Kasih seorang Ibu …

Kalau ditanya tentang makanan Favorit, maka dengan tanpa ragu akan saya jawab dengan semua makanan yang dimasak oleh simbok.  Simbok selalu tahu bagaimana cara mengolah makanan yang cocok untuk selera saya. Jangan Lombok dan  Sayur Lodeh olahan simbok yang maknyuuuus selalu membuat liur ini meler dan membuat saya tidak betah tinggal di tanah kembara lebih lama dan kangen setengah mati untuk ingin segera pulang ketika meninggalkan rumah selama waktu beberapa hari saja. Spesial untuk saya, Simbok merupakan koki terhebat sepanjang masa. Sebagai Juru Masak, menurut lidah saya, simbok lebih baik dari koki koki di restoran sekalipun. Walaupun selera ini kerap kali kesengsem dengan menu suatu restoran akan tetapi saya tidak pernah datang ke resto yang sama selama lebih dari tujuh hari berturut turut, boleh jadi karena alasan kesehatan dompet, namun rasanya lidah ini mudah sekali dibuat bosan.

Tidak terhitung sudah berapa piring porsi  makanan yang saya lahab sampai seumuran saya yang telah lebih dari seperempat abad sekarang ini, entah berapa banyak gelas minuman dan entah entah barantah camilan dan lain lain. Kata seorang teman yang merantau di Jakarta sebagai buruh bangunan, dia harus merogoh kocek sekitaran Rp 7.000,- untuk sekali makan asal kenyang nasi warteg. Bila sehari perlu makan tiga kali, kemudian angka angka itu dihitung nominalnya selama sebulan, selama setahun, sepuluh tahun atau dua sudah berapa banyak duit yang perlu dibayarkan untuk urusan perut dan menyambung nyawa. Untungnya, saya tidak perlu sakit kepala untuk urusan sakit perut ini. Tidak peduli entah berapa piring yang saya lahap untuk selera lidah dan urusan mengisi perut dengan bahan bakar yang sesuai, simbok, sedari dulu, sekarang dan mungkin sampai kapan kapan selalu menggratiskan untuk saya.

Kalau dipikir pikir, masalah makan gratis yang kalau dihitung dengan rumus matematika sekalipun hanya akan mendapatkan angka angka yang segede bagong, dan kalau semisal disuruh mengganti juga saya tidak ada duit, semua urusan makan dan minum gratis tersebut belum ada sak kuku ireng nya, begitu kata orang Jawa. Maksudnya kebaikan si mama jauh lebih banyak dan penting dari sekedar urusan makan dan minum.

Saya tidak ingat kapan persisnya si bayi jarwadi lahir dari rahim ke pangkuan simbok. Tapi konon tidak sekarang saja saya menjadi beban orang tua, khususnya ibu. Sebelum terlahir kemuka bumi pun, Jarwadi yang masih orok sudah membebani si ibu selama sembilan bulan sepuluh hari sampai akhirnya si bayi sujar menjadi terkaget kaget dan lupa segalanya setelah lahir coer ke muka bumi. Sejak hari penting itulah seorang wanita kampung memulai memainkan peran baru sebagai seorang ibu. Menyandang panggilan baru dan berjuang atas NAMA IBU.

Saya termasuk orang yang tidak pernah percaya akan cinta sejati. Satu satunya cinta yang pernah ada bagi saya adalah cinta seorang ibu. Hanya seorang ibulah yang bisa melakukan apa saja demi cinta. Hanya seorang ibulah yang bisa memandikan sang anak, mengganti popok, menyuapi, meneteki dan segala tetek bengeknya dengan atas nama cinta. Kalau jalan terpanjang yang ada dipulau Jawa adalah Jalan Anyer Panarukan maka kasih sayang seorang ibu pasti lebih panjang lagi, begitu kata orang – orang.

Tugas mulia seorang ibu adalah mendidik anaknya. Membelalakan mata si Jarwadi lebih lebar untuk lebih banyak melihat dunia, tidak bosan bosan untuk menetah supaya lekas bisa berjalan, mengecup kening dan merangsang bibir bibir supaya bisa mengeja kata kata, memberi nutrisi yang baik, beberapa kali kunjungan dokter karena si Jarwadi kecil yang sering sakit sakitan dan sebangsanya telah dengan baik dilakukan simbok.

Berat sekali ya tugas seorang ibu. Kalau ada anak nakal biasanya pertanyaan yang keluar akan “Badung banget neh kampret, Siapa sih simboknya?”, “Idiiih bego banget kamu jadi boncel, emang dirumah tidak pernah disuruh belajar sama ibu kamu?”, “Niiiih anak jorok banget, dirumah punya Ibu ngga seh?”. Tidak terhitung pertanyaan dan kata kata orang yang menonjok hati seorang ibu dalam dalam. Tidak kebayang kalau orang orang ini diajak berganti peran untuk memainkan figur seorang ibu.

Begitu berat tugas dan tantangan seorang ibu. Di lingkungan tempat saya tinggal, peran dan tanggung jawab seorang ibu lebih berat lagi. Selain menjaga peranya sebagai gelandang depan dalam membesarkan dan mendidik anak anak supaya menjadi *orang*.

Seorang ibu juga harus dengan baik berperan sebagai pencari nafkah. Sebuah tanggung jawab berat  yang seharusnya dipikul oleh Bapak Bapak. Di Lingkungan tempat saya tinggal dan termasuk keluarga saya yang secara ekonomi termasuk dalam kasta hidup pas pasan, peran seorang ibu sebagai pencari nafkah bersama suami lazim dilakukan. Kebanyakan ibu ibu disini menunjukan keperkasaanya dengan bekerja di ladang ladang pertanian dan di sawah sawah atau sebagian kecil lainya yang berdagang di pasar atau berpekerjaan lain. Untuk kesinambungan urusan dapur dan periuk dan lebih dari adalah pendidikan anak anak dalam menempuh studi, sekali lagi seorang ibu juga harus turut memikul beban berat ini.

[Untuk sementara waktu saya berusaha melupakan Simbok saya yang bawel agar saya tidak menaruh pakaian kotor secara sembarangan atau ketika saya meninggalkan rumah dan lupa menutup pintu.]

Disuatu sore ketika saya ngobrol ngobrol santai ngalor ngidul dengan simbok saya, sampailah pada  pembicaraan tentang betapa besar biaya yang diperlukan untuk membesarkan seorang anak  Saya bilang kebanyakan bayi sekarang biasanya menghabiskan sekaleng susu bayi berharga mahal dalam beberapa hari,  mana harus beli Pampers lah, bubur bayi, vaksin, kereta jalan dan lain lainya ditengah kondisi ekonomi yang semakin sulit. Kemudian simbok saya menambahkan bahwa tidak hanya anak bayi saja yang memerlukan duit banyak. Setelah anak beranjak remaja kemudian orang tua berkewajiban membiayai anak menempuh studi yang biayanya semakin mahal saja. Lebih dari susahnya mencari uang sekolah, tuntutan jaman juga membuat para orang tua bertambah pusing dengan anaknya yang sehari hari bermain main dengan henpon yang secara terus menerus menggerogoti dombet para orang tua untuk membeli pulsa, belum lagi pergaulan yang tidak pernah kenyang dengan uang untuk kebutuhan ini dan itu. Belum lagi kalau si anak mbodeng minta tunggangan. Belum lagi kalau si anak salah pergaulan sehingga menjadi pecandu atau karena salah gaul terjadi kehamilan tak terkehendaki. Semua itu menambah beban berat orang tua terutama seorang ibu.

Berbicara tentang biaya pendidikan, saya jadi teringat simbok saya yang karena atas nama cinta merelakan kambing kambing peliharaanya di jual agar si diri ini bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Ibu mana yang tidak senang melihat anak – anaknya menjadi *orang*, bisa menciptakan kemandirian dan bisa mengukirkan kebanggaan untuk Orang Tua. Kapankah si Jarwadi bisa menjadi *orang*?

[Mudah mudahan simbok saya tidak membaca tulisan ini, dan bilapun sampai membaca, semoga tidak menjadi Ge eR]

Apapun kata kata yang saya tuliskan disini tidaklah cukup untuk menceritakan kehangatan, ketulusan dan kesejatian cinta dan perjuangan seorang ibu. Bersamaan dengan momen Hari Ibu ini saya berusaha untuk lebih baik memahami arti penting seorang ibu bagi kehidupan seorang Jarwadi. Lebih dari Sayur Lodeh dan semua makan gratis yang diberikan gratis untuk saya.

[Maaf ya PA, untuk sementara peran mu yang tidak kalah penting terabaikan, karena hari ini adalah special buat Mama]

Berikut saya kutipkan lagu dari Iwan Fals :

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintangan untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah penuh nanah

Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku

Dengan apa membalas…ibu…ibu….

Seperti udara… kasih yang engkau berikan

Tak mampu ku membalas…ibu…ibu

Buat Kang Steel Heart, saya minjam liriks lagunya dengan sedikit modifikasi, karena kebutuhan ….

It’s so cold at night without you here
And those gentle arms that held me close and dear
You’ll always live in my dreams
Every night when I close my eyes
I see a light and shadows of your face
It’s always there like an angel over me
So many frozen years hangin’ on my wall

You’ll always be in my heart
No one can kiss away the pain like you
No one like Mama, no one like you

2 komentar di “Kasih seorang Ibu …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s