Email Inbox Omni Int’l penuh : Karena Email Kampanye kah?

Tidak beberapa lama berselang kemudian saya mengikuti ajakan Bang Enda Nasution untuk mengirim email kampanye untuk ibu Prita. Saya mendapatkan balasan otomatis bahwa inbox mereka telah penuh melebihi kapasitas. Artinya banyak sekali simpatisan untuk ibu Prista. Mudah mudahan sedikit yang dapat kami lakukan dengan batas kapasitas masing masing dapat sedikit membantu duka ibu Prita.

Berikut adalah auto reply untuk email yang saya kirim. Wah, artinya baik pihak managemen dan pengacara Omni International Hospital tidak bisa membaca email saya .

User mailbox exceeds allowed size: info@omnihealthcare.co.id

Original message follows.

Received: from yw-out-1718.google.com [74.125.46.154] by matamata.com with ESMTP
(SMTPD-8.22) id A228049C; Wed, 03 Jun 2009 11:55:04 +0700
Received: by yw-out-1718.google.com with SMTP id 5so4116898ywm.30
for ; Tue, 02 Jun 2009 21:33:00 -0700 (PDT)
DKIM-Signature: v=1; a=rsa-sha256; c=relaxed/relaxed;
d=gmail.com; s=gamma;
Baca lebih lanjut

Kasih seorang Ibu …

Kalau ditanya tentang makanan Favorit, maka dengan tanpa ragu akan saya jawab dengan semua makanan yang dimasak oleh simbok.  Simbok selalu tahu bagaimana cara mengolah makanan yang cocok untuk selera saya. Jangan Lombok dan  Sayur Lodeh olahan simbok yang maknyuuuus selalu membuat liur ini meler dan membuat saya tidak betah tinggal di tanah kembara lebih lama dan kangen setengah mati untuk ingin segera pulang ketika meninggalkan rumah selama waktu beberapa hari saja. Spesial untuk saya, Simbok merupakan koki terhebat sepanjang masa. Sebagai Juru Masak, menurut lidah saya, simbok lebih baik dari koki koki di restoran sekalipun. Walaupun selera ini kerap kali kesengsem dengan menu suatu restoran akan tetapi saya tidak pernah datang ke resto yang sama selama lebih dari tujuh hari berturut turut, boleh jadi karena alasan kesehatan dompet, namun rasanya lidah ini mudah sekali dibuat bosan.

Tidak terhitung sudah berapa piring porsi  makanan yang saya lahab sampai seumuran saya yang telah lebih dari seperempat abad sekarang ini, entah berapa banyak gelas minuman dan entah entah barantah camilan dan lain lain. Kata seorang teman yang merantau di Jakarta sebagai buruh bangunan, dia harus merogoh kocek sekitaran Rp 7.000,- untuk sekali makan asal kenyang nasi warteg. Bila sehari perlu makan tiga kali, kemudian angka angka itu dihitung nominalnya selama sebulan, selama setahun, sepuluh tahun atau dua sudah berapa banyak duit yang perlu dibayarkan untuk urusan perut dan menyambung nyawa. Untungnya, saya tidak perlu sakit kepala untuk urusan sakit perut ini. Tidak peduli entah berapa piring yang saya lahap untuk selera lidah dan urusan mengisi perut dengan bahan bakar yang sesuai, simbok, sedari dulu, sekarang dan mungkin sampai kapan kapan selalu menggratiskan untuk saya.

Kalau dipikir pikir, masalah makan gratis yang kalau dihitung dengan rumus matematika sekalipun hanya akan mendapatkan angka angka yang segede bagong, dan kalau semisal disuruh mengganti juga saya tidak ada duit, semua urusan makan dan minum gratis tersebut belum ada sak kuku ireng nya, begitu kata orang Jawa. Maksudnya kebaikan si mama jauh lebih banyak dan penting dari sekedar urusan makan dan minum.

Saya tidak ingat kapan persisnya si bayi jarwadi lahir dari rahim ke pangkuan simbok. Tapi konon tidak sekarang saja saya menjadi beban orang tua, khususnya ibu. Sebelum terlahir kemuka bumi pun, Jarwadi yang masih orok sudah membebani si ibu selama sembilan bulan sepuluh hari sampai akhirnya si bayi sujar menjadi terkaget kaget dan lupa segalanya setelah lahir coer ke muka bumi. Sejak hari penting itulah seorang wanita kampung memulai memainkan peran baru sebagai seorang ibu. Menyandang panggilan baru dan berjuang atas NAMA IBU.

Saya termasuk orang yang tidak pernah percaya akan cinta sejati. Satu satunya cinta yang pernah ada bagi saya adalah cinta seorang ibu. Hanya seorang ibulah yang bisa melakukan apa saja demi cinta. Hanya seorang ibulah yang bisa memandikan sang anak, mengganti popok, menyuapi, meneteki dan segala tetek bengeknya dengan atas nama cinta. Kalau jalan terpanjang yang ada dipulau Jawa adalah Jalan Anyer Panarukan maka kasih sayang seorang ibu pasti lebih panjang lagi, begitu kata orang – orang.

Tugas mulia seorang ibu adalah mendidik anaknya. Membelalakan mata si Jarwadi lebih lebar untuk lebih banyak melihat dunia, tidak bosan bosan untuk menetah supaya lekas bisa berjalan, mengecup kening dan merangsang bibir bibir supaya bisa mengeja kata kata, memberi nutrisi yang baik, beberapa kali kunjungan dokter karena si Jarwadi kecil yang sering sakit sakitan dan sebangsanya telah dengan baik dilakukan simbok.

Berat sekali ya tugas seorang ibu. Kalau ada anak nakal biasanya pertanyaan yang keluar akan “Badung banget neh kampret, Siapa sih simboknya?”, “Idiiih bego banget kamu jadi boncel, emang dirumah tidak pernah disuruh belajar sama ibu kamu?”, “Niiiih anak jorok banget, dirumah punya Ibu ngga seh?”. Tidak terhitung pertanyaan dan kata kata orang yang menonjok hati seorang ibu dalam dalam. Tidak kebayang kalau orang orang ini diajak berganti peran untuk memainkan figur seorang ibu.

Begitu berat tugas dan tantangan seorang ibu. Di lingkungan tempat saya tinggal, peran dan tanggung jawab seorang ibu lebih berat lagi. Selain menjaga peranya sebagai gelandang depan dalam membesarkan dan mendidik anak anak supaya menjadi *orang*.

Baca lebih lanjut