Kenthongan

Kenthongan

Kenthongan

Menurut penerawangan saya, kenthongan itu oleh Pak Tasiman akan ditabuh petang nanti setelah habis waktu maghrib. Suaranya akan ‘membahana’ ke seluruh pojok sudut wilayah RT 23 Dusun Karangmojo B. Warga baik yang mendengar maupun bermasalah dengan pendengaranya akan tahu itu adalah tanda bahwa malam nanti adalah malam Minggu Pon. Malam diselenggarakan perhelatan akbar secara rutin yang beragenda utama Arisan dan aneka rapat rembug desa demi kemajuan kenyamanan bersama antar warga. Semangat gotong royong, rembug desa, gethok tular wil jinawil mengabadi melegenda terbukti menyelamatkan warga agar ayom ayem toto titi tentrem karto raharjo di tengah negeri canggih mutakhir berteknologi autopilot. πŸ™‚

Kali ini saya hanya ingin menuliskan kiprah kenthongan secara singkat sebelum benda yang berabad tulus ikhlas tanpa tanda jasa mengabdi ini tidak serta merta terlupakan terutama oleh saya sendiri.

Syahdan dulu kala pada jaman saya masih muda belia, kenthongan digunakan untuk menyampaikan pesan secara masal. Semacam broadcast message yang banyak dikenal oleh anak jaman sekarang. Pesan itu bisa berupa pada hari itu ada gugur gunung kerja bakti, sambatan gotong royong, rapat rembug desa, ada peristiwa pencurian/hal mencurigakan terjadi (samar), bencana alam, atau untuk saling memberi peringatan waspada di waktu malam, kabar duka meninggalnya seseorang, dan lain-lain.

Tentu saja untuk tiap pesan, kenthongan ditabuh dengan kode/ketukan yang berbeda-beda. Diantaranya disebut Titir, Dara Muluk, Ana Maling dan Raja Pati. Raja Pati inilah yang memerindingkan bulu kuduk. Apalagi ditabuh pagi hari ketika semua penduduk baru terjaga dari mimpi. Ada anggota masyarakat Β meninggal dunia! Khusus untuk isyarat tanda ada warga yang meninggal, pada jaman itu kenthongan bukanlah satu-satunya piranti yang ditabuh. Melainkan lesungΒ (alat untuk menumbuk padi sebelum datang mesin giling) juga ditabuh keras-keras agar bahananya menjangkau wilayah yang lebih luas.

Masih terngiang ditelinga saya ketika lesung ditabuh pada pagi hari tahun seribu sembilan ratus delapan puluh sekian menandai meninggalnya Mbah Marto.

Seiring waktu yang pura-pura baik hati membawa kemajuan dengan iming-iming teknologi kepraktisan, peran kenthongan makin lama makin tersingkir. Pada awal TOA masuk desa, baik kenthongan dan TOA bisa saling bahu membahu menyebarkan aneka kabar, namun lambat laun kenthongan dianggap kurang praktis. Kini TOA bisa dengan mudah menjadi corong bagi siapapun untuk menyebarkan propaganda. Tidak hanya corong-corong sebagai perpanjangan lidah para muadzin di surau langgar masjid. Tidak hanya corong penguasa bila ada kunjungan dari atasan para priyayi. Urusan broadcast messages ke seluruh desa dengan sombong diteriakan oleh corong TOA. πŸ˜€

Saya tidak tahu apakah setelah Pak Tasiman melepaskan dharma baktinya setelah tiga puluhan tahun mengabdi pada nilai menjadi nakhoda bahtera RT 23 dusun Karangmojo B, kelak masih ada yang berbagi amal peran dengan kenthongan. Tidak lupa semoga amal jariyah kebajikan senantiasa mengalir kepada swargi kaki Tono (To Sentono) yang telah membuat kenthongan kayu yang sudah mulai lapuk oleh deraan gandhen dan masa. Dua puluhan tahun yang lalu mata saya melihat beliau menatah-natah melubangi kayu kenthongan. Celana gembyong, telanjangan dada, ikat kepala batik, rambut gondrong yang digelung dan tentu saja tompel yang menghiasi wajah dan sekujur tubuhnya.

14 Januari 2012, Karangmojo B, Grogol, Paliyan, Gunungkidul

Iklan

15 thoughts on “Kenthongan

  1. Sistem yang digunakan dalam adat di Bali juga tidak begitu berbeda, cukup efektif untuk berkomunikasi dalam satu desa, bahkan mungkin sampai desa tetangga terdekat. Dalam situasi darurat pun berguna, misalnya kalau ada kebakaran ataupun tragedi.

  2. Beberapa waktu yang lalu ketika berada di pos jaga satpam suatu perusahaan di Magelang, saya melihat mereka masih menggunakan kentongan sebagai alat untuk membagikan informasi-informasi tertentu. Salah satunya yang saya ingat adalah tulisan kode “raja pati” yang digunakan jika telah terjadi pembunuhan di lokasi pabrik.

  3. Baca riwayat kentongan di atas jadi ingat masa kecil saya dulu di desa. Dulu di desa saya sering ditabuh kentongannya kalau mau rapat pertemuan warga. Sekarang, saya kurang tahu kebiasaan itu masih ada apa tidak. Tapi di Jogja Satpam perumahan juga disediakan kentongan dan akan dipukul setiap beberapa jam sekali waktu meronda keliling πŸ™‚

    • benar pak lik, saya sengaja menyisipkan frase “wil jinawil” erat menempel di pipi pakdhe/wo Tasiman, secara merk wil jinawil semua orang tahu beliaulah yang jaman dulu kala pegang πŸ™‚ hehe

  4. Ping-balik: Angin Kencang « Menuliskan Sebelum Terlupakan

  5. Ping-balik: Gotong Royong « Menuliskan Sebelum Terlupakan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s