Internet Indonesia Cuti Bersama

Di Indonesia, internet ikut sepi pada hari minggu dan hari libur. Seiring dengan fenomena cuti bersama kali ini, yang menjadikan very long weekend, internet Indonesia pun makin sepi. Kalau tidak percaya, silakan tanya pada admin website di tempat anda bekerja.

Atau bila sedikit mau jeli, kita pun bisa mengamati dari home feed social media kita, boleh itu facebook, atau twitter, atau keduanya, atau social media service yang lain. Perhatikan, dari mana kawan – kawan anda meng-update status atau mem-posting content.

Kalau yang ada di home feed social media facebook dan twitter saya, kebanyakan mereka melakukannya dari mobile device. Blackberry, iPhone, Android dan tablet. Hanya beberapa yang menggunakan web.

Bila posting saya kali ini tidak ada komentarnya, berarti kesimpulannya …. ?

Selamat Hari Pendidikan Nasional

Beberapa waktu yang lalu, barangkali sudah beberapa tahun berselang, seorang teman saya dengan berapi – api mangatakan kalau kita bisa kaya tanpa perlu sekolah. Sekolah tidak membawa ke suatu tempat yang berlimpah uang. Dia menunjuk kejelekan dan kekurangan sistem pendidikan dan sekolah yang bagai sampah yang terus menggunung. Teman saya yang berprofesi sebagai guru kewirausahaan di suatu SMK itu rupanya baru selesai membaca buku If You Want to be Rich and Happy: Don’t Go to School yang ditulis Robert T Kiyosaki. Entah seperti apa isi buku itu. Saya pun belum pernah membaca meski telah lama dengar tentang buku itu.

“Memang tujuan Pendidikan dan Sekolah kita itu untuk menjadi kaya?” tanya saya. Padahal saya juga tidak tahu tujuan Pendidikan Nasional itu apa. hihihi. Memang apa sih? Rasanya hanya aneh saja kalau manjadi tajir itu sangat penting sekali bagi kebesaran, kewibawaan dan kebanggaan berbangsa Indonesia. Sehingga keberhasilan pendidikan diukur dari kemampuan sekolah menghasilkan alumni yang kaya raya.

Posting saya kali ini karena tergelitik tadi dari dalam angkot saya melihat spanduk di depan Sekolah Dasar Plembutan bertuliskan “Pendidikan Karakter sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa” Setelah googling, rupanya inilah tema Hari Pendidikan Nasional tahun ini. Sedangkan tujuan pendidikan nasional bisa dibaca di sini

Dan pada tanggal 2 Mei 2011 ini adalah untuk pertama kali saya membaca Tujuan Pendidikan Nasional 😉 yah! Tujuan Pendidikan adalah character building. Selamat Hari Pendidikan Nasional 2011.

Review Film : Emak Ingin Naik Haji

Posted with WordPress for BlackBerry.

Layar dibuka dengan close up sebatang kuas bergerak – gerak melukis Ka’bah. Zein, diperankan oleh Reza Rahardian, sedang melukis Ka’bah. Melukis mimpi Emaknya. (diperankan oleh Aty Kanser) Melukiskan film Emak Ingin Naik Haji. Jreng – jreng lagu: Cerita Untuk Orang Yang Lupa – Iwan Abdurrahman mengalun. Baca lebih lanjut

Speedy Suka Nyampah, Pantesan Sering Lemot

Melihat sampah – sampah berserakan di pinggiran jalan lintasan jogging pagi ini, saya jadi heran ngga habis pikir. Kok bisa – bisanya ada kertas – kertas brosur speedy yang berserakan. Entah siapa yang membuangnya. Sepertinya ngga masuk akal, di Paliyan, di sebelah selatan pasar Tahunan, di selatan pos Polsek Paliyan ada promo speedy. Setahu saya, di sekitaran sini tidak ada jaringan telepon kabel Telkom atau sinyal CDMA Flexy.

Entah pencemaran lingkungan akibat brosur – brosur sampah ini tanggung jawab Telkom atau “oknum” tak bertanggung jawab. Yang pasti itu tanggung jawab moral kita semua. Dan yang lebih pastinya bumi tidak akan menggunakan jasa pengacara untuk menuntut pembuang sampah ini ke meja hijau. Hehehe

Pantesan speedy terkenal lemot. Apa karena suka nyampah? Baca lebih lanjut

Meringkas Pendidikan Kita

 

Melihat gambar ini sekilas barangkali anda  menduga kalau saya akan menceritakan kebandelan yang saya tekuni di Sekolah Dasar SD Negeri Karangmojo II atau SMP N 1 Playen. Betapa tidak. Perintah Guru agar siswa meringkas pelajaran dari Buku. Di tulis dengan kapur pada papan tulis berwarna hitam. Dikukuhkan oleh Garuda Pancasila disaksikan oleh Presiden dan Wakil Presiden.

Tetapi, silakan lihat lebih lama. Itu BUKAN gambar Bapak Suharto dan Bapak Sudharmono. Bukan pula Bapak Suharto dan Bapak Try Sutrisno. Melainkan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono dan Bapak Budiono. Presiden dan Wakil Presiden Indonesia yang dipilih secara langsung oleh segenap rakyat Indonesia pada Pilpres 2009 yang lalu.

Hadeuh! Ternyata Presiden dan Wakil Presiden yang baru yang dipilih secara langsung oleh rakyat belum terasakan pada perbaikan pendidikan yang dikenyam oleh sebagian rakyat Indonesia. Mudah – mudahan siswa siswi yang masih mendapatkan tugas meringkas buku pelajaran dari guru – guru mereka hanyalah sebagian kecil putra putri Indonesia. Atau masih banyak?

Mengapa Kita Tetap Berbahasa Indonesia.

Saya sempat mengajukan pertanyaan yang sampai sekarang masih sulit saya jawab: mengapa kita harus tetap menggunakan bahasa Indonesia padahal globalisasi menuntut kemampuan berbahasa Inggris? Jawaban sederhana Mas Eko cukup dapat saya terima meskipun mungkin masih belum dapat memuaskan semua orang:bahasa Indonesia adalah kebanggaan dan jati diri bangsa. Jika bangga sebagai bangsa Indonesia, banggalah juga dengan bahasanya. Apa yang harus dibanggakan? Kalau tidak bisa menjawab pertanyaan itu, sederhana saja: Tidak usah bangga.

Paragraf diatas saya salin tempel dari tulisan di blog Mas Ivan Lanin di sini . Silahkan membaca artikel selengkapnya di blog mas Ivan.

Bacaan :

http:  //ivanlanin.wordpress.com/2010/03/28/terapi-kejut-bahasa/

Kata “Contreng” mempopuler

Dalam Bahasa Indonesia kami, akhir – akhir ini ada peningkatan intensitas penggunaan suatu kata, kata itu adalah “mencontreng”, dari kata dasar “contreng”. Mungkin merupakan dampak ikutan dari penggunaanya yang semakin intensif, penggunaan kata ini pun, menurut pengamatan saya yang bukan seorang pengamat bahasa, bukan pula seorang ahli bahasa, nampaknya mengalami perluasan arti atau makna.

Kata “contreng” digunakan dan bisa ditemui dimana mana dan mungkin juga suatu kata yang termasuk sering di ucapkan penutur asli Bahasa Indonesia selama beberapa bulan terakhir.

Kata “contreng” menjadi sepopuler sekarang, saya pikir tidak bisa begitu saja dipisahkan dari peran Komisi Pemihan Umum (KPU) saat mensosialisasikan cara pemilihan dalam pemilu legislatif dan capres yang baru saja usai. Bagi rakyat Indonesia, pada pemilu yang baru lalu merupakan pengalaman baru dalam tata cara pemilihan yang melepaskan diri dari tradisi menggunakan cara “coblos”, “mencoblos” untuk opsi yang mereka pilih.

Dalam Workshop database selama hari pertama kemarin, saya juga mendapati dengan setengah tertawa, ternyata kata “mencontreng” juga telah menjadi kosakata baru dalam penggunaan aplikasi komputer berbasis GUI. Saya baru mulai mengerti bahwa memberi tanda pada check list untuk pengaturan opsi tertentu juga disebut mencontreng. Berarti ketika saya menulis posting dan men-checklist pada opsi kategori juga sedang “mencontreng!

Harry Potter 7 : Pilih baca versi asli atau terjemahan?

Chapter One :  The Dark Lord Ascending
The two men appeared out of nowhere, a few yards apart in the narrow, moonlit lane. For a second they stood quite still, wands directed at each other’s chests; then, recognizing each other, they stowed their wands beneath their cloaks and started walking briskly in the same direction.

“News?” asked the taller of the two.

“The best,” replied Severus Snape.

The lane was bordered on the left by wild, low-growing brambles, on the right by a high, neatly manicured hedge. The men’s long cloaks flapped around their ankles as they marched.


Chapter Satu
The Dark Lord Ascending
(Kebangkitan Pangeran Kegelapan)

Dua orang itu muncul secara tiba-tiba, terpisah beberapa meter di sebuah jalan sempit
yang diterangi oleh cahaya bulan. Sesaat mereka berdiri diam, tongkat masing-masing
saling terarah ke dada yang lain. Setelah mengenali satu sama lain, mereka menyimpan
tongkat masing-masing dibalik jubah dan mulai berjalan cepat ke arah yang sama.
“Bagaimana?” tanya orang yang paling tinggi dari keduanya.
“Sempurna,” jawab Severus Snape.

Jalan kecil itu dikelilingi oleh semak liar yang rendah disebelah kiri, pagar tanaman yg
tinggi dan terawat disebelah kanan. Jubah panjang mereka berkibar selagi mereka
berjalan bersama.

Saya tidak tahu bagaimana berbahasa Indonesia dan atau berbahasa Inggris dengan baik dan benar. Demikian juga dengan jagat pengalihbahasaan dan penterjemahan, saya sama sekali awam terkait keduanya.

Namun demikian saya menemukan sesuatu yang menarik ketika membaca sebuah novel, saya mengutip beberapa paragraf pada bab awal novel tersebut dan menempelkan pada bagian awal tulisan ini. Dalam kutipan diatas baik yang berbahasa Indonesia maupun berbahasa inggris sama – sama merupakan bagian dari Novel yang ditulis oleh JK Rowling dalam serial Harry Potter. Harry Potter 7 : The Deathly Hollows. Menariknya, ternyata mengalih bahasakan atau menterjemahkan bukanlah pekerjaan mudah.

Buktinya?

Kalau kita sedikit mempunyai waktu luang untuk membaca dan membandingkan dua kalimat dialog yang saya beri warna biru, menurut saya, penterjemah kurang bisa menemukan kalimat yang pas sehingga kalimat tersebut gagal membawa kehangatan dan emosi yang diverbalisasikan oleh penulis asli dengan ungkapan berbahasa Inggris. (mungkin ungkapan dalam budaya barat juga). Sekali lagi saya menegaskan bahwa penterjemahan dan pengalihbahasaan bukanlah pekerjaan mudah. Dan bukan berarti bisa memindahkan semua elemen dalam bahasa asli ke dalam bahasa tujuan dengan volume dan intensitas yang persis sama.

Apa apaan sih?

Sebenarnya saya hanya mau menjawab pertanyaan yang saya buat sendiri sebagai judul tulisan ini. Walaupun saya belum pernah baik untuk menggunakan bahasa manapun, baik itu bahasa jawa, bahasa inggris, bahasa indonesia atau bahasa tarzan sekalipun, saya lebih nyaman dengan bacaan berbahasa aseli. Membaca versi aseli itu lebih memberi keleluasaan untuk menangkap secara lebih terperinci setiap ide dan gagasan yang disampaikan oleh penulis dengan gaya verbalisasi dan visualisasi yang dia atau mereka anggap  maksimal  dan sesuai.

Silahkan mendownload versi pdf dari sini untuk Harry Potter 7 berbahasa indonesia dan berbahasa inggris