Mengintip Wabah Demam Berdarah di Indonesia

Secara khusus Google menyebutkan Indonesia bersama – sama dengan Brazil, Bolivia, India dan Singapura dalam usahanya mengembangkan sistem peringatan dini (early warning system) untuk wabah demam berdarah. Program ini disebut sebagai Google Dengue Trend. Program yang berusaha menangkap fenomena yang terjadi di belahan dunia dengan mengalisis korelasi antara keyword dengan tema tertentu yang diproses oleh mesin pencari Google dibandingkan dengan kenyataan sebenarnya.

Mekanisme Google Dengue Trend hampir sama dengan Google Flue Trend yang pernah saya ceritakan di sini. Jadi belajar dari pengalaman Google Flue Trend yang dikeluarkan pada tahun 2008, maka Google Dengue Trend cukup  relevan untuk mempelajari volume pencarian topik demam berdarah dengan berapa banyak sesungguhnya orang yang mengalami gejala demam berdarah. Tentu saja tidak setiap orang yang googling demam berdarah adalah orang yang mengalami gejala demam. 😀

Disebutkan di blog Google Dengue Trend di sini, Singapura mempunyai surveillance system yang mencengangkan yang bisa menyajikan laporan secara rutin dengan cepat, akan tetapi dikebanyakan negara untuk mengumpulkan, menganalisis hingga data dapat disajikan tidak jarang diperlukan waktu mingguan sampai berbulan – bulan. Jangan tanya lagi kalau di Indonesia. 😀 Baca lebih lanjut

Iklan

WHO : Ponsel Tingkatkan Resiko Kanker

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) hari ini mengumumkan penggunaan telepon seluler bisa menyebabkan terjadinya kanker otak. Kesimpulan ini merupakan hasil pertemuan 21 ilmuwan dari 14 negara, termasuk riset terbaru yang belum dipublikasikan.

Riset sebelumnya menyebutkan hanya dengan setengah jam saja memakai telepon seluler saban hari, risiko terkena kanker otak bagi penggunanya mencapai 40 persen. “Karena itu penting untuk melaksanakan riset lanjutan dalam jangka panjang soal bahaya penggunaan telepon seluler,” kata Direktur Badan Riset Internasional WHO Dr Christopher Wild.

Nukilan berita dikutip dari Tempo Interaktif di sini.

Ngeri juga bila dugaan para pakar internasional ini terbukti. Terutama bagi orang – orang yang 24 jam per hari dalam hidupnya tidak terpisahkan dengan ponsel. Fungsi ponsel saat ini lebih luas dari sekedar untuk menelepon. Saya misalnya meletakan ponsel di tempat yang mudah diraih pada saat tidur. Lha bangun tidur tepat waktu saya berada pada salah satu fitur alarm pada ponsel. Baca lebih lanjut

Konyol: Mencampur Air Panas dan Air Dingin

Kisah konyol ini terjadi ketika siang ini saya yang sedang menderita radang tenggorokan sedang perlu untuk banyak – banyak meminum air mineral atau air putih jernih yang bersuhu ruangan. Tau sendiri, radang tenggorokan tidak mau toleran dengan minuman dingin atau minuman panas. Apalagi minuman bergula seperti teh panas kental manis kesukaan saya.

Sambil memendam rasa konyol dalam hati dengan bibir menahan ketawa, apa yang saya lakukan tadi adalah menuangkan air panas dari kran dispenser sebanyak kira – kira sepertiga tempat minum, kemudian sedikit demi sedikit menuanginya lagi dengan air dari kran berwarna hijau yang bersuhu dingin. Saya berhenti menuangkan air dingin setelah saya rasa mendapatkan suhu yang sesuai.

Pikir saya, betapa mubadzir perilaku seperti ini memboroskan energi. Salah saya? Atau salah orang yang mendesain Dispenser yang sok punya asumsi bahwa orang itu hanya minum air panas atau air dingin 😀

Penyebaran Virus Lewat Kebiasaan Jabat Tangan?

Apabila sedang sedang sakit, terutama sakit yang saya ketahui disebabkan oleh bakteri dan virus seperti flu, saya merasa risih/enggan bila harus bersalaman dengan teman – teman saya dan orang – orang disekitar saya. Saya meyakini bahwa kontak langsung adalah media penularan yang bagus. Saya tidak ingin jadi penebar petaka. Semua orang memang tahu kalau dengan rajin mencuci tangan setelah kontak dengan banyak orang akan mengurangi resiko penularan penyakit karena bakteri dan virus, tetapi siapa yang mau peduli untuk repot – repot mencuci tangan. Jarang ada orang serajin itu. Termasuk saya. Sayapun sering merasa  agak ngeri untuk bersalaman dengan banyak – banyak orang terutama ketika sedang wabah flu dan wabah virus. Tempat mencuci tangan tidak selalu tersedia di banyak tempat.

Baca lebih lanjut

Bakso. Sikat Ngga, Sikat Ngga?

Ini adalah bakso pertama yang menyusup ke dalam perut saya dalam beberapa tahun terakhir. Bukan bakso yang saya beli dengan uang sendiri. Traktiran ibu – ibu yang merupakan teman – teman saya itu merupakan godaan yang terbukti meruntuhkan iman dan taqwa saya. Meski hati kecil saya, dan teman saya yang lain, Matheo terus – terusan menakut nakuti saya dengan cerita yang didapat dari saudaranya yang jualan bakso.

Menurut saudara Matheo itu, sedikitnya ada 4 zat kimia berbahaya yang sering terdapat dalam bakso, yaitu zat pengenyal (1), zat pewarna (2), zat pengawet (3), dan zat perasa penyedap berupa MSG dan lain lain (4). Pokoknya ngeri deh. Tapi rasa syukur tetap saya panjatkan, Tuhan masih memberi untuk saya toleransi sehingga sampai hari ini, kurang lebih seminggu sesudahnya, saya tidak merasakan siksaan akibat zat kimia berbahaya dalam bakso. Matheo -lah yang terkapar selama dua hari setelah Hari Bakso yang penuh aroma nafsu itu.

Berbuat dosa memang terasa mudah dan nikmat. Buktinya:

Baca lebih lanjut

Tren “batuk”, “pilek”, “radang tenggorokan” versi Paman Google

Derita yang tersering yang saya keluh kesahkan di blog ini adalah flu. Flu memang sering mendera saya. Dalam satu tahun,  gangguan jasmani ini bisa menyerang hingga lebih dari 3 kali. Suatu jumlah yang benar benar tidak mengenakan. Meski gangguan ini tidak sampai merembet ke tingkat gangguan Jiwa, tapi kadang mempengaruhi produktifitas kerja dan kualitas hidup pribadi seorang saya.

Sepanjang pengamatan saya, baik dirumah, di lingkungan tempat saya tinggal, maupun di komunitas tempat saya bekerja, flu dapat dikatakan sebagai penyakit yang sering diderita oleh orang kebanyakan. Flu bisa jadi merupakan derita sejuta umat. Flu merupakan penyakit bangsa.

Benar. Saya tidak sedang bergurau. Paling tidak hal ini disaksikan oleh graphic yang ditunjukan oleh google trend. Silahkan graphic berikut anda pahami dengan cara masing – masing.

 

Anda pun dapat menengok graphic seperti screenshot di atas secara real time di :

http://www.google.com/trends?q=batuk%2C+pilek%2C+%22radang+tenggorokan%22&ctab=0&geo=all&date=all&sort=1

Graphic tersebut memang bukanlah potret  tanpa distorsi akan suatu fenomena yang sedang nge-trend, tetapi berdasarkan sebuah tulisan dari Official Blog nya Paman Gugel disini, bahwa trending keingin tahuan akan sebuah penyakit mempunyai banyak relevansi dengan apa yang sedang terjadi. Google pernah membandingkan dengan dataOfficial yang resmi dikeluarkan oleh Pemerintah Amerika pada suatu saat.

Loh, itukan di Amerika dimana teledensitas penggunaan internet sangat tinggi. Ini Indonesia. Diakui bahwa dari sekitar 237,5 juta penduduk Indonesia, jumlah pengguna Internet nya adalah 10 % saja atau sekitar 25 juta. Yang mana merupakan jumlah terbanyak peringkat tiga di Asia setelah China dan India. Dan angka ini terus berkembang pesat. ( Sumber dari sini ).

Ok … bila kita masih ragu untuk menggunakan google trend untuk menggambar realita yang sebenarnya tentang suatu hal, dalam hal ini saya gunakan untuk membingkai derita flu bagi saya dan lingkungan, maka paling tidak graphic ini dapat kita gunakan dalam konteks yang lebih sempit, untuk melihat  tren flu bagi pengguna Internet Indonesia. Saya kan termasuk pengguna internet aktif dalam beberapa tahun ini. Dan mudah mudahan kedepan saya tidak akan kehilangan akses ke internet.

Old-Fashioned Saltwater Gargle and Sore Throat

rdgargle

Dulu saya pikir suatu perbuatan konyol kalau simbok berkumur kumur dengan air hangat di campur garam dan rendaman daun sirih untuk meringankan gejala – gejala yang timbul karena radang tenggorokan atau sariawan. Tentu saya tidak mau mengikuti rekomendasi beliau. 😀

http://www.readersdigest.com.sg/rd/rdhtml/en/communities/food_recipe.jsp?mccid=66&cid=478

http://www.rd.com/living-healthy/staying-healthy-tips-from-vicks-/article107710.html