Tips Aman Berbelanja Online dengan Blanja.com dan Telkomsel TCash

Berbelanja online telah membawa pengalaman baru yang menyenangkan sekaligus memudahkan bagi banyak orang. Toko-toko online baru pun bermunculan setiap harinya dengan menawarkan kelebihan dan kemudahan masing-masing. Barang-barang yang diperdagangkan secara online pun menjadi semakin beragam.

Namun tidak sedikit orang yang saat ini masih enggan dan was-was untuk berbelanja secara online. Penjual-penjual online yang tidak jujur yang berkeliaran di jejaring sosial telah menciptakan ketidakpercayaan tersendiri. Apalagi ditambah dengan berita-berita tentang maraknya penipuan dan penyalah gunaan penggunaan kartu kredit dan transaksi tranfer bank.

Bagi pengguna Telkomsel sebenarnya ada fitur yang bisa digunakan untuk berbelanja secara online tanpa harus menggunakan Kartu Kredit atau pun tranfer bank. Tanpa perlu memasukkan nomer kartu kredit dan tanpa perlu memasukkan nomer-nomer rekening dan akun bank. Fitur itu adalah TCash. Sebuah rekening ponsel yang bisa dengan bebas kita isi sejumlah saldo. Saldo TCash hanya berkurang ketika kita gunakan untuk berbelanja, tidak dikenakan biaya bulanan dan tidak terhubung dengan rekening bank tertentu. Selengkapnya tentang TCash silakan dibaca di sini.

Ada banyak toko online yang bisa menerima pembayaran dengan TCash. Salah satunya adalah Blanja.com. Sebagai salah satu situs belanja terpercaya untuk bisa bertransaksi calon pembeli diwajibkan untuk mendaftar dengan mengisikan data-data yang valid. Kemudian calon pembeli akan dengan mudah melihat-lihat barang-barang yang akan dibelinya, membandingkan dengan toko-toko online lain kalau perlu, memilih barang-barang yang paling sesuai. Langkah terakhir adalah melakukan pembayaran. Seperti tangkapan layar di bawah ini:

tcash_blanja.com

Ada beberapa pilihan cara pembayaran di sini. Namun di sini kita akan berbelanja dengan menggunakan Tcash. Jadi pilih yang paling atas. Jangan lupa sebelum anda menggunakan Tcash, pastikan saldo anda mencukupi dengan mengeceknya melalui *800#. Bila saldo kurang anda bisa melakukan pengisian ulang saldo. Bisa di ini dari rekening bank atau cara-cara lain seperti yang tercantum pada website Telkomsel.

Langkah selanjutnya, cukup dengan mengisi konfirmasi seperti ini:


konfirmasi blanja

Semudah itu saja maka barang yang telah dibeli akan tiba di alamat yang diisikan.

Namun tunggu dulu, bagi pengguna Telkomsel masih ada benefit satu lagi yang diberikan bila berbelanja di Blanja.com. Pengguna Telkomsel bisa menukarkan poin-poin yang dimilikinya sebagai voucher belanja di Blanja.com. Saya sendiri menggunakan aplikasi My Telkomsel untuk mengecek dan menukarkan Telkomsel poin menjadi voucher belanja. Baca lebih lanjut

Lenovo A6000: Pilihan Terbaik untuk Menikmati Jaringan 4G di Indonesia

Setelah melalui proses panjang, akhirnya awal tahun ini tiga operator seluler besar resmi menggelar layanan 4G di Indonesia. Ini adalah teknologi yang digadang-gadang akan menjadi solusi internet cepat Indonesia. Selamat datang era mobile broadband. Selamat tinggal internet lemot.

Permasalahannya adalah belum semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk menikmati pengalaman menggunakan teknologi internet cepat mobile broadband 4G LTE ini. Untuk dapat menikmati koneksi cepat mobile broadband 4G LTE diperlukan tidak hanya ponsel yang berfitur 4G, melainkan sebuah smartphone yang ditanami teknologi yang benar-benar compatible dengan jaringan 4G yang digelar oleh operator mobile broadband di Indonesia. Smartphone-smartphone yang mendukung teknologi ini umumnya adalah smartphone high end yang dibanderol dengan harga yang tidak terjangkau oleh kebanyakan masyarakat Indonesia. Ini masalah lain lagi.

Lenovo, pemain matang dan mapan di industri teknologi dan gadget ingin menghadirkan pengalaman pengguna koneksi cepat mobile broadband 4G untuk lebih banyak orang. Pada awal tahun ini pula Lenovo menghadirkan ponsel pinter seri A 6000. Kabar bagusnya, ponsel pintar yang akan mampu membawa pengalaman menikmati koneksi 4G secara penuh ini akan dibanderol dengan harga 1,5 jutaan. Harga yang cukup terjangkau bagi kebanyakan pengguna ponsel pintar di Indonesia.

Lenovo-A6000-1

Selanjutnya mari kita cermati lebih dalam saja yang dibawa oleh Lenovo A 6000:

Processor Qualcomm Snapdragon 410

Lenovo A 6000 menggunakan chipset Qualcomm MSM 8916 Snapdragon 410 Quad core 1,2 Ghz. Kenapa processor adalah hal pertama yang saya lihat karena, seperti yang saya tulis pada posting terdahulu, Qualcomm lah pabrikan chipset yang selain membuat teknologi untuk ponsel juga teknologi yang dibuatnya digunakan di sisi jaringan 4G yang digunakan oleh operator seluler di Indonesia. Bila suatu smartphone telah menggunakan processor ini saya tidak perlu khawatir ada masalah ketidak compatible -an antara device dan network.

Qualcomm Snapdragon 410 juga akan menjamin performa ponsel secara maksimal ketika menjalankan aplikasi-aplikasi berat secara bersama-sama (multi tasking). Apalagi GPU Adreno 306 akan memudahkan ketika digunakan untuk memutar video HD dan menjalankan game-game yang cukup berat.

Layar 5″ IPS touchscreen HD dan Teknologi Audio Dolby Plus

Kualitas layar dan kemampuan mereproduksi suara bagi saya adalah 2 hal yang tak terpisahkan. Layar berukuran 5″ yang dimiliki oleh A 6000 adalah ukuran yang ideal bagi sebuah ponsel untuk nyaman digunakan menonton video namun tidak membuatnya terlalu besar digenggam berkat desain body Lenovo yang menurut saya telah sesuai. Resolusi layar 720 x 1280 pixel akan membuatnya menampilkan foto, video dan graphic secara tajam. Baca lebih lanjut

Qualcomm Snapdragon 801 Dalam Oppo N3

Suatu ketika seorang teman saya ada yang membawa sebuah ponsel baru, biasanya teman-teman saya akan ada yang bertanya, “Kameranya berapa mega pixel?”. Processornya sudah quad core apa masih dual core? Masih 3G atau sudah 4G” tanya teman saya yang lain. “RAM nya berapa giga byte? Kalau di-install Whatsapp, Line, BBM, Google Hangout, Skype sama WeChat suka nge-lag ngga? Dead Space dan Assassin’s Creed Pirates jalan di sini kah?” Sementara teman saya yang lain bertanya, berapa mAh kapasitas batere ponsel itu. Mungkin karena pengalamannya sehari-hari mengisi ulang batere ponsel sampai tiga kali sehari. Seperti minum obat saja.

Pertanyaan-pertanyaan teman-teman saya itu mudah terbaca sebagai cara mereka untuk menilai baik buruk suatu telepon pintar. Mereka mulai kritis terhadap spesifikasi sebuah ponsel. Bukan dengan cara “ponselmu merk apa?” yang mereka gunakan beberapa tahun lalu. Apakah ada yang salah dengan cara teman-teman saya ini menilai kualitas suatu telepon pinter?

Menurut saya mereka sudah berada di jalan yang benar. Saran saya agar mereka lebih jeli dan memeriksa lebih detil spesifikasi suatu telepon pintar.

Umumnya kamera dengan mega pixel tinggi akan menghasilkan kualitas foto yang baik. Akan tetapi jangan salah, kualitas lensa, lebar bukaan lensa, jenis sensor kamera dan Image Signal Processor merupakan penentu utama kualitas sebuah foto.

Ponsel yang ini angka mAh baterenya lebih banyak, kenapa dipakai browsing dan main game beberapa jam saja sudah mendapatkan notifikasi lowbatt? Batere dengan mAh yang banyak memang mempunyai kemampuan lebih dalam menyediakan daya bagi sebuah telepon pintar. Alih-alih memerlukan waktu pengisian yang lebih lama, tanpa didukung Power Managemen yang bagus ponsel pintar tidak akan bertahan cukup lama setelah dicabut dari colokan listrik.

Processor

Ini yang oleh teman-teman saya tadi kualitasnya baru dilihat dari jumlah core yang dimiliki oleh suatu processor, sudah quad core apa masih dual core (atau single core). Belum sampai Processor itu bekerja sampai frekuensi berapa Gigahertz, fitur yang diusung apa, hasil benchmarknya seperti apa, pengalaman pengguna yang ditawarkan semenakjubkan apa dan lain-lain. Masih jarang terdengar pertanyaan seperti ketika akan membeli komputer/laptop baru: memakai Processor Intel atau Processor AMD.

Processor merupakan penentu terpenting performa suatu ponsel pintar (smartphone). Kualitas kamera, kualitas audio, kemampuan memutar video HD dengan jernih dan mulus, kualitas dan kecepatan koneksi ketika terhubung ke jaringan, kemampuan menjalankan sistem operasi (Operating System) terbaru dengan mulus beserta aplikasi-aplikasi produktif, game dan entertainment semuanya tergantung kepada chip berukuran mungil ini. Daya tahan batere beserta seberapa cepat pengisiannya bisa dilakukan sangat bergantung kepada sebuah Processor.

snapdragon-801

Sama dengan yang terjadi di dunia PC/Laptop, pertumbuhan kebutuhan smartphone yang pesat secara global pada dekade terakhir ini menantang produsen-produsen semi konduktor untuk berlomba menawarkan kepada pasar produk Processor yang diharapkan bisa membawa pengalaman pengguna yang terbaik.

Kali ini saya akan membahas produk Processor dari Qualcomm. Kenapa Qualcomm bagi saya menarik diikuti karena berbeda dengan kompetitornya ia tidak hanya hanya menawarkan Processor untuk ditanam dalam sebuah ponsel. Qualcomm juga menawarkan solusi teknologi di sisi infrastruktur jaringan yang di Indonesia sendiri telah digunakan oleh operator-operator terkemuka: Telkomsel, XL Axiata, Indosat dan lain-lain. Bahkan untuk memaksimalkan pertumbuhan ekosistem DNA (Device, Network, Application) saat ini Qualcomm telah bekerjasama dengan developer dan komunitas developer sehingga lebih banyak aplikasi baru muncul dengan pengalaman pengguna yang tiada duanya. Bahkan untuk urusan teknologi, Qualcomm telah membawa solusi-solusinya ke ranah Open Source. Baca lebih lanjut

Meng-install Linux Ubuntu versi Lama

Alasan saya menging-install Ubuntu versi lama adalah: karena laptop dimana saya akan menginstallnya justru tidak compatible dengan ubuntu versi baru. Setidaknya saya sudah gagal mencoba memasang Ubuntu 14.04  Trusty Tahr dan Ubuntu 14.10 Utopic. Versi Ubuntu yang berhasil saya install di Laptop Samsung Ativ Book 2 ini adalah Ubuntu 13.04 atau Raring Ringtail. Versi ini saya anggap lama karena sudah tidak di-support lagi oleh Ubuntu.

Kebayang bagaimana akan lebih repot mengurus versi Ubuntu yang tidak lagi di-support.

Proses instalasi selesai. Ubuntu Raring Ringtail bisa booting dengan baik. Semua hardware di Ativ Book 2 bisa berjalan normal. Koneksi Wifi pun bisa saya sambungkan melalui network manager. Saya pun segera mengetikan: sudo apt-get update . Mendapati beberapa pesan error yang menginformasikan bahwa versi ini sudah tidak ditemukan di repository, saya sudah siap. Pikir saya: Saya bisa mendownload semua repository kemudian melakukan offline update. Tentu ini akan repot.

Saya kemudian mencoba googling terkait hal ini. Rupanya semua release lama Ubuntu tidak sepenuhnya dihapus dari repository online. Melainkan dipindahkan saja ke old-releases.ubuntu.com. Berarti dalam kasus saya saya bisa mencoba mengarahkan software sources ke repo old-releases.ubuntu.com. Cukup dengan menyunting file sources.list yang terletak di /etc/apt.

Saya mengedit file sources.list secara manual dengan mengganti setiap archive.ubuntu.com dengan old-releases.ubuntu.com

Cara lain yang lebih mudah adalah dengan mengetik:

sudo sed -i -e 's/archive.ubuntu.com\|security.ubuntu.com/old-releases.ubuntu.com/g' /etc/apt/sources.list

Nah, sekarang saya sudah bisa duduk manis sambil mengetik: sudo apt-get update && sudo apt-get upgrade

Menginstall aplikasi dan segala sesuatu yang kita butuhkan pun bisa dilakukan seperti biasanya. Hanya bila aplikasi yang didapatkan adalah versi lama, maka kita bisa mengunduh file *deb dari website aplikasi yang bersangkutan kemudian menginstallnya seperti biasa. Misalnya ketika saya mendapatkan Libre Office versi 4.0 di Raring Ringtail. Saya bisa menghapus terlebih dahulu Libre Office versi 4.0, mengunduh Libre Office versi 4.3.5 dari website Libre Office, kemudian mengekstrak file instalasi, terakhir adalah menginstallnya dengan perintah sudo dpkg -i.

Teman Lari

Saya lebih suka lari bertemankan smartphone dibandingkan dengan sebuah sportwatch di tangan. Alasannya jelas: karena saya belum mempunyai Garmin Forunner, Suunto ataupun Polar sportwatch.

garmin for

Kelebihan dan keunggulan sport watch dalam berlatih susah saya bantah, dan tidak akan saya bantah, namun belum cukup untuk membuat saya sekarang berpaling dari smartphone. Meski saya rasakan sendiri beberapa kekurangan smartphone untuk dibawa berlari seperti: terlalu ribet dan berat, fitur terbatas, tidak tahan air, batere yang sering kali tinggal 30% ketika dibawa berlari half marathon (21 KM) dalam waktu sekitar 2 jam dan kekurangan-kekurangan lainnya. Bagi saya sendiri smartphone masih mempunyai beberapa kelebihan yang tidak dimiliki semuah sportwatch.

Kelebihan smartphone sebagai asisten latihan lari yang selama ini saya rasakan adalah:  Baca lebih lanjut

Masuk Angin

Entah karena tidur dengan posisi miring, karena masuk angin, terlalu banyak duduk atau karena sebab lain pundak sebelah kanan saya sakit. Untuk menengok kekiri sulit. Kaku. Gejala seperti ini, atau bapak saya menyebutnya dengan istilah “tengeng” dalam beberapa bulan terakhir ini beberapa kali saya alami. Umumnya gejala seperti ini akan menghilang sendiri dalam beberapa hari. Sekitar 3 hari.

Untuk meringankannya biasanya saya menggosoknya dengan minyak urut atau balsem. Ayah saya terkadang menyarankan saya agar kerokan. Karena bila ia mengalami hal sama, kerokan baginya sangat membantu meringankan rasa sakit tengeng ini. Saya sendiri tidak suka dengan solusi kerokan. Kerokan ini rasanya sakit dan bekas-bekas merahnya itu terlihat ngeri. Merusak permukaan kulit, saya pikir.

Bila saya duduk sakit pundak sebelah kiri saya kali ini kumat. Bila saya berdiri dan berjalan-jalan sakit pundaknya berkurang drastis. Ini menyebalkan. Masa iya saya harus berdiri dan berjalan-jalan terus menerus biar sakit pundak tidak menggejala. Kebanyakan pekerjaan saya minta dikerjakan sambil duduk. Mengetik di laptop tidak bisa dikerjakan sambil berdiri. Membaca-baca dan mengetik akan aneh dan bisa menjadi bahan tertawaan teman-teman bila saya lakukan sambil berdiri atau berjalan-jalan. Kalau sambil tiduran? Entar tidak jadi mengerjakan melainkan kebablasan jadi tidur beneran.

Kali ini saya mencoba menggunakan koyo. Ada yang tidak tahu koyo? Saya tadi membeli koyo Cabe di minimarket sebelah, kemudian meminta teman saya menempelkan di pundak dan di punggung. Dalam beberapa menit tempelan koyo ini mulai memberi rasa hangat, dan makin hangat. Apalagi setelah saya jalan ke dan dari tempat makan siang. Efeknya jadi makin gerah dan berkeringat. Rasa sakit pundak saya sekarang pun berangsur berkurang. Ini buktinya. Saya bisa mengetik posting ini. Padahal tadi menulis komentar di facebook saja tidak nyaman. 😀

Saya tidak tahu apakah setelah efek hangat tempelan koyo hilang sakit pundak saya akan kambuh atau sembuh. Adakah yang punya pengalaman jitu menyembuhkan sakit pundak seperti yang saya derita ini?

Word Lens, Fitur Baru Google Translate

Bisa dikatakan Google Translate adalah aplikasi yang jarang saya gunakan di ponsel. Sehari-hari umumnya saya menggunakan bahasa yang relatif bisa saya mengerti, kecuali kepergok istilah yang agak asing, Google Translate di ponsel menunjukan manfaatnya.

Namun update aplikasi Google Translate pada pagi ini membuat saya tidak tahan untuk mencobanya. Fitur baru yang dibawa oleh update kali ini adalah “Word Lens”.

Fitur yang bisa diakses dengan icon seperti kamera ini memang memanfaatkan kamera ponsel untuk berguna. World Lens bisa digunakan dengan cara: membuka aplikasi Google Translate seperti biasa, menekan ikon Word Lens (icon mirip kamera), snap dimana terdapat kalimat yang ingin diterjemahkan, tap scan, seleksi bagian teks yang ingin diterjemahkan, kemudian pilih “translate”. Kata atau kalimat pun terterjemah ke dalam bahasa yang kita inginkan bila koneksi internet di ponsel baik-baik saja.

Pada percobaan kali ini saya mencoba Word Lens -nya Google Translate untuk menerjemahkan kalimat yang terdapat di karton di meja saya. Pencahayaan obyek dimana kalimat berada mengandalkan lampu neon, sementara koneksi internet ponsel menggunakan wifi. Hasilnya ini:

IMG_1836

Kali ini Word Lens bekerja dengan baik.

Dengan kemampuan Google Translate seperti ini saya membayangkan sedang berjalan-jalan di Jepang, Cina dan Korea Utara. Kemudian di pinggir jalan saya melihat penunjuk jalan atau banner depan toko dengan tulisan dan bahasa yang tak saya mengerti. Kemudian saya cukup mengandalkan fitur world lens nya Google Translate untuk mengerti semuanya. Mudah. Eh saya ralat: Korea Utara di atas saya ralat dengan Korea selatan saja. Di Korea Utara internet diblok. Sembarangan menggunakan ponsel alih-alih saya malah bisa ditangkap. 😀

Ingin menguji word lens lebih lanjut nanti saya ingin mencari teks huruf China, Jepang, Korea, India dan lain-lain untuk saya coba terjemahkan, hihi

Bingung dengan Setting Aplikasi di Android

Bermaksud membantu kawan saya menyesuaikan beberapa pengaturan di aplikasi Nike Running+ di ponsel Android, saya sempat beberapa waktu kebingungan. Saya mencari dimana letak menu setting, namun tak tertemukan setelah saya mencoba menu demi menu yang ada. Saya ingin mengubah diantaranya adalah satuan dari mile dan lbs ke satuan metric (km dan kg) dan beberapa setting lainnya. Saya yakin bahwa setting-setting untuk itu pasti ada, hanya belum saya temukan saja. Saya begitu yakin ada karena dulu pernah melakukannya di ponsel Android milik saya.

Sekarang memang saya sudah agak jarang menggunakan ponsel Android. Kalau pun memakai sudah tidak lagi mengutak-atik pengaturannya.

Sampai beberapa hari kemudian ketika sedang menggunakan ponsel Android, bermaksud menekan tombol back, namun yang tertekan rupanya adalah tombol di sebelah kanan tombol home ponsel LG. Ahaaa, saya jadi ingat bahwa di Android setting menggunakan tombol fisik.

Screenshot_2015-01-15-08-57-44 (1)

Baca lebih lanjut

Michael Learn to Rock & Easy Listening Song

Adalah lagu Michael Learn to Rock yang pertama kali saya kenal. Saya mulai mengenalnya setelah sesekali melihat video clip nya yang nongol di televisi dan sekali dua mendengarnya di radio lokal. Entah karena terbawa teman-teman sepermainan saya yang suka menyanyi Nothing to Loose di kamar mandi, lama-lama saya pun menjadi familier dengan lirik lagu ini. Saya jatuh suka pada vokal Jascha Richter yang easy listening.

Saat itu saya kelas dua sekolah menengah. Suka dengerin musik berarti harus suka radio, mau tidak mau. Kaset dan CD adalah kemewahan yang tak terbeli oleh kami. iTune dan Youtube adalah istilah yang barangkali hanya alien yang tahu. Ada satu hal lucu yang tidak akan pernah bisa dipahami oleh anak-anak jaman sekarang. Yaitu betapa gigih usaha yang harus dilakukan untuk mendapat lirik lagu-lagu terbaru.

Begini yang dilakukan:

Bila di radio akan diputar sebuah lagu baru, beberapa anak akan berkumpul, duduk tenang, hening dengan pulpen dan kertas di tangan. Begitu lagu diputar mereka akan menuliskan liriknya sebisa telinga mereka menangkapnya. Setelah lagu usai mereka akan mencocokan apa yang bisa ditulis. Saling tambal “missing lyric” atau memperbaiki yang salah eja. Bila yang mereka lakukan bersama-sama itu belum baik, mereka akan menunggu lagu yang sama diputar di radio lagi. Kemudian catatan lirik lagu ini akan mereka bukukan dan biasanya akan menjadi sesuatu yang laris jadi pinjaman. hihi. Kalau jaman sekarang tinggal ketik di Google semua beres ya. 😀

Ngomong-ngomong menulis posting ini sambil dengerin lagu-lagunya MLTR kok hampir semua lagu yang saya hafal lagi liriknya. Ini mengingatkan saya pun pernah menyalin lirik-lirik lagu itu dari buku kumpulan lirik yang saya pinjam dari teman sekelas saya, Usman, padahal saya tidak pernah bisa dan tidak pernah suka nanyi beneran. 😀

Lebih Suka Duduk di Belakang

FullSizeRender (1).jamaah

Khatib Jum’at telah mengucapkan salam khotbah pertamanya. Muadzin mengumandangkan seruan adzan. Beberapa jamaah nampak telah duduk, siap mendengarkan khotbah. Di depan mimbar khotbah nampak shaf yang belum terisi penuh. Saya berdiri beberapa shaf di belakangnya menunggu adzan selesai, sambil memotret foto di atas. Usai kumandang adzan saya ingin shalat tahiyatul masjid dulu sebelum duduk mengengarkan khotbah.

Di kanan kiri dan belakang saya ada banyak jamaah Jum’at yang masih berdiri, yang sudah duduk pun ada. Seperti saya, mereka enggan untuk duduk mengisi terlebih dulu shaf di depannya atau yang paling depan. Entah kenapa keutamaan dan kebaikan shaf pertama dan shaf-shaf terdepan dalam shalat berjamaah terlihat kurang menarik greget para jamaah. Saya sendiri masih minder untuk mengambil tempat persis di belakang imam. Makmum persis di belakang imam diutamakan untuk menggantikan bila karena satu dan lain hal imam batal shalat. Saya merasa belum cukup ilmu untuk itu.

Kebiasaan menghindari tempat duduk atau shaf terdepan ini saya lihat tidak hanya terjadi pada shalat berjamaah. Di rapat-rapat di perkantoran saya lihat begitu. Di kelas saya dulu pun begitu seandainya tempat duduk tidak diatur sedemikian rupa oleh guru. Apalagi kalau di kelas sedang ada ujian. Pasti saya dan teman-teman saya akan berebut menduduki bangku yang paling istimewa. Posisi menentukan prestasi. Begitu pepatah yang berlaku.

Saya tidak tahu apakah kebiasaan menghindari tempat duduk terdepan ini hanya berlaku untuk orang-orang Indonesia saja atau terjadi dimana saja di seluruh dunia. Entahlah. Yang jelas saya tahu orang-orang akan berebut di tempat terdepan ketika sedang menonton konser dangdut di alun-alun.

ps :

topik khotbah jum’at tadi adalah hubungan antara sedekah dan rejeki