Mengibarkan Bendera

Bendera Merah Putih yang tadi saya beli seharga Rp 25.000,- di sebelah barat Taman Bunga Wonosari pada pagi tadi. Oleh mas – mas yang jualan, bendera ini tadinya dihargai Rp 35.000,-, tapi saya dan Maryanto tadi ngotot menawarnya dengan duit Rp 25.000,- hehehe

Bendera ini saya pasang di pohon Akasia. Tepat di atas Gardu Siskamling yang sudah beberapa lama  tidak pernah dipakai nge-pos oleh peronda. Laa mau ngerondain apa kalau di lingkungan dimana saya tinggal kini aman tenteram ayem ayom toto titi tentrem tidak ada maling ayam? 🙂

Benar. Di lingkungan dimana kami tinggal saat ini tidak ada warga yang mengeluh kemalingan ayam. Seandainya mereka kumpul – kumpul entar malah “ngresulo” kenapa jalan aspal dari pertigaan dekat Pak Waryadi ke barat sudah mulai rusak, dll yang terdengar saru apabila saya sebutkan satu per satu di sini. 🙂

PS :

Jangan tanya kenapa saya memasang bendera dengan posisi seperti itu. Itu merupakan alasan teknis semata. 🙂

Hari ini 68 Tahun Indonesia Merdeka

Bertepatan ummat Islam menjalankan ibadah puasa, pada 9 Ramadhan pada 68 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 9 Ramadhan 1364 H, Ir Sukarno memproklamirkan kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Hari ini adalah ulang tahun Indonesia yang ke-68. Bila yang digunakan adalah penanggalan Hijriyah. 😀

Tidak lama lagi, seminggu lagi, pada tanggal 17 Agustus 2011, secara nasional, Indonesia kita akan memperingati ulang tahunnya yang ke-66. Indonesia yang memperingati peristiwa sangat penting dari perjuangan para pendahulu dan founding father membebaskan negeri ini dari belenggu penjajahan yang sama sekali tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan … hehehe

Sebagai suatu peristiwa yang langka, seumur – umur saya baru mengingat dua kali peringatan hari ulang tahun kemerdekaan RI terjadi bertepatan dengan bulan Ramadhan, yaitu pada 17 Agustus tahun 2010 dan Insya Allah pada 17 Agustus pekan depan, tidak ada salahnya kita menggunakan “ilmu” otak atik gatuk. Diwajibkan bagi setiap muslim dan muslimah untuk berpuasa diantaranya untuk membebaskan diri manusia dari belenggu hawa nafsu. Hawa nafsu menurut saya adalah “simbah”nya tiap-tiap penjajahan di muka bumi.

Bukankah hanya bangsa yang dijajah oleh hawa nafsu yang secara tidak berperi menjajah bangsa lain? 😀

Nampaknya, pada usia Indonesia yang bila menggunakan patokan umur manusia sudah sangat dewasa, coba lihat betapa nampak dewasa ayah atau simbah kita yang berusia 66+ tahun, membebaskan diri dari hawa nafsu masih merupakan perjuangan panjang. Mengusir Belanda bisa bersenjatakan bambu runcing. Kalau menegakkan shalat dan mengendalikan hawa nafsu?

Betapa angkaranya nafsu manusia yang tidak kunjung terkalahkan bisa dengan mudah kita lihat dari aspal di jalan-jalan di desa kita yang mulai rusak, bisa kita lihat pada pipa saluran air bersih dan bak-bak penampungan air yang distribusinya tidak merata, buruknya pelayanan publik dan lain – lain …

Mengintip Wabah Demam Berdarah di Indonesia

Secara khusus Google menyebutkan Indonesia bersama – sama dengan Brazil, Bolivia, India dan Singapura dalam usahanya mengembangkan sistem peringatan dini (early warning system) untuk wabah demam berdarah. Program ini disebut sebagai Google Dengue Trend. Program yang berusaha menangkap fenomena yang terjadi di belahan dunia dengan mengalisis korelasi antara keyword dengan tema tertentu yang diproses oleh mesin pencari Google dibandingkan dengan kenyataan sebenarnya.

Mekanisme Google Dengue Trend hampir sama dengan Google Flue Trend yang pernah saya ceritakan di sini. Jadi belajar dari pengalaman Google Flue Trend yang dikeluarkan pada tahun 2008, maka Google Dengue Trend cukup  relevan untuk mempelajari volume pencarian topik demam berdarah dengan berapa banyak sesungguhnya orang yang mengalami gejala demam berdarah. Tentu saja tidak setiap orang yang googling demam berdarah adalah orang yang mengalami gejala demam. 😀

Disebutkan di blog Google Dengue Trend di sini, Singapura mempunyai surveillance system yang mencengangkan yang bisa menyajikan laporan secara rutin dengan cepat, akan tetapi dikebanyakan negara untuk mengumpulkan, menganalisis hingga data dapat disajikan tidak jarang diperlukan waktu mingguan sampai berbulan – bulan. Jangan tanya lagi kalau di Indonesia. 😀 Baca lebih lanjut

Internet Indonesia Cuti Bersama

Di Indonesia, internet ikut sepi pada hari minggu dan hari libur. Seiring dengan fenomena cuti bersama kali ini, yang menjadikan very long weekend, internet Indonesia pun makin sepi. Kalau tidak percaya, silakan tanya pada admin website di tempat anda bekerja.

Atau bila sedikit mau jeli, kita pun bisa mengamati dari home feed social media kita, boleh itu facebook, atau twitter, atau keduanya, atau social media service yang lain. Perhatikan, dari mana kawan – kawan anda meng-update status atau mem-posting content.

Kalau yang ada di home feed social media facebook dan twitter saya, kebanyakan mereka melakukannya dari mobile device. Blackberry, iPhone, Android dan tablet. Hanya beberapa yang menggunakan web.

Bila posting saya kali ini tidak ada komentarnya, berarti kesimpulannya …. ?

Selamat Hari Pendidikan Nasional

Beberapa waktu yang lalu, barangkali sudah beberapa tahun berselang, seorang teman saya dengan berapi – api mangatakan kalau kita bisa kaya tanpa perlu sekolah. Sekolah tidak membawa ke suatu tempat yang berlimpah uang. Dia menunjuk kejelekan dan kekurangan sistem pendidikan dan sekolah yang bagai sampah yang terus menggunung. Teman saya yang berprofesi sebagai guru kewirausahaan di suatu SMK itu rupanya baru selesai membaca buku If You Want to be Rich and Happy: Don’t Go to School yang ditulis Robert T Kiyosaki. Entah seperti apa isi buku itu. Saya pun belum pernah membaca meski telah lama dengar tentang buku itu.

“Memang tujuan Pendidikan dan Sekolah kita itu untuk menjadi kaya?” tanya saya. Padahal saya juga tidak tahu tujuan Pendidikan Nasional itu apa. hihihi. Memang apa sih? Rasanya hanya aneh saja kalau manjadi tajir itu sangat penting sekali bagi kebesaran, kewibawaan dan kebanggaan berbangsa Indonesia. Sehingga keberhasilan pendidikan diukur dari kemampuan sekolah menghasilkan alumni yang kaya raya.

Posting saya kali ini karena tergelitik tadi dari dalam angkot saya melihat spanduk di depan Sekolah Dasar Plembutan bertuliskan “Pendidikan Karakter sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa” Setelah googling, rupanya inilah tema Hari Pendidikan Nasional tahun ini. Sedangkan tujuan pendidikan nasional bisa dibaca di sini

Dan pada tanggal 2 Mei 2011 ini adalah untuk pertama kali saya membaca Tujuan Pendidikan Nasional 😉 yah! Tujuan Pendidikan adalah character building. Selamat Hari Pendidikan Nasional 2011.

Review Film : Emak Ingin Naik Haji

Posted with WordPress for BlackBerry.

Layar dibuka dengan close up sebatang kuas bergerak – gerak melukis Ka’bah. Zein, diperankan oleh Reza Rahardian, sedang melukis Ka’bah. Melukis mimpi Emaknya. (diperankan oleh Aty Kanser) Melukiskan film Emak Ingin Naik Haji. Jreng – jreng lagu: Cerita Untuk Orang Yang Lupa – Iwan Abdurrahman mengalun. Baca lebih lanjut

Speedy Suka Nyampah, Pantesan Sering Lemot

Melihat sampah – sampah berserakan di pinggiran jalan lintasan jogging pagi ini, saya jadi heran ngga habis pikir. Kok bisa – bisanya ada kertas – kertas brosur speedy yang berserakan. Entah siapa yang membuangnya. Sepertinya ngga masuk akal, di Paliyan, di sebelah selatan pasar Tahunan, di selatan pos Polsek Paliyan ada promo speedy. Setahu saya, di sekitaran sini tidak ada jaringan telepon kabel Telkom atau sinyal CDMA Flexy.

Entah pencemaran lingkungan akibat brosur – brosur sampah ini tanggung jawab Telkom atau “oknum” tak bertanggung jawab. Yang pasti itu tanggung jawab moral kita semua. Dan yang lebih pastinya bumi tidak akan menggunakan jasa pengacara untuk menuntut pembuang sampah ini ke meja hijau. Hehehe

Pantesan speedy terkenal lemot. Apa karena suka nyampah? Baca lebih lanjut