Akhir Musim …

Di beberapa daerah di pulau jawa, hujan sudah mulai turun. Musim kemarau tahun ini mulai berakhir. Belum hujan, tetapi di daerah dimana saya tinggal sudah mulai sering mendung. Ini pertanda menyenangkan bagi semua orang di sini yang mana kebanyakan merupakan petani yang mengandalkan hujan dari langit untuk kelangsungan kehidupan.

Kami menunggu musim hujan tiba.

Nuasan Kemarau

Nuasan Kemarau

Nuansa Kemarau

Nuansa Kemarau

Foto di atas saya ambil beberapa waktu lalu di pojokan rumah saya dan beberapa foto lainnya telah saya unggah ke jejaring sosial. Saya suka mengambil nuansa-nuansa langit kemarau. Sebelum musim benar-benar berganti.

Bagi saya nuansa seperti adalah nuansa yang akan sangat saya rindukan beberapa bulan yang akan datang, yang mana saya akan menunggu musim berganti lagi untuk memuaskan diri. Memuaskan diri malam-malam berjalan sendirian melewati jalan kampung yang sepi, menginjak serakan daun-daun kering yang jatuh dan patahan ranting-ranting kering, menginjak bayang-bayang, bayang-bayang yang dibentuk oleh temaram bulan dan dahan-dahan kering tak berdaun.

Halaaaah …. 😀

 

Sudah (Hampir) Musim Hujan di Gunungkidul

Malam ini, sekitar pukul 23:30 WIB, jalanan yang saya lewati dari kota Wonosari sampai rumah tinggal saya di desa Grogol (Paliyan) sedikit basah. Dan dalam perjalanan saya pulang dari wedangan bersama teman-teman di Wonosari, gerimis masih turun membasahi jaket dan kepala saya. Bau tanah basah sudah mulai tercium dengan aroma yang khas.

Saya suka dengan aroma tanah basah seperti ini. Alhamdulillah. Sekaligus saya bisa mulai sedikit merasa lega. Karena gerimis seperti ini bisa diartikan sebagai tanda musim hujan akan segera tiba. Biasanya.

Menurut prediksi BPPT, di sebagian daerah di Gunungkidul, pada akhir September hujan sudah mulai turun. Diperkirakan hujan akan turun merata pada bulan Oktober. Nah, bukankan sekarang sudah tanggal 25 September. 🙂

Meskipun kemarau pada tahun ini bukan termasuk musim kemarau yang sangat panjang yang pernah saya alami, tetapi dampak dari musim kemarau pada tahun ini sudah dirasakan masyarakat Gunungkidul secara luas.

Memang sekitar sepertiga dari volume sumur milik keluarga saya masih berisi air yang masih cukup digunakan untuk kebutuhan rumah tangga untuk 2 sampai 3 minggu lagi. Keluarga saya belum membeli air tangki. Tetapi banyak sekali tetangga saya yang sudah membeli air seharga antara Rp 60.000 – Rp 80.000 per tangki, yang mana tiap satu tangki air bersih hanya cukup digunakan untuk keperluan rumah tangga selama sekitar dua minggu. Bahkan ada tetangga yang sudah berbulan-bulan membeli air tangki.

Itu baru air untuk kebutuhan rumah tangga. Air untuk kebutuhan pertanian, dimana di Gunungkidul dan di desa dimana saya tinggal kebanyakan penduduknya hidup dari olah tanah, akan lebih panjang lagi ceritanya.

Pokoknya harapan saya musim hujan agar segera tiba. Lebih cepat lebih baik. 😀