Belajar Mengerjakan Soal Ujian

Baru-baru ini saya dimintai tolong oleh anak-anak SMA untuk membantu mereka belajar Matematika. Saya tidak tahu bagaimana mereka bisa datang ke saya. Saya sendiri tidak pintar Matematika.

Ketika mereka menyodorkan contoh soal ujian nasional matematika, saya menggelengkan kepala. Kalau dulu belum bisa, sekarang saya sudah lupa? πŸ˜€ Namun apa yang terlintas di kepala saya adalah mencari bacaan tentang kalkulus dasar. Soal yang diajukan itu masih sebatas persamaan deferensial, sebenarnya. Saya dengan cepat bisa menemukan bacaan yang saya perlukan di internet.

Beberapa saat mengingat kembali topik kalkulus dengan bacaan di internet tadi, saya bisa menemukan pemecahan soal tadi dan beberapa soal terkait. Baru kemudian mulai bersama-sama anak SMA tadi belajar memecahkan beberapa soal dalam bendel lembar contoh soal UN.

Sedikit-sedikit anak-anak SMA itu saya lihat mulai paham. Akan tetapi, kemudian mereka meminta saya untuk menunjukkan ‘cara cepat’ mengerjakan soal-soal matematika. Mereka melihat seolah saya bisa mengerjakan dengan cepat dan menggunakan ‘trik tertentu’. Saya tidak nge-trik. Saya hanya paham saja dan keterampilan matematik jaman masih muda dulu masih ada sedikit tersisa. Belakangan mereka meminta saya mengajari menyelesaikan soal Matematika dengan cara ‘bimbingan belajar’.

Tidak paham apa maksud mereka, sampai mereka menunjukan trik cara cepat mengerjakan soal matematika yang didapatkan dari guru mereka di sekolah dan guru guru bimbingan belajar. Hah, saya melongo, ini buat saya cara asing. Cara yang setelah saya amati sangat tidak matematika. Saya iseng memberikan soal yang berbeda untuk topik yang sama. Saya ingin melihat apa ‘cara cepat’ itu bisa menyelesaikan soal ini. Ternyata tidak.

Kemudian datang seorang teman sebaya saya, Fransisca, yang kemudian bergabung. Melihat apa yang kami lakukan, teman sebaya saya itu berkomentar, anak-anak ini tidak perlu belajar Matematika, yang mereka perlukan adalah bisa mengerjakan soal Matematika. Menurut teman saya itu, tidaklah perlu untuk bagus menguasai konsep-konsep dasar pada Matematika. Itu terlalu lama. Bukankah soalΒ Ujian Nasional dan SMNPTN itu itu-itu saja.

Menurut Sisca, kebanyakan anak-anak sekarang memang malas mempelajari sesuatu yang konseptual, mereka kebanyakan lebih suka memaksakan diri untuk menghafal. Makanya ada benarnya juga bila anak-anak ini tiap hari mengerjakan banyak soal matematika walaupun menggunakan cara yang “tidak matematika”. Dengan mengerjakan banyak soal latihan UN/SMNPTN tiap hari perlahan-lahan mereka akan ‘hafal’. Bukankah tujuan belajar mereka agar mendapat nilai bagus Ujian Nasional dan lolos SMNPTN.

OK. Saya hanya bisa senyum-senyum seolah saya bisa mengerti! πŸ˜€

Iklan

16 thoughts on “Belajar Mengerjakan Soal Ujian

  1. payah ki….
    substansine malah dikiwakne! sing penting bocah2 kan kudu ngerti isi plajarane to ya?
    ono maneh kang! ngko nek pas ujian kerep lho gurune mbantu meneng2an, tujuane ben sing lulus akeh, ben sekolahane tambah mumbul jenenge soale iso ngluluske satus persen…

  2. Hihihi iya kalau di bimbel diajarin cara cepatnya.
    Tapi dulu aku gak bimbel jadi gak ngerti. Giliran tau cara cepatnya, eh malah lupa cara cepatnya hihi~ emang lebih bagus ngerti konsepnya πŸ˜€

  3. Ha ha…, saya sejak SMA malah alergi matematika, kalau sudah lihat eksponen dan integral pingin melipat-lipatnya saja, kalau sudah lihat lingkaran pingin menyinggungnya saja :D.

  4. dari SMP saya udah ngindar kalo ketemu matematika, meski memang dipaksa untuk mengerti. satu materi yang saya paling ngak suka di matematika ( Trigonometri ) πŸ˜€

  5. Baca tulisan ada kata matematikanya jadi tertarik, karena blog saya juga membahas matematika.
    Memang kalau cara cepat itu yang diinginkan oleh banyak siswa, tetapi cara cepat juga terkadang harus memenuhi kondisi tertentu, jadi malahan banyak hafalan. Dan juga, cara cepat biasanya tidak awet bertahan lama melekat dalam ingatan siswa.
    Okelah mungkin benar kata teman mas yang bilang mending cara cepat karena soalnya juga itu-itu saja, tetapi menurutku tidak seperti itu. Pemahaman konsep yang mendasar itu justru lebih penting. Ketika kita lupa cara cepat, kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengerjakan soal tersebut. Tetapi jika sudah paham konsepnya, tidak perlu pake rumus/cara cepat pun masih bisa mengerjakan. Kalo siswa cuma mementingkan belajar untuk ujian nasional/SNMPTN, mending gak usah sekolah aja, gak usah belajar tiap hari, cukup belajar soal ujian nasional. Sanggup? saya rasa tidak seperti itu ka?
    Itu menurutku mas πŸ™‚

  6. padahal kan yang penting dari matematika yaa harus paham alur cara kerjanya.. kalo cuman sekedar apal, ntar kalo soal berubah jadi bingung gak bisa analisisnya.. hahaha

  7. nyerah deh kalo ngomongin matematika… dari dulu pelajaran satu ini nilai saya selalu pas pasan… tapi dibanding kimia jelas masih lebih enakan matematik… wakakakakaka

  8. itulah jawardi mengapa para pendidik dan pengamat pendidik banyak menentang UN yang dijadikan standar kelulusan bukan sebagai pemetaan. dampaknya mental anak ingin instan saja, suatu proses tidak dipedulikan. padahal matematika mengajarkan pada kita berpikir secara logis dengan sebuah alur yang sistematis.

    dan masih banyak dampak mental negatif lainnya.

  9. sebetulnya yang dibahas bukan plek matematika kan mas? intinya sekarang banyak yang beranggapan lebih penting bisa mengerjakan soal ketimbang paham.

    sepertinya kurikulum kita dari dulu memang kurikulum kejar rating mas. pernah saya ngobrol sama teman soal ilmu fisika. dia bilang, “coba kalau dulu guruku nerangkan begini, aku pasti paham.” tapi nyatanya yang ada guru nerangkan sebentar trus main soal. saya juga merasakan gitu mas. kenapa di sekolah ga dijelaskan sampai dasarnya, hanya permukaannya saja? walhasil ada yang baru dimengerti setelah belasan tahun lulus dari sekolah. padahal sekolah bisa take time lebih untuk memahamkan anak didik bukan mengejar sekian bab.

    hasilnya? kita belum bisa mencetak penemu unggul. kita mendapati masyarakat instan yang lebih terpukau pada konsumerisme tanpa berpikir untuk bikin sendiri. akhirnya kita cuma jadi konsumen. saya sudah melewati masa SMA 20 tahun yang lalu lho, tapi saya tak bisa banyak berkontribusi untuk bangsa. teman sezaman saya paling-paling berprestasi sebagai politikus atau businessman/woman. udah. mana yang jadi ilmuwan? mana yang menciptakan ini itu? mana ya? atau saya yang kuper dan hanya bisa menghargai yang langsung jadi langsung ngetop saja?

    wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s