Kurban Ibadah Sosial

Besok tanggal 10 dzulhijah. Semua muslim termasuk kami semua akan merayakan Hari Raya Iedhul Adha. Atau disebut juga hari Iedul Kurban. Karena pemotongan hewan kurban adalah rangkaian ibadah Iedul Adha bagi muslim yang mampu.

Sekarang, sehari sebelum kurban, banyak muslim yang menunaikan Puasa Arafah. Selamat berpuasa bagi yang sekarang sedang berpuasa Arafah. Di sini, di desa dimana saya tinggal, kebetulan beberapa hari terakhir ini merupakan panas-panasnya cuaca. Indikator cuaca yang terlihat di laptop saya menunjukan 32 derajat. Benar-benar hari yang panas melengkapi ujian puasa Arafah ini.

Ngomong-ngomong panas seperti ini belum ada apa-apanya ya dibanding di Arab Saudi sana, dimana orang-orang sedang menunaikan rangkaian ibadah hajinya. 🙂

Nah, sudah puasa, sudah panas begini, bukan berarti muslim di sini harus bersantai di rumah masing-masing. Yang tidak libur pastinya akan bekerja seperti biasa atau sekolah. Namun yang hari ini selo, mereka akan bekerja bakti biasanya di lingkungan masjid masing-masing. Untuk mempersiapkan tempat pemotongan hewan kurban. Jadi besok begitu selesai shalat Ied, hewan kurban bisa dipotong lebih cepat dan dagingnya bisa terbagikan sebelum tengah hari. Daging kurban bisa dijadikan menu makan siang untuk hari itu.

Enak. Apalagi kalau makan siang dengan lauk daging kurbannya beramai-ramai. Jadi lebih enak banget.

Di desa dimana saya tinggal, Hari Iedhul Adha adalah salah satu momen yang bagus mengumpulkan semua warga. Lebih dari mengumpulkan, namun semua warga, baik kaya atau yang belum kaya, baik para pinisepuhan maupun anak-anak semua berpartisipasi dengan caranya masing-masing. Seorang tokoh masyarakat yang biasanya enggan, pemotongan hewan kurban akan membuatnya tidak canggung-canggung memegangi bagian tubuh hewan yang sedang dipotong-potong. Termasuk ketika menbersihkan kotoran dari jerohan hewan kurban.

Daging kurban pun dibagi merata. Tidak memandang itu siapa. Pokoknya semua jamaah/semua warga sedusun harus merata. Orang-orang dari desa lain yang turut menonton pun harus mendapat pembagian daging kurban.

Hakikat Kurban yang membawa semangat berbagi pun saya rasakan sudah jauh lebih baik dibanding masa kecil saya dulu. Kalau dulu hanya menyembelih 2 atau 3 ekor kambing. Sekarang ini menyembelih beberapa sapi dan beberapa kambing. Makin tahun jumlah hewan kurban makin banyak. Jamaah pun mendapatkan lebih banyak pembagian daging kurban.

Makin banyak hewan yang dipotong pada hari Iedhul Adha jelas bagus. Namun menurut saya ada beberapa hal yang juga perlu dibaguskan. Misalnya, cara memotong hewan kurban yang syar’i dan baik, bagaimana cara memilih hewan kurban yang sehat terbebas cari cacing dan penyakit lainnya, cara memproses daging hewan yang higienis, termasuk cara mendistribusikan yang benar.

Terkait dengan cara pendistribusian saya masih ingat ketika pada jaman dulu daging kurban dibungkus dengan daun jati sebelum dibagikan. Sekarang ini ketika plastik dianggap lebih praktis, masyarakat memilih menggunakan kantong plastik. Namun mereka lupa bahwa kantong plastik berwarna hitam itu mempunyai potensi tidak higienis yang tinggi. Penggunaan kantong plastik kresek hitam ini sudah berlangsung lama sehingga menjadi kebiasaan yang sulit disadarkan, hehe

Happy Ied Mubarak 🙂

Shalat Ied di Masjid

Memang shalat Ied baik itu Iedhul Adha ataupun Iedhul Fitri menjadi lebih afdol bilamana kita menunaikanya ditanah lapang akan tetapi apabila suasana menjadi tidak memungkinkan maka Masjid KI Ageng Pemanahan dan Balai Desa Grogol merupakan sebuah pilihan jamaah sedesa Grogol. HUJAN yang disiramkan Allah ke Bumi Grogol Gunungkidul sejak kemarin merupakan optimisme tersendiri bagi kelangsungan hidup bertani yang merupakan pengharapan bagi sebagian banyak hamba jelata. Semangat berkorban yang dibawakan Hari Raya ini merupakan tantangan para hamba untuk senantiasa bersyukur dengan cara cara seyogyanya serta berjuang menunaikan setiap wajib dan sunnah Nya ditengah tengah guyuran deras ujian berupa nikmat, kesempatan dan kesempitan. Kesempitan dalam artian harus disikapi dengan kreatifitas memenuhi syarat syarat Ibadah.

Dari Campuran

Masjid Ki Ageng Pemanahan sebagai tempat Shalat Ied

Dari Campuran

Khotbah Iedhul Adha oleh Bapak H Junari

Selamat Iedhul Korban, semoga mendidik terutama saya dengan nilai nilai keikhlasan, semangat berjuang, semangat berkorban tanpa mengorbankan orang lain untuk setiap kepentingan apapun

Pergantian Waktu, Nikmat dan Kegelisahan diri

Desember. Adalah bulan yang paling tidak saya sukai, karena merupakan salah satu dari sekian banyak tanda tanda bergantinya waktu.  Desember adalah barisan terakhir dalam antrian panjang di pintu keluar dari suatu perjalanan jaman dimana di pundak sang Desember terpikul semua keresahan dan kegelisahan saya yang tak terkira. Terlepas dari semua jatah waktu tersebut rasanya tidak pernah merasakan bahwa itu cukup untuk memutar mimpi mimpi saya disuatu kenyataan. Masih banyak hal yang *seharusnya terselesaikan ternyata harus mengalah dengan kekuatan perhitungan jaman.

Ketika pergantian waktu semakin terasa dan semakin terasa menggelisahkan karena seolah terjadi penambahan percepatan, rasanya ada hal yang saya rasakan menarik dan menyiramkan semurni kedamaian. Ketika dalam banyak waktu saya benci sekali dengan pergantian waktu, ada juga hal hal dimana saya tidak sabar untuk menunggu waktu segera beranjak (petang). Perasaan istimewa yang lain adalah ketika saya merasakan penyesalan ketika tertidur lebih lama namun demikian di waktu waktu istimewa ini saya melakukan dengan tanpa perasaan (berdosa) sedikitpun.

Memang, bulan puasa adalah senama satu bulan yang benar benar paling nikmat termasuk dalam urusan waktu. Hampir sama ketika seharian tadi saya menunaikan ibadah puasa sunah menjelang hari raya Iedhul Adha. Dengan segala kebesaran Nya, Allah SWT telah dengan berlipat lipat mengganti nikmat makan dan minum saya dengan nikmat waktu, dengan perasaan berdamai mengamati dengan sabar dan seksama proses pergantian waktu. Setiap detik dari Fajar sampai berkumandang Adzan Maghrib adalah milik Allah semata.

Takbir yang bergema di masjid masjid saya rasakan damai dan anggun seolah saya tidak pernah digelisahkan oleh setiap pergantian waktu dan makhluk yang bernama Desember yang menakutkan …