Qualcomm Snapdragon 801 Dalam Oppo N3

Suatu ketika seorang teman saya ada yang membawa sebuah ponsel baru, biasanya teman-teman saya akan ada yang bertanya, “Kameranya berapa mega pixel?”. Processornya sudah quad core apa masih dual core? Masih 3G atau sudah 4G” tanya teman saya yang lain. “RAM nya berapa giga byte? Kalau di-install Whatsapp, Line, BBM, Google Hangout, Skype sama WeChat suka nge-lag ngga? Dead Space dan Assassin’s Creed Pirates jalan di sini kah?” Sementara teman saya yang lain bertanya, berapa mAh kapasitas batere ponsel itu. Mungkin karena pengalamannya sehari-hari mengisi ulang batere ponsel sampai tiga kali sehari. Seperti minum obat saja.

Pertanyaan-pertanyaan teman-teman saya itu mudah terbaca sebagai cara mereka untuk menilai baik buruk suatu telepon pintar. Mereka mulai kritis terhadap spesifikasi sebuah ponsel. Bukan dengan cara “ponselmu merk apa?” yang mereka gunakan beberapa tahun lalu. Apakah ada yang salah dengan cara teman-teman saya ini menilai kualitas suatu telepon pinter?

Menurut saya mereka sudah berada di jalan yang benar. Saran saya agar mereka lebih jeli dan memeriksa lebih detil spesifikasi suatu telepon pintar.

Umumnya kamera dengan mega pixel tinggi akan menghasilkan kualitas foto yang baik. Akan tetapi jangan salah, kualitas lensa, lebar bukaan lensa, jenis sensor kamera dan Image Signal Processor merupakan penentu utama kualitas sebuah foto.

Ponsel yang ini angka mAh baterenya lebih banyak, kenapa dipakai browsing dan main game beberapa jam saja sudah mendapatkan notifikasi lowbatt? Batere dengan mAh yang banyak memang mempunyai kemampuan lebih dalam menyediakan daya bagi sebuah telepon pintar. Alih-alih memerlukan waktu pengisian yang lebih lama, tanpa didukung Power Managemen yang bagus ponsel pintar tidak akan bertahan cukup lama setelah dicabut dari colokan listrik.

Processor

Ini yang oleh teman-teman saya tadi kualitasnya baru dilihat dari jumlah core yang dimiliki oleh suatu processor, sudah quad core apa masih dual core (atau single core). Belum sampai Processor itu bekerja sampai frekuensi berapa Gigahertz, fitur yang diusung apa, hasil benchmarknya seperti apa, pengalaman pengguna yang ditawarkan semenakjubkan apa dan lain-lain. Masih jarang terdengar pertanyaan seperti ketika akan membeli komputer/laptop baru: memakai Processor Intel atau Processor AMD.

Processor merupakan penentu terpenting performa suatu ponsel pintar (smartphone). Kualitas kamera, kualitas audio, kemampuan memutar video HD dengan jernih dan mulus, kualitas dan kecepatan koneksi ketika terhubung ke jaringan, kemampuan menjalankan sistem operasi (Operating System) terbaru dengan mulus beserta aplikasi-aplikasi produktif, game dan entertainment semuanya tergantung kepada chip berukuran mungil ini. Daya tahan batere beserta seberapa cepat pengisiannya bisa dilakukan sangat bergantung kepada sebuah Processor.

snapdragon-801

Sama dengan yang terjadi di dunia PC/Laptop, pertumbuhan kebutuhan smartphone yang pesat secara global pada dekade terakhir ini menantang produsen-produsen semi konduktor untuk berlomba menawarkan kepada pasar produk Processor yang diharapkan bisa membawa pengalaman pengguna yang terbaik.

Kali ini saya akan membahas produk Processor dari Qualcomm. Kenapa Qualcomm bagi saya menarik diikuti karena berbeda dengan kompetitornya ia tidak hanya hanya menawarkan Processor untuk ditanam dalam sebuah ponsel. Qualcomm juga menawarkan solusi teknologi di sisi infrastruktur jaringan yang di Indonesia sendiri telah digunakan oleh operator-operator terkemuka: Telkomsel, XL Axiata, Indosat dan lain-lain. Bahkan untuk memaksimalkan pertumbuhan ekosistem DNA (Device, Network, Application) saat ini Qualcomm telah bekerjasama dengan developer dan komunitas developer sehingga lebih banyak aplikasi baru muncul dengan pengalaman pengguna yang tiada duanya. Bahkan untuk urusan teknologi, Qualcomm telah membawa solusi-solusinya ke ranah Open Source. Baca lebih lanjut