Iseng Pantau ” PKS ” di Twitter

PKS on Twitter

PKS on Twitter

Bukan karena sentimen atau “perhatian” dengan Partai Keadilan Sejahtera , saat ini  minum teh sambil iseng memantau kata “PKS” di twitter. Tak Pelak “PKS” di twitter muncul tak terpisahkan dengan tertangkap kameranya Arifinto sedang membuka video bokep dengan iPad -nya pada saat mengikuti sidang paripurna.

Sebenarnya apa yang menarik bagi saya bukanlah seorang anggota DPR dari Partai Keadilan Sejahtera yang sedang membuka situs bokep, Baca lebih lanjut

Lakalantas Pagi Bikin Hilang Mood

Saya sering menjadi hilang mood tiap kali melihat korban kecelakaan lalu lintas pada pagi hari. Seperti pada pagi tadi.  Di perempatan Playen, perempatan arah Dengok, saya melihat seorang remaja berseragam Pramuka terkapar akibat kecelakaan lalu lintas. Saya hanya melihat sekilas dan tidak merasa tahan melihat wajah dan hidungnya yang berdarah. Hingga anak remaja berseragam Pramuka itu dievakuasi dengan mobil Katana untuk mendapatkan pertolongan medis.

Memang di perempatan ini termasuk tempat rawan kecelakaan lalu lintas (lakalantas). Kecelakaan serupa sudah terjadi sejak saya masih SMP yang mana pada saat itu populasi kendaraan (sepeda motor) belum sepadat sekarang. Biasanya kendaraan dari arah Dengok melaju kencang sesukanya mengira kalau jalan melintang utara – selatan sedang tidak ada kendaraan. Padahal itu karena tidak kelihatan saja karena view-nya yang kurang terbuka. Mungkin lampu lalu lintas sedikit – sedikit bisa mengurangi lakalantas. Tetapi ya kembali pada mental pengguna jalan itu sendiri untuk menjaga etika dan keselamatan di jalanan.

Ngomong – ngomong masalah kebiasaan berlalu lintas yang abai terhadap keselamatan sesama pelalu lintas seperti yang sudah sering saya ceritakan. Kontributor besar kecelakaan  lakalantas di jalanan di Wonosari, Playen, Paliyan dan sekitarnya adalah kebiasaan anak – anak sekolah dan beberapa oknum karyawan kantoran yang sering berangkat kerja pada menit – menit terakhir menjelang jam masuk sekolah dan kantor. Mereka pikir mereka bisa sampai dengan memacu kendaraan mereka. Dan jadilah jam 06:45 WIB – 07:30 sebagai jam rawan lakalanatas. Untuk penyebab lakalantas yang kedua ini memang hanya bisa dikurangi dengan “penyadaran”. Dan sangat sulit.

 

Sekolah Mahal ya :(

 

Sedih ... Pendidikan Mahal

Sedih ... Pendidikan Mahal

Kemarin, ketika pagi – pagi saya naik angkudes (semacam angkot tapi di pedesaan) bareng anak – anak  berangkat sekolah, seorang bapa – bapa bertanya,”Sekarang berapa uang sekolah bulanan?” Ada yang menjawab 70 ribu/bulan, kalau di SMK N 1 Rp 100 ribu/bulan. Penumpang lain menjawab kalau di SMA Negeri 250 ribu/bulan.

“Wah mahal ya ….” celetuk bapak – bapak itu. Kemudian bapa – bapa itu diam. Dan saya diam – diam mengambil foto ini. 🙂

Muhamad Yunus : Belajar Mempercayai Apa Yang dilihat

Awal bulan Maret lalu, saya sekilas membaca nama Muhammad Yunus muncul di timeline twitter. Muhamad Yunus dipecat dari Grameen Bank, begitu salah satu twit. Karena Grameen Bank bangkrut? Karena kepercayaan Yunus yang berlebihan terhadap orang – orang miskin di Bangladesh?

Baru tadi malam saya sempat, eh ingat untuk mencari tahu penasaran saya akan berhentinya Muhamad Yunus dari Grameen Bank yang ia dirikan di Bangladesh pada tanggal 2 Oktober 1983. Akhirnya saya mendapatkan jawaban tentang Yunus dari sini. Dari halaman berita BBC News Indonesia. Menurut BBC News, Muhamad Yunus diberhentikan dari Direktur Pelaksana Grameen Bank karena menurut Undang Undang di Bangladesh, usia wajib pensiun adalah 60 tahun, sedangkan Yunus berumur 70 tahun. Sudah sangat jompo untuk ukuran pejabat di Bangladesh. Spekulasi lain yang dimuat di BBC News menuliskan pemberhentian ini akibat Yunus berseberangan dengan pemerintahan Liga Awani. Dia pecah dengan PM Sheikh Hasina tahun 2007 ketika berusaha membentuk partai baru. Saham pemerintah sebesar 25% di Grameen Bank cukup untuk mengistirahatkan Profesor Muhamad Yunus.

Untuk mengenal lebih Prof Muhamad Yunus bisa dibaca di halaman wiki di sini.

Tidak penting untuk berpanjang lebar membahas kenapa Yunus berhenti dari Manajemen Grameen Bank. Saya lebih tertarik dengan ide – ide Yunus untuk membebaskan rakyat Bangladesh yang pada saat itu sangat miskin dengan hanya bermodal kemampuan untuk mempercayai orang – orang. Khususnya mempercayai orang – orang miskin untuk diberikan pinjaman mikro, kalau tidak boleh disebut nano 😀 Berikut ini adalah cerita Muhamad Yunus yang saya ambil dari buku The 8th Habits yang ditulis oleh Sthepen R Covey.

[ WARNING: Posting ini sangat panjang, jadi bila tidak tertarik silahkan di skip saja 🙂 ] Baca lebih lanjut

Standing Party! Njamani Ning Ora Njawani

Posted with WordPress for BlackBerry.

Wajah Indonesia Lebih Cantik dari Rasellya Rahman Taher alias Selly

  • Dompet saya pernah tercecer di sekitar lapangan basket di suatu sekolah. Petang itu saya mencarinya, tapi hasilnya nihil. Barangkali itu belum rejeki saya. Beberapa hari kemudian, saya menerima SMS yang berisi agar saya mengambil dompet yang hilang itu di rumahnya. Dompet saya dikembalikan dengan segenap isi tidak ada yang kurang oleh seorang Pak Wasto.
  • Di Angkot Kobutri, ada seorang siswi SMK N 1 Wonosari yang memberikan sebuah flashdisk. Dia bilang itu flashdisk milik saya karena di dalamnya ada foto – foto mirip saya. Rupanya flashdisk itu tercecer ketika saya ke sekolah dia.
  • Seseorang menemui saya dan mengembalikan ponsel Sony Ericsson Cybershoot kesayangan saya. Padahal saya belum merasa kehilangan.
  • Kamera Digital Nicon Coolpix saya disimpan oleh seorang sopir angkot jurusan Paliyan – Wonosari sehingga  dapat dengan mudah saya temukan lagi.
  • Lupa tidak membawa dompet membuat saya panik ketika harus membayar ongkos angkot. Untungnya ada seorang cewek cantik yang tiba – tiba membayari ongkos itu. Pak Sopir maklum untuk kesekian kalinya saya tidak bisa membayar angkot karena ketinggalan dompet. Sambil senyum – senyum, pak sopir bilang, “Ngga apa apa mas. Lain kali masih ngangkot lagi kan :), Enak ya mas diongkosin sama cewek cantik”.

Cerita – cerita saya ini membuat saya tidak mudah untuk mengerti bila ada orang yang mengidentikan watak orang Indonesia itu sama dengan wajah Rasellya Rahman Taher alias Selly, Melinda Dee, Gayus Tambunan, dan lain – lain.

Ada lebih banyak wajah Indonesia yang lebih cakep dan ganteng dari mereka. Apabila ada orang mengidentikan wajah Indonesia itu secantik Rasellya Rahman Taher alias Selly, itu karena mereka kurang beruntung tidak lebih dulu bertemu dengan Indonesia Indonesia yang hatinya sehari hari saya temui.

Speedy Suka Nyampah, Pantesan Sering Lemot

Melihat sampah – sampah berserakan di pinggiran jalan lintasan jogging pagi ini, saya jadi heran ngga habis pikir. Kok bisa – bisanya ada kertas – kertas brosur speedy yang berserakan. Entah siapa yang membuangnya. Sepertinya ngga masuk akal, di Paliyan, di sebelah selatan pasar Tahunan, di selatan pos Polsek Paliyan ada promo speedy. Setahu saya, di sekitaran sini tidak ada jaringan telepon kabel Telkom atau sinyal CDMA Flexy.

Entah pencemaran lingkungan akibat brosur – brosur sampah ini tanggung jawab Telkom atau “oknum” tak bertanggung jawab. Yang pasti itu tanggung jawab moral kita semua. Dan yang lebih pastinya bumi tidak akan menggunakan jasa pengacara untuk menuntut pembuang sampah ini ke meja hijau. Hehehe

Pantesan speedy terkenal lemot. Apa karena suka nyampah? Baca lebih lanjut

Wedangan 2.0

Jaman dulu orang menikmati minum the, ya wedangan sambil ngobrol – ngobrol dengan orang – orang disekelilingnya. Dengan beberapa orang di tempat sama tentu saja. Sekarang beda lagi. Saya menyebutnya Wedangan 2.0. Orang wedangan sambil meng update status, nge twit, dan bercakap cakap dengan orang – orang yang barangkali sedang wedangan di tempat lain. Atau barangkali teman cakapnya sedang pengin wedangan tapi tidak ada the siap saji, hehehe

Apakah seperti ini malah tidak mengganggu keakraban wedangan? Bisa iya bisa tidak. Kalau semua teman wedangan suka melakukan hal yang sama ya tidak masalah. Bisa jadi kumpulan wedangan mereka adalah multi tasker hebat yang bisa melakukan semuanya.

Tujuan wedangan kan memang have fun saja. Kalau dengan seperti ini bisa menikmati, kenapa TIDaK. 🙂 Ini saya malah nge-blog Wedangan, meski tidak menyisipkan foto teh poci. Foto Teh Poci-nya silakan cari di posting lain di blog ini atau di blog saya sebelah. 😀

Posted with WordPress for BlackBerry.

Gunakan SIM Sesuai Dengan Fungsinya

Memang, tidak ada doktrin “Gunakan SIM sesuai dengan fungsinya”. Orang – orang yang menghuni Lab dan Bengkel secara turun temurun hanya mengenal kata mantra “Gunakan Alat Sesuai Dengan Fungsinya”. Nasihat ini untuklah diri saya sendiri. SIM (Surat Ijin Mengemudi) milik saya memang tidak saya biarkan nganggur. Saya memberdayakanya. Agar duit yang saya bayarkan untuk membuat SIM tidak mubadzir. Karena saya jarang mengemudikan kendaraan sendiri di jalan raya, karena saya tidak punya kendaraan bermotor, maka saya menggunakanya dalam arti luas. Misalnya saya menggunakan SIM untuk jaminan menyewa DVD di rental rental.

Razia, Cegatan, Operasi Lalu Lintas pagi tadi, di Jalan arah ke Semanu, dekat POM Bensin Baleharjo, Wonosari, Gunungkidul, adalah kali pertama saya menggunakan SIM, sesuai dengan fungsinya. Dari sana saya jadi tahu, menggunakan SIM sesuai dengan fungsinya tidaklah semudah menggunakan SIM dalam arti luas.

Polisi Lalu Lintas, dengan gaya formalitas mengucapkan “Selamat Pagi, maaf perjalanan anda terganggu … , dst dst” Entah apa seterusnya yang diucapkan itu tidak jelas. Jadi benar kan bila saya menganggapnya sebagai formalitas belaka. Petugas polisi itu, kemudian, sambil memeriksa SIM dan STNK, menanyakan tanggal lahir saya, saya menjawabnya, kemudian ia menanyakan alamat. Apa – apaan ini? “Loh bukannya yang kamu tanyakan itu sudah ada di SIM? Bisa baca ngga sih?” Bentak saya. Polisi yang bertugas di Lantas Polres Gunungkidul itu menjawab “Bukan gitu, kok foto di SIM beda sama orangnya?” Baca lebih lanjut

Sky-wire Connecting to Sometime :)

Sky-wire over Beringharjo

Foto ini siang tadi saya ambil dari jalan kecil di pinggir sebelah utara Pasar Beringharjo – Yogyakarta. Saya tadi memilih berjalan kaki melewati jalan unik yang di kanan kirinya terdapat peristiwa perdagangan barang – barang antik.

Saat saya mengeluarkan kamera dari dalam tas, serta merta disapa oleh salah seorang pedagang, “Bawa barang apa mas? Sini biar saya beli saja” Kata sapaan yang mirip seperti yang disapakan pada saya dan teman teman Sekolah Menengah pada kira – kira 15 tahun yang lalu. Saat itu saya dan teman – teman memang suka main – main ke bagian pojok Timur Laut Pasar Beringharjo Lantai III.

Disana sebenarnya dan sejujur – jujurnya kami belum pernah menjual satu biji barangpun. Kami suka membeli barang – barang elektronik bekas atau klithikan untuk kami oprek lagi atau bila kami mencari komponen komponen elektronik yang sulit didapat di Toko Sinar, Toko 51 atau Audio Plasa. Atau untuk mencari harga komponen yang jauh lebih murah dari komponen baru di toko. Ya itulah riwayat dari Hobby-ist elektronik yang bermodal dengkul pas – pasan.

Loh, kok malah tulisan dalam posting ini semakin melenceng dari Judul dan Gambar yang dipajang. Ya Maaf … 😀