Etika Menulis Email

Saya menghela nafas mendapatkan email yang saya tulis dengan santun, dengan sistematika, dengan kalimat dan typo yang dicermati, oleh suatu organisasi dijawab dengan beberapa kalimat singkat yang bertabur kata-kata singkatan. Pikir saya ini email bukan sms yang harus hemat karakter.

Itu beberapa waktu dulu. Sekarang saya tidak kaget lagi. Sudah biasa.

Rupanya etika menulis email yang saya pelajari di bangku sekolah dulu itu sekarang sudah tidak sepenuhnya berlaku. Harus diakui sekarang orang maunya ‘to the point’, tidak punya waktu untuk berbasa basi lagi. Penyingkatan kata dan kalimat mungkin penting bagi mereka yang menjawab atau menulis email dari mobile device.

Namun saya sendiri masih enggan untuk meninggalkan cara klasik menulis dan membalas email. Saya tidak ingin menulis “Dear Prof XYZ … Thanks you so muuch”

Yes! I am so 90’s 😀

Iklan

18 thoughts on “Etika Menulis Email

  1. Saya kalau tidak dalam urusan formal, gaya penulisan saya santai kok pada surat elektronik, bahkan pada pembimbing akademik, asal cukup santun dan mudah dipahami, saya rasa itu cukup.

    Karena saya sendiri akan merasa aneh jika menerima surat yang formal, padahal tidak dalam nuansa formal.

    • Pak Dokter, yang saya contohkan di atas adalah email formal antar organisasi. Saya sendiri untuk menulis email personal ya santai santai saja, yang penting menjaga sopan dan mudah dimengerti. 🙂

  2. Saya baru belajar menulis, tetapi untuk gaya tulisan mungkin selera dan gaya masing-masing, tapi emang selama ini saya masih mencoba menulis yang tidak disingkat. Kalaupun singkatan ya sudah baku.

  3. Kalau saya biasanya dilihat dulu siapa yang akan saya kirimi email, kalo sekiranya baru kenal atau untuk dosen saya misalnya, ya saya sebisa mungkin make bahasa formal. Kecuali dengan teman sendiri 🙂

  4. mendadak jadi inget mata kuliah etika profesi dulu mas, etika ngirim email aja buanyak minta ampun.. tapi kalo diliat dari kasusnya mas jar, kayaknya etika tersebut harus pake tanda kutip deh.. hehe

  5. saya paling mumet kalo nerima kiriman tulisan yang disingkat-singkat apalagi kalo berbau alay, maka kepada siapapun kalo saya nulis email saya buat walo ndak resmi tapi dengan bahasa yang disesuaikan dengan siapa yang kita kirimi

  6. Tapi rasanya gak enak juga kan ya Mas, kita sudah mengirim email dengan bahasa yang baku, tanpa disingkat, dan EYD, eh malah dibalas seperti bahasa SMS. 😦

    Mungkin ini karena orang tersebut membalas email via smartphone. 😦

  7. Saya baru seminggu ini punya masalah dengan email yang saya tulis. Padahal setiap ketemu biasanya sering guyon dan tidak ada masalah apa-apa. Namun saat email yang saya tulis dengan setengah bertanya dan mempertegas dan saya cantumkan tanda seru 4x, ekspresi si penerima jadi merah memerah. Sampai ada acara tantang menantang sebagai lelaki 😆
    Saya sendiri sebagai si penulis email jadi sedikit tersenyum kecut tanpa meladeni karena sadar dengan kesalahan. Padahal biasanya kalau ketemu offline gak ada masalah 😦

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s