Turns to Summer in Hours

Halah, judulnya saja yang dibuat gaya-gayaan. Sebenarnya saya hanya mau bilang kalau akhir-akhir ini di desa dimana saya tinggal, suhu sangat turun di pagi hari, berkabut, atau istilah Jawa-nya bediding, mongso bediding, yang biar keren sebut saja winter.

Tidak lama berselang, suhu berubah secara ekstrim. Panas terik membakar. Makanya kemarin saya menyebutnya di twitter:

Kalau sudah begini, yang perlu dipikirkan adalah menjaga stamina agar tidak jatuh sakit karena perubahan cuaca yang ekstrim. Sehat, sehat, sehat. 🙂

Gunungkidul Turun Kabut

Pagi ini turun kabut. Persawahan di dekat rumah saya jadi kelihatan lebih indah dari biasanya. Dominasi warna hijau, putih dan basah. Udaranya dingin. Seolah ingin membekukan segala ketergesa – gesaan saya menjadi kemalasan.

Dengan segenap kemalasan untuk memenuhi janji yang di set lebih pagi, saya melalui jalanan yang terhalang kabut sejak dari depan rumah, jalanan Paliyan, Playen, Sampai Wonosari. Kabut turun merata. Dari dalam Angkudes yang berjalan pelan yang saya tumpangi, saya melihat hampir semua kendaraan yang berlalu lalang menyalakan lampu. Ya. Karena jarak pandang hanya sekitar 30 meter. Tidak lebih dari 50 meter barangkali.

Kalau  situasinya tetap seperti ini Pak Polisi tidak perlu cape – cape terus – menerus mengingatkan pengendara akan kebijakan Light On -menyalakan lampu siang hari. Peringatan alam, berupa kabut lebih disegani dan diindahkan banyak orang. 😀

Saat ini saya telah hampir satu jam sampai di pabrik. Hampir jam 08:00 WIB. Kabut belum beranjak. Enaknya Teh atau Kopi Panas?

Temperatur yang Kontras : Tantangan Kebugaran

Beberapa Minggu ini, cuaca malam di desa saya menjadi sangat dingin. Sementara di siang harinya Temperatur kembali menukik. Ini merupakan tantangan bagi kebugaran tubuh. Terutama tubuh yang kemampuan adaptive nya tidak maksimal seperti tubuh saya.

Bila cuaca boleh dikambing hitamkan, maka paling tidak perubahan temperatur yang kontras antara siang dan malam telah menyakiti kesehatan saya sehingga terpuruk meler selama seminggu. Tetapi, alhamdulillah, mulai saya menulis posting ini, tanda tanda perbaikan kesehatan telah mulai terasa.

Kemudian seiring memasuki lebih jauh musim kemarau, tantangan kesehatan yang tidak kalah ganasnya adalah debu musim kemarau yang menyertai musim kering berangin. Ini merupakan signal intelegen yang harus dapat saya terjemahkan menjadi sesuatu yang kongkrit berupa tindakan antisipasi agar kesehatan dan aktifitas saya tidak sampai terganggu dan melumpuh 😀

Sumber :

http://bmg.go.id
http://weather.com

Mana yang perlu disesuaikan? Alam nya atau Orang nya

Sejak beberapa hari di Minggu kemarin saya merasakan hari hari yang tidak produktif. AC di lab dimana saya sering nyungsep kalau udara kantor memanas tidak bisa difungsikan karena ada kerusakan pada jaringan. Untung hari minggu kemarin teknisi sudah menyelesaikan masalahnya.

Nah setelah permasalahan listrik dan AC sudah selesai. Maka giliran selanjutnya permasalahan lain yang lebih banyak menunggu. Namun demikian biarlah pekerjaan pekerjaan itu menunggu dan saya nge blog dulu.

Perubahan cuaca sejak dulu menjadi keluhan manusia, termasuk saya. Kalau cuaca memanas , mengeluh. Cuaca mendingin pun mengeluh. Apa maunya?. Mengapa manusia tidak suka dengan  terjadinya perubahan?

Saya kira cuaca, entah itu panas atau dirasa dingin itu relatif? Tergantung tadinya sudah nyaman di suhu berapa. Sederhananya kalau sudah merasa nyaman dengan suhu 30 derajat maka kenaikan suhu menjadi 33 akan dirasa sangat panas. Tapi bisa juga 26 derajat dianggap sangat panas bila sudah merasa nyaman di kisaran 22.

Ya kemudian kembali kepertanyaan saya. Apakah sebaiknya tubuh manusia yang beradaptasi dengan perubahan alam atau  manusia menerapkan teknologi untuk menyesuaikan alam dengan keinginan kondisi nyaman manusia. Dan kalau menggunakan teknologi akan sampai sejauh mana teknologi seperti AC yang dipasang di ruangan Lab ini bisa mempengaruhi cuaca dan kualitas hidup manusia?