Komputer Kok Cuman Buat Dengerin Lagu

Saya suka musik. Tiada hari tanpa musik mengalir ke kedua telinga saya. Kegemaran akan musik sudah ada sejak jaman radio AM/MW bertenaga batu baterai pada era 90-an. Setelah itu saya mulai mengenal toko kaset. Kemudian jaman Compact Disk yang segera disingkirkan oleh MP3.

Music player yang saya punya sekarang adalah komputer. Kadang – kadang memutar musik menggunakan ponsel saya. Habis tidak punya iPod sih. Kadang – kadang itu diantaranya adalah bila sedang mati listrik. 😀

Tidak ada lagi tape recorder/player, Compo CD Player di kamar saya. Entah gadget – gadget itu sudah berpindah tempat kemana. Saya lebih enjoy mendengarkan musik dengan komputer yang saya sambungkan ke stereo set dengan power amplifier yang saya rangkai sendiri sesuai selera.

Komputer memang alat bantu yang keren. Alat bantu yang cukup handal untuk menikmati musik tanpa repot. Tanpa repot mengganti – ganti kepingan CD. Mudah menyusun playlist, mudah menemukan lagu – lagu dalam koleksi audio digital saya yang seabreg seukuran lebih dari 40 Giga itu, secara otomatis menemukan lagu dan playlist favorit serta dijaman yang serba terkoneksi ini untuk membagikan semangat playlist dengan kawan – kawan. Baca lebih lanjut

Penyebaran Virus Lewat Kebiasaan Jabat Tangan?

Apabila sedang sedang sakit, terutama sakit yang saya ketahui disebabkan oleh bakteri dan virus seperti flu, saya merasa risih/enggan bila harus bersalaman dengan teman – teman saya dan orang – orang disekitar saya. Saya meyakini bahwa kontak langsung adalah media penularan yang bagus. Saya tidak ingin jadi penebar petaka. Semua orang memang tahu kalau dengan rajin mencuci tangan setelah kontak dengan banyak orang akan mengurangi resiko penularan penyakit karena bakteri dan virus, tetapi siapa yang mau peduli untuk repot – repot mencuci tangan. Jarang ada orang serajin itu. Termasuk saya. Sayapun sering merasa  agak ngeri untuk bersalaman dengan banyak – banyak orang terutama ketika sedang wabah flu dan wabah virus. Tempat mencuci tangan tidak selalu tersedia di banyak tempat.

Baca lebih lanjut

Terbiasa Mouse, Males Pakai Trackpad

Agar lebih praktis, sebuah laptop  saat ini pasti sudah dilengkapi dengan trackpad. Tidak tanggung – tanggung trackpad pada saat ini membawa banyak kemudahan seperti multi touch, easy scrolling, dll. Penggunaan mouse, oleh desainer laptop dianggap merepotkan.

Untuk kebutuhan umum sehari hari seperti olah dokumen dan presentasi, keberadaan mouse sudah benar – benar tergantikan. Beberapa yang belum bisa digantikan, terutama saya rasakan sendiri adalah untuk image editing atau menjalankan aplikasi yang penggunaan interface GUI sangat intens.

Hal lain yang menurut saya membuat fungsi mouse sulit tergantikan sebenarnya adalah kebiasaan pengguna. Kebanyakan user yang enggan meninggalkan mouse malah kebanyakan bukan pemakai baru komputer. Mereka sudah menggunakan komputer setidaknya lebih dulu dari saya. Mereka lebih memilih lebih repot daripada sedikit demi sedikit merubah kebiasaan. Mungkin kejadian mouse yang tertukar pada presentasi penting dan tidak ada orang yang bisa dipinjami mouse bisa merubah sikap mereka terhadap teknologi yang sudah seharusnya tidak pada tempatnya 😀

Gambar dipungut dari sini.

13 tahun yang membuat lupa diri

Pada awal awal mengenal dan belajar komputer pada sekitar tahun 1995. Saya tidak habis pikir betapa ribetnya menggunakan alat yang bernama komputer. Untuk melakukan pekerjaan sederhana saja harus melalui banyak langkah dan prosedur dan perintah text based. Pun juga untuk mengetik dan spread sheet datau dbase.  Setelah disekolah belajar sistem operasi –saat itu PC DOS/ms DOS, saya belajar menggunakan word prosessor seperti WordStar dan Chi Writer, juga pernah mencoba WordPerfect. Membosankan sekali rasanya kalau tidak mengingat kebutuhan membuat laporan dan tugas tugas waktu itu.

Kata Mantra pengusirkebosanan belajar saat itu –sampai pada akhirnya saya mabok cinta dengan komputer dan masih setia sampai sekarang– bahwa komputer itu sama dengan alat yang lain, diciptakan untuk memudahkan pekerjaan manusia. Buat apa diciptakan kalau malah menyusahkan. Jadi keyakinanya, walaupun terasa sulit, menggunakan komputer itu pasti lebih memudahkan.

13 tahun kemudian, rasanya tidak ada pekerjaan saya yang tidak melibatkan campur tangan komputer. Komputer yang telah banyak belajar tentang manusia. Sekarang bukan manusia yang dirancang untuk mempelajari sifat sifat komputer. Melainkan komputer yang didesain untuk beradaptasi dengan sifat sifat manusia yang manja, tidak sabaran dan pengin serba segera. Komputer telah menemukan sesuatu dalam diri manusia yang belakangan diketahui sebagai *nafsu*. Maka saat ini tampilah computer, terutama Windows, Mac, Linux dengan user interface yang sexy, bahenol dan dengan polesan make up 16 juta warna. Jauh dari wajah angker hitam putih dan kaku nenek moyang mereka sebangsa 8080 dan 8088.

Komputer yang semakin bisa mendengarkan hati dan nafsu manusia tersebut membuat saya dan makhluk manusia lainya semakin *jatuh cinta*. Bahkan cinta buta. Menjadikan ketergantugan. Sama halnya tangan dan kaki adalah organ tubuh, begitu juga rasanya komputer sekarang ini terasa organ tubuh lain yang saya sadari pertama kali setelah 15 tahun terlahir kemuka bumi. Tidak terbayang kira kira seperti apa trauma apa bila hidup ini harus berpisah dengan si dia. Patah Hati ….

Ada pengalaman menarik beberapa waktu yang lalu, ketika saya tidak boleh mengajak keterlibatan Komputer dalam mengerjakan ^hal sepele^. Mengisi formulir dengan angka angka. Rule nya saya harus mengisi formulir tersebut secara manual dengan ballpoin. Banyak sekali lembar formulir yang harus menerima kenyataan untuk menjadi penghuni tempat sampah karena saya melakukan kesalahan dalam hal pengisian data. Kebiasaan menekan tombol Ctrl + Z untuk membatalkan perubahan dan Ctrl + Shift + Z untuk mengembalikan ternyata tidak berlaku diatas kertas. Tombol Delete juga tidak ada. Ketidak sabaran saya membuat kertas kertas tersebut teremas remas dan terlembar di keranjang sampah plastik warna hijau di pojok bawah meja kerja.

Ternyata watu 13 tahun kebersamaan kami –saya dan kompie– telah banyak melahirkan kebiasaan kebiasaan baru dan saat ini tumbuh mengikuti kehendak jaman, dan terkadang menanggalkan sesuatu yang establish lebih dulu.