pusing menjelaskan Digital Storage kepada SIMBOK

Suatu sore ketika saya sedang duduk duduk santai di teras depan dengan Simbok, beliau meminta saya untuk menambahkan lagu dalam ponsel -nya. Seperti saya, simbok juga seneng banget dengan Musik. Tetapi sayangnya, saya harus memberitahukan bahwa memory di ponsel milik  simbok tidak cukup ruang untuk ditambah lagu baru. Saya melanjutkan bahwa untuk menambahkan lagu baru hanya bisa dilakukan dengan menghapus beberapa lagu yang telah ada sebelumnya. Simbok pun setuju dengan menunjuk beberapa lagu yang dia sudah bosan.

Masalah menghapus dan menambahkan lagu itu mudah. Memusingkanya adalah simbok yang mulai bertanya ini itu.

“Bukankah panjang lagu yang dihapus lebih pendek dari lagu yang ditambahkan?”

“Lagu yang dihapuskan ada di urutan tengah —maksudnya, lagu tersebut ada diurutan tengah dalam suatu play list–, entar apakah setelah dihapus, setelah katakanlah lagu no 4 kemudian musik akan terdiam lama sebelum memainkan lagu no 6?”

Sebelumnya saya enggan menjawab pertanyaan pertanyaan “bodoh” simbok, apa juga untungnya tanya tanya seperti itu. Bukankah dia cukup mendengarkan dan menikmati saja lagu lagu yang saya salin ke ponsel.

Tetapi setelah beberapa saat menggerak gerakan dengkul kanan dan kiri,  saya kemudian berubah pikiran. Bukankah hak semua orang juga untuk mengetahui apa yang menurut dia menarik? Bukankah itu merupakan contoh semangat belajar yang bagus?

Dari pertanyaan kedua simbok saya menangkap bahwa dia menggunakan asumsi kaset tape pita untuk memahami media penyimpan lagu dalam ponsel. Untuk sementara saya mengajak simbok untuk menyisihkan terlebih dulu asumsi ini.

Untuk simbok, saya menganalogikan Memory Ponsel sebagai sebuah ember. Memory yang besar persis seperti Ember berukuran besar demikian pula sebaliknya. Sampai disini  dia paham bahwa Ember yang lebih besar akan lega untuk menyimpan lebih banyak barang.

Bila ada beberapa batu kapur yang berbentuk balok dengan ukuran berbeda beda kemudian di taruh dalam ember, maka akan ada banyak ruang kosong tersisa berbentuk rongga rongga yang tidak bisa digunakan untuk menyimpan sesuatu pun. Kemudian, apabila batu batu kapur tersebut di potong menjadi bagian bagian kecil yang berjumlah sangat banyak kemudian dimasukan ke dalam ember yang sama maka rongga rongga yang sebelumnya tidak bisa dimanfaatkan akan bisa ditempati.

Penyimpanan dengan terlebih dahulu dipotong potong seperti ini mempunyai beberapa keuntungan. Diantaranya semakin berkurangnya ruang dalam ember yang mubadzir alias tidak bisa digunakan untuk menyimpan. Apabila kita mengambil beberapa batu ditempat yang berbeda dalam ember, ruang yang ditinggalkan bisa digunakan untuk menyimpan satu batu kapur yang berukuran lebih besar. Satu batu besar dapat diletakan pada beberapa tempat yang berbeda karena sebelumnya telah di potong potong membentuk bagian bagian kecil yang sangat banyak.

Kemudian bagaimana menyusun banyak sekali potongan kecil tersebut menjadi sebuah batu kapur yang utuh persis seperti batu tersebut sebelum dimasukan kedalam ember?

Pada posisi yang paling mudah di jangkau terdapat catatan kecil yang berisi letak penyimpanan  setiap potongan batu kapur dalam ember. Hal yang sama, pada sisi batu kapur terdapat tanda nomor potongan dari suatu batu kapur. Untuk mendapatkan batu kapur utuh sebelumnya harus melalui proses pembacaan catatan kecil ini dan dengan pelacakan nomor dan tempat dari banyak sekali potongan potongan kecil yang menghuni suatu tempat dalam ember.

Mbok; Proses seperti ini mirip dengan bagaimana sebuah lagu tersimpan dalam memory ponsel kamu.

“Kemarin kamu pernah bilang bahwa ukuran file suatu lagu dapat diperkecil tanpa memotong panjang lagu. Maksudnya? “

Pertanyaan – Pertanyaanmu kok bikin dengkul senut senut to mBOK, kapan kapan saja ya jawabnya. Ada ngga yang mau membantu menjelaskan kepada simbok saya?

Kasih seorang Ibu …

Kalau ditanya tentang makanan Favorit, maka dengan tanpa ragu akan saya jawab dengan semua makanan yang dimasak oleh simbok.  Simbok selalu tahu bagaimana cara mengolah makanan yang cocok untuk selera saya. Jangan Lombok dan  Sayur Lodeh olahan simbok yang maknyuuuus selalu membuat liur ini meler dan membuat saya tidak betah tinggal di tanah kembara lebih lama dan kangen setengah mati untuk ingin segera pulang ketika meninggalkan rumah selama waktu beberapa hari saja. Spesial untuk saya, Simbok merupakan koki terhebat sepanjang masa. Sebagai Juru Masak, menurut lidah saya, simbok lebih baik dari koki koki di restoran sekalipun. Walaupun selera ini kerap kali kesengsem dengan menu suatu restoran akan tetapi saya tidak pernah datang ke resto yang sama selama lebih dari tujuh hari berturut turut, boleh jadi karena alasan kesehatan dompet, namun rasanya lidah ini mudah sekali dibuat bosan.

Tidak terhitung sudah berapa piring porsi  makanan yang saya lahab sampai seumuran saya yang telah lebih dari seperempat abad sekarang ini, entah berapa banyak gelas minuman dan entah entah barantah camilan dan lain lain. Kata seorang teman yang merantau di Jakarta sebagai buruh bangunan, dia harus merogoh kocek sekitaran Rp 7.000,- untuk sekali makan asal kenyang nasi warteg. Bila sehari perlu makan tiga kali, kemudian angka angka itu dihitung nominalnya selama sebulan, selama setahun, sepuluh tahun atau dua sudah berapa banyak duit yang perlu dibayarkan untuk urusan perut dan menyambung nyawa. Untungnya, saya tidak perlu sakit kepala untuk urusan sakit perut ini. Tidak peduli entah berapa piring yang saya lahap untuk selera lidah dan urusan mengisi perut dengan bahan bakar yang sesuai, simbok, sedari dulu, sekarang dan mungkin sampai kapan kapan selalu menggratiskan untuk saya.

Kalau dipikir pikir, masalah makan gratis yang kalau dihitung dengan rumus matematika sekalipun hanya akan mendapatkan angka angka yang segede bagong, dan kalau semisal disuruh mengganti juga saya tidak ada duit, semua urusan makan dan minum gratis tersebut belum ada sak kuku ireng nya, begitu kata orang Jawa. Maksudnya kebaikan si mama jauh lebih banyak dan penting dari sekedar urusan makan dan minum.

Saya tidak ingat kapan persisnya si bayi jarwadi lahir dari rahim ke pangkuan simbok. Tapi konon tidak sekarang saja saya menjadi beban orang tua, khususnya ibu. Sebelum terlahir kemuka bumi pun, Jarwadi yang masih orok sudah membebani si ibu selama sembilan bulan sepuluh hari sampai akhirnya si bayi sujar menjadi terkaget kaget dan lupa segalanya setelah lahir coer ke muka bumi. Sejak hari penting itulah seorang wanita kampung memulai memainkan peran baru sebagai seorang ibu. Menyandang panggilan baru dan berjuang atas NAMA IBU.

Saya termasuk orang yang tidak pernah percaya akan cinta sejati. Satu satunya cinta yang pernah ada bagi saya adalah cinta seorang ibu. Hanya seorang ibulah yang bisa melakukan apa saja demi cinta. Hanya seorang ibulah yang bisa memandikan sang anak, mengganti popok, menyuapi, meneteki dan segala tetek bengeknya dengan atas nama cinta. Kalau jalan terpanjang yang ada dipulau Jawa adalah Jalan Anyer Panarukan maka kasih sayang seorang ibu pasti lebih panjang lagi, begitu kata orang – orang.

Tugas mulia seorang ibu adalah mendidik anaknya. Membelalakan mata si Jarwadi lebih lebar untuk lebih banyak melihat dunia, tidak bosan bosan untuk menetah supaya lekas bisa berjalan, mengecup kening dan merangsang bibir bibir supaya bisa mengeja kata kata, memberi nutrisi yang baik, beberapa kali kunjungan dokter karena si Jarwadi kecil yang sering sakit sakitan dan sebangsanya telah dengan baik dilakukan simbok.

Berat sekali ya tugas seorang ibu. Kalau ada anak nakal biasanya pertanyaan yang keluar akan “Badung banget neh kampret, Siapa sih simboknya?”, “Idiiih bego banget kamu jadi boncel, emang dirumah tidak pernah disuruh belajar sama ibu kamu?”, “Niiiih anak jorok banget, dirumah punya Ibu ngga seh?”. Tidak terhitung pertanyaan dan kata kata orang yang menonjok hati seorang ibu dalam dalam. Tidak kebayang kalau orang orang ini diajak berganti peran untuk memainkan figur seorang ibu.

Begitu berat tugas dan tantangan seorang ibu. Di lingkungan tempat saya tinggal, peran dan tanggung jawab seorang ibu lebih berat lagi. Selain menjaga peranya sebagai gelandang depan dalam membesarkan dan mendidik anak anak supaya menjadi *orang*.

Baca lebih lanjut

Kapan Menikah?

Usia saya 28 tahun. Status TM. Tidak Menikah. Meskipun dari teman teman SD saya masih ada beberapa yang tidak Menikah, tetapi besok sore salah seorang teman SD saya akan sudah menikah. Dia adalah Suban. Selamat Menikah saja buat Suban. Kemudian urutan terdekat setelah Suban, saya menduka adalah Andi. Karena kabar-kabarnya dia sedang mengurus Surat Numpang Nikah.

Selama ini saya meyakini bahwa diantara teman dan geng, saya akan berada di antrian terakhir di pintu gerbang pernikahan. Dan kelihatanya keyakinan saya tersebut akan menjadi kenyataan, walaupun saya tidak sengaja mengusahakanya. Manipulasi adalah cara yang tidak saya sukai, kecuali kalau terpaksa.

Di lingkungan tempat saya hidup, menikah adalah status. Teman saya pernah berkata, menikah adalah sebuah gerbang. Entah apa yang dia maksudkan, sampai hari ini saya tidak pernah tahu.

Karena sebuah status, orang yang tidak menikah seperti saya mendapat tekanan sosial yang sangat besar. Selalu muncul pertanyaan, “Kapan Menikah”? Kalau Agus Ringgo menjawab, “maybe yes maybe no“. Kalau Adang Sudarman menjawab, “wah belum ada yang cocok”. Kalau Dini Restuti menjawab, “wah belum ada waktu”. Maka saya akan menjawab, “tidak ada perempuan yang suka pada saya”.

Saya suka dengan jawaban yang saya berikan. Jawaban ini tidak pernah diduga oleh siapa pun. Sehingga orang yang mendengar akan kaget dan tanpa sadar secepat mungkin menggunakan topeng empati. Maka kata-kata penghiburan untuk mengangkat semangat dan membuang sikap pesimis dari diri saya meluncur dengan merdu. Kata-kata mereka seperti musik jazz di telinga saya. Kadang enak didengar tapi saya tidak pernah bisa mencerna.

Banyak orang menasihati saya agar tidak pesimis. Dia menambahkan bahwa “elo kurangnya apa sih, pendirian kuat, fisik proporsional, wajah cute, dari keluarga baik-baik, pendidikan meyakinkan. Ya memang tidak ada yang kurang dari diri saya. Yang kurang hanyalah tidak ada perempuan yang suka pada saya?

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan keputusan saya untuk tidak menikah. Menurut saya kalau menanggapi kata orang, yang ada hanya serba salah. Kapan serba benarnya ya?  Bukan hanya orang tidak menikah saja yang mendapatkan tekanan sosial besar. Orang yang sudah menikah pun tetap mendapat tekanan sosial yang besar. Contohnya Aswinto, teman seperburuhan saya.  “Kapan punya momongan?”. Selanjutnya “Kapan si ucok punya adik?”. Dan terus seterusnya tanpa berkesudahan. Begitulah deraan orang-orang yang keputusanya datang dari tekanan sosial. (baca : orang lain)

 

Harry Potter 7 : Pilih baca versi asli atau terjemahan?

Chapter One :  The Dark Lord Ascending
The two men appeared out of nowhere, a few yards apart in the narrow, moonlit lane. For a second they stood quite still, wands directed at each other’s chests; then, recognizing each other, they stowed their wands beneath their cloaks and started walking briskly in the same direction.

“News?” asked the taller of the two.

“The best,” replied Severus Snape.

The lane was bordered on the left by wild, low-growing brambles, on the right by a high, neatly manicured hedge. The men’s long cloaks flapped around their ankles as they marched.


Chapter Satu
The Dark Lord Ascending
(Kebangkitan Pangeran Kegelapan)

Dua orang itu muncul secara tiba-tiba, terpisah beberapa meter di sebuah jalan sempit
yang diterangi oleh cahaya bulan. Sesaat mereka berdiri diam, tongkat masing-masing
saling terarah ke dada yang lain. Setelah mengenali satu sama lain, mereka menyimpan
tongkat masing-masing dibalik jubah dan mulai berjalan cepat ke arah yang sama.
“Bagaimana?” tanya orang yang paling tinggi dari keduanya.
“Sempurna,” jawab Severus Snape.

Jalan kecil itu dikelilingi oleh semak liar yang rendah disebelah kiri, pagar tanaman yg
tinggi dan terawat disebelah kanan. Jubah panjang mereka berkibar selagi mereka
berjalan bersama.

Saya tidak tahu bagaimana berbahasa Indonesia dan atau berbahasa Inggris dengan baik dan benar. Demikian juga dengan jagat pengalihbahasaan dan penterjemahan, saya sama sekali awam terkait keduanya.

Namun demikian saya menemukan sesuatu yang menarik ketika membaca sebuah novel, saya mengutip beberapa paragraf pada bab awal novel tersebut dan menempelkan pada bagian awal tulisan ini. Dalam kutipan diatas baik yang berbahasa Indonesia maupun berbahasa inggris sama – sama merupakan bagian dari Novel yang ditulis oleh JK Rowling dalam serial Harry Potter. Harry Potter 7 : The Deathly Hollows. Menariknya, ternyata mengalih bahasakan atau menterjemahkan bukanlah pekerjaan mudah.

Buktinya?

Kalau kita sedikit mempunyai waktu luang untuk membaca dan membandingkan dua kalimat dialog yang saya beri warna biru, menurut saya, penterjemah kurang bisa menemukan kalimat yang pas sehingga kalimat tersebut gagal membawa kehangatan dan emosi yang diverbalisasikan oleh penulis asli dengan ungkapan berbahasa Inggris. (mungkin ungkapan dalam budaya barat juga). Sekali lagi saya menegaskan bahwa penterjemahan dan pengalihbahasaan bukanlah pekerjaan mudah. Dan bukan berarti bisa memindahkan semua elemen dalam bahasa asli ke dalam bahasa tujuan dengan volume dan intensitas yang persis sama.

Apa apaan sih?

Sebenarnya saya hanya mau menjawab pertanyaan yang saya buat sendiri sebagai judul tulisan ini. Walaupun saya belum pernah baik untuk menggunakan bahasa manapun, baik itu bahasa jawa, bahasa inggris, bahasa indonesia atau bahasa tarzan sekalipun, saya lebih nyaman dengan bacaan berbahasa aseli. Membaca versi aseli itu lebih memberi keleluasaan untuk menangkap secara lebih terperinci setiap ide dan gagasan yang disampaikan oleh penulis dengan gaya verbalisasi dan visualisasi yang dia atau mereka anggap  maksimal  dan sesuai.

Silahkan mendownload versi pdf dari sini untuk Harry Potter 7 berbahasa indonesia dan berbahasa inggris

Sedia Payung biar tidak keHujanan

Sepanjang Pagi sampai menjelang siang ini merupakan hari tercerah setelah 7 Desember. Selama satu setengah Minggu diri ini harus bertarung melawan hujan dan (masuk) angin. Lekat dengan tubuh ini pasti adalah kedinginan, persendian dan dengkul ngilu, kepala pusing tujuh keliling –tetapi kalau yang ini karena masalah kurang duit. Melengkapi derita biologis tersebut adalah penampilan yang semakin menjadi korban. Celana dan  Baju berbekas air hujan kerap kali menjadi make up ditempat kerja. Bahkan, juga karena kehujanan, parfum AXES yang saya pakai menjadi luntur sehingga kita kita disini bisa berbagi aroma aseli warisan nenek moyang (baca : bau keringat)

Selain menjadi derita bagi sistem biologis dan sistem *narsisme, air hujan yang ganas juga merupakan acaman serius untuk Gadget Gadget yang membantu memperpanjang usia saya, sehingga walaupun sebenarnya tidak suka menjadi cowok perpayung, tetapi demi keselamatan dan usia Gadget Gadget yang saya tenteng, biasanya adalah Laptop dan Ponsel, saya mengalah dengan melakukan sesuatu yang sangat tidak saya suka. Demi Gadget tercinta, dan tentunya dengan pertimbangan yang lebih panjang dari jalanan jalanan menuju tempat kerja, sebuah Payung berwarna Ungu keabu abuan (baca : abu keungu unguan; susah memilih istilah yang tepat) menjadi pilihan dari keputuan saya. Dibeli di toko kedua dari sisi timur kompleks perkiosan Ps Siyono.

Selasa, 16 Desember 2008, tangan si Jarwadi dengan kostum keki warna krem sedang menenteng Payung untuk pertama kalinya sepanjang musim Hujan tahun ini. Si Jarwadi, si Cowo BerPayung.

Sim Salabim …

Sepanjang perjalanan pulang dengan payung ditangan si Jarwadi. Berangur angsur hujan mereda. Demikian juga derita masuk angin yang menghinggapi tubuh kerempengnya. Kemudian dipagi hari kemudian Matahari juga terbit cerah.

Kalau saja saya tahu kalau dengan sekali membeli payung hujan akan mereda dan matahari bersinar cerah, tidak  sedikitpun saya akan ragu untuk membeli payung ungu keabuan sejak awal awal. Begitu pikir Jarwadi walaupun dia juga ragu ragu akan benar dan tidaknya. Karena menjelang tombol terbitkan di jendela teks editor blog nya ditekan, mendung semakin mengkelam.

1/12 : 5.500; 15/12 : 5.000 =>010109 : … ?

Harga BBM bersubsidi turun lagi. Saya baru mengetahui kabar ini dari kompas online beberapa saat sebelum saya menulis posting ini. Sebelumnya saya tidak pernah mengira kalau penurunan Harga Bensin bisa terjadi bahkan dua kali dalam sebulan.  Dan tepat pada pukul 00:00 WIB tanggal 15 Desember 2008 harga bensin telah diturunkan oleh Pemerintahan SBY menjadi Rp 5.000/liter setelah sebelumnya dari Rp 6.000,- mengalami penurunan ke titik Rp 5.500,- per 1 Desember 2008.

Sebagai jelata, berita penurunan harga bensin merupakan kabar gembira untuk saya. Tidak heran bila saya pun membuat tulisan ini sambil senyum – senyum dan tertawa ringan terbersit harapan penurunan ini segera berdampak pada penurunan harga harga kebutuhan lain. Konon katanya BBM merupakan komponen utama penentu harga setiap jenis barang di tangan konsumen di warung warung pengecer.

Kemudian sebagai Orang Jawa, seharusnya saya juga tidak boleh heran dan terbengong bengong dengan sesuatu yang tidak kelihatan secara kasat mata dan tidak nampak ketemu nalar tetapi terjadi. Sebagai Orang Indonesia tentu saja saya harus menerima dengan ikhlas bahwa Bandung Bondowoso pun bisa mendirikan Seribu Candi dalam semalam. Tidak  beda dengan bahwa pada pagi ini terjadi suatu fakta bahwa harga Bensin turun untuk kali yang kedua. Kemudian saya pun harus bersiap untuk bergembira ria bila di kemudian hari harga Bensin diturunkan lagi.

Ketidak heranan dan Ketidak kagetan dan Ketidak bengongan saya kemudian adalah juga harus bersiap siap  kalau memang penurunan harga Bensin dan Solar tidak kunjung diikuti oleh misalnya penurunan tarif angkutan, atau penurunan harga minyak goreng, sabun mandi, tahu tempe dan ikan asin.  Lebih lanjut karena saya sadar bahwa ini adalah Indonesia maka kedepan juga harus mampu untuk Lilo Legowo bila sampai pada masa dimana dalam satu bulan harga bensin dan solar naik satu kali, kedua atau untuk ketiga kalinya.

Kira kira berapakah harga Bensin dan Solar pada pertengahan bulan Juni 2009?

Silahkan membaca berita pada link ini untuk menambah wacana

Good Man – Josh Ritter

These chords are old but we shake hands Cause I believe that they?re the good guys We can use all the help we can So many minor chords outside I fell in love with your sound Oh I love to sing along with you We got tunes we kicked around We got a bucket that the tunes go through

Babe we both had dry spells Hard times in bad lands I?m a good man for ya I?m a good man

Last night there was a horse in the road I was twisting in the hairpin My hands held on my mind let go And back to you my heart went skipping I found the inside of the road Thought about the first time that I met you All those glances that we stole Sometimes if you want them then you?ve got to

Babe we both had dry spells Hard times in bad lands I?m a good man for ya I?m a good man

They shot a Western south of here They had him cornered in a canyon And even his horse had disappeared They said it got run down by a bad bad man You?re not a good shot but I?m worse And there?s so much where we ain?t been yet So swing up on this little horse The only thing we?ll hit is sunset

Babe we both had dry spells Hard times in bad lands I?m a good man for ya I?m a good man

Lagu ini memang tidak easy listening dan itulah yang membuat perbedaan dengan lagu lagu kangen band, daun hijau atau kucing garong. Easy Listening membuat sebuah komposisi mudah masuk telinga kiri dan biasanya tanpa pamitan keluar dari telinga kanan. Masih menurut biasanya, saya akan muak untuk membuka telinga untuk sesuatu yang telah dengan tanpa ^perasaan^ meninggalkan ruang ruang selera saya tanpa  pamitan.

Kemudian bagaimana sebaiknya? Coba kalau setelah masuk dari pintu telinga kiri, kemudian bertandang ke otak kiri, syukur syukur mampir ke otak kanan, kemudian diproses, di validasi dengan otak kiri lagi dan di verifikasi dengan otak kanan lagi dan berulang ulang sampai tidak jadi keluar melalui telinga manapun tetapi muncul menjadi senyum, tawa, perasaan, tangis atau semangat atau bahkan perasaan lain yang belum terdefinisi.

Easy Listening and Easy going than. Mudah didengarkan, mudah dilupakan kemudian. Bagaimana kalau yang perlu diperdengarkan berulang ulang baru kemudian sang sensasi hadir untuk di ruang pencernaan kita? Atau memberi sensasi pada baik di *dengkul kanan maupun kiri?

Arti Penurunan BBM Bersubsidi?

Bertepatan dengan hari ke 11 sejak harga BBM bersubsidi khususnya Bensin secara resmi diturunkan menjadi Rp 5.500,- per liter oleh Pemerintahan Presiden Susilo BAMBANG, pagi ini saya berangkat ke Tempat Kerja menggunakan Jasa Angkutan Umum seperti biasanya ketika Harga Bensin Bersubsidi berharga Rp 6.000,-. Saya membayarkan ongkos yang sama seperti ketika belum ada penurunan Harga BBM. Memang, saya tidak (mungkin belum)  mendengar atau membaca perihal tentang Penurunan Tarif Angkutan khususnya Angkudes sebagai alat transportasi publik utama di Gunungkidul. Merupakan sebuah Fakta yang susah untuk dipahami seorang Jelata seperti saya, ketika dulu, menjelang kenaikan Harga BBM, harga harga sudah lebih dulu naik membumbung termasuk tarif Angkutan Umum tetapi setelah hari ke 11 penurunan Harga BBM tidak serta merta diikuti oleh Penurunan Tarif Angkutan Umum. Kalau Tarif Angkutan Umum saja yang komponen produksi utamanya adalah Bensin tidak terjadi penyesuaian ( –baca : penurunan) tarif maka tentu saja harga harga produk lain.

Menurut gambaran seorang awam, penurunan biaya pada komponen produksi akan mempunyai dampak ikutan terhadapa harga produk di tingkat komsumen. Sebelumnya banyak pihak berharap bahwa dengan penurunan harga bensin akan berefek karambol dengan keterjangkauan harga produk di tingkat masyarakat kebanyakan, inflasi yang terkendali, peningkatan daya pemenuhan kebutuhan masyarakat dan di tingkat paling hilir adalah kehidupan masyarakat Indonesia umumnya menjadi lebih sejahtera. Namun demikian ketika banyak dihadapkan dengan fakta di lapangan, terutama saya, belum mampu merasakan dampak kemudahan karena penurunan Harga Bensin Bersubsidi dan baru kemudian saya mengetahui bahwa hitung hitungan sederhana dan gambaran seorang awam seperti saya tidak bisa segera berlaku.

Penurunan Harga BBM yang baru terjadi pertama kali seumur hidup saya dan konon juga merupakan sebuah catatan baru yang dituliskan oleh Pemerintah dalam buku tek sejarah Negeri Indonesia. Pertama kali, karena mungkin akan ada penurunan ke dua karena menurut Presiden bukan tidak mungkin harga BBM Bersubsidi masih bisa diturunkan lagi dimasa yang akan datang. Mungkin tergantung kePERLUanya juga. Kalau memang Penurunan Harga BBM berkorelasi dan benar benar dapat dirasakan pada tingkat kesejahteraan masyarakat kebanyakan (baca : hamba jelata miskin, seperti saya), pasti sebagian banyak orang akan setuju.

Bila pemerintah mempunyai otak otak cerdas dari para ahli ekonomi (dan politik) yang bertugas membuat rekomendasi dan menggambarkan grafik pertumbuhan ekonomi nasional maka jelata seperti saya hanya bisa mengukur dampak penurunan harga BBM Bersubsidi dengan merasakan penurunan Tarif Angkutan, penurunan harga deterjen, penurunan harga daging dan telur,  ketersediaan pupuk di masyarakat petani, dll. Apabila dari hal hal di sekitar tersebut tidak memperlihatkan dampak positif pernurunan BBM Bersubsidi, tentu akan tidak segan segan bertanya, sesungguhnya siapa yang paling diuntungkan dengan penurunan Harga BBM Bersubsidi.

Dan bila semua orang enggan untuk memberi jawaban maka saya akan menunggu sampai waktu yang memberi jawab.

Kapan ^Science^ terbebas dari ^Kepentingan^ : Sebuah Review novel Deception Point

Ketika pagi ini hujan tidak juga kunjung reda dan sepertinya kemalasan memberikan rekomendasi agar saya tidak keluar rumah. Mungkin kemalasan cukup tahu kalau saya terlalu sering kehujanan akan mengundang flu dan pilek bertamu ke rumah. Baiklah hari ini memang saya tidak keluar rumah dengan menghabiskan waktu untuk melanjutkan membaca novel : Deception Point karya Dan Brown. Terjemahan bebasnya kira kira adalah Titik Muslihat.

Saat ini saya telah membaca sampai halaman ke 108 dari buku setebal lebih dari 500 halaman. Memang, saya cukup lambat membaca tiap tiap halaman dari buku ini karena banyaknya istilah istilah dan kosa kata baru dimana saya harus mencari tahu penjelasanya dengan bantuan kamus. Membaca demi halaman dalam buku ini seolah saya sedang keluar dari dunia saya, berjalan jalan ke alam dengan atmosfer geologi dan astronomi dimana saya harus belajar dari awal untuk mengenal batuan, meteorit, kutup utara, pencairan glacier sampai ke teknologi canggih seperti Earth Observng System dan PODS — the Polar Orbitting Density Scanner yang dikembangkan oleh NASA dan NRO.

Dan Brown mengkontruksi novel ini dengan mengolah besarnya anggaran yang dihabiskan NASA untuk membiaya proyek proyek riset berbiaya tinggi termasuk ekspedisi luar angkasa  namun demikian seiring dengan penggelontoran dana yang besar ke agensi ini, NASA dianggap gagal dalam memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat Amerika Serikat dan kemanusiaan pada umumnya. Bahkan NASA dipandang miring sebagai alat untuk kepentingan Politik pihak pihak tertentu termasuk untuk keperluan spionase. Lebih lanjut krisis yang dialami NASA secara cermat dimanfaatkan oleh Senator Sexton sebagai bola panas yang dilemparkan ke publik untuk memenangi pemilihan Presiden Amerika Serikat. Issu mengenai NASA segera merebut perhatian publik termasuk kegelisahan Presiden Zach Herney yang dalam banyak hal telah mendukung kegiatan dan eksistensi NASA dengan banyak cara termasuk alokasi anggaran.

Dalam membangun sebuah kisah triller, kemampuan Brown memang pantas mendapat acungan dua jempol, kehadiran banyak hal tak terduga dan narasi yang efisien telah terbukti membuat banyak karya Dan Brown tampil dalam rak Best Seller di toko toko buku. Hanya saja, mungkin karena sebelum membaca Deception Point ini saya terkesima dengan The Digital Fortress yang bertempo cepat bahkan banyak bab yang tertuang singkat dalam selembar halaman. Narasi Deception Poin terasakan bertele tele dan tidak stream lined, setidaknya hal ini saya rasakan sampai halaman 108. Saya tidak tahu apa maksud Brawn, ataukah dia sedang memberi kesempatan pembaca untuk belajar tentang geologi dan menikmati betapa kompleks suatu penemuan Ilmiah dalam bidang Geologi dan Astromi.

Kalau memang demikian maksud Brown, memang apa yang terjadi pada saya sekarang ini adalah belajar bahasa dan dunia baru dalam Science tentang Geologi dan Astromi. Keterkaitan *Penemuan Ilmiah* dengan banyak kepentingan termasuk kepentingan kekuasaan dan Politik  serta  Ekonomi dan Egoisme mengingatkan saya tentang Buku Richard Feynmen yang berjudul Scientific Integrity. Adakah kira kira saat dimana Science menemukan dirinya sebagai sosok yang Mandiri bebas dari Kepentingan Kepentingan selain Kepentingan Pencarian Kebenaran Sejati dan Kemaslahatan bagi Kemanusiaan?

[ Melanjutkan membaca lagi, mudah mudahan besok bisa menuliskan lagi review saya disni]

10 ekor kambing 2 lembu

Saya menebak [walau tidak berani bertaruh] bahwa pada hari ini ada deretan panjang antrian sapi dan kambing di pintu kemulyaan milik Allah dimana binatang binatang tersebut adalah berarak arakan hewan hewan kurban yang muncul dari keikhasan yang bersemi di hati muslimin dan muslimah semaya pada. Termasuk dalam antrian,  Insya Allah adalah juga 10 ekor kambing dan 2 ekor lembu yang tadi pagi sisa hidupnya berakhir di tangan Bapak Suradi [dalam foto berikut adalah beliau yang perpose dengan pedang jagal nya]sang  algojo –the butcher– dalam rangkaian penyembelihan hewan korban di Masjid At Taqwa dusun Karangmojo B desa Grogol kecamatan Paliyan. Gema Takbir yang berkumandang mengiringi semangat berkorban niscaya merupakan indikasi keikhlasan itu.

Dari Qurban @ At Taqwa
Dari Qurban @ At Taqwa
Dari Qurban @ At Taqwa

Klik disini untuk Foto Lebih Banyak Qurban @ Karangmojo B

10 ekor kambing dan 2 lembu adalah angka yang besar menurut saya –kami– bagi dusun/ jamaah masjid yang berpenghuni kurang dari 90 KK. Betapa ketika 15 tahun yang lalu saya menyaksikan dengan kecemburuan karena ada dusun lain yang sudah mampu mengorbankan lebih dari 20 ekor kambing sedangkan di Masjid At Taqwa masih dengan cermat membagi daging dari 3 atau 4 ekor kambing. Walaupun terlepas dari sedikit dan banyak daging pembagian tetap harus disyukuri dengan perjuangan dan azham sehingga sampailah pada jaman dimana kitapun bisa berkorban. Semoga di tahun tahun mendatang juga demikian bahkan lebih baik lagi.

Ada kata kata sontoloyo yang saya suka “Budayakan Berkorban tetapi JANGAN menjadikan Mengorbankan Orang Lain sebagai BUDAYA”. Siapa yang tidak setuju kalau daging kambing [gratis] itu NikMaT?

PS :

Yang tidak setuju pasti mereka mereka yang menderita tekanan darah tinggi dan sebangsanya