Komunikasi Kerakyatan

Entah judul ini mencerminkan isi postingan kali ini atau malah tidak terkait sama sekali. Biarlah. Yang penting saya menulis judul yang saya sukai lebih dulu. Baru mengetik paragraf ini. Intinya saya ingin memulai cerita ini dengan Interkom.

Interkom yang saya maksud bukan Aiphone, interkom lokal antar ruang sebagaimana yang kita ketahui ada di perkantoran moderen untuk menghubungkan orang-orang kantoran antar ruang atau cubicle yang banyak sekali itu.

Interkom yang saya kenal pada jaman saya masih ingusan itu digunakan oleh beberapa pemuda untuk berkomunikasi secara elektronik (komunikasi suara) dengan pemuda-pemuda lainnya di rumah masing-masing. Antar pesawat interkom itu terhubung dengan suatu jaringan kawat, kawat itu dulu disebut bendrat, yang dipasang dari rumah yang satu ke rumah yang lain dalam satu lingkungan, bahkan jaringan kawat itu bisa tersambung ke lingkungan rumah di dusun berbeda.

Percakapan interkom pertama yang saya lihat dilakukan oleh Paryono. Saya perhatikan suara-suara teman-teman Paryono terdengar dari suatu perangkat. Paryono menekan suatu tombol, baru kemudian dia berbicara. Kata asing yang saat itu saya dengar kira-kira seperti, “rojer”, “dikopi”, “ganti” dan lainnya saya lupa entah semua itu bingung apa artinya.

Beberapa tahun kemudian, menginjak kelas 2 SMP adalah kali pertama saya mempunyai pesawat interkom yang saya rakit sendiri pada sebuah board/pcb merk Ronica, kalau bukan Oriental. hehe. Kemudian untuk pertama kalinya saya ikut nggantol bendrat dan bisa bercakap-cakap dengan Miyanto dalam suatu jaringan Interkom. Itu adalah momen dimana saya bisa menikmati komunikasi “jarak jauh” dengan pemuda-pemudi lain di desa dimana saya tinggal. Jaman dulu di desa dimana saya tinggal belum ada telepon kabel. Sekarang telepon kabel juga belum ada. 😀

Tombol misterius yang kadang kala ditekan Paryono sebelum berbicara di depan Interkom itu ternyata adalah switch/saklar PTT (Push To Talk). Interkom adalah alat komunikasi half duplex. Apa itu half duplex? hehe Half duplex adalah suatu komunikasi ketika satu pihak berbicara maka pihak lain harus mendengarkan. Kalau semua bicara tidak akan ada yang bisa mendengar. Berbeda dengan telepon/ponsel yang kita pakai sekarang dimana semua pihak bisa bicara dan mendengar dalam waktu bersamaan. Seperti telepon ini disebut full duplex. hehe.

Kelas 3 SMP, saya mulai bosan dengan Interkom kabel ini. Saya mengoprek suatu pemancar FM untuk digunakan berkomunikasi bebas belitan kawat. Dengan Pemancar FM adalah alternatif komunikasi radio bagi yang tidak mampu beli HT. HT (Handy Talky) bukan HP (Hand Phone). HP pada jaman SMP hanya ada di film-film barat.

Memasuki SMA, saat itu saya sekolah SMA di kota di Yogya yang berjarak sekitar 40 km dari rumah orang tua, saya berkeinginan untuk membuat alat komunikasi radio dengan gelombang Short Wave untuk menyambung komunikasi saya dari kos-kosan di Yogya dengan orang tua saya di Gunungkidul. Sayang tidak pernah terealisasi. Mengoperasikan pesawat short wave secara teknis mustahil dilakukan oleh bapak dan simbok. 😀 ya sudah.

Pada jaman itu pemuda-pemuda sebaya saya, terutama teman-teman saya sih, sangat hobby untuk ngoprek elektronika. Mereka suka merakit tape player, radio, pemancar, power amplifier dan lain-lain dengan komponen-komponen yang mudah dibeli di toko-toko elektronik pada masa itu. Jadi jangan heran bila ada anak usia SMP terampil menyolder dan fasih membaca kode warna gelang resistor. 🙂

Masyarakat marak berkomunikasi dengan Interkom dan gelombang radio sampai sekitar tahun 2000-an. Setelah itu masyarakat melakukannya sembunyi-sembunyi karena rasia dari postel makin marak.

Kini Komunikasi Kerakyatan seperti itu sudah mulai ditinggalkan, kecuali oleh orang-orang yang benar-benar ada hobby/passion di situ. Komunikasi seluler yang lebih murah, portable, coverage lebih luas dan legal menjadi pilihan publik. Pihak Postel jadi tidak perlu repot-repot sweeping pengguna frekuensi ilegal.

Namun ada yang menurut saya hilang dari maraknya komunikasi komersial yang makin murah dan canggih ini. Tentu anak-anak usia SMP sudah tidak tertarik untuk meletakan hobby kreatif mereka di ujung solder. Tidak ada yang memikirkan bagaimana komunikasi yang independen dan kreatif yang sebenarnya dalam keadaan tertentu diperlukan. Seperti ketika ada bencana alam yang menyebabkan infrastruktur komunikasi mainstream menjadi down. Masih ingat gempa jogja 5 tahun yang lalu kan?

Barangkali karena tuntutan masyarakat akan komunikasi kerakyatan sudah jarang terdengar maka pemerintah/dalam hal ini badan regulasi lupa bahwa keberadaan komunikasi kerakyatan itu selalu diperlukan. Contohnya semua alokasi frekuensi seluler saat ini oleh badan regulasi diberikan kepada industri. Tanpa menyisakan slot untuk digunakan secara bebas untuk masyarakat.

Dalam kadar tertentu Interkom kabel dan Pemancar HF/VHF saat ini tidak terlalu relevan. Bila Anda pernah mendengar Open BTS. Open BTS adalah salah satu bentuk masa kini dari komunikasi kerakyatan yang perlu diperjuangkan. Pejuangnya salah satunya adalah Pak Onno W Purbo.

Silakan baca link: http://www.detikinet.com/read/2012/01/18/105858/1818530/398/siapa-bilang-open-bts-ilegal/

Untuk belajar dan tahu banyak tentang perjuangan pembebasan Open BTS di Indonesia 🙂

Iklan

12 thoughts on “Komunikasi Kerakyatan

  1. dulu suka lihat mas, ada bendrat yang melintang ke arah barat dari rumahanya Mas Waryadi, entah bendrat itu berujung di mana? Pernah dikasih tau temen’ katanya namanya interkom. Waktu itu saya balik nanya, interkom ki panganan apa? he he

  2. he he nostalgia smp jawardi. di korek hayo lanjut kopi darat. dulu aku pingin sekali ikut komunikasi rakyat ini, punya sodaraku laki laki he he karena dulu aku gadis pemalu hanya tinggal keinginan saja.

  3. sekarang mungkin jamannya sudah beralih.. alat alat teknologi juga sudah beralih fungsi. tinggal bagaimana menyesuaikan diri dan memanfaatkan sebaik mungkin supaya memperoleh hasil maksimal.

    yaa kalo masih memaksa diterapkan dengan pola jaman dulu, mungkin gak akan mencapai tujuannya

  4. ASS aku pernah punya wktu ku smk kelas 3 2003, ku smk muh pakem, kupernah punya pemancar fm ku biasa mengudara dgn nama { JONI }jalan kaliurang km12 kalau lg brik2aan hhehhehh, kadang2 tak buat puter2x lagu di freq 87 mhz—– sekitar 89mhz. ku maen brik2aan {dlm bhs jogja } dr tahun 2003aan sampai skitar 2004aan lah, lama2 kelamaan bikin mls kerja,mendekati 2004 ku mulai kendorkan maen radio dan cari2 kerja alhamdulilah skrg dh kerja dijayapura , barng kali ada yg mengenalku caal me yaw dab mbak mas hhhhhhe hhehehh atau kirim email sekaligus fbku antonsleman@ymail.com,
    kusering jumpa darat jg sama teman2, ada yg godean, cangkringan jg ada, ada tetangganya mbah marijan jg namanya biasa mngudara dgn nama GARENG brg kali ada yg tau gmn kbrnya skrg setelah letusan merapi kmren, mksh dikopi rojer ganti, ….

    • RPU jogja masih rame bang. Kang gareng jg masih sering muncul. Dulu ada lokal jakal cewek namanya ari pernah ketemu gk bang. info twitter saya: @arronsamto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s