Kamera di Samsung Galaxy Ace Duos

Sepeninggal ponsel Sony Ericsson K810i saya, ponsel yang saat ini saya gunakan untuk foto-foto adalah Samsung Galaxy Ace Duos. Ponsel yang pada beberapa bulan lalu saya dapatkan dari Mas Rama Klik IT. Hampir semua foto yang saya ambil sendiri yang saya gunakan untuk blog ini, saya unggah ke jejaring facebook, twitter, google+, posterous, dan lain-lain merupakan hasil memotret saya dengan Galaxy Ace Duos.

Inline image 2

Kamera pada Samsung Galaxy Ace Duos menurut saya cukup bagus untuk pengambilan gambar luar ruang dengan cahaya di sekitar yang memadahi.

Inline image 3

Inline image 5

Kekurangan yang paling saya rasakan ketika memotret dengan Samsung Galaxy Ace Duos diantaranya adalah: Baca lebih lanjut

Perlakukan Air Seperti Dirimu Ingin Diperlakukan, Demi Kualitas Kehidupan

Di desa dimana saya tinggal, kekeringan dan pemenuhan kebutuhan air bersih adalah masalah tersendiri bagi masyarakat. Masalah yang sudah terjadi sejak jaman nenek moyang. Masalah yang salalu berulang setiap tahun. Sampai sekarang belum ditemukan solusi terpadu yang benar-benar bisa mengentaskan masyarakat di desa dimana saya tinggal dari permasalahan ketercukupan air bersih. Kabar akan dibangunnya pipa-pipa jaringan distribusi air bersih oleh pemerintah untuk mengalirkan air dari situs Ngobaran, kabar pengangkatan air dari sungai bawah tanah di gua  Bribin dan kabar-kabar manis yang lain, semua sebatas masih kabar burung yang begitu cepat dibawa angin lalu.

Masyarakat di desa dimana saya tinggal tidak perlu diajari bagaimana berhemat air. Alam sudah mengajarkanya dengan baik, kalau tidak bisa disebut alam memaksakan bahwa hemat air itu prinsip. Bagaimana tidak, di desa dimana saya tinggal, setiap tahunnya air akan segera menghilang beberapa waktu begitu musim hujan berakhir, begitu musim kemarau tiba. Apalagi bila terjadi kemarau panjang, seperti yang baru saja berakhir bulan ini. Lapisan tanah berbatuan kapur pegunungan dimana di atasnya desa saya berdiri tidak pernah bisa menahan kandungan air dalam jumlah yang cukup dalam waktu lama.

Sumur-sumur tadah hujan tradisional yang dibuat oleh masyarakat di desa dimana saya tinggal, baik itu sumur-sumur yang digali di pekarangan masing-masing maupun sumur-sumur umum yang dibuat di tempat-tempat yang diperkirakan merupakan sumber air, dirasakan saat ini menjadi lebih mudah kering begitu musim kemarau tiba. Air di sumur-sumur dirasakan lebih cepat habis dibandingkan 5 apalagi 10 tahun yang lalu. Padahal sumur-sumur inilah penopang utama kebutuhan air bersih untuk air minum, kebutuhan rumah tangga, sanitasi dan lain-lain.

Bila air di sumur-sumur ini dirasakan mulai menipis, maka sebagian masyarakat di desa dimana saya tinggal akan mulai memanfaatkan air di sungai yang membentang membelah desa kami. Masyarakat di desa dimana saya tinggal terpaksa berbagi menggunakan air yang yang tersisa di sungai. Jangan membayangkan air mengalir di sungai ini di musim kemarau. Air pada musim kemarau di sungai ini merupakan air yang diam dan sudah tidak jernih, tidak mengalir karena sungai ini dibendung agar air tidak cepat habis. Dan jangan pula  membayangkan air yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga itu melewati proses pengolahan air seperti yang kita lihat di instalasi pengolahan air bersih seperti milik PT Jababeka Water Treatment Plant di Bekasi itu. Bahkan air kebutuhan rumah tangga merupakan air yang sama yang digunakan untuk mencuci, menyiram tanaman, mandi dan memandikan hewan ternak sekalipun.

Bagi Anda, saya percaya akan sulit untuk membayangkan bagaimana hidup sehat dan higienis di sini dijaga. Baca lebih lanjut

Baksos di Masjid di Pantai Ngrenehan

Pantai Ngrenehan dan Hamparan Pasir Putih

Pantai Ngrenehan dan Hamparan Pasir Putih

Pantai Ngrenehan dan Sepotong Melankoli

Pantai Ngrenehan dan Sepotong Melankoli

Pantai Ngrenehan, suatu pantai nelayan dengan eksotisme hamparan pasir putih. Merupakan salah satu dari ratusan pantai di Gunungkidul, merupakan satu dari kekayaan alam Indonesia.

Tidak sulit untuk menjangkau pantai ini. Hanya diperlukan waktu sekitar satu jam perjalanan dari kota Wonosari –ibu kota kabupaten Gunungkidul, atau kira-kira 30 menit dari desa dimana saya tinggal bila ditempuh dengan sepeda motor. Pantai Ngrenehan merupakan sudut tersendiri bagi saya. Sampai entah sudah ke berapa kali saya ke sana sendirian, menikmati potongan-potongan melankoli.

Ngrenehan tidak hanya menarik bagi saya. Ngrenehan mempunyai eksotisme yang menyebar, apalagi setelah internet menjaman, seperti sekarang ini. Pesona Ngrenehan mengundang makin banyak wisatawan tiap harinya. Bukan hanya wisatawan dari desa-desa di sekitar Saptosari, Paliyan dan sekitarnya, tetapi juga wisatawan-wisatawan dari jauh, bahkan dari luar daerah.

Mungkin juga dialami oleh para wisatawan yang berlibur ke Pantai Ngrenehan, apa yang saya rasakan kurang dan agak mengganggu kenyamanan adalah keterbatasan fasilitas umum di lokasi pantai ini. Saya sendiri tidak menuntut di kawasan Ngrenehan dibangun fasilitas yang wah begitu. Bagi seorang muslim seperti saya, dan saya yakin kebanyakan pengunjung pantai adalah muslim, keberadaan tempat ibadah, tempat shalat adalah hal penting.

Saya sendiri tidak pernah merasa nyaman bila liburan saya terkendala masalah shalat. Saya dan banyak orang tidak ingin bersenang-senang di tempat wisata sampai lalai beribadah. Baca lebih lanjut

Sang Penari, Review Konflik Cinta Segitiga

Gambar diambil dari sini.

Sampai menonton film ini pada tadi malam di televisi saya belum membaca trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Novel beken yang menginspirasi Isfansah untuk membawa Srintil menari di gedung bioskop pada tahun 2011 kemarin. Saya menonton dengan merdeka sama sekali terbebas dari ekspektasi tertentu terhadap Sang Penari. Tidak ada dimensi yang mengekang saya akan seperti apa seharusnya Srintil menari. Saya menonton saja. Biarlah Srintil menari dengan caranya sendiri.

Sang penari dalam waktu singkat membuat saya jatuh cinta.

Saya terpesona dengan landscape sosio-kultural pedukuhan Paruk pada tahun 1960-an yang dibawakan Isfansah dalam detil suatu produksi kelas atas. Penasaran saya dalam hati, dimanakan Isfansah mendapatkan lokasi syuting yang so 60s. Begitu juga dengan pemahanan, set, kostum dan properti yang begitu membangun suasana pedesaan tahun 1960.

Panorama alam dukuh paruk, jalan tanah berbatu, detil rumah, sesaji, logat bahasa ngapak, pakaian, semua tidak ada yang perlu saya pertanyakan ke-1960-annya. Seingat saya tidak banyak film Indonesia yang mencoba seserius ini merekontruksi masa lalu.

Film ini membuat saya patah hati. 😀

Srintil membuat saya terjebak ke dalam diri Rasus. Hati saya terkurung di dalam badan Rasus. Baca lebih lanjut

MindTalk, Supporting Indonesia

Hidup itu pilihan. Follow, unfollow, block. Begitu kata Republik Twitter (2011). Film yang pernah saya review di sini.

Social media banyak membawa hal baru dalam kehidupan saya, dalam kehidupan kita. Social media membawa apa yang belum jelas dan tidak menarik untuk dibahas di tanah daratan menjadi suatu hal yang terasa biasa. Social media membawa istilah-istilah baru. Seperti apa kata orang twitter yang saya kutip di atas.

Facebook punya istilah sendiri.Friend, unfriend, block. Google+ punya istilah circle, uncircle, block. Sementara jejaring sosial buatan anak negeri, Mindtalk membawa untuk kita istilah tersendiri yaitu supporting dan unsupporting. Kalau di twitter kita punya follower maka di Mindtalk kita punya supporter. Istilah supporter ini sepintas mengingatkan kita dengan Bonek supporter Persebaya, Viking – Persiba dan Jakmania. hehe

Keberadaan Mindtalk ini sebenarnya sudah cukup lama saya dengar, akan tetapi saya baru mendaftar ke layanan ini beberapa minggu yang lalu. Itu pun saya tidak langsung eksis di sana. Saya baru login ke Mindtalk dua hari yang lalu.

Begitu login ke Mindtalk, sensasi yang saya dapatkan adalah: P U S I N G. Mindtalk langsung tanpa ampun menyuapi saya dengan banyak sekali konten. (informasi) Ibarat ada banyak sekali makananan enak yang tersedia di meja makan, saya kebingungan dari mana akan mulai mencicipi.

Kata Pak Rahard merespon kebingungan yang saya twit -kan, itu adalah tampilan Mindtalk yang baru, dulu tampilannya sederhana, tidak rumit. Pak Rahard ternyata sudah cukup lama eksis di Mindtalk. 🙂 Baca lebih lanjut

Pohon di Hutan Pindahan ke Desa

Inline image 1

Mengambil foto panorama tidak semudah yang saya bayangkan. Saya mencoba beberapa kali sampai mendapatkan foto yang agak nyaman dilihat. Masih jauh dari indah, apalagi artistik. Memang saya hanya memanfaatkan fitur panorama sederhana di ponsel Android saya.

Foto di atas saya ambil sore tadi di lokasi Lor Cangkring. Lor Cangkring dulunya merupakan hutan. Sekarang statusnya masih hutan. Hutan kayu putih yang oleh pihak kehutanan diserahkan kepada masyarakat petani untuk menggarapnya dengan sistem tumpang sari.

Dari tanah Lor Cangkring saya memutar pandangan dari arah paling barat sampai sudut paling timur. Di sebelah barat terlihat tanah Budha, tanah Bangsal, tanah Glempeng, dan lain-lain. Sementara di timur merupakan pedesaan. Desa dimana saya tinggal. Desa Grogol.

Ada sesuatu yang menarik bagi saya ketika melihat-lihat panorama alam dari lokasi tanah Lor Cangkring ini.

Di sebelah barat saya melihat lahan sangat terbuka. Sedangkan di bagian timur, di pedesaan, terlihat rimbun dengan pepohonan tinggi yang mulai menghijau. Secara sekarang sudah tiba musim hujan.

Hal bagus bahwasanya di pedesaan sekarang ini masyarakat sudah banyak menanam pepohonan di kebun mereka. Pepohonan yang beraneka ragam. Mulai pohon Jati, Mahoni dan sebagainya. Ada banyak pohon jati yang telah ditanam di desa dimana saya tinggal.

Menjadi terlihat ironis di sini barat yang hampir tidak ada pepohonan tinggi adalah tanah yang seharusnya diperuntukan sebagai hutan.

Konon dahulu kala jaman para nenek moyang, di tanah Nggagaan, Budha, Lor Glempeng, Lor Bangsal, Ngoro-Oro merupakan hutan lebat dengan pepohonan jati yang besar-besar. Pepohonan beraneka yang tinggi di hutan itu masih terjaga baik sampai seingat saya, saya berusia Sekolah Dasar.

Hutan sebelah barat desa dimana saya tinggal mengalami kerusakan besar-besaran ketika penjarahan marak pada sekitar tahun 1997/1998. Entah kenapa pada saat itu hampir semua orang, baik penduduk desa maupun orang yang tidak jelas datang darimana semua kalap menjarah kayu-kayu hutan. Aparat keamanan hutan pada saat itu tidak cukup berdaya mengatasi penjarahan itu.

Kini semuanya serba terbalik-balik. Tanah yang seharusnya hutan tidak berpepohonan. Sementara tanah yang digunakan untuk pemukiman malah banyak ditanami pohon. Idealnya memang pemukiman pun harus banyak pepohonan. Dan pepohonan lebih banyak lagi seharusnya di tanah hutan.

Telkomsel Flash Bermasalah dengan WordPress.com

Beberapa hari belakangan ini saya selalu saja tidak bisa sempurna membuka Dashboard WordPress.com. Dashboard dimana blog saya ini dikendalikan. Saya selalu mendapatkan masalah baik untuk menyunting tulisan yang sudah saya terbitkan, membuat tulisan baru, melihat statistik blog. Pokoknya semua bagian dari Dashbord. Kalau untuk baca-baca blog dan berkomentar saja tidak masalah.

Dulunya saya mencurigai permasalahan ada di WordPress.com sendiri, atau di web browser yang saya gunakan, atau hal lainnya. Sampai kecurigaan saya mengerucut pada provider internet yang saya gunakan, yaitu Telkomsel Flash. Saya menggunakan Paket Telkomsel Flash Basic di Kartu Halo.

Kenapa saya mencurigai Telkomsel Flash. Karena tiap kali saya menggunakan koneksi internet dari provider lain masalah ini tidak saya temui.

Salah satu tampilan Dashboard gagal itu seperti:

Kali ini saya mencoba memposting tulisan ini melalui email.

Qbaca, Wajib Anda Coba!

Qbaca. Suatu kata (atau nama?) yang beberapa waktu yang lalu terbaca aneh bagi saya. Saya pertama kali membaca kata Qbaca pada beberapa waktu yang lalu ketika di Facebook saya di suggest oleh Mas Kuncoro untuk me-like fan page Qbaca. Tanpa berpikir panjang saya segera menekan tombol like. Saat itu saya hanya percaya biasanya Mas Kuncoro tidak pernah iseng-iseng untuk menyarankan sesuatu kepada teman-temannya. 😀

Namun saya tidak pernah benar-benar membaca apa sebenarnya Qbaca. Sampai saya membaca posting blog Mas Kuncoro yang membahas Qbaca secara khusus. Posting Mas Kuncoro bisa dibaca di sini. Cukup gamblang apa yang dijelaskan Mas Kuncoro, Qbaca merupakan  platform bagi konten dan aplikasi digital interaktif skala mini untuk dapat dikemas dalam bentuk e-Book, dan didistribusikan dalam Qbaca bookstore. Qbaca merupakan platform yang dirintis oleh Divisi Multi Media PT Telkom Indonesia.

Begitu tahu Qbaca saat ini sudah menginjak versi 2.0 untuk Android Apps yang dikembangkannya, saya jadi langsung penasaran untuk memasang di ponsel Android saya. Meskipun saya ragu akankah Qbaca bisa berjalan baik di Samsung Galaxy Ace Duos. Dalam postingnya Mas Kuncoro mengeluhkan Qbaca 2.0 tidak berjalan baik di Samsung Galaxy Young. Samsung Galaxy Ace Duos saya hanya berspesifikasi sedikit lebih dari Galaxy Young. Pikir saya kemudian adalah yang penting saya mencobanya dulu.

Dan … Qbaca bisa dengan lancar dipasang di Samsung Galaxy Ace Duos, yay 🙂 Saya akan mencoba-coba Qbaca.

Qbaca sebagai platform konten digital dan bookstore tentu saja memerlukan registrasi. Namun saya pikir proses registrasi ini mudah, praktis tanpa perlu banyak hal diisikan, sederhana. Dalam beberapa saat saya sudah disajikan home screen yang sederhana dan sangat mudah dipahami. Saya tidak perlu membaca-baca manual dan buku panduan untuk dengan cepat memahami susunan menu aplikasi Qbaca ini. Singkatnya Qbaca memiliki User Interface cukup instuitif.

Melihat-lihat Qbaca bookstore, saya sudah bisa menemukan cukup banyak koleksi buku yang dijual. Saya katakan “cukup” karena saya percaya koleksi yang ada sekarang belumlah cukup untuk memenuhi kebutuhan banyak orang sehingga koleksi ini harus terus ditambahkan secepatnya.

Ada beberapa hal menarik yang spontan saya lihat di Qbaca bookstore. Baca lebih lanjut

Nasib Ngangkot (Naik Angkutan Umum)

update:

Ah, akhirnya dapat juga gambar yang saya maksud. Gambar di atas saya ambil dari sini. Saya mendapatkan gambar ini setelah di Facebook saya diberi tahu oleh Marini Salwa akan kutipan yang sebenarnya:

A developed
country is not where the poor
have cars. It’s where the rich
use public transportation.

Seberapa maju suatu kota jangan dilihat dari seberapa banyak mobil pribadi yang dikendarai oleh penduduk di jalanan kota, tetapi lihatlah dari seberapa banyak masyarakat yang memanfaatkan sarana transportasi publik. Kira-kira begitu terjemahan bebas dari suatu baliho yang fotonya pernah diunggah ke situs jejaring sosial Facebook pada beberapa waktu lalu. Foto baliho itu kalau tidak salah diambil di suatu jalanan kota di suatu negara di Afrika. Poster yang bagi saya inspiratif.

Sebenarnya saya ingin memasang foto baliho itu di sini. Sayangnya saya lupa siapa teman saya yang mengunggah foto itu. Usaha saya untuk “ngubek-ubek” foto-foto di Facebook teman-teman saya pun berakhir nihil.

Kembali ke Laptop, halah 😀

Apa yang saya tangkap dari pesan baliho tersebut adalah adanya kecemasan akan dampak semakin membludaknya kendaraan pribadi di jalanan. Ini merupakan gejala umum di negara-negara berkembang. Baik itu di kota-kota di negara-negara di Afrika atau di negara berkembang manapun termasuk di Indonesia.

Sebagai orang yang tiap hari tetap mengandalkan angkutan umum untuk sarana utama mobilitas selama bertahun-tahun, saya mulai mengandalkan sarana transportasi umum sejak menginjak sekolah menengah sampai sekarang, tentu saja dengan mudah melihat dan merasakan dengan jengkel apa yang sedang terjadi.

Di kota kecil di daerah dimana saya tinggal dan bermobilitas, kota Paliyan, Playen, Wonosari, Yogyakarta sampai saat ini kualitas dan kuantitas angkutan umum semakin menurun. Semua armada kendaraan umum baik itu angkot kobutri, mini bus, dan bus saya lihat sudah tua renta. Saya duga armada-armada kendaraan umum itu paling muda berusia 20 tahun. Bisa dibayangkan kenyamanan seperti apa yang bisa diberikan oleh armada serenta itu. Selain armada yang renta, masalah lain dari pengguna angkutan umum seperti saya adalah jam keberangkatan angkutan umum yang tidak pasti. Tidak jarang saya merasa sangat jengkel karena harus menunggu angkot sampai lebih dari 30 menit, lebih dari 1 jam. Untungnya sekarang ada twitter dan facebook untuk membunuh waktu. hehehe Paling apes bila sampai tidak dapat angkot. Kalau sudah begini maka solusinya hanya naik ojek, atau mengandalkan jemputan teman saudara.

Bagi orang yang tiap waktu bermobilitas demi kelangsungan hidupnya, tidaklah banyak yang betah secara terus menerus bergulat dengan masalah angkutan umum yang payah. Kalau sudah begitu tentu saja mereka akan mulai mengadopsi dan menggunakan kendaraan pribadi untuk mobilitasnya. Saya amati dalam beberapa tahun terakhir jalanan sudah mulai makin padat dengan kendaraan pribadi. Kendaraan-kendaraan pribadi semakin bertambah seiring makin berkurangnya kendaraan umum yang beroperasi.

Saya kira tidak dalam waktu yang sangat lama lagi di kota-kota kecil dimana saya tinggal ini akan menyusul jakarta dalam hal masalah kesemrawutan lalu lintas. Bila negara/pemerintah tetap absen mengupayakan permasalahan yang tidak kelihatan mendesak ini. Bukankah di sini sudah ada terlalu banyak permasalahan yang harus segera selesai dipikirkan pemerintah. 😦

Saya kadang berpikir, apa keputusan saya untuk tetap menggunakan angkutan umum ini sesuatu yang konyol. Sebaiknyakah saya seperti banyak orang yang lain segera menggunakan kendaraan sendiri setiap hari daripada ngangkot. Toh tidak ada yang menghargai upaya orang-orang yang tetap ngangkot dengan pemerintah dalam hal ini memberikan fasilitas yang layak. Kok malah curhat, hehehe.

Beberapa waktu yang lalu saya membaca Jokowi mulai berusaha membenahi sistem transportasi khususnya angkutan umum Jakarta yang akut, parah dan laten dengan segala pro kontra. Saya ingin melihat bagaimana Jokowi bisa mengurai kemacetan, lalu lintas dan sarana transportasi publik Jakarta. Harapan saya, Jokowi bisa melakukan sesuatu meskipun tidak dalam waktu dekat. Tidak ada hubungan sebenarnya antara angkot yang akan saya tumpangi dengan Kopaja atau Mayasari yang renta di di Jakarta sana. Namun mudah-mudahan bila berhasil bisa memberi Jokowi-effect ke kota-kota dan daerah-daerah lain di Indonesia.

Baca Aturan Pakai

Baca aturan pakai. Bila sakit berlanjut hubungi dokter. Seperti itu biasanya pesan penutup suatu iklan obat. Saya tidak tahu berapa banyak orang mengacuhkan pesan itu. Saya sendiri rupanya menyepelekan.

Untuk mengobati sariawan di bagian bawah lidah yang sulit dijangkau bila menggunakan obat tetes/oles seperti Albotyl, pagi tadi oleh apoteker saya disarankan untuk menggunakan Efisol. Efisol dikemas berupa tablet. Seperti umumnya menggunakan obat berbentuk tablet, saya segera mencari air putih dan meminumnya. Ada rasa manis sedikit terasa pada saat Efisol melewati rongga mulut saya.

Saya jadi berpikir. Tablet yang aturannya diminum biasanya mempunyai rasa pahit. Efisol ada manisnya. Jangan-jangan ini tablet hisap. Saya ingin tahu lebih pastinya bagaimana. Saya mencari kemasan Efisol untuk membaca aturan pakainya. Sayangnya kotak Efisol saya tinggal di apotik.

Setelah googling, akhirnya saya tahu, Efisol benar merupakan tablet hisap. Jadi saya salah cara pakai. Hmmm. RTFM, Read The F*ck Manual ternyata berlaku dimana-mana. RTFM tidak hanya melulu ada di dunia geek. 😦