Temperatur yang Kontras : Tantangan Kebugaran

Beberapa Minggu ini, cuaca malam di desa saya menjadi sangat dingin. Sementara di siang harinya Temperatur kembali menukik. Ini merupakan tantangan bagi kebugaran tubuh. Terutama tubuh yang kemampuan adaptive nya tidak maksimal seperti tubuh saya.

Bila cuaca boleh dikambing hitamkan, maka paling tidak perubahan temperatur yang kontras antara siang dan malam telah menyakiti kesehatan saya sehingga terpuruk meler selama seminggu. Tetapi, alhamdulillah, mulai saya menulis posting ini, tanda tanda perbaikan kesehatan telah mulai terasa.

Kemudian seiring memasuki lebih jauh musim kemarau, tantangan kesehatan yang tidak kalah ganasnya adalah debu musim kemarau yang menyertai musim kering berangin. Ini merupakan signal intelegen yang harus dapat saya terjemahkan menjadi sesuatu yang kongkrit berupa tindakan antisipasi agar kesehatan dan aktifitas saya tidak sampai terganggu dan melumpuh 😀

Sumber :

http ://bmg.go.id
http ://weather.com

Gempa kecil lagi

Beberapa saat yang lalu, kira kira jam 1:30 wib dini hari terjadi gempa dengan intensitas kecil. Tidak terjadi kerusakan apapun disini. Tetapi cukup membangunkan banyak orang. Sebagai tanda peringatan dini ada beberapa orang yang membunyikan kenthongan.

Intinya sikap waspada adalah pilihan terbaik untuk tiap tiap kemungkinan.

Hujan, Penundaan Kemarau

Biasanya setiap tahun pada pertengahan bulan Mei, Musim Kemarau sudah menunjukan gejalanya. Tetapi syukur alhamdulillah, hujan lebat yang mengguyur bumi Gunungkidul pada kemarin sore merupakan tanda yang lain. Dan mendung yang terjadi seharian mendinginkan suasana siang hari ini.

Dan mudah mudahan apa yang terjadi merupakan penundaan musim kemarau di Gunungkidul. Musim dimana masalah air bersih dan kekeringan menjadi beban berat yang lain yang harus di pundak oleh kebanyakan penduduk di perbukitan gersang Gunungkidul.

Sekali lagi, semoga merupakan hujan yang membawa rejeki barokah dan kedamaian. Amiiiin

MILO, sama rupa tapi beda

milo

Kedua kemasan Milo saset ini nampak sama. Tapi beda. Bukan hanya beda takaran isi tapi juga spesifikasinya. Dan beda harga pula.

Sebenarnya ini bukan masalah dan memang tidak ada masalah yang terjadi. Hanya saya heran juga, mengapa perusahaan sekelas Milo kurang mempertimbangkan aspek desain produk dan kemasan agar setiap spesifikasi lebih terarah pada konsumen yang tepat. Baca lebih lanjut

Mbok menowo gedang payu

ke-pasar04

Gambar –  Gambar ini merupakan potret yang ingin bercerita bahwa pagi ini adalah hari pasaran “Legi”. Simbok simbok ini akan refreshing dengan shoping shoping di Playen  downtown. Bagi simbok ini pasar playen merupakan metropolitan dimana mereka menikmati shoping dan cuci cuci mata ala artis model ibu kota.

ke-pasar01

Mbakyu, pisang nya mau di jual berapa?

Ya, ngga usah mahal mahal to, Asal cukup buat hura-hura wae!


ke-pasar02

Cocok-cocok! Jagungku sudah di beli mahal sama Mbok Kaum, Je

ke-pasar03

Simbok yang pegang topi : “Nge inget nget, ntar beli apa saja ya? Ehmmmm, paling penting itu beli Pond Age Miracle, biar aku ini keliatan usia 19, … bla bla bla, high heeel, opo tumon lur. 😉

Trus oleh oleh buat cucu , Dawet mbok Sirop, Getuk mbok Darmi, Untuk mbah kakung, Swike sama Rica – Rica

Walahhhh simbah ki kok genit amit …

**Foto-foto ini saya ambil secara candid dengan Ponsel Sony Ericsson K810i**

Mana yang perlu disesuaikan? Alam nya atau Orang nya

Sejak beberapa hari di Minggu kemarin saya merasakan hari hari yang tidak produktif. AC di lab dimana saya sering nyungsep kalau udara kantor memanas tidak bisa difungsikan karena ada kerusakan pada jaringan. Untung hari minggu kemarin teknisi sudah menyelesaikan masalahnya.

Nah setelah permasalahan listrik dan AC sudah selesai. Maka giliran selanjutnya permasalahan lain yang lebih banyak menunggu. Namun demikian biarlah pekerjaan pekerjaan itu menunggu dan saya nge blog dulu.

Perubahan cuaca sejak dulu menjadi keluhan manusia, termasuk saya. Kalau cuaca memanas , mengeluh. Cuaca mendingin pun mengeluh. Apa maunya?. Mengapa manusia tidak suka dengan  terjadinya perubahan?

Saya kira cuaca, entah itu panas atau dirasa dingin itu relatif? Tergantung tadinya sudah nyaman di suhu berapa. Sederhananya kalau sudah merasa nyaman dengan suhu 30 derajat maka kenaikan suhu menjadi 33 akan dirasa sangat panas. Tapi bisa juga 26 derajat dianggap sangat panas bila sudah merasa nyaman di kisaran 22.

Ya kemudian kembali kepertanyaan saya. Apakah sebaiknya tubuh manusia yang beradaptasi dengan perubahan alam atau  manusia menerapkan teknologi untuk menyesuaikan alam dengan keinginan kondisi nyaman manusia. Dan kalau menggunakan teknologi akan sampai sejauh mana teknologi seperti AC yang dipasang di ruangan Lab ini bisa mempengaruhi cuaca dan kualitas hidup manusia?

Ibu Bumi sedang panas dingin

Beberapa jam berselang. Tidak lebih dari angka tiga. Setelah kabut pagi tadi mendinginkan semesta saya. Cuaca sudah memanas membara menggerahkan dunia.

kabutpagi

Coba kalau sejuk dan damai kabut ini menemani lebih lama. Barang 3 jam. Selamat Hari Bumi Bagi yang Menunaikan.

** Gambar saya ambil tadi pagi di jalan depan rumah menjelang berangkat buruh. Perangkat Camera, Sony Ericsson k810i

Gempa masih terjadi

Seperti apa yang saya tulis pada status facebook saya tadi malam bahwa gempa masih saja terjadi di daerah tempat tinggal kami. Walaupun apa yang terjadi pada lepas tengah malam tidak besar dan bisa dikategorikan gempa dengan skala kecil tetap saja itu membuat saya terkejut dan berjaga – jaga.

Apa yang menimpa pada beberapa tahun yang lalu belum terlupakan. Banyak yang belum terpulihkan. Dan banyak yang tidak bisa dipulihkan. Hanya, sebagai tindakan peringatan dini, bahwa apa apa sebagai tanda tanda setiap kejadian harus disikapi dengan bijak, waspada dan hati – hati.

Semoga tidak ada gempa besar yang merusak meluluh lantakan peradapan seperti beberapa tahun silam. Amiiin…

Sudah pagi ya …. Jogging time ….

Sunset di bukit Sodong

Sabtu sore kemarin saya mengunjungi Bukit Sodong untuk mengobati rasa kangen yang mengharu. Walaupun belom benar benar lama saya tidak bermain main. Mungkin beberapa bulan saja. Seingat saya terakhir kali itu pagi di Ramadhan kemarin.

Ternyata jalan menanjak berundak ini melelahkan untuk di daki. Karena memang sudah lama tidak berolah raga mendaki.

Indah sekali pemandangan disekeliling jalan. Pohon pohon pun telah tumbuh menghijau. Dan Menyejukan.

 Lega rasanya ketika telah sampai dan duduk di puncak bukit.

Bangunan di puncak bukit yang elok nampak menawan

Indahnya matahari tenggelam di puncak. Di susana yang sempurna anugerah Ilahi.

Purnama

Malam ini di luar sedang Bulan Purnama. Kalau orang Jawa menyebutnya dengan ‘bulan ndadari’. Mungkin maksudnya bulan sedang secantik bidadari. Mungkin, cuaca cerah pada malam ini , dimana hujan tidak mengguyur bumi dan mendung mendung tidak menghalangi mata mata untuk saling beradu pandang dengan bulan adalah anugerah untuk orang orang. Pecinta Bulan. Seperti saya.

Sejak kemarin sore, dengan waktu dan cuaca yang sama persis, bulan sudah dapat dinikmati dengan mata telanjang.

Sekali lagi , bulan purnama memang indah. Tak dipungkiri. Setiap jaman manusia menikmati dengan caranya. Bahkan jaman saya masih kecil, bulan purnama seolah menciptakan suasana dan nuansana penuh ceria dan mampu menciptakan keakraban pertemanan dan permainan yang alami .  Dan Manusiawi. Lebih dari keakraban yang bisa dihadirkan oleh Face Book dan Jejaring Pertemanan moderen lainya pada saat ini.

Manusia dan anak anak pada masa itu biasa merayakan dan menikmati purnama dengan aneka permaianan. Banyak sekali jenisnya. Entah itu Jetungan, Petak Umpet, Sodoran dan banyak lainya.

Tidak hanya keceriaan anak anak. Dewasapun menikmati dengan cara mereka sendiri. Mungkin ngobrol dan duduk duduk berbagi cerita di luar rumah sudah cukup bagi mereka. Sambil mengawasi anak anak atau cucu cucu mereka bermain dengan cara cara yang lebih ramai.

Sayangnya permainan dan ala menikmati Purnama sepertinya tidaklah untuk sekarang. Supremasi Gobag Sodor dan Jetungan sekarang sudah direbut oleh Sinetron dan TV. Ketika saya tadi masih diluar tidak saya lihat ada banyak kehidupan keceriaan di bawah bulan.

Permainan di kala Purnama yang jadul itu mungkin hanya tersisa hidup di ingatan saya. Dan di jamanya sendiri. Dan mungkin juga hidup di buku dongeng cerita rakyat.