Kapan Menikah?

Usia saya 28 tahun. Status TM. Tidak Menikah. Meskipun dari teman teman SD saya masih ada beberapa yang tidak Menikah, tetapi besok sore salah seorang teman SD saya akan sudah menikah. Dia adalah Suban. Selamat Menikah saja buat Suban. Kemudian urutan terdekat setelah Suban, saya menduka adalah Andi. Karena kabar-kabarnya dia sedang mengurus Surat Numpang Nikah.

Selama ini saya meyakini bahwa diantara teman dan geng, saya akan berada di antrian terakhir di pintu gerbang pernikahan. Dan kelihatanya keyakinan saya tersebut akan menjadi kenyataan, walaupun saya tidak sengaja mengusahakanya. Manipulasi adalah cara yang tidak saya sukai, kecuali kalau terpaksa.

Di lingkungan tempat saya hidup, menikah adalah status. Teman saya pernah berkata, menikah adalah sebuah gerbang. Entah apa yang dia maksudkan, sampai hari ini saya tidak pernah tahu.

Karena sebuah status, orang yang tidak menikah seperti saya mendapat tekanan sosial yang sangat besar. Selalu muncul pertanyaan, “Kapan Menikah”? Kalau Agus Ringgo menjawab, “maybe yes maybe no“. Kalau Adang Sudarman menjawab, “wah belum ada yang cocok”. Kalau Dini Restuti menjawab, “wah belum ada waktu”. Maka saya akan menjawab, “tidak ada perempuan yang suka pada saya”.

Saya suka dengan jawaban yang saya berikan. Jawaban ini tidak pernah diduga oleh siapa pun. Sehingga orang yang mendengar akan kaget dan tanpa sadar secepat mungkin menggunakan topeng empati. Maka kata-kata penghiburan untuk mengangkat semangat dan membuang sikap pesimis dari diri saya meluncur dengan merdu. Kata-kata mereka seperti musik jazz di telinga saya. Kadang enak didengar tapi saya tidak pernah bisa mencerna.

Banyak orang menasihati saya agar tidak pesimis. Dia menambahkan bahwa “elo kurangnya apa sih, pendirian kuat, fisik proporsional, wajah cute, dari keluarga baik-baik, pendidikan meyakinkan. Ya memang tidak ada yang kurang dari diri saya. Yang kurang hanyalah tidak ada perempuan yang suka pada saya?

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan keputusan saya untuk tidak menikah. Menurut saya kalau menanggapi kata orang, yang ada hanya serba salah. Kapan serba benarnya ya?  Bukan hanya orang tidak menikah saja yang mendapatkan tekanan sosial besar. Orang yang sudah menikah pun tetap mendapat tekanan sosial yang besar. Contohnya Aswinto, teman seperburuhan saya.  “Kapan punya momongan?”. Selanjutnya “Kapan si ucok punya adik?”. Dan terus seterusnya tanpa berkesudahan. Begitulah deraan orang-orang yang keputusanya datang dari tekanan sosial. (baca : orang lain)

 

Harry Potter 7 : Pilih baca versi asli atau terjemahan?

Chapter One :  The Dark Lord Ascending
The two men appeared out of nowhere, a few yards apart in the narrow, moonlit lane. For a second they stood quite still, wands directed at each other’s chests; then, recognizing each other, they stowed their wands beneath their cloaks and started walking briskly in the same direction.

“News?” asked the taller of the two.

“The best,” replied Severus Snape.

The lane was bordered on the left by wild, low-growing brambles, on the right by a high, neatly manicured hedge. The men’s long cloaks flapped around their ankles as they marched.


Chapter Satu
The Dark Lord Ascending
(Kebangkitan Pangeran Kegelapan)

Dua orang itu muncul secara tiba-tiba, terpisah beberapa meter di sebuah jalan sempit
yang diterangi oleh cahaya bulan. Sesaat mereka berdiri diam, tongkat masing-masing
saling terarah ke dada yang lain. Setelah mengenali satu sama lain, mereka menyimpan
tongkat masing-masing dibalik jubah dan mulai berjalan cepat ke arah yang sama.
“Bagaimana?” tanya orang yang paling tinggi dari keduanya.
“Sempurna,” jawab Severus Snape.

Jalan kecil itu dikelilingi oleh semak liar yang rendah disebelah kiri, pagar tanaman yg
tinggi dan terawat disebelah kanan. Jubah panjang mereka berkibar selagi mereka
berjalan bersama.

Saya tidak tahu bagaimana berbahasa Indonesia dan atau berbahasa Inggris dengan baik dan benar. Demikian juga dengan jagat pengalihbahasaan dan penterjemahan, saya sama sekali awam terkait keduanya.

Namun demikian saya menemukan sesuatu yang menarik ketika membaca sebuah novel, saya mengutip beberapa paragraf pada bab awal novel tersebut dan menempelkan pada bagian awal tulisan ini. Dalam kutipan diatas baik yang berbahasa Indonesia maupun berbahasa inggris sama – sama merupakan bagian dari Novel yang ditulis oleh JK Rowling dalam serial Harry Potter. Harry Potter 7 : The Deathly Hollows. Menariknya, ternyata mengalih bahasakan atau menterjemahkan bukanlah pekerjaan mudah.

Buktinya?

Kalau kita sedikit mempunyai waktu luang untuk membaca dan membandingkan dua kalimat dialog yang saya beri warna biru, menurut saya, penterjemah kurang bisa menemukan kalimat yang pas sehingga kalimat tersebut gagal membawa kehangatan dan emosi yang diverbalisasikan oleh penulis asli dengan ungkapan berbahasa Inggris. (mungkin ungkapan dalam budaya barat juga). Sekali lagi saya menegaskan bahwa penterjemahan dan pengalihbahasaan bukanlah pekerjaan mudah. Dan bukan berarti bisa memindahkan semua elemen dalam bahasa asli ke dalam bahasa tujuan dengan volume dan intensitas yang persis sama.

Apa apaan sih?

Sebenarnya saya hanya mau menjawab pertanyaan yang saya buat sendiri sebagai judul tulisan ini. Walaupun saya belum pernah baik untuk menggunakan bahasa manapun, baik itu bahasa jawa, bahasa inggris, bahasa indonesia atau bahasa tarzan sekalipun, saya lebih nyaman dengan bacaan berbahasa aseli. Membaca versi aseli itu lebih memberi keleluasaan untuk menangkap secara lebih terperinci setiap ide dan gagasan yang disampaikan oleh penulis dengan gaya verbalisasi dan visualisasi yang dia atau mereka anggap  maksimal  dan sesuai.

Silahkan mendownload versi pdf dari sini untuk Harry Potter 7 berbahasa indonesia dan berbahasa inggris

Sedia Payung biar tidak keHujanan

Sepanjang Pagi sampai menjelang siang ini merupakan hari tercerah setelah 7 Desember. Selama satu setengah Minggu diri ini harus bertarung melawan hujan dan (masuk) angin. Lekat dengan tubuh ini pasti adalah kedinginan, persendian dan dengkul ngilu, kepala pusing tujuh keliling –tetapi kalau yang ini karena masalah kurang duit. Melengkapi derita biologis tersebut adalah penampilan yang semakin menjadi korban. Celana dan  Baju berbekas air hujan kerap kali menjadi make up ditempat kerja. Bahkan, juga karena kehujanan, parfum AXES yang saya pakai menjadi luntur sehingga kita kita disini bisa berbagi aroma aseli warisan nenek moyang (baca : bau keringat)

Selain menjadi derita bagi sistem biologis dan sistem *narsisme, air hujan yang ganas juga merupakan acaman serius untuk Gadget Gadget yang membantu memperpanjang usia saya, sehingga walaupun sebenarnya tidak suka menjadi cowok perpayung, tetapi demi keselamatan dan usia Gadget Gadget yang saya tenteng, biasanya adalah Laptop dan Ponsel, saya mengalah dengan melakukan sesuatu yang sangat tidak saya suka. Demi Gadget tercinta, dan tentunya dengan pertimbangan yang lebih panjang dari jalanan jalanan menuju tempat kerja, sebuah Payung berwarna Ungu keabu abuan (baca : abu keungu unguan; susah memilih istilah yang tepat) menjadi pilihan dari keputuan saya. Dibeli di toko kedua dari sisi timur kompleks perkiosan Ps Siyono.

Selasa, 16 Desember 2008, tangan si Jarwadi dengan kostum keki warna krem sedang menenteng Payung untuk pertama kalinya sepanjang musim Hujan tahun ini. Si Jarwadi, si Cowo BerPayung.

Sim Salabim …

Sepanjang perjalanan pulang dengan payung ditangan si Jarwadi. Berangur angsur hujan mereda. Demikian juga derita masuk angin yang menghinggapi tubuh kerempengnya. Kemudian dipagi hari kemudian Matahari juga terbit cerah.

Kalau saja saya tahu kalau dengan sekali membeli payung hujan akan mereda dan matahari bersinar cerah, tidak  sedikitpun saya akan ragu untuk membeli payung ungu keabuan sejak awal awal. Begitu pikir Jarwadi walaupun dia juga ragu ragu akan benar dan tidaknya. Karena menjelang tombol terbitkan di jendela teks editor blog nya ditekan, mendung semakin mengkelam.

1/12 : 5.500; 15/12 : 5.000 =>010109 : … ?

Harga BBM bersubsidi turun lagi. Saya baru mengetahui kabar ini dari kompas online beberapa saat sebelum saya menulis posting ini. Sebelumnya saya tidak pernah mengira kalau penurunan Harga Bensin bisa terjadi bahkan dua kali dalam sebulan.  Dan tepat pada pukul 00:00 WIB tanggal 15 Desember 2008 harga bensin telah diturunkan oleh Pemerintahan SBY menjadi Rp 5.000/liter setelah sebelumnya dari Rp 6.000,- mengalami penurunan ke titik Rp 5.500,- per 1 Desember 2008.

Sebagai jelata, berita penurunan harga bensin merupakan kabar gembira untuk saya. Tidak heran bila saya pun membuat tulisan ini sambil senyum – senyum dan tertawa ringan terbersit harapan penurunan ini segera berdampak pada penurunan harga harga kebutuhan lain. Konon katanya BBM merupakan komponen utama penentu harga setiap jenis barang di tangan konsumen di warung warung pengecer.

Kemudian sebagai Orang Jawa, seharusnya saya juga tidak boleh heran dan terbengong bengong dengan sesuatu yang tidak kelihatan secara kasat mata dan tidak nampak ketemu nalar tetapi terjadi. Sebagai Orang Indonesia tentu saja saya harus menerima dengan ikhlas bahwa Bandung Bondowoso pun bisa mendirikan Seribu Candi dalam semalam. Tidak  beda dengan bahwa pada pagi ini terjadi suatu fakta bahwa harga Bensin turun untuk kali yang kedua. Kemudian saya pun harus bersiap untuk bergembira ria bila di kemudian hari harga Bensin diturunkan lagi.

Ketidak heranan dan Ketidak kagetan dan Ketidak bengongan saya kemudian adalah juga harus bersiap siap  kalau memang penurunan harga Bensin dan Solar tidak kunjung diikuti oleh misalnya penurunan tarif angkutan, atau penurunan harga minyak goreng, sabun mandi, tahu tempe dan ikan asin.  Lebih lanjut karena saya sadar bahwa ini adalah Indonesia maka kedepan juga harus mampu untuk Lilo Legowo bila sampai pada masa dimana dalam satu bulan harga bensin dan solar naik satu kali, kedua atau untuk ketiga kalinya.

Kira kira berapakah harga Bensin dan Solar pada pertengahan bulan Juni 2009?

Silahkan membaca berita pada link ini untuk menambah wacana

Good Man – Josh Ritter

These chords are old but we shake hands Cause I believe that they?re the good guys We can use all the help we can So many minor chords outside I fell in love with your sound Oh I love to sing along with you We got tunes we kicked around We got a bucket that the tunes go through

Babe we both had dry spells Hard times in bad lands I?m a good man for ya I?m a good man

Last night there was a horse in the road I was twisting in the hairpin My hands held on my mind let go And back to you my heart went skipping I found the inside of the road Thought about the first time that I met you All those glances that we stole Sometimes if you want them then you?ve got to

Babe we both had dry spells Hard times in bad lands I?m a good man for ya I?m a good man

They shot a Western south of here They had him cornered in a canyon And even his horse had disappeared They said it got run down by a bad bad man You?re not a good shot but I?m worse And there?s so much where we ain?t been yet So swing up on this little horse The only thing we?ll hit is sunset

Babe we both had dry spells Hard times in bad lands I?m a good man for ya I?m a good man

Lagu ini memang tidak easy listening dan itulah yang membuat perbedaan dengan lagu lagu kangen band, daun hijau atau kucing garong. Easy Listening membuat sebuah komposisi mudah masuk telinga kiri dan biasanya tanpa pamitan keluar dari telinga kanan. Masih menurut biasanya, saya akan muak untuk membuka telinga untuk sesuatu yang telah dengan tanpa ^perasaan^ meninggalkan ruang ruang selera saya tanpa  pamitan.

Kemudian bagaimana sebaiknya? Coba kalau setelah masuk dari pintu telinga kiri, kemudian bertandang ke otak kiri, syukur syukur mampir ke otak kanan, kemudian diproses, di validasi dengan otak kiri lagi dan di verifikasi dengan otak kanan lagi dan berulang ulang sampai tidak jadi keluar melalui telinga manapun tetapi muncul menjadi senyum, tawa, perasaan, tangis atau semangat atau bahkan perasaan lain yang belum terdefinisi.

Easy Listening and Easy going than. Mudah didengarkan, mudah dilupakan kemudian. Bagaimana kalau yang perlu diperdengarkan berulang ulang baru kemudian sang sensasi hadir untuk di ruang pencernaan kita? Atau memberi sensasi pada baik di *dengkul kanan maupun kiri?

Arti Penurunan BBM Bersubsidi?

Bertepatan dengan hari ke 11 sejak harga BBM bersubsidi khususnya Bensin secara resmi diturunkan menjadi Rp 5.500,- per liter oleh Pemerintahan Presiden Susilo BAMBANG, pagi ini saya berangkat ke Tempat Kerja menggunakan Jasa Angkutan Umum seperti biasanya ketika Harga Bensin Bersubsidi berharga Rp 6.000,-. Saya membayarkan ongkos yang sama seperti ketika belum ada penurunan Harga BBM. Memang, saya tidak (mungkin belum)  mendengar atau membaca perihal tentang Penurunan Tarif Angkutan khususnya Angkudes sebagai alat transportasi publik utama di Gunungkidul. Merupakan sebuah Fakta yang susah untuk dipahami seorang Jelata seperti saya, ketika dulu, menjelang kenaikan Harga BBM, harga harga sudah lebih dulu naik membumbung termasuk tarif Angkutan Umum tetapi setelah hari ke 11 penurunan Harga BBM tidak serta merta diikuti oleh Penurunan Tarif Angkutan Umum. Kalau Tarif Angkutan Umum saja yang komponen produksi utamanya adalah Bensin tidak terjadi penyesuaian ( –baca : penurunan) tarif maka tentu saja harga harga produk lain.

Menurut gambaran seorang awam, penurunan biaya pada komponen produksi akan mempunyai dampak ikutan terhadapa harga produk di tingkat komsumen. Sebelumnya banyak pihak berharap bahwa dengan penurunan harga bensin akan berefek karambol dengan keterjangkauan harga produk di tingkat masyarakat kebanyakan, inflasi yang terkendali, peningkatan daya pemenuhan kebutuhan masyarakat dan di tingkat paling hilir adalah kehidupan masyarakat Indonesia umumnya menjadi lebih sejahtera. Namun demikian ketika banyak dihadapkan dengan fakta di lapangan, terutama saya, belum mampu merasakan dampak kemudahan karena penurunan Harga Bensin Bersubsidi dan baru kemudian saya mengetahui bahwa hitung hitungan sederhana dan gambaran seorang awam seperti saya tidak bisa segera berlaku.

Penurunan Harga BBM yang baru terjadi pertama kali seumur hidup saya dan konon juga merupakan sebuah catatan baru yang dituliskan oleh Pemerintah dalam buku tek sejarah Negeri Indonesia. Pertama kali, karena mungkin akan ada penurunan ke dua karena menurut Presiden bukan tidak mungkin harga BBM Bersubsidi masih bisa diturunkan lagi dimasa yang akan datang. Mungkin tergantung kePERLUanya juga. Kalau memang Penurunan Harga BBM berkorelasi dan benar benar dapat dirasakan pada tingkat kesejahteraan masyarakat kebanyakan (baca : hamba jelata miskin, seperti saya), pasti sebagian banyak orang akan setuju.

Bila pemerintah mempunyai otak otak cerdas dari para ahli ekonomi (dan politik) yang bertugas membuat rekomendasi dan menggambarkan grafik pertumbuhan ekonomi nasional maka jelata seperti saya hanya bisa mengukur dampak penurunan harga BBM Bersubsidi dengan merasakan penurunan Tarif Angkutan, penurunan harga deterjen, penurunan harga daging dan telur,  ketersediaan pupuk di masyarakat petani, dll. Apabila dari hal hal di sekitar tersebut tidak memperlihatkan dampak positif pernurunan BBM Bersubsidi, tentu akan tidak segan segan bertanya, sesungguhnya siapa yang paling diuntungkan dengan penurunan Harga BBM Bersubsidi.

Dan bila semua orang enggan untuk memberi jawaban maka saya akan menunggu sampai waktu yang memberi jawab.

Kapan ^Science^ terbebas dari ^Kepentingan^ : Sebuah Review novel Deception Point

Ketika pagi ini hujan tidak juga kunjung reda dan sepertinya kemalasan memberikan rekomendasi agar saya tidak keluar rumah. Mungkin kemalasan cukup tahu kalau saya terlalu sering kehujanan akan mengundang flu dan pilek bertamu ke rumah. Baiklah hari ini memang saya tidak keluar rumah dengan menghabiskan waktu untuk melanjutkan membaca novel : Deception Point karya Dan Brown. Terjemahan bebasnya kira kira adalah Titik Muslihat.

Saat ini saya telah membaca sampai halaman ke 108 dari buku setebal lebih dari 500 halaman. Memang, saya cukup lambat membaca tiap tiap halaman dari buku ini karena banyaknya istilah istilah dan kosa kata baru dimana saya harus mencari tahu penjelasanya dengan bantuan kamus. Membaca demi halaman dalam buku ini seolah saya sedang keluar dari dunia saya, berjalan jalan ke alam dengan atmosfer geologi dan astronomi dimana saya harus belajar dari awal untuk mengenal batuan, meteorit, kutup utara, pencairan glacier sampai ke teknologi canggih seperti Earth Observng System dan PODS — the Polar Orbitting Density Scanner yang dikembangkan oleh NASA dan NRO.

Dan Brown mengkontruksi novel ini dengan mengolah besarnya anggaran yang dihabiskan NASA untuk membiaya proyek proyek riset berbiaya tinggi termasuk ekspedisi luar angkasa  namun demikian seiring dengan penggelontoran dana yang besar ke agensi ini, NASA dianggap gagal dalam memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat Amerika Serikat dan kemanusiaan pada umumnya. Bahkan NASA dipandang miring sebagai alat untuk kepentingan Politik pihak pihak tertentu termasuk untuk keperluan spionase. Lebih lanjut krisis yang dialami NASA secara cermat dimanfaatkan oleh Senator Sexton sebagai bola panas yang dilemparkan ke publik untuk memenangi pemilihan Presiden Amerika Serikat. Issu mengenai NASA segera merebut perhatian publik termasuk kegelisahan Presiden Zach Herney yang dalam banyak hal telah mendukung kegiatan dan eksistensi NASA dengan banyak cara termasuk alokasi anggaran.

Dalam membangun sebuah kisah triller, kemampuan Brown memang pantas mendapat acungan dua jempol, kehadiran banyak hal tak terduga dan narasi yang efisien telah terbukti membuat banyak karya Dan Brown tampil dalam rak Best Seller di toko toko buku. Hanya saja, mungkin karena sebelum membaca Deception Point ini saya terkesima dengan The Digital Fortress yang bertempo cepat bahkan banyak bab yang tertuang singkat dalam selembar halaman. Narasi Deception Poin terasakan bertele tele dan tidak stream lined, setidaknya hal ini saya rasakan sampai halaman 108. Saya tidak tahu apa maksud Brawn, ataukah dia sedang memberi kesempatan pembaca untuk belajar tentang geologi dan menikmati betapa kompleks suatu penemuan Ilmiah dalam bidang Geologi dan Astromi.

Kalau memang demikian maksud Brown, memang apa yang terjadi pada saya sekarang ini adalah belajar bahasa dan dunia baru dalam Science tentang Geologi dan Astromi. Keterkaitan *Penemuan Ilmiah* dengan banyak kepentingan termasuk kepentingan kekuasaan dan Politik  serta  Ekonomi dan Egoisme mengingatkan saya tentang Buku Richard Feynmen yang berjudul Scientific Integrity. Adakah kira kira saat dimana Science menemukan dirinya sebagai sosok yang Mandiri bebas dari Kepentingan Kepentingan selain Kepentingan Pencarian Kebenaran Sejati dan Kemaslahatan bagi Kemanusiaan?

[ Melanjutkan membaca lagi, mudah mudahan besok bisa menuliskan lagi review saya disni]

10 ekor kambing 2 lembu

Saya menebak [walau tidak berani bertaruh] bahwa pada hari ini ada deretan panjang antrian sapi dan kambing di pintu kemulyaan milik Allah dimana binatang binatang tersebut adalah berarak arakan hewan hewan kurban yang muncul dari keikhasan yang bersemi di hati muslimin dan muslimah semaya pada. Termasuk dalam antrian,  Insya Allah adalah juga 10 ekor kambing dan 2 ekor lembu yang tadi pagi sisa hidupnya berakhir di tangan Bapak Suradi [dalam foto berikut adalah beliau yang perpose dengan pedang jagal nya]sang  algojo –the butcher– dalam rangkaian penyembelihan hewan korban di Masjid At Taqwa dusun Karangmojo B desa Grogol kecamatan Paliyan. Gema Takbir yang berkumandang mengiringi semangat berkorban niscaya merupakan indikasi keikhlasan itu.

Dari Qurban @ At Taqwa
Dari Qurban @ At Taqwa
Dari Qurban @ At Taqwa

Klik disini untuk Foto Lebih Banyak Qurban @ Karangmojo B

10 ekor kambing dan 2 lembu adalah angka yang besar menurut saya –kami– bagi dusun/ jamaah masjid yang berpenghuni kurang dari 90 KK. Betapa ketika 15 tahun yang lalu saya menyaksikan dengan kecemburuan karena ada dusun lain yang sudah mampu mengorbankan lebih dari 20 ekor kambing sedangkan di Masjid At Taqwa masih dengan cermat membagi daging dari 3 atau 4 ekor kambing. Walaupun terlepas dari sedikit dan banyak daging pembagian tetap harus disyukuri dengan perjuangan dan azham sehingga sampailah pada jaman dimana kitapun bisa berkorban. Semoga di tahun tahun mendatang juga demikian bahkan lebih baik lagi.

Ada kata kata sontoloyo yang saya suka “Budayakan Berkorban tetapi JANGAN menjadikan Mengorbankan Orang Lain sebagai BUDAYA”. Siapa yang tidak setuju kalau daging kambing [gratis] itu NikMaT?

PS :

Yang tidak setuju pasti mereka mereka yang menderita tekanan darah tinggi dan sebangsanya

Shalat Ied di Masjid

Memang shalat Ied baik itu Iedhul Adha ataupun Iedhul Fitri menjadi lebih afdol bilamana kita menunaikanya ditanah lapang akan tetapi apabila suasana menjadi tidak memungkinkan maka Masjid KI Ageng Pemanahan dan Balai Desa Grogol merupakan sebuah pilihan jamaah sedesa Grogol. HUJAN yang disiramkan Allah ke Bumi Grogol Gunungkidul sejak kemarin merupakan optimisme tersendiri bagi kelangsungan hidup bertani yang merupakan pengharapan bagi sebagian banyak hamba jelata. Semangat berkorban yang dibawakan Hari Raya ini merupakan tantangan para hamba untuk senantiasa bersyukur dengan cara cara seyogyanya serta berjuang menunaikan setiap wajib dan sunnah Nya ditengah tengah guyuran deras ujian berupa nikmat, kesempatan dan kesempitan. Kesempitan dalam artian harus disikapi dengan kreatifitas memenuhi syarat syarat Ibadah.

Dari Campuran

Masjid Ki Ageng Pemanahan sebagai tempat Shalat Ied

Dari Campuran

Khotbah Iedhul Adha oleh Bapak H Junari

Selamat Iedhul Korban, semoga mendidik terutama saya dengan nilai nilai keikhlasan, semangat berjuang, semangat berkorban tanpa mengorbankan orang lain untuk setiap kepentingan apapun

Pergantian Waktu, Nikmat dan Kegelisahan diri

Desember. Adalah bulan yang paling tidak saya sukai, karena merupakan salah satu dari sekian banyak tanda tanda bergantinya waktu.  Desember adalah barisan terakhir dalam antrian panjang di pintu keluar dari suatu perjalanan jaman dimana di pundak sang Desember terpikul semua keresahan dan kegelisahan saya yang tak terkira. Terlepas dari semua jatah waktu tersebut rasanya tidak pernah merasakan bahwa itu cukup untuk memutar mimpi mimpi saya disuatu kenyataan. Masih banyak hal yang *seharusnya terselesaikan ternyata harus mengalah dengan kekuatan perhitungan jaman.

Ketika pergantian waktu semakin terasa dan semakin terasa menggelisahkan karena seolah terjadi penambahan percepatan, rasanya ada hal yang saya rasakan menarik dan menyiramkan semurni kedamaian. Ketika dalam banyak waktu saya benci sekali dengan pergantian waktu, ada juga hal hal dimana saya tidak sabar untuk menunggu waktu segera beranjak (petang). Perasaan istimewa yang lain adalah ketika saya merasakan penyesalan ketika tertidur lebih lama namun demikian di waktu waktu istimewa ini saya melakukan dengan tanpa perasaan (berdosa) sedikitpun.

Memang, bulan puasa adalah senama satu bulan yang benar benar paling nikmat termasuk dalam urusan waktu. Hampir sama ketika seharian tadi saya menunaikan ibadah puasa sunah menjelang hari raya Iedhul Adha. Dengan segala kebesaran Nya, Allah SWT telah dengan berlipat lipat mengganti nikmat makan dan minum saya dengan nikmat waktu, dengan perasaan berdamai mengamati dengan sabar dan seksama proses pergantian waktu. Setiap detik dari Fajar sampai berkumandang Adzan Maghrib adalah milik Allah semata.

Takbir yang bergema di masjid masjid saya rasakan damai dan anggun seolah saya tidak pernah digelisahkan oleh setiap pergantian waktu dan makhluk yang bernama Desember yang menakutkan …