Google Chrome: Indonesia Berkebun

Ini adalah iklan televisi ketiga Google Chrome. Seperti iklan-iklan terdahulu, Iklan Google Chrome ini selalu inspiratif. Setidaknya menurut saya. 🙂 Dan seperti iklan-iklan Google Chrome sebelumnya, saya terlambat menonton iklan ini di televisi. Iklan ini juga belum pernah saya lihat di layar televisi.

Saya segera searching di youtube setelah ada teman yang nge-tweet tentang iklan televisi Google Chrome versi Indonesia Berkebun ini. Mudah-mudahan di rumah nanti saya bisa menonton iklan Google Chrome versi Indonesia berkebun di Televisi. 😀

Tampilan/Lay Out Baru Facebook

Belakangan ini Facebook rajin menambahkan fitur – fitur baru. Fitur-fitur itu ada yang bermanfaat bagi saya. Akan tetapi lebih banyak yang saya belum mengerti dan belum bisa saya menfaatkan. Belum terbiasa dan belum bisa memanfaatkan fitur-fitur yang baru ditambahkan, fitur yang lain sudah ditambahkan lagi.

Haduh. Terutama perubahan tampilan yang mulai diberlakukan pada account saya mulai kemarin sore rasanya malah membuat saya kurang nyaman. Tampilan facebook jadi serasa pasar tumpah. Terlalu complicated. Aliran/stream informasi jadi seolah-olah pada bertabrakan sehingga sulit masuk ke indra penyerap informasi saya. 😀

Kemudian mengenai privacy pada lay out baru itu. Di sebelah kanan atas ditampilkan apa yang sedang dilakukan teman-teman kita di facebook secara realtime. Baik itu nge-like, berkomentar, atau memposting sesuatu. Apa iya kita butuh semua informasi itu. Dan apa iya aktifitas kita perlu selalu disebarkan di jejaring kita. Saya sendiri tidak ingin semua yang saya lakukan di facebook, berkomentar, menyukai suatu post, dll membanjiri stream teman-teman saya. 😦

new facebook layout

new facebook layout

Terlepas dari kekurang nyamanan akibat oprek fitur sana sini, oprek desain user interface jejarin social dengan member terbesar sedunia ini, penting untuk diingat adalah kehadiran Google+ dalam percaturan jejaring social media. Apakah body dan poles wajah facebook ini akibat kepanikan karena kehadiaran kompetitor baru? 😀

Desa Grogol : Pajak Bumi Bangunan Masih Amburadul

Masih ingat dengan apa yang saya tulis mengenai carut marut Pajak Bumi dan Bangunan di Desa Grogol pada beberapa bulan yang lalu di https://jarwadi.wordpress.com/2011/04/27/desa-grogol-pajak-bumi-dan-bangunan-bermasalah/ ?

Pada siang tadi lembar tagihan Pajak Bumi dan Bangunan untuk warga di desa Grogol sudah keluar lagi. Persis dengan apa yang terjadi pada lembar tagihan yang diterima oleh keluarga saya pada beberapa bulan yang lalu, Pajak Bumi untuk kali ini masih amburadul jauh dari beres.

Kenapa? Kasusnya masih sama dengan lembar tagihan untuk tahun 2010. Dalam semua lembar tagihan, semua tanah masih atas nama kakek – kakek saya. Padahal semua tanah itu sudah bersertifikat atas nama ayah saya.

Kemudian besarnya tagihan per bidang tanah. Untuk tanah-tanah kami dengan luas dan letak yang berbeda-beda dikenakan pajak dengan nilai yang sama. Kalau tidak hanya mengarang atau mengambil data dari langit, darimana bisa didapat besaran pajak yang sama untuk semua tanah-tanah itu. Bukankah pajak dihitung dari estimasi harga masing-masing bidang tanah. 😀

Persoalan ketidak beresan pajak yang terjadi sejak jaman dulu kala ternyata sampai sekarang belum terlihat ada upaya penyelesaian. Memang seperti itukah mentalitas dan kinerja aparat desa, aparat pertanahan dan aparat perpajakan?

Untuk kasus ini sebenarnya saya ingin melihat peran aktif dari pemerintah desa Grogol. Rasanya aneh kalau mereka tidak mengetahui aneka kejanggalan terkait Pajak Bumi dan Bangunan. Atau mereka tahu tetapi cuek saja? :p

Telapak Tangan Kanan Belum Sembuh

Diantara luka-luka akibat kecelakaan sepeda motor yang terjadi menimpa saya pada sekitar dua minggu yang lalu, yang belum sembuh sampai sekarang adalah di bagian telapak tangan kanan. Sementara luka-luka di bagian tubuh saya yang lain seperti punggung tangan, dengkul, kaki dan lengan sudah berangsur sembuh.

Selain karena memang luka pada telapak tangan kanan ini cukup dalam dan lebar, telapak tangan kanan, bagi saya sulit untuk diistirahatkan terlebih dulu. Hampir semua aktifitas sehari-hari saya sulit untuk tidak melibatkan tangan kanan.

Perawatan yang saya lakukan untuk telapak tangan saya sampai saat ini pun cukup repot meski saya tahu itu harus saya lakukan. Setiap hari, dimanapun saya dan sesibuk apapun, saya harus mengganti pembalut, membersihkan luka dengan cairan rivanol dan memberikan antiseptic betadin.

Untuk telapak tangan kanan ini saya juga mencegahnya dari terkena air. Saya membungkus telapak tangan kanan dengan plastik ketika mandi dan sangat berhati-hari saat wudlu yang saya lakukan setiap akan shalat sebanyak sedikitnya lima kali sehari. Sangat repot. 🙂

Saya membayangkan andai ada obat yang bisa mempercepat proses penyembuhan sehingga derita ini bisa terbebaskan dalam dua atau tiga hari saja. 🙂

Kadang kala kalau sedang sakit begini saya membayangkan andai saja saya hidup pada jaman berburu dan meramu. Bagaimana susahnya hidup dengan tangan terluka atau sedang sakit, tetapi pada saat itu juga harus berburu binatang di hutan agar dapat makan, harus melindungi diri dari buas alam, dll

Kecanduan Bau Solder

Saya bisa mengingat solder pertama saya bergagang kayu yang saya beli di toko Satria Jaya – Playen pada sekitar tahun 1992. Saya mulai belajar menggunakan Solder pada kelas elektronika yang saya ikuti di SMP. Dari kelas ekstra itu solder menjadi “gadget” kesayangan saya pada waktu itu.

Sampai akhirnya ngoprek-ngoprek atau rangkai-merangkai dan elektronika menjadi hobby yang menghabiskan duit sampai sekarang. Dan kadang menghasilkan duit. Meskipun saya sekarang sudah jarang menyolder sendiri kaki-kaki kompenen elektronika dan kabel-kabel pada papan rangkaian tercetak (PCB). Kecuali kalau terpaksa. 😀

Namun, meskipun saya sudah lama tidak menyolder, tiap kali saya mencium bau solder yang mulai memanasi kawat timah (tenol), hidung ini rasanya pengin mencium dan menghisap aroma yang mengepul dari ujung solder. Dan tangan rasanya gatal ingin bermain-main dengan solder lagi. Bau panas solder serasa addictive. Entah sejak kapan atau siapa yang mengajari, tidak ada ya, saya waktu itu memastikan apakah ujung soldir sudah cukup untuk melelehkan tenol untuk menyolder pada PCB adalah dengan menciumnya. Soldir dirasa telah cukup panas bila mengeluarkan bau tertentu. Bau seperti apa itu susah saya definisikan di sini. Hanya hidung saya yang tahu, hehehe

Menyolder

Menyolder

Ada yang kecanduan bau solder seperti saya? Jangan-jangan orang yang kecanduan lem Aica Aibon awalnya juga seperti saya … 😀

Gambar saya ambil dari: http://www.ladyada.net/images/wavshield/v11/103solder.jpg

Cloud dan Solusi Hemat Energi

Telah lama menyadari bahwa dirinya adalah makhluk yang paling rakus energi, air, dan suka sembarangan dalam memanfaatkan apapun yang terdapat di bumi, manusia kini telah mulai memikirkan untuk menemukan solusi-solusi hemat energi dalam penghematan dan usaha pelestarian sumber daya alam.

Salah satu usaha penghematan energi itu digambarkan oleh Google dalam solusi cloud seperti yang dipost di http://googleblog.blogspot.com/2011/09/gmail-its-cooler-in-cloud.html. Ilustrasi bagus yang mudah dimengerti.

Meski dalam posting itu terkesan, lebih tepatnya, jelas-jelas mempromosikan produk google, hehe. Solusi Cloud seperti itu memang efektif bagi negara atau daerah yang koneksi internetnya melimpah. Indonesia? Orang Indonesia boleh sepakat akan solusi hemat energi ini, tetapi tentu harus sadar bahwa itu solusi yang tidak hemat bandwidth internasional. Dan harga bandwidth internasional di Indonesia sepertinya lebih mahal dari harga listrik yang disediakan oleh PLN? 🙂

Termasuk penting dipikirkan sebenarnya selain solusi hemat energi, hemat bandwitdh internet dan hemat air. Jadi lebih baik hari ini saya tidak usah mandi pagi kalau seharian hanya akan bekerja di dalam ruangan atau di depan internet. 😀 Kata orang Jepang, bangun tidur tidak akan membuat tubuh kotor. hehe

Hari ini saya akan membuktikan apakah bisa tetap produktif tanpa mandi pagi. Bila memang bisa, besok lagi layak dilanjutkan. 😀

Haji Indonesia

Sebentar lagi musim haji tiba. Tidak heran bila pada hari-hari belakangan ini dimana-mana marak pengajian ‘pamitan‘ berangkat haji. Dalam satu hari tidak jarang ada lebih dari dua undangan untuk menghadiri pengajian haji. Meski tidak jarang pula saya tidak menghadiri pengajian-pengajian haji itu. hehehe

Animo muslim Indonesia untuk menunaikan ibadah haji terbilang tinggi. Kabarnya waiting list untuk berhaji sudah sampai pada tahun 2019. Luar biasa. Sampai-sampai Menteri Agama, Surya Darma Ali  melobi pemerintah Arab Saudi untuk penambahan kuota haji. Dari apa yang saya baca di Detik.com, Pak SDA berhasil menambah kuota haji sebanyak 10.000 orang pada tahun ini. Dari 211 ribu orang pada tahun 2010 menjadi 221 ribu orang pada tahun ini.

Taruhlah rata-rata per tahun Indonesia memberangkatkan 200 ribu jamaah haji, maka pada 10 tahun terakhir, Indonesia telah mempunyai 2 juta orang haji, atau hampir setara dengan 1 % dari keseluruhan jumlah penduduk Indonesia. Persentase Haji di Indonesia hampir dipastikan akan lebih dari 2 % dari keseluruhan jumlah penduduk pada tahun 2020.

Ironisnya, jumlah Haji yang makin bertambah tiap tahun itu tidak sebanding dengan meningkatnya kualitas moral bangsa. Peningkatan jumlah haji tidak otomatis bisa dibaca sebagai penurunan jumlah kasus korupsi di Indonesia. Koruptor makin lama makin jelas berkembang biak populasinya. Lebih miris lagi ketika banyak nama-nama orang yang diawali “Haji” yang ditangkap KPK. Belum terhitung Haji-Haji lain yang ditangkap aparat dalam kasus yang berbeda. Jangan-jangan sebenarnya ada lebih banyak “Haji” yang belum tertangkap. 😦

Kenapa saya mengkait-kaitkan Haji dengan Moral bangsa?

Dalam pandangan orang awam seperti saya, Rukun Islam itu: Syahadat  (1) , Shalat (2), Puasa (3),  Zakat (4), dan sebagai pari purna adalah Haji (5).

Orang yang sanggup berhaji menurut saya adalah model seorang muslim yang mempunyai kualifikasi unggul. Sehat Rohani, Sehat Jasmani dan secara ekonomi tergolong tangguh, bukan hanya mampu. Hanya diwajibkan berzakat bagi orang-orang yang terhitung mampu secara ekonomi. Diwajibkan Puasa bagi orang yang mampu secara fisik/jasmani. Diwajibkan Shalat bagi orang-orang yang waras secara rohani, meski secara fisik tidak cukup sehat. Dan hanya orang-orang mengimani Alloh SWT dan Rosullulah Muhammad SAW saja yang bisa bersyahadat. 😀 *paragraf ini kok mbulet* hehe

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”. (QS. Ali Imran, 97)

Konon ayat di atas merupakan dalil untuk naik Haji. Saya bukan ahli tafsir. Jadi apa maksud orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah pun menjadi tanda tanya bagi saya. 🙂 Apakah bisa ditafsirkan orang yang wajib berhaji itu adalah orang yang telah ber-syahadat, mampu menegakkan shalat, menjalankan ibadah puasa dan membayar zakat?

Atau barangkali memang berlebihan bila terlalu mengharapkan Haji sebagai katalisator perbaikan moral bangsa. Berlebihan barangkali bila mengharapkan setiap orang yang pulang haji dengan oleh-oleh ide dan gerakan perubahan seperti yang dibawakan oleh KH Ahmad Dahlan, dan tokoh-tokoh muslim yang lain pada masanya.

Paling mudah adalah menemukan nama-nama orang Indonesia yang bangga bila didepan namanya disematkan kata “Haji”. 😀

Akibat Ubuntu Lama Tidak Di-Update

ubuntu is updating ...

ubuntu is updating ...

Begini nih akibat kalau Ubuntu jarang di-update. Sudah lebih dari setengah bulan tidak meng-update Ubuntu. Sekalinya di-update, file update yang perlu didownload cukup besar. Besar sekali menurut ukuran saya. Lebih dari 100 Mb.

Inilah dilema orang yang pemakaian internet nya masih dibatasi Kuota seukuran 3 Giga saja. Jadi agar kuota itu tidak lekas habis, volume data digunakan seperlunya. hehe Mudah dihitung bukan, 100 Mb sudah bisa dipakai untuk berkirim terima email berapa banyak, berapa kali buka page facebook, berapa banyak twitter update yang bisa dibuat. 😀

Kalau tidak bijaksana menggunakan volume data maka resikonya sederhana saja. Speed internet akan dicekik dari sekitar 1 Mbps menjadi 64 kbps. Nyeri … Dan untuk bulan yang sama rasa nyeri itu hanya bisa diobati dengan membeli paket data lagi seharga Rp 100.000,- untuk ukuran sekian megabyte. 😦

Makanya, kecuali untuk update security yang bersifat kritis, saya menunggu untuk mendapatkan koneksi yang free free saja 🙂

Blog Dianggap Spammer Oleh Facebook

Menjengkelkan sekali bila ketika men-share konten di blog kita di Facebook, mendadak distop oleh notifikasi dari Facebook yang mengatakan bahwa link yang akan dibagikan berisi spam atau konten tidak pantas. Itu adalah pengalaman pribadi saya sejak beberapa bulan yang lalu yang tidak pernah saya mengerti. Tau sendiri, konten blog saya, semuanya “baik-baik”. Tidak pernah spamming, tidak ada konten porno ataupun SARA. 😦

Tiap kali saya distop oleh system security facebook ketika men-share konten, apa yang bisa saya lakukan hanya mengisi form kalau itu merupakan error beserta alasannya. Atau kalau saya masih mau ngotot men-share konten dari blog saya, saya menggunakan jasa pihak ketiga. Biasanya saya menggunakan layanan facebook/twitter client yang bermerk Hootsuite.

Baru beberapa hari ini, rupanya Facebook mulai melunak dengan isian form complain saya yang berulang – ulang. Atau karena Facebook sekarang lebih baik hati? 😀 Sehingga saya bisa langsung me-share konten blog tanpa dihalang-halangi dan dikata – katai lagi.

Dan saya baru mulai mengingat – ingat apa sebab dicap oleh system security Facebook  sebagai pengedar spam dan konten tak pantas. Kalau tidak salah itu bermula setelah saya berulang kali gagal men-share halaman blog saya ke facebook dengan menggunakan Operamini 6.0 ketika sedang browsing dengan ponsel. Jadi apakah masalah dengan fitur baru Operamini 6.0 atau Facebook yang kurang suka dengan produk Opera mobile? Yang jelas saya turut terkena imbasnya.

Mudah – mudahan besok-besok masalah seperti ini tidak menimpa saya lagi. 😀

Air Terjun Sri Gethuk

Memasuki area parkir komplek wisata alam air terjun Sri Gethuk, pengunjung akan disambut oleh petugas parkir yang ramah, dan pemandangan yang kontras dengan batuan kars yang umumnya terbayang bila orang mendengar “Gunungkidul”. Persawahan hijau, pematang, pohon pisang, nyiur berbuah serta gemericik asri air pegunungan.

Tidak ingin menyia – nyiakan waktu, saya memilih  jalur perahu. Saya mengorbankan sensasi berjalan di atas pematang sawah menuju Air Terjun mengingat saya memang berangkat dari rumah sudah bakda Shalat Ashar. Sekitar jam 16:00 WIB di area wisata pada tanggal 6 September 2011.

Saya Memilih Jalur Perahu saja ...

Hati-hati menuruni jalan setapak menuju tempat pemberhentian perahu karet. Lembah hijau di sepanjang sungai Oya memang membuat tangan tidak tahan untuk mengambil foto-foto baik itu dengan Camdig atau Camera Ponsel. Apalagi jangkauan sinyal ponsel yang mantap di sini memudahkan anda untuk langsung membagikan foto yang diambil dengan Camera ponsel dengan keluarga, ke teman – teman anda di facebook, twitter, blog atau layanan internet yang lain.

Lembah Sungai Oya

Lembah Sungai Oya

Jalan Setapak Menuju Sungai Oya

Jalan Setapak Menuju Sungai Oya

Wah, saya sudah ketinggalan perahu. Jadi saya harus menunggu perahu berikutnya. Tidak apa – apa. Sambil menunggu perahu saya meng-upload foto – foto ponsel ke internet.

Nah, perahu yang dinanti datang …

Perahu Karet Menuju Air Terjun  Sri Gethuk

Perahu Karet Menuju Air Terjun Sri Gethuk

Siap - Siap Naik Perahu Karet Menuju Sri Gethuk

Siap – Siap Naik Perahu Karet Menuju Sri Gethuk

Percayalah, meski perahu karet yang kita naiki ini terlihat aneh dan tidak ada duanya di dunia, barangkali, tetapi untuk keselamatan tidak perlu menjadi kekhawatiran. Mas – mas ganteng operator perahu karet ini adalah pemuda aseli Desa Bleberan sekaligus sing mbaurekso kali Oya.

Mas - Mas Operator Perahu Karet

Mas – Mas Operator Perahu Karet

Mas – mas ini akan menjalankan perahu dengan kecepatan yang ideal dan stabil. Bagi anda yang merekam video dengan camcorder tidak perlu khawatir rekaman anda akan shakky alias goyang – goyang. Bagi anda yang suka fotografi berleluasalah untuk mengambil sebanyak jepretan yang anda suka.

Tour Guide Desa Wisata Bleberan

Tour Guide Desa Wisata Bleberan

Oh iya, bila anda ingin bertanya tentang sejarah, mitos dan seluk beluk dibalik Sri Gethuk, mas – mas ini adalah sumber informasi yang jauh lebih mengerti dari wikipedia sekalipun. 🙂

Apa yang terlintas di benak saya melihat pemandangan dari perahu seperti gambar di bawah hanyalah Ciamis Canyon yang masyur itu. Untuk Wisata Air Terjun Sri Gethuk saya rasa hanya menunggu waktu dan uluran kepedulian dari otoritas pariwisata setempat dalam kaitan ini adalah Dinas Pariwisata Pemda Gunungkidul.

Cimais Canyon -nya Gunungkidul

Cimais Canyon -nya Gunungkidul

Inilah Air Terjun Sri Gethuk. Dulu pada sekitar tahun 1992 ketika saya dan teman – teman sebaya saya berkunjung ke sini dengan berjalan kaki dari rumah di desa dimana saya tinggal, Air Terjun ini hanya diketahui bernama Slempret. Saya lupa bertanya kepada Tour Guide kenapa nama Slempret dirubah menjadi Sri Gethuk.

Air Terjun Sri Gethuk

Air Terjun Sri Gethuk

Bagi yang suka mandi menikmati air bersih pegunungan dibawah air terjun Sri Gethuk agar berhati – hati apabila menaruh pakaian dan barang – barang pribadi anda. Masih ingat cerita dewi – dewi yang pakaiannya dicuri saat mandi di sungai kan? Kasian dewi yang kecolongan itu tidak bisa kembali terbang ke kahyangan. 🙂

Sebenarnya saya masih ingin jeprat jepret foto lebih banyak dan mencoba bermain – main ban – ban karet dan berenang di kali Oya.

Main - Main Ban Karet di Sungai Oya

Main – Main Ban Karet di Sungai Oya

Sayang waktu sudah cukup sore dan petugas operator perahu karet memberi tahu saya kalau perahu terakhir sudah mau berangkat. Kalau ketinggalan perahu saya harus jalan kaki.

Meninggalkan Air Terjun Sri Gethuk

Meninggalkan Air Terjun Sri Gethuk

Sebenarnya, setelah menikmati wisata air, saya bisa menikmati aneka kuliner tradisonal yang dijual oleh warga sekitar, sayang teman main saya sedang berpuasa Syawal.

Meski berat, saya harus segera meninggalkan eksotisme obyek wisata Air Terjun Sri Gethuk. Berat karena eksotisme itu sendiri. Dan berat dalam arti yang sebenarnya.

Kenapa? Jalan sejauh 7 km menuju Air Terjun Sri Gethuk dari arah kecamatan Playen sangatlah burut. Jalan menuju tempat wisata yang curam yang sebagian belum beraspal dan sebagian lagi jalanan aspalan yang rusak – rusak. Itulah kenapa untuk foto foto ini harus saya bayarkan diri saya sebagai korban kecelakaan sepulang dari Air terjun seperti yang saya ceritakan pada posting terdahulu. 😀

Mudah – mudahan dalam waktu tidak lama, Pemda Gunungkidul sudah membangun akses yang lebih baik menuju desa – desa wisata yang sedang katanya gencar – gencarnya dipromosikan. Terutama Air Terjun Sri Gethuk dan Gua Rancang yang berlokasi di dusun Menggoran, desa Bleberan, kecamatan Playen, kabupaten Gunungkidul.

Foto – foto lebih banyak bisa dilihat di [Picasaweb Album di sini]

UPDATE:

Air Terjun Sri Gethuk dapat ditempuh dari kota Wonosari ke barat melalui Playen (sekitar 5 km), atau yang dari Yogya bisa belok kiri di pertigaan Gading menuju Playen, dari kota Playen ambil jalur menuju Paliyan kira – kira 1 km sampai menemukan papan penunjuk arah ke Air Terjun Sri Gethuk. Ikuti penunjuk arah itu ke barat kira-kira 7km. Papan penunjuk arah sampai Air Terjun yang berjumlah banyak sangat mudah diikuti bahkan oleh pengunjung yang belum hafal daerah