Desa Grogol : Pengaspalan Ruas Jalan Desa

Material untuk Jalan

Material untuk Jalan

Sebentar lagi Mbah Kukuh dan Pak Sareno tidak akan khawatir kakinya terantuk batu atau terperosok ke kubangan jalanan rusak karena masih mengantuk menuju ke Masjid Nurul Huda untuk shalat Subuh berjamaah. Dalam beberapa minggu, jalan dari samping rumah Mbah Kukuh dan Pak Sareno sampai masjid akan mulus beraspal.

Pengaspalan ruas – ruas jalan di desa Grogol yang pada tahun ini antrean jatuh untuk dusun Gerjo merupakan kabar baik. Kabar baik untuk penduduk dusun Gerjo, warga desa Grogol dan untuk saya. Meskipun saya bukan penduduk Gerjo, tetapi ini jalan yang saya lewati menuju masjid Nurul Huda. Baca lebih lanjut

Sarang Burung Truwok Pindah ke …

Pohon Melinjo di belakang rumah saya ini biasanya sejak pagi sudah banyak burung kutilang dan trotokan yang nongkrong – nangkring berkicau. Tetapi tadi pagi burung – burung pekicau itu pindah tongkrongan. Tidak jauh sih. Masih di pepohonan lain di sekitar kebun milik keluarga.

Eksistensi burung Kutilang dan burung Trotok’an ini rupanya terusir oleh kehadiran sepasang burung Truwok –bahasa Jawa, entah apa nama burung ini dalam bahasa Indonesia– yang membuat sarang di pohon Melinjo. Saya tadi melihatnya dari balik Jendela kamar. Tidak lazim memang kalau burung ini bersarang di rerantingan pohon. Mereka terpaksa menyesuaikan diri karena tempat lama bersarang, di rerumputan di pematang – pematang sawah terusir oleh manusia. Rerumputan di pematang – pematang itu dibabat oleh Pak Tani untuk pakan ternak Sapi/Kambing.

Begitulah, satu habitant terpengaruh akan kemudian mempengaruhi habitant yang lain. Berikutnya dan berikutnya membentuk rantai berantau … πŸ˜‰

Posted with WordPress for BlackBerry via Telkomsel Network

BTS Telkomsel di Desa Grogol On Air : Semoga Migunani Bagi Masyarakat

Sinyal Telkomsel di kampung tiba2 full. Begitu tadi pagi Nurdin memberi tahu saya melalui twitter. Dalam perjalanan pulang tadi saya telah melihat Antenna sudah terpasang di site BTS Telkomsel di sebelah barat Pasar Desa Grogol. Sesampainya di rumah, saya segera melakukan beberapa kali test dengan ponsel. Print Screen dari signal loc dan speedtest saya taruh di bagian bawah posting ini. Baca lebih lanjut

18 Jam Mati Listrik di Desa Grogol

Listrik PLN padam selama hampir 18 jam bukanlah sebuah berita. Listrik padam itu hal biasa. Apalagi hanya menimpa kira – kira separo wilayah desa. Desa Grogol. Desa pinggiran di kabupaten Gunungkidul. Gunungkidul yang ada dedemit yang suka mematikan aliran listrik pada malam Jum’at Kliwon, ehhh, mematikan korbannya.

Hidup tanpa listrik dari sore, malam, sampai pagi, selama 18 jam itu tidak enak, tidak produktif. Sampai saya tidak betah untuk tidak menelepon kantor PLN.

Menurut petugas pelayanan pelanggan yang saya telpon, pihaknya belum menerima laporan gangguan yang terjadi di desa Grogol dari kemarin siang itu. Belum ada laporan. Petugas berjanji akan mengirim petugas ke lapangan setelah mendapatkan informasi dari saya kalau jalur listrik yang padam adalah mulai dari sebelah rumah β€œMbah Atemo Tolu” yang mana di sana dipasang sekering jaringan. Kemungkinan, gangguan terjadi pada sekering jaringan yang njeglek. Saya disuruh menunggu.

Listrik menyala pada kira kira jam 09:40 WIB. Saya tadi menelepon pada jam 09:19 WIB. Bukan waktu kira – kira, ya itu adalah log pada ponsel saya. πŸ˜€ PLN bisa menyelesaikan gangguan listrik dalam waktu kurang dari setengah jam. Jadi orang – orang desa bisa mendengar khotbah Jum’at dari pengeras suara di Masjid – Masjid.

Mengapa bisa terjadi mati listrik sampai 18 jam? Karena BELUM menerima laporan. Baca lebih lanjut

KTP Gratis ? Gorengan Saja Tidak Gratis

Almarhum sahabat saya, Ersad dan sahabat baik saya yang masih berumur panjang, Tunjung, pernah suatu kali menanyai seorang staf desa Grogol kecamatan Paliyan yang sedang membeli jajanan gorengan di warung. “Apakah duit yang dipakai untuk membeli gorengan itu merupakan uang urunan atau uang dari mana?” Jawab staf desa Grogol itu singkat, “Sudah ada anggarannya“. Muka staf desa perempuan itu pucat pasi dicecar dengan pertanyaan tanpa basa basi itu.

Ersad dan Tunjung, ketika menceritakan peristiwa itu pada saya, merasa penasaran Β dengan perilaku suka jajan para penghuni Balai Desa Grogol. Staf itu disuruh jajan lagi setelah tidak beberapa lama berselang dari membeli jajan di tempat yang sama.

Menurut saya, Ersad dan Tunjung merupakan muka dari potret Β rakyatΒ  yang menginginkan transparansi dari pemerintah yang berkuasa di desa dimana mereka tinggal. Tetapi mereka tidak cukup mempunyai akses untuk menonton transparansi itu. Kalau memang transparansi itu ada. Ada banyak masyarakat kecil di Desa Grogol selain Ersad dan Tunjung yang penasaran ingin tahu untuk apa uang sewa tanah desa untuk tower XL, dana ADD, dan uang dari sumber keuangan lainnya, asbes dan barang-barang bongkaran SD N Karangmojo 1 dan SDN Inpres Karangmojo 3. Dan lain lain, dan lain – lain.

***

Membaca koran harian Kedaulatan Rakyat pagi hari iniΒ  membuat saya menghela nafas panjang. Paguyupan Dukuh se Gunungkidul yang menemui Bupati Gunungkidul, Hj Badingah, S.Sos, meminta peninjauan kembali keputusan Pemda Gunungkidul yang memberlakukan penggratisan biaya KTP terhitung mulai Januari 2011. Mereka beralasan kebijakan itu akan mengurangi pendapatan aseli desa dari sumbangan suka rela pengurusan KTP.

Yang bener saja. Pendapatan Aseli Desa atau Pendapatan pribadi perangkat desa?

***

Apa …, KTP Gratis? Gorengan saja tidak GRATIS.

Pengendara Motor Usia Belia dan Kenyamanan Lalu Lintas

Kejadian ini terjadi beberapa hari yang lalu. Pagi – pagi ketika saya sedang di dalam angkudes kobutri dikagetkan oleh suara gemertak benturan. Rupanya ada pengendara sepada motor yang terjatuh. Peristiwa ini terjadi di sebelah selatan Masjid Pemanahan, dekat Pasar Desa Grogol Kecamatan Paliyan. Beberapa saat kemudian saya dibuat lebih kaget oleh suara pisuhan dan umpatan yang diteriakan secara lantang.

Saya kaget bukan karena tidak pernah mendengar umpatan pisuhan dengan kalimat – kalimat sekotor itu sebelumnya. Melainkan kekagetan saya itu lebih karena pisuhan itu keluar dari mulut anak – anak seusia SMP atau SD. Saya kurang dapat membedakan karena pengumpat – umpat itu mengenakan seragam Pramuka. Pengumpat umpat itu adalah pengendara sepeda motor yang baru saja terjatuh. Saya katakan pengedara itu mereka karena satu sepeda motor digunakan untuk berboncengan bertiga. Rupanya mereka ini menyalahkan pengemudi kendaraan pick up yang sedang mengangkut sapi sebagai penyebab kecelakaan sepeda motor yang mereka alami.

Tidak mudah untuk mengatakan siapa benar siapa salah dalam peristiwa kecelakaan itu. Bagi saya yang paling menyebabkan rasa miris di jalanan adalah pengendara – pengendara sepeda motor berusia sangat belia yang jarang – jarang bisa mengindahkan etika berlalu lintas. Memang sih, secara mereka juga belum cukup umur untuk mengantongi SIM sebagai lisensi untuk bisa mengendarai kendaraan di jalan raya. Ditambah lagi kultur berlalu lintas di daerah dimana saya tinggal yang menurut saya sangat semrawut. Dan menurut saya sangat – sangat membahayakan keselamatan terutama pada jam – jam menjelang masuk sekolah.

Demi keselamatan bersama, utamanya untuk kepedulian kita pada adik – adik usia belia ini, bukankah kasih sayang dan partisipasi orang tua bisa sangat membantu ….

 

Grogol Paliyan, Google Makin Tahu Saja

Grogol adalah desa dimana saya tinggal. Sedangkan Paliyan adalah Kecamatan dimana desa dimana saya tinggal berada. Tanpa banyak tanya pun pasti sudah pada tahu kalau desa ini sangatlah pelosok πŸ˜€

Saya pertama kali mengecek eksistensi desa dimana saya tinggal pada tanggal 6 Juli 2008 dan google tanpa malu – malu menunjukan angka 905 item yang berkaitan. Lumayan. Tidak amat teramat sangat katrok. Dulu pencarian saya itu saya posting di sini :Β  https://jarwadi.wordpress.com/2008/06/06/grogol-paliyan/

Dan pada hari ini, saya mengetikan kata kunci yang sama pada google dan mendapatkan sodoran :

Desa Grogol Menurut Google

Desa Grogol Menurut Google

Nah, kalau anda ingin mengecek sendiri silakan klik :

http://www.google.com/search?client=ubuntu&channel=fs&q=grogol+paliyan&ie=utf-8&oe=utf-8

Mau, spesifik dusun dimana saya tinggal :

Karangmojo b Menurut Google

Karangmojo b Menurut Google

Desa Tinggal Saya Tampak Atas

Berikut adalah tampak atas foto – foto alam desa dimana saya tinggal. Foto diambil oleh Mas Andri Gandes. Dari Menara BTS Telkomsel.

Klik untuk melihat lebih banyak foto:

Baca lebih lanjut

Desa Grogol : Pungutan Bagi Kendaraan Bermotor

Beberapa hari terakhir ini masyarakat di desa Grogol sedang memperbincangkan pungutan atas kepemilikan kendaraan bermotor. Pungutan atas kepemilikan kendaraan bermotor ini bukanlah Pajak seperti yang ditentukan oleh Dirjen Pajak dan pemungutannya dilakukan oleh Kantor Samsat setiap tahunnya. Pungutan ini dilakukan oleh Pemerintah Desa Grogol. Entah dasar hukum apa yang mereka jadikan landasan untuk melakukan pungutan ini.

Memang, nominal pungutan ini tidaklah besar. “Hanya” Rp 5.000,- untuk sepeda motor dan Rp 20.000,- untuk mobil atau kendaraan beroda empat, saya tidak tahu untuk jenis kendaraan yang lain ditetapkan untuk dikenakan pungutan berapa. Tetapi yang saya/kami ingin tahu adalah legalitas dari pungutan ini.

Disebut apakah Pungutan yang ditarik oleh pemerintah atas kepemilikan suatu benda/barang/jasa?

Bila kita ingin tahu lebih banyak tentang pungutan/pajak, silakan klik link berikut :

http://id.wikipedia.org/wiki/Pajak#Definisi

I am Voting without Thinking, Hasil Pilkada Gunungkidul di Desa Grogol

Meski sampai waktu pencoblosan saya tetap tidak mempunyai cukup preferensi untuk mencoblos gambar pada kartu suara sebagai bentuk pilihan dan dukungan terhadap salah satu calon Kadal (Kepala Daerah gunungkiduL), saya tetap berangkat ke TPS di Kampung yang tidak jauh dari rumah.

Pertimbangan utama bagi kedatangan saya ke TPS adalah rasa tidak enak/pakewuh kepada para Panitia Pemilih yang semuanya merupakan tetangga dekat. Beginilah rasa harus ditempatkan di lingkungan dimana antar penghuni satu dengan yang lainnya akrab saling kenal. Keakraban dan perkenalan baik itu akan mendorong mereka untuk tahu siapa saja yang belum hadir ke tempat pemungutan menggunakan hak pilihnya. Dan bila waktu pemilihan mendekati akhir tidak jarang mereka akan mengontak dan mengingatkan untuk segera ke TPS.

Menjaga perasaan dan saling pengertian ketetanggaan seperti ini jauh lebih penting melebihi siapapun yang akan tercoblos pada bilik suara oleh tangan saya.

Apa yang terlihat, gambar – gambar calon Kepala Daerah pada kartu suara, sepintas saya ketahui bahwa mereka itu jompowan jompowati. Belum ada tokoh muda Gunungkidul yang tampil sebagai kader daerah. Akhirnya saya mencoblos dengan enteng tanpa banyak pertimbangan. I was voting without thinking this morning.

Sedikit saya informasikan, hasil penghitungan suara di TPS dusun Karangmojo B, desa Grogol, kecamatan Paliyan, kabupaten Gunungkidul sebagai berikut

1. Suharto : perolehan suara : 35
2. Sutrisno : perolehan suara : 47
3. Sumpeno : perolehan suara : 64
4. Yanto : perolehan suara : 9
5. Suara gugur : 2

Sedangkan hasil hitung satu desa Grogol sebagai berikut

1. Suharto : perolehan suara : 550
2. Sutrisno : perolehan suara : 303
3. Sumpeno : perolehan suara : 414
4. Yanto : perolehan suara : 55

Angka – angka yang saya cantumkan merupakan hasil penghitungan suara dan mungkin masih terjadi koreksi.

Mungkin pembaca ada yang tahu hasil di daerah lain atau hasil hitung sementara di tingkat Kecamatan dan KPU D? Silahkan berbagi

Update :

Sumber Kedaulatan Rakyat, Edisi 24 Mei 2010

Hasil Perolehan sampai jam 23:30 WIB

Pasangan No Urut 1 : 129.837 suara
Pasangan No Urut 2 : 119.765 suara
Pasangan No Urut 3 : 146.836 suara
Pasangan No Urut 4 : 11.120 suara