Haji Indonesia

Sebentar lagi musim haji tiba. Tidak heran bila pada hari-hari belakangan ini dimana-mana marak pengajian ‘pamitan‘ berangkat haji. Dalam satu hari tidak jarang ada lebih dari dua undangan untuk menghadiri pengajian haji. Meski tidak jarang pula saya tidak menghadiri pengajian-pengajian haji itu. hehehe

Animo muslim Indonesia untuk menunaikan ibadah haji terbilang tinggi. Kabarnya waiting list untuk berhaji sudah sampai pada tahun 2019. Luar biasa. Sampai-sampai Menteri Agama, Surya Darma Ali  melobi pemerintah Arab Saudi untuk penambahan kuota haji. Dari apa yang saya baca di Detik.com, Pak SDA berhasil menambah kuota haji sebanyak 10.000 orang pada tahun ini. Dari 211 ribu orang pada tahun 2010 menjadi 221 ribu orang pada tahun ini.

Taruhlah rata-rata per tahun Indonesia memberangkatkan 200 ribu jamaah haji, maka pada 10 tahun terakhir, Indonesia telah mempunyai 2 juta orang haji, atau hampir setara dengan 1 % dari keseluruhan jumlah penduduk Indonesia. Persentase Haji di Indonesia hampir dipastikan akan lebih dari 2 % dari keseluruhan jumlah penduduk pada tahun 2020.

Ironisnya, jumlah Haji yang makin bertambah tiap tahun itu tidak sebanding dengan meningkatnya kualitas moral bangsa. Peningkatan jumlah haji tidak otomatis bisa dibaca sebagai penurunan jumlah kasus korupsi di Indonesia. Koruptor makin lama makin jelas berkembang biak populasinya. Lebih miris lagi ketika banyak nama-nama orang yang diawali “Haji” yang ditangkap KPK. Belum terhitung Haji-Haji lain yang ditangkap aparat dalam kasus yang berbeda. Jangan-jangan sebenarnya ada lebih banyak “Haji” yang belum tertangkap. 😦

Kenapa saya mengkait-kaitkan Haji dengan Moral bangsa?

Dalam pandangan orang awam seperti saya, Rukun Islam itu: Syahadat  (1) , Shalat (2), Puasa (3),  Zakat (4), dan sebagai pari purna adalah Haji (5).

Orang yang sanggup berhaji menurut saya adalah model seorang muslim yang mempunyai kualifikasi unggul. Sehat Rohani, Sehat Jasmani dan secara ekonomi tergolong tangguh, bukan hanya mampu. Hanya diwajibkan berzakat bagi orang-orang yang terhitung mampu secara ekonomi. Diwajibkan Puasa bagi orang yang mampu secara fisik/jasmani. Diwajibkan Shalat bagi orang-orang yang waras secara rohani, meski secara fisik tidak cukup sehat. Dan hanya orang-orang mengimani Alloh SWT dan Rosullulah Muhammad SAW saja yang bisa bersyahadat. 😀 *paragraf ini kok mbulet* hehe

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”. (QS. Ali Imran, 97)

Konon ayat di atas merupakan dalil untuk naik Haji. Saya bukan ahli tafsir. Jadi apa maksud orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah pun menjadi tanda tanya bagi saya. 🙂 Apakah bisa ditafsirkan orang yang wajib berhaji itu adalah orang yang telah ber-syahadat, mampu menegakkan shalat, menjalankan ibadah puasa dan membayar zakat?

Atau barangkali memang berlebihan bila terlalu mengharapkan Haji sebagai katalisator perbaikan moral bangsa. Berlebihan barangkali bila mengharapkan setiap orang yang pulang haji dengan oleh-oleh ide dan gerakan perubahan seperti yang dibawakan oleh KH Ahmad Dahlan, dan tokoh-tokoh muslim yang lain pada masanya.

Paling mudah adalah menemukan nama-nama orang Indonesia yang bangga bila didepan namanya disematkan kata “Haji”. 😀