Komunikasi Kerakyatan

Entah judul ini mencerminkan isi postingan kali ini atau malah tidak terkait sama sekali. Biarlah. Yang penting saya menulis judul yang saya sukai lebih dulu. Baru mengetik paragraf ini. Intinya saya ingin memulai cerita ini dengan Interkom.

Interkom yang saya maksud bukan Aiphone, interkom lokal antar ruang sebagaimana yang kita ketahui ada di perkantoran moderen untuk menghubungkan orang-orang kantoran antar ruang atau cubicle yang banyak sekali itu.

Interkom yang saya kenal pada jaman saya masih ingusan itu digunakan oleh beberapa pemuda untuk berkomunikasi secara elektronik (komunikasi suara) dengan pemuda-pemuda lainnya di rumah masing-masing. Antar pesawat interkom itu terhubung dengan suatu jaringan kawat, kawat itu dulu disebut bendrat, yang dipasang dari rumah yang satu ke rumah yang lain dalam satu lingkungan, bahkan jaringan kawat itu bisa tersambung ke lingkungan rumah di dusun berbeda. Baca lebih lanjut

Kenthongan

Kenthongan

Kenthongan

Menurut penerawangan saya, kenthongan itu oleh Pak Tasiman akan ditabuh petang nanti setelah habis waktu maghrib. Suaranya akan ‘membahana’ ke seluruh pojok sudut wilayah RT 23 Dusun Karangmojo B. Warga baik yang mendengar maupun bermasalah dengan pendengaranya akan tahu itu adalah tanda bahwa malam nanti adalah malam Minggu Pon. Malam diselenggarakan perhelatan akbar secara rutin yang beragenda utama Arisan dan aneka rapat rembug desa demi kemajuan kenyamanan bersama antar warga. Semangat gotong royong, rembug desa, gethok tular wil jinawil mengabadi melegenda terbukti menyelamatkan warga agar ayom ayem toto titi tentrem karto raharjo di tengah negeri canggih mutakhir berteknologi autopilot. 🙂

Kali ini saya hanya ingin menuliskan kiprah kenthongan secara singkat sebelum benda yang berabad tulus ikhlas tanpa tanda jasa mengabdi ini tidak serta merta terlupakan terutama oleh saya sendiri.

Syahdan dulu kala pada jaman saya masih muda belia, Baca lebih lanjut

Hujan Sudah Mulai Turun di Gunungkidul. Alhamdulillah

Langit Angkara

Langit Angkara

Langit terlihat angkara. Seolah dunia sedang murka. Hehe. Itu kan masalah intepretasi saja. Bagi kami di sini, di Gunungkidul, saat ini kami menganggap awan gelap itu sebagai kabar gembira. Hujan akan segera tercurah.

Dan benar. Sore tadi hujan cukup deras telah turun di desa Grogol dimana saya tinggal selama sekitar setengah jam. Melalui pantauan saya di social media, terutama facebook dan twitter, hujan kali ini cukup merata di kawasan Gunungkidul dan daerah-daerah sekitarnya.

Alhamdulillah. Bumi yang telah cukup lama mengering mulai membasah. Aroma harum bau tanah kering yang  tersiram air hujan yang khas mulai tercium dimana-mana. Sampai sekarang.

Bagi saya sendiri, bau tanah basah seperti ini membawa sensasi tersendiri. Seolah merupakan suatu pemuasan akan hasrat rindu yang dalam.

Gambar-gambar berikut biarlah melanjutkan cerita hujan yang jatuh pada waktu senja menanti Maghrib. Baca lebih lanjut

Mengenang Ersad “Bagong” Andi Hartanto (1)

Ersad Andi Hartanto

Ersad Andi Hartanto

Dari teras depan rumah bapak Supriyadi langit senja yang memerah terlihat menjadi latar belakang pohon-pohon jati yang meranggas di musim penantian hujan. Saya kemarin petang itu dengan Pak Supri dan Dodik sedang menyesap teh. Ngobrol-ngobrol tapi tanpa banyak sendau gurau.

Petang itu (22 Oktober 2011) keluarga dan sanak saudara bapak Supriyadi sedang berkumpul untuk malam harinya diadakan Yasinan untuk peringatan satu tahun meninggalnya putra sulung bapak Supri, Ersad Andi Hartanto atau yang lebih dikenal orang sebagai Bagong.

Saya sedang akan mengikuti suatu acara di kota Yogyakarta ketika saat itu dikabari melalui SMS oleh Mbak Ratmi perihal Bagong meninggal. Setengah tidak percaya bahkan setelah saya menelepon adik saya, Yuliarto untuk memastikan kebenaran kabar duka pada siang hari bolong itu. Ssaya buru-buru pulang ke Gunungkidul dengan naik bus yang berjalan dengan kecepatan yang menguji kesabaran dan disambung ojek motor dari pertigaan Gading sampai rumah duka.

Saya ingat betul, Bagong meninggal pada hari Rabu karena pada saat itu saya terburu-buru ke rumah duka dengan masih mengenakan baju berwarna biru ala pabrik. Bagong meninggal dunia pada hari Rabu, 3 November 2010.

Sesampai di rumah duka, saya melihat dengan mata kepala sendiri, almarhum Bagong telah disemayamkan membujur ke utara di atas dipan dengan berbalutkan kain jarik batik . Baca lebih lanjut

Mengering

Mengering

Mengering

Bukan perlambang, tetapi ini adalah gambaran sebenarnya tentang tanah pekarangan yang dulu pernah selama puluhan tahun berdiri rumah yang menaungi hidup manusia sampai akhir hayatnya. Rerumputan kering ini kini menghuni pekarangan. Menggantikan rumah yang  telah dirobohkan beberapa tahun lalu. Pasangan kakek nenek bahagia telah menyelesaikan pengarungan samudra hidup dan berpamit pada senja.

Untuk tiba di tempat peristirahat yang mana hanya ia yang kini tahu …

Bunga Kapas

Bunga Kapas

Bunga Kapas

Untuk siapapun kalian yang googling buat mencari foto bunga kapas.

Paradok: Satu Keluarga Berduka, Tetangganya Pesta – Pesta

Salah satu keluarga tetangga saya saat ini sedang berduka. Keluarga itu pada malam hari ini sedang menyelenggarakan amalan tahil/yasinan. Salah satu anggota keluarga mereka pagi tadi meninggal dunia dan baru dikebumikan siang hari tadi setelah waktu shalat Jum’at. Semoga dosa kekhilafan wo Ngadinah diberikan ampunan oleh Allah dan arwahnya mendapatkan tempat terbaik di sisi -Nya. Wo Ngadinah adalah nenek dari kawan saya Mina dan Ari.

Saya menyebutnya sebagai suatu Paradox, ketika pada malam yang sama ada keluarga bertahlil dalam duka, sementara tidak jauh dari rumah duka, tetangga yang lain sedang pesta – pesta hajatan. Musik dangdut diputar dengan lantang. Bahkan suara dari sound system di tempat hajatan masih meraung – raung pada jam 22 -an WIB saat saya menuliskan unek – unek ini sambil tidak habis pikir geleng – geleng kepala pusing – pusing.

Perlu saya jadikan catatan bagi diri saya sendiri terutama, selain ada satu keluarga yang sedang berduka kesripahan, ada beberapa tetangga lain, yaitu mbah Mento, mbah Wir Mangil, mbah Karso, mbah Ponco dan beberapa beliau berusia sepuh ini sedang sakit lanjut usia. Baca lebih lanjut

Pernah Bersinggungan dengan NII di Gunungkidul

NII (Negara Islam Indonesia) hingga hari ini masih terasa menjadi berita heboh di koran – koran. Di koran yang ada di warung Soto dimana saya sarapan tadi juga ada berita NII -nya. Kemarin sore saya juga melihat di Metro TV, Al Chaedar yang diwawancari sebagai nara sumber tentang NII.

Pertanyaannya:  Kenapa NII bisa berlama – lama menjadi heboh berita nasional? Seberapa bahayakah NII sampai perlu beritanya diangkat tinggi – tinggi hingga seolah olah menenggelamkan kabar permasalahan – permasalahan lain di negeri ini. Kemana berita pembangunan gedung baru DPR, politisi korup, skandal perbankan, dll

Kalaupun NII sangat berbahaya, kenapa tidak diselesaikan sejak dari dulu. Bukankah NII sudah ada di Indonesia dan jadi permasalahan sejak lama. Saya pernah secara kebetulan bersinggungan dan sedikit mencari tahu. Hingga akhirnya tidak terlalu banyak tahu 😀

Ceritanya begini. Baca lebih lanjut

Sarang Burung Truwok Pindah ke …

Pohon Melinjo di belakang rumah saya ini biasanya sejak pagi sudah banyak burung kutilang dan trotokan yang nongkrong – nangkring berkicau. Tetapi tadi pagi burung – burung pekicau itu pindah tongkrongan. Tidak jauh sih. Masih di pepohonan lain di sekitar kebun milik keluarga.

Eksistensi burung Kutilang dan burung Trotok’an ini rupanya terusir oleh kehadiran sepasang burung Truwok –bahasa Jawa, entah apa nama burung ini dalam bahasa Indonesia– yang membuat sarang di pohon Melinjo. Saya tadi melihatnya dari balik Jendela kamar. Tidak lazim memang kalau burung ini bersarang di rerantingan pohon. Mereka terpaksa menyesuaikan diri karena tempat lama bersarang, di rerumputan di pematang – pematang sawah terusir oleh manusia. Rerumputan di pematang – pematang itu dibabat oleh Pak Tani untuk pakan ternak Sapi/Kambing.

Begitulah, satu habitant terpengaruh akan kemudian mempengaruhi habitant yang lain. Berikutnya dan berikutnya membentuk rantai berantau … 😉

Posted with WordPress for BlackBerry via Telkomsel Network

Tidak Ada Jadwal Ronda di Gardu Siskamling

Jadwal ronda untuk lingkungan RT yang saya tempel di Gardu/cakruk yang terletak di pojok rumah saya sekarang sudah tidak ada. Pasti lah. Saya menempelnya sudah 7 atau 6 tahun yang lalu. Sampai sekarang belum ada yang membuat jadwal ronda baru. Pak RT Tasiman belum menyuruh saya lagi untuk menjadwalkan para tetangga yang budiman untuk meronda Siskamling.

Selama beberapa tahun terakhir, mungkin  4 tahun-an, tidak ada lagi bapak – bapak yang main kartu gaple sambilan ngobrol ngobrol ngalor ngidul sebagai selingan meronda muter – muter lingkungan RT 23. Tidak ada bunyi kenthongan. Tidak ada ada lagi suara – suara toklik. Yang ada sekarang tinggal sekali – kali bunyi tokek yang berkicau. Sedang masa hiatus meronda RT 23.

Ketiadaan ronda siskamling di lingkungan RT saya itu, menurut saya, bisa ditafsirkan menjadi 2 kitab. Aliran positif menulis tafsir bahwa dalam beberapa tahun belakangan di lingkungan RT 23 Karangmojo B – Grogol, warga melihat tidak ada ancaman maling, kecu, ataupun begal sehingga keberadaan ronda dipandang tidak diperlukan. Sementara aliran negatif mengindikasikan bahwa terjadi penurunan kewaspadaan masyarakat akan pentingnya menjaga kamtibmas di lingkungannya. Sehingga diperlukan sebuah “insiden” untuk menggugah kembali rasa kewaspadaan berkamtibmas.

Mau berkiblat pada tafsir yang mana, baik aliran positif maupun negatif, saya serahkan kembali kepada pembaca yang budiman. Sekiranya mempertimbangkan aliran barupun saya turut mempersilakan. 😀