana untuk bertadarus sebanyak satu juz sehari, sehingga pada akhir Ramadhan nanti dapat khatam 30 juz. Pikir saya sedikit – sedikit tetapi kalau ajeg itu lebih baik dari pada sistem kebut semalam. Meskipun sistem kebut semalam telah proven and tested telah mengantarkan saya menjadi yang sekarang ini. Maksudnya? πŸ˜€

Hari ini merupakan H ke 17. Ketika tadi pagi saya mem bookmark halaman mushaf Al Qur’an saya, ternyata waktu telah menunjukan beda. Saya baru meniti juz 11. Bukankah seharusnya sudah paling tidak lebih dari setengah bacaan terselesaikan? Atau seharusnya menginjak juz 17/18 …

Ya, persistensi dan konsistensi memang menjadi tantangan terbesar sepanjang hayat untuk seorang Jarwadi

Ramadhan H 8, tiba tiba …

Kalau waktu terasa berjalan cepat berarti yang merasa itu sedang bahagia. Sedang bila waktu terasa berjalan lambat  maka akan dikaitkan dengan arti kebalikannya. Meski “menanti” pun akan membuat waktu berjalan lebih lambat. Padahal, terserah orang merasa cepat atau lambat waktu berjalan, tidak akan mengubah 24 sebagai jumlah hitungan  jam  dalam sehari, 60 menit dalam satu jam dan 60 detik dalam semenit.

Hari ini merupakan puasa yang ke-8. Dua hari lagi sepertiga Ramadhan akan kita tinggalkan. Cepat sekali, eh terasa cepat sekali ya. Loh apakah saya sedang merasa bahagia karena merasakan perjalanan waktu yang terasa cepat?

Selamat Menunaikan Ibadah Ramadhan dan Selamat Berpuasa. Semoga  Ibadah kita diperhitungkan sebagai Amal Kebajikan dan dosa dosa mendapatkan pengampunan Amiiin …

They Think Glasses and Dishes are Highly Expensive

DSC02644.resized

DSC02653.resized

DSC02632.resized

This “little tree” not only have to survive under the dry season but also the pollutant around. May be one of it F A Q is ” Can we live together?”

How would you enjoy (all of) this?

DSC02570.resizedPeople often wanted to take everything as much and then sometimes didn’t know how to enjoy the whole without left to spare. Didn’t they know how much they needed in life?

Indeed,life has given us millionΒ  colorΒ  or more but we aren’t the only living creature on earth wanting for joyful

Lima Perkara Sebelum Lima Perkara

  1. “Pergunakan masa mudamu sebelum datang masa tuamu
  2. “Pergunakan masa luangmu sebelum datang masa sibukmu“.
  3. “Pergunakan waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu“.
  4. “Pergunakanlah waktu kayamu sebelum datang waktu miskinmu”.
  5. “Pergunakan hidupmu sebelum datang matimu”.

HaditsΒ  diriwayatkan Imam Hakim dalam kitab al-Mustadrak.

Sumber : http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&task=view&id=638&Itemid=30

Kamu yang menjadi Imam. Tidak Kamu saja

Di suatu shalat Isya di suatu masjid, hanya ada beberapa pemuda yang bertampang tidak alim. Tidak seperti biasa, jamaah yang lain sepertinya sedang tidak akanΒ  bershalat Isya’ di masjid itu.

Beberapa pemuda itu entah kenapa terus saja ngobrol entah apa yang dibicarakan. Mereka cuek atau memang tidak mendengar kalau di masjid tetangga, Iqamah sudah dikumandangkan. Atau mungkin ada yang mereka tunggu. Mungkin menunggu biar jamaah lain terkumpul agar jamaah lebih banyak. Atau apa?

“Kamu yang jadi imam ya” dari ngobrol tidak karuan mereka, kalimat itu yang agak terdengar.
“Ngga bisa, kamu saja”
“Kamu …”
“Kamu …”

Salah satu pemuda tidak alim itu kemudian menyudahi pertengkaran dan legawa menerima musibah untuk mengimami jamaah isya yang tidak banyak itu.

Shalat Isya berlangsung cepat. Bacaan shalat di baca cepat. Tajwid dan Qalqalah sepertinya bukan isu yang perlu diseriusi malam itu.

Beberapa pemuda itu tanpa banyak apa segera menuju tempat nongkrong di perempatan yang biasanya. Memang itulah rutinitas mereka sehari hari.

Tidak terlalu lama Β waktu berselang. Di jalan itu lewat serombongan orang yang sepertinya mirip dengan mereka mereka yang menjadi pemuka dan berjamaah di masjid. Kalau tidak salah loh … Mereka itu dari menunaikan acara kenduri, ‘genduren‘ untuk selamatan bagi orang yang telah meninggal di kampung mereka.

Oh jadi itu sebabnya jamaah pada malam itu tidak biasa!