Wedhang Uwuh

Bukan jenis minuman baru. Ini adalah minuman tradisional yang tentu saja sudah ada sejak lama. Kalau jenis minuman baru pasti tidak akan disebut minuman tradisional. hehehe. Wedhang Uwuh merupakan minuman tradisional yang berasal dari Imogiri – Bantul. Tepatnya di kompleks pemakaman raja-raja kerajaan Yogyakarta dan kasunanan Surakarta.

Menurut cerita, cerita versi ini saya dengar dari kawan saya Miss Lusi, wedhang uwuh ditemukan pada saat itu ketika pembuat minuman (saya lupa nama orangnya dan wedhang apa yang ingin dibuat) ingin membuat wedhang tetapi pada saat itu secara kebetulan bahan-bahan wedhang sedang habis. Dan pembuat minuman membuat wedhang dari bahan seadanya dan hanya mengumpulkan sisa-sisa bahan yang ada.

Karena dibuat dari pungutan bahan-bahan sisa inilah kemudian minuman ini disebut wedhang uwuh.

Nah, meskipun terbuat dari pungutan bahan-bahan sisa, ternyata cita rasa wedhang ini enak. Dan belakangan disukai banyak orang. Dan tentu saja menjadi rejeki si pembuat minum wedhang uwuh itu sampai sekarang.

Kemarin sore, saya menyeduh wedhang uwuh di rumah. Saya menikmati wedhangan uwuh bersama segenap keluarga. Bahan-bahan wedhang uwuh yang kami nikmati kemarin sore saya beli nitip pada teman saya Theo yang kebetulan melewati Imogiri. Rasa wedhang uwuh ini tetep khas meski merupakan seduhan rumah.

Wedhang Uwuh

Wedhang Uwuh

Hihi, nampak seperti uwuh/sampah beneran yang mengisi gelas putih saya. Tapi percaya lah minuman yang berbahan daun cengkih, daun pala, daun jangan manis, jahe dan berpemanis gula batu ini benar-benar khas. 🙂

Akhir Pekan, Istirahat atau Mencicil Kerjaan

Hampir semua pekerja merasa berhak untuk menggunakan akhir pekan untuk beristirahat. Untuk mengembalikan lagi stamina dan semangat yang terpakai selama sepekan hari kerja yang telah terlalui dan untuk mempersiapkan kebugaran diri menyembut pekan yang akan datang.

Jam di laptop saya saat ini menunjukan pukul 07:54 pm. Masih beberapa jam menjelang hari senin. Volume pekerjaan yang sesak yang akan menjadi beban yang harus saya selesaikan dalam beberapa hari pekan yang akan datang membuat saya bimbang.

Bimbang apakah saya akan mengambil hak istirahat saya sepenunya sampai akhir pekan benar-benar habis atau sejak sekarang mulai mencicil beberapa pekerjaan saya sehingga beban kerja pekan besok akan terbantu terkurangi. 🙂

Bukan pilihan yang mudah, yang jelas malam ini saya memilih menulis untuk blog ini. Karena bagi saya menulis untuk blog merupakan hal produktif. (menurut standard subyektif saya sih) Sekaligus mempunyai efek refreshing. Lagi pula minggu ini saya baru menulis sedikit posting untuk blog. hehehe

Wacana Pencalonan Kepala Dusun (Dukuh) Karangmojo B

Kira-kira 2 tahun lagi, masa jabatan Kepala Dusun (atau disebut Dukuh) di dusun dimana saya tinggal yaitu dusun Karangmojo B akan berakhir. Apabila masyarakat menginginkan untuk memiliki seorang kepala dusun atau dukuh yang baru maka setelah berakhirnya masa jabatan kepala dusun saat ini akan diadakan pemilihan kepala dusun baru.

Pemilihan kepala dusun baru untuk pedukuhan Karangmojo B sebagai penerus kepala dukuh yang akan berakhir masa jabatannya akhir-akhir ini menjadi wacana yang mulai dibicarakan oleh beberapa warga yang peduli dengan masa depan dusun Karangmojo B. Di antaranya hal inilah wacana yang menjadi diskusi dengan Pakdhe saya yang sudah sepuh. Untuk diketahui Pakdhe saya, Pakdhe Tasiman adalah seorang ketua RT yang telah lebih dari 20 tahun mengabdikan diri.

Wacana tentang kepala dusun Karangmojo B ini bahkan dua tahun yang lalu pernah menjadi diskusi antara saya, Ersyad ‘Bagong’ dan teman-teman saya yang lain. Saat itu Ersyad menceritakan tentang pengalamanya menanyai seseorang yang pernah berkeinginan menjagokan diri sebagai calon kepala dusun Karangmojo B.

Pertanyaannya kira-kira begini, “Apakah kelak kamu akan jadi mencalonkan diri sebagai dukuh?” tanya Ersyad. “Kalau aku masih belum punya kerjaan yang baik seperti sekarang, iya” jawab seseorang itu. “Jadi kamu mencalonkan diri sebagai dukuh itu mung sak emplokan (hanya demi sesuap nasi), bukan karena jiwa pengabdian untuk memajukan dusun?” Ersyad menutup pembicaraan itu.

Tentu saja kesimpulan Ersyad adalah seseorang yang ditanyai itu sama sekali bukan orang yang layak untuk menjadi kepala dusun Karangmojo B.

Pakdhe Tasiman pun dalam pandangannya telah ‘njlentrehke‘ betapa tidak mudahnya mencari calon kepala dusun yang baik dan berjiwa pengabdian. Ada banyak hal menurut pakdhe Tasiman mengapa pemuda-pemuda yang dipandang layak menjadi kepala dusun tetapi enggan tidak mau mencalonkan dan dicalonkan sebagai kepala dusun.

Salah satu hal mengapa mencalonkan/dicalonkan sebagai kepala dusun tidak menarik bagi pemuda yang baik-baik adalah biaya. Hitungan kasar Pakdhe saya, untuk menjadi seorang kepala dusun memerlukan biaya setidaknya 20 juta. Uang 20 juta untuk ukuran dusun dimana saya tinggal adalah nominal yang tidak kecil. Apalagi dibandingkan dengan gaji dan jatah tanah bengkok (lungguh) untuk seorang kepala dusun.

Uang 20 juta itu digunakan untuk apa? Pertanyaan saya lagi kepada pakdhe saya yang dijawab bahwa uang itu nantinya akan digunakan untuk diantaranya kepanitiaan pemilihan kepala dusun –panitia kepala dusun akan terdiri dari pemerintah desa, LMD, tokoh masyarakat, dll–, kampanye agar dipilih masyarakat dan pelantikan kepala dukuh.

Jadi secara kasar dan sementara keberadaan panitia pemilihan dan pelantikan kepala dusun lah yang menjadi faktor penyebab mahalnya menjadi kepala dusun/dukuh.

Bagi saya sendiri muncul beberapa  pertanyaan dan ide agar proses pemilihan kepala dusun Karangmojo B bisa menjaring calon-calon kepala dusun yang berkualitas. Bukan calon kepala dusun yang mencalonkan diri demi pekerjaan dukuh sesuap nasi. Bagaimana bila pemilihan kepala dusun Karangmojo B dibuat semurah mungkin. Bagaimana bila panitia pemilihan kepala dusun disusun dari orang-orang yang mau berjuang tanpa pamrih. Kata Pakdhe saya dan teman-teman malah menegaskan bahwa yang membutuhkan kepala dusun itu masyarakat Karangmojo B, bukan Panitia Pemilihan Kepala Dusun. Saya kira di dusun Karangmojo B dan di Desa Grogol masih ada orang yang berhati mulia tulus ikhlas memajukan peradaban umat manusia. Bagaimana bila pelantikan kepala dusun nantinya dilakukan secara sederhana semurah-murahnya. Bagaimana bila nantinya bentuk dan teknis kampanye diatur untuk meminimalisasi money politic dan segala bentuk pemborosan.

bersambung

Nonton Basket di Porkab Gunungkidul 2012

Sudah lama saya tidak bermain-main ke lapangan basket di SMP N 1 P Paliyan yang dulu sekitar 4 tahun yang lalu saya suka iseng megang-megang bola basket di sana. Hampir semua jenis olah raga permainan bagi kebanyakan orang, kebanyakan orang biasanya tidak serius-serius amat, apalagi saya. Biasanya hanya mood-mood-an, kata orang Jawa “angot-angotan”. Ada kalanya banyak orang yang mau turun ke lapangan, dan ada kalanya surut sampai tahun berganti.

Saat itu tahun 2007-2008 ketika basket sedang menghangat di lapangan basket SMP N 1 Paliyan. Sampai dibentuk Basta (Basket Tahuan), yang cukup berbuah manis mengantarkan tim yunior meraih juara dua dalam Pekan Olah Raga Kabupaten Gunungkidul tahun 2008. Tahun berikutnya pun saya dengar Basta berpartisipasi dalam Pekan Olah Raga Kabupaten. Saya tidak tahu apa prestasi mereka pada tahun 2009? Saya tidak turut memantau karena kalau tidak salah urusan pekerjaan.

Sampai beberapa waktu lalu, Sigit mengabari saya kalau tahun ini Basta berpartisipasi dalam Pekan Olah Raga Kabupaten lagi. Bersama Sigit, saya kemarin sore (Senin, 15 Oktober 2012) berkesempatan menonton pertandingan yang bertempat di lapangan basket SMK N 2 Wonosari. Basta kemarin sore mengalahkan tim basket kecamatan Semin.

Ini sebuah awal yang bagus. Kemenangan pada pertandingan perdana merupakan modal psikologis. 🙂

Basket Porkab Gunungkidul 2012 Basta vs Nglipar

Basket Porkab Gunungkidul 2012 Basta vs Semin

Pertandingan Basket di Porkab Gunungkidul 2012

Pertandingan Basket di Porkab Gunungkidul 2012

Basket di Pekan Olah Raga Kabupaten Gunungkidul 2012

Basket di Pekan Olah Raga Kabupaten Gunungkidul 2012

Free shot for Basta Paliyan

Free shot for Basta Paliyan

Basta made it happen!

Basta made it happen!

Foto-foto ini diambil dengan Handphone Samsung Galaxy Ace Duos. Foto lebih banyak bisa ditengok di Album Google+ di:

https://plus.google.com/110405561136709185275/posts/VUsv6sm59DY

Catatan tentang Basta pada Pekan Olah Raga Kabupaten Gunungkidul 2008 bisa dibaca di:

  1. Basta Mengalahkan Nglipar 24 – 7
  2. Mengucapkan selamat untuk Tim Basket kec Wonosari
  3. Penutupan Pekan Olah Raga Kabupaten Gunungkidul 2008

Urunan Sapi Untuk Kurban

Penduduk desa dimana saya tinggal, khususnya jamaah masjid di kampung saya bukanlah masyarakat yang secara ekonomi bagus. Namun kesederhaan ekonomi mereka tidaklah menyurutkan semangat mereka untuk berkurban di tiap hari raya Iedhul Adha. Terbukti di masjid dengan jamaah kurang dari 100 KK ini jumlah jamaah yang berkorban meningkat dari tahun ke tahun.

Benar bila ada orang yang mengatakan bahwa untuk berkurban itu yang paling penting adalah niat dan ikhlas. Bila niatnya sudah benar maka bagaimana nanti akan berkorban akan mengikuti. Kemampuan ekonomi yang terbatas dan harga hewan kurban yaitu sapi dan kambing yang selalu naik di hari iedul adha nyatanya bisa disiasati.

Misalnya harga sapi yang mahal. Tentu akan sangat berat bagi jamaah di masjid di lingkungan saya tinggal untuk satu orang berkorban satu sapi. Maka solusinya adalah urunan. Untuk satu ekor sapi bisa dibeli secara urunan oleh paling banyak tujuh shohibul qurban. Satu sapi bisa digunakan paling banyak tujuh orang berkorban. Aturannya, haditsnya, seperti itu ya? 🙂

Beberapa waktu lalu, Pak Suradi, sebagai seorang tokoh masyarakat mengajak jamaah untuk urunan berkorban sapi. Dan Pak Suradi mendapatkan anggota yang akhirnya dijadikan dua kelompok kurban. Atau dengan kata lain dari yang bersedia urunan itu bisa digunakan untuk membeli dua ekor sapi.

Oleh Pak Suradi masing-masing diajak untuk urunan Rp 1.300.000,-, sesuai kemampuan ekonomi warga kampung dilingkungan saya tinggal. Bila dihitung 7 X Rp  1.300.000,- maka akan terkumpul uang sebanyak Rp 9.100.000,-

Dan rupanya ketika kemarin Ayah saya dan Pak Suradi melihat-lihat harga sapi di pasar hewan Siyono Harjo, uang Rp 9.100.000,- belum cukup untuk membeli seekor sapi dengan besar yang layak untuk berkorban. Harga sapi melambung melebihi Iedul Adha tahun-tahun sebelumnya. Jadi solusinya uang urunan mau ditambah lagi, atau ada yang akan menalangi? hehehe

Korban tahun sebelumnya:

(Mungkin) Ini Alasan Orang Indonesia Lebih Suka Blackberry

Apa yang saya tuliskan kali ini sepenuhnya pengalaman pribadi saya dan bisa jadi berbeda dengan masing-masing orang. Saya akan mencoba mengira-ira kenapa di Indonesia Blackberry lebih laris dari smartphone yang lain seperti Android, iPhone, Windows Mobile dan lain-lain.

Harga. Saya kira bukan. Blackberry memang berhasil membuat produk-produk low end yang harganya relatif terjangkau. Harga BB low end jelas lebih murah dari semua jenis iPhone. Namun dalam beberapa hal masih lebih mahal dari sesama jenis gadget low end keluaran Android. Dengan Windows Mobile Phone pun harga Blackberry masih bisa dikatakan bersaing. Di sini, menurut saya penyebabnya tidak melulu harga.

Satu bulan ini saya menggunakan dua buah handphone. Satu Blackberry dan satu Android. Keduanya bisa dibilang sama-sama low end. Blackberry saya jenis Bold 9000 jadul. Sementara Android saya adalah Samsung Galaxy Ace Duos. Cukup adil diperbandingkan tidak? hehe

Secara tanpilan handphone Android saya jauh lebih bagus. Namun dengan mana yang lebih mudah digunakan, di sini menurut saya lebih mudah digunakan Blackberry. Mungkin ini tidak adil karena saya jauh lebih terbiasa menggunakan BB setelah menggunakannya hampir 3 tahun.

Nah yang paling menyolok menurut saya adalah ketika digunakan untuk menjalankan aplikasi yang membutuhkan konekstivitas jaringan (internet). Di sini blackberry menurut saya jauh lebih stabil. Aplikasi yang saya install di Blackberry seperti Social Scope, Instant Messaging, Facebook, Maps dan lain-lain berjalan lancar dengan jaringan EDGE, dengan GPRS pun masih lumayan. Sementara semua aplikasi yang sama di Android hanya bisa berjalan lancar bila terhubung ke jaringan HSDPA.

Kita semua tahu, cakupan jaringan HSDPA di sini, paling tidak di tempat-tempat dimana saya bermobilitas belum lah cukup merata. Bahkan ketika mendapatkan jaringan 3G/HSDPA pun kecepatan sering kali tidak ubahnya dengan jaringan 2g/gprs/edge. Ok. untuk pengalaman yang saya tulis ini, untuk baik BB maupun Android saya pasangi kartu HALO Telkomsel.

Masalah kehandalan koneksi ini menurut saya sangat penting untuk dijadikan parameter dalam memilih gadget. Aplikasi apa sih yang perlu kita jalankan di gadget yang tidak membutuhkan stabilitas koneksi. Saya rasa/sepanjang pengalaman saya tanpa koneksi internet yang memadai, semua smartphone seketika menjadi stupid phone. Memang Blackberry yang sebentar-sebentar minta di restart, hal yang sama tidak terlalu begitu pada Android, membuat orang mengatakan Blackberry is not that smart. Tapi …. di sini lah trade off terjadi. 😀

Banyak sebenarnya alasan lain kenapa orang Indonesia lebih suka Blackberry -an. Ada alasan BBM yang ekslusif, push email, dan lain-lain. Namun alasan utama saya untuk belum mudah meninggalkan Blackberry jadul saya adalah kehandalan penggunaan jaringan itu tadi.

Saya sebenarnya sudah berniat meninggalkan Blackberry, dan sampai saat ini, meski blackberry saya usianya tinggal menunggu waktu dan saya masih ragu enggan untuk membeli Blackberry baru. Kalau kualitas jaringan seluler di sini, di Indonesia semakin baik tentu saya sudah mempunyai semua alasan untuk tidak lagi Blackberry -an.

 

Di Jejaring Sosial Mana Ada Konten Bagus?

Saya tiba-tiba ingat komentar Mas Ikhlasul Amal tentang Google+ ketika pada suatu saat ngobrol-ngobrol dengan saya. Kata Mas Amal, Google+ benar-benar lebih berbagi. Maksudnya orang-orang yang diikuti Mas Amal di Google+ yang lebih mempunyai semangat yang lebih tulen untuk berbagi? Saat itu tentu Facebook yang digunakan sebagai pembanding utama. Karena Mas Amal sendiri tidak begitu suka dengan Twitter karena batasan 160 karakter merupakan ruang yang sempit.

Meskipun kenyataannya sampai sekarang, sampai hari ini, Mas Amal sendiri lebih banyak berbagi di jejaring sosial facebook. Mungkin selama ini Facebook yang dilihat Mas Amal sebagai banyak keisengan dipandang sebagai lahan dakwah tersendiri yang bisa ia mulai dengan memberi contoh dengan konten-konten positif.

Kalau saya tidak salah ingat, ketika saya awal-awal mainan facebook, konten di facebook pada saat itu juga sangat bagus, tidak banyak ke-alay-an, tidak banyak keisengan, dan tidak banyak sampah. Dibandingkan jejaring Frienster (mengetiknya benar ngga ya) yang populer lebih dulu di Indonesia. Saat itu bahkan ada yang berpendapat bahwa Facebook akan menjadi jejaring sosial untuk orang-orang dewasa yang lebih elegan dan Frienster untuk kawula muda.

Melihat transisi jejaring sosial dari Friendster, Facebook dan barangkali kelak Google+ akan menyusul populer, saya kira permasalahan konten tidak akan terlalu dipengaruhi oleh jejaring sosial apa yang mana. Pada saatnya nanti Google+ pun mungkin akan didatangi oleh penyampah.

Konten yang diposting di Google+ saat ini masih relatif bagus bisa jadi karena penghuni Google+ saat ini adalah early adopter, orang-orang yang suka mencoba-coba teknologi baru, yang mana mereka kebanyakan adalah orang-orang yang relatif lebih dewasa dalam mengelola informasi. Tapi ya entah lah. hehehe

Akhir Musim …

Di beberapa daerah di pulau jawa, hujan sudah mulai turun. Musim kemarau tahun ini mulai berakhir. Belum hujan, tetapi di daerah dimana saya tinggal sudah mulai sering mendung. Ini pertanda menyenangkan bagi semua orang di sini yang mana kebanyakan merupakan petani yang mengandalkan hujan dari langit untuk kelangsungan kehidupan.

Kami menunggu musim hujan tiba.

Nuasan Kemarau

Nuasan Kemarau

Nuansa Kemarau

Nuansa Kemarau

Foto di atas saya ambil beberapa waktu lalu di pojokan rumah saya dan beberapa foto lainnya telah saya unggah ke jejaring sosial. Saya suka mengambil nuansa-nuansa langit kemarau. Sebelum musim benar-benar berganti.

Bagi saya nuansa seperti adalah nuansa yang akan sangat saya rindukan beberapa bulan yang akan datang, yang mana saya akan menunggu musim berganti lagi untuk memuaskan diri. Memuaskan diri malam-malam berjalan sendirian melewati jalan kampung yang sepi, menginjak serakan daun-daun kering yang jatuh dan patahan ranting-ranting kering, menginjak bayang-bayang, bayang-bayang yang dibentuk oleh temaram bulan dan dahan-dahan kering tak berdaun.

Halaaaah …. 😀

 

Kerupuk, Kamu Suka?

Kerupuk

Kerupuk

Anda suka kerupuk?

Saya tidak. Serius, saya adalah satu di antara sangat sedikit orang Indonesia yang tidak suka menikmati kerupuk. Baik itu kerupuk untuk pelengkap makan maupun kerupuk sebagai camilan. Kenapa saya tidak suka? Pokoknya saya tidak suka, begitu saja. Tidak perlu ditanya apa alasanya. Saya sendiri tidak punya alasan untuk tidak maupun suka kerupuk.

Terkadang saya heran dan tersenyum mendapati teman-teman saya yang sangat menikmati kerupuk. Misalnya ketika kami sama-sama makan siang dengan lunch box, mendapati teman saya yang menikmati ekstra kerupuk dari porsi lunch box saya yang saya berikan. Kalau ada teman yang mau menikmati extra kerupuk seperti ini, saya tidak jadi merasa berdosa karena kerupuk yang menjadi jatah pada lunch box tidak jadi mubadzir.

Ada lagi, beberapa waktu lalu, ketika kami membayar sarapan bersama, seorang teman meminta ekstra kerupuk kepada pelayan untuk dinikmati sembari berjalan meninggalkan restoran. Yang terakhir ini pasti penikmat kalau malah bukan pecandu kerupuk. hehehe

Selamat Pagi. Apakah kerupuk ada pada menu sarapan Anda pagi ini. 🙂

Gambar kerupuk diambil dari sini.

e-KTP Sampai Sekarang Belum Jadi, Terus Kapan Jadi?

Pada tanggal 24 November 2011 saya menuliskan tentang pengalaman saya sendiri mengikuti tahapan dari proses pembuatan e-KTP di kecamatan Paliyan yang sudah saya tuliskan di sini. Mengherankanya sampai hari ini tanggal 1 Oktober 2012, sudah hampir satu tahun dari proses pembuatan e-KTP itu, saya belum menerima e-KTP.

e-KTP saya belum jadi. Sama seperti nasib banyak warga di desa dimana saya tinggal yang sampai saat ini belum menerima e-KTP. Saya sendiri tidak menganggap aneh proses pembuatan e-KTP yang tidak jelas akan selesai kapan. Meskipun saya akui saya juga berharap dapat segera memegang e-KTP. 🙂

Beberapa unek-unek saya mengenai e-KTP pernah saya tuliskan di sini, di sini, di sini, di sini dan yang ini. 🙂