Memperbaiki Power Ampli

Maksud saya memang memperbaiki Power Amplifier dalam arti sebenarnya. Bukan software seperti Power Amp, dll. Power Amplifier yang saya rakit sendiri sudah sekitar 10 tahun yang lalu, sudah lama ternyata. Power Amplifier yang sehari-hari saya gunakan untuk men-drive speaker yang menghentakkan musik yang saya putar sehari-hari sampai membuat ruangan berisik. 😀

Kerusakan pada Amplifier saya ini sebenarnya sudah terjadi cukup lama. Tapi masih bisa digunakan. Jadi saya selalu punya alasan untuk menunda memperbaikinya.

Padahal kerusakan pada Amplifier rakitan itu bukan kerusakan yang susah diperbaiki. Gejala kerusakannya hanya noise tidak karuan ketika tombol Volume, Bass, Treble dan Balance diputar untuk suatu pengaturan. Mudah dipastikan komponen yang rusak adalah Potensiometernya. Harga komponen ini juga murah.

Yang membuat malas adalah harus membongkarnya. Mengambil obeng, memanaskan solder, mengelupas dan memotong kabel stereo. Ke toko elektronika untuk hanya beli komponen sekarang juga sudah malas. Hihi, jadi ingat ketika dulu demen-demennya punya hobby ngoprek elektronik, toko-toko ini bagi saya jauh lebih menarik dari toko pakaian dan toko sepatu.

Nah, mumpung sekarang dan besok masih hari Ied, masih hari raya, saatnya untuk ngoprek lagi memperbaiki Amplifier ini. 🙂

Elektronika Tidak Populer di Mata Anak Sekarang?

Beberapa waktu yang lalu saya ngobrol-ngobrol dengan teman-teman yang bekerja di suatu Sekolah Kejuruan di Gunungkidul. Ngobrol-ngobrol itu kemudian mengarah pada diskusi tentang minat masyarakat, dalam hal ini pelajar di Gunungkidul yang rendah terhadap Program Keahlian Elektronika di SMK. Program Keahlian Otomotif dan Teknik Informatika (software) saat ini menjadi pilihan utama bagi siswa siswi yang bersekolah SMK. Elektronika secara popularitas dan minat sedang telak kalah tertinggal. Kursi-kursi di kelas Elektronika di SMK banyak lowong.

Jaman saya muda, hehe, Elektronika adalah idola yang banyak digadang-gadang agar kelak menjadi bidang yang bisa siswa siswi pelajari. Jaman itu, Elektronika adalah program studi bergengsi yang kelasnya diperebutkan oleh teman-teman yang memilih bersekolah kejuruan. Seleksi alam pada masa itu hanya memungkinkan siswa yang tergolong cerdas di atas rata-rata yang bisa masuk diterima di kelas-kelas Elektronika.

Diskusi oleh teman-teman yang notabene adalah guru-guru program keahlian elektronika itu kemudian berlanjut untuk menemukan cara mendongkrak minat masyarakat pelajar akan keahlian Elektronika yang sedang turun kasta.

Sebenarnya seperti apa sih elektonika di mata pelajar saat ini?

Menurut diskusi itu dapat ditangkap banyak persepsi tentang elektronika yang berkembang di kalangan pelajar. Diantaranya elektronika itu identik dengan hitung-hitungan matematis yang njlimet. Gambaran semacam ini mungkin mereka dapatkan dari pelajaran Fisika di SMP. 😀 Elektronika tidak keren. Menyolder kalah keren dengan meng-over size seker motor untuk adu balap. 😀 Setelah lulus SMK, kalau bekerja di Jakarta yang mereka dengar keren di telinga masyarakat adalah bekerja di Astra, YAMAHA, SUZUKI dan sejenisnya. Apalagi sekarang ini sedang gencar diberitakan mobil Esemka yang dijadikan mobil dinas oleh walikota Solo, Pak Joko Widodo 😀

Banyak sekali ya tantangan untuk mendongkrak minat siswa akan kelas elektronika. Sebagai sesama orang yang sebagian jalan hidupnya ditopang oleh elektronika tentu saja saya merasa terpanggil untuk turut bersumbang sih, paling tidak menyumbang ide, untuk mendorong minat anak-anak pelajar untuk menyukai program keahlian elektronika.

Namun caranya bagaimana, kami masih terus berpikir. Barangkali Anda yang punya ide cerdas untuk disedekahkan di sini? 🙂

Kecanduan Bau Solder

Saya bisa mengingat solder pertama saya bergagang kayu yang saya beli di toko Satria Jaya – Playen pada sekitar tahun 1992. Saya mulai belajar menggunakan Solder pada kelas elektronika yang saya ikuti di SMP. Dari kelas ekstra itu solder menjadi “gadget” kesayangan saya pada waktu itu.

Sampai akhirnya ngoprek-ngoprek atau rangkai-merangkai dan elektronika menjadi hobby yang menghabiskan duit sampai sekarang. Dan kadang menghasilkan duit. Meskipun saya sekarang sudah jarang menyolder sendiri kaki-kaki kompenen elektronika dan kabel-kabel pada papan rangkaian tercetak (PCB). Kecuali kalau terpaksa. 😀

Namun, meskipun saya sudah lama tidak menyolder, tiap kali saya mencium bau solder yang mulai memanasi kawat timah (tenol), hidung ini rasanya pengin mencium dan menghisap aroma yang mengepul dari ujung solder. Dan tangan rasanya gatal ingin bermain-main dengan solder lagi. Bau panas solder serasa addictive. Entah sejak kapan atau siapa yang mengajari, tidak ada ya, saya waktu itu memastikan apakah ujung soldir sudah cukup untuk melelehkan tenol untuk menyolder pada PCB adalah dengan menciumnya. Soldir dirasa telah cukup panas bila mengeluarkan bau tertentu. Bau seperti apa itu susah saya definisikan di sini. Hanya hidung saya yang tahu, hehehe

Menyolder

Menyolder

Ada yang kecanduan bau solder seperti saya? Jangan-jangan orang yang kecanduan lem Aica Aibon awalnya juga seperti saya … 😀

Gambar saya ambil dari: http://www.ladyada.net/images/wavshield/v11/103solder.jpg

Sky-wire Connecting to Sometime :)

Sky-wire over Beringharjo

Foto ini siang tadi saya ambil dari jalan kecil di pinggir sebelah utara Pasar Beringharjo – Yogyakarta. Saya tadi memilih berjalan kaki melewati jalan unik yang di kanan kirinya terdapat peristiwa perdagangan barang – barang antik.

Saat saya mengeluarkan kamera dari dalam tas, serta merta disapa oleh salah seorang pedagang, “Bawa barang apa mas? Sini biar saya beli saja” Kata sapaan yang mirip seperti yang disapakan pada saya dan teman teman Sekolah Menengah pada kira – kira 15 tahun yang lalu. Saat itu saya dan teman – teman memang suka main – main ke bagian pojok Timur Laut Pasar Beringharjo Lantai III.

Disana sebenarnya dan sejujur – jujurnya kami belum pernah menjual satu biji barangpun. Kami suka membeli barang – barang elektronik bekas atau klithikan untuk kami oprek lagi atau bila kami mencari komponen komponen elektronik yang sulit didapat di Toko Sinar, Toko 51 atau Audio Plasa. Atau untuk mencari harga komponen yang jauh lebih murah dari komponen baru di toko. Ya itulah riwayat dari Hobby-ist elektronik yang bermodal dengkul pas – pasan.

Loh, kok malah tulisan dalam posting ini semakin melenceng dari Judul dan Gambar yang dipajang. Ya Maaf … 😀