13 tahun yang membuat lupa diri

Pada awal awal mengenal dan belajar komputer pada sekitar tahun 1995. Saya tidak habis pikir betapa ribetnya menggunakan alat yang bernama komputer. Untuk melakukan pekerjaan sederhana saja harus melalui banyak langkah dan prosedur dan perintah text based. Pun juga untuk mengetik dan spread sheet datau dbase.  Setelah disekolah belajar sistem operasi –saat itu PC DOS/ms DOS, saya belajar menggunakan word prosessor seperti WordStar dan Chi Writer, juga pernah mencoba WordPerfect. Membosankan sekali rasanya kalau tidak mengingat kebutuhan membuat laporan dan tugas tugas waktu itu.

Kata Mantra pengusirkebosanan belajar saat itu –sampai pada akhirnya saya mabok cinta dengan komputer dan masih setia sampai sekarang– bahwa komputer itu sama dengan alat yang lain, diciptakan untuk memudahkan pekerjaan manusia. Buat apa diciptakan kalau malah menyusahkan. Jadi keyakinanya, walaupun terasa sulit, menggunakan komputer itu pasti lebih memudahkan.

13 tahun kemudian, rasanya tidak ada pekerjaan saya yang tidak melibatkan campur tangan komputer. Komputer yang telah banyak belajar tentang manusia. Sekarang bukan manusia yang dirancang untuk mempelajari sifat sifat komputer. Melainkan komputer yang didesain untuk beradaptasi dengan sifat sifat manusia yang manja, tidak sabaran dan pengin serba segera. Komputer telah menemukan sesuatu dalam diri manusia yang belakangan diketahui sebagai *nafsu*. Maka saat ini tampilah computer, terutama Windows, Mac, Linux dengan user interface yang sexy, bahenol dan dengan polesan make up 16 juta warna. Jauh dari wajah angker hitam putih dan kaku nenek moyang mereka sebangsa 8080 dan 8088.

Komputer yang semakin bisa mendengarkan hati dan nafsu manusia tersebut membuat saya dan makhluk manusia lainya semakin *jatuh cinta*. Bahkan cinta buta. Menjadikan ketergantugan. Sama halnya tangan dan kaki adalah organ tubuh, begitu juga rasanya komputer sekarang ini terasa organ tubuh lain yang saya sadari pertama kali setelah 15 tahun terlahir kemuka bumi. Tidak terbayang kira kira seperti apa trauma apa bila hidup ini harus berpisah dengan si dia. Patah Hati ….

Ada pengalaman menarik beberapa waktu yang lalu, ketika saya tidak boleh mengajak keterlibatan Komputer dalam mengerjakan ^hal sepele^. Mengisi formulir dengan angka angka. Rule nya saya harus mengisi formulir tersebut secara manual dengan ballpoin. Banyak sekali lembar formulir yang harus menerima kenyataan untuk menjadi penghuni tempat sampah karena saya melakukan kesalahan dalam hal pengisian data. Kebiasaan menekan tombol Ctrl + Z untuk membatalkan perubahan dan Ctrl + Shift + Z untuk mengembalikan ternyata tidak berlaku diatas kertas. Tombol Delete juga tidak ada. Ketidak sabaran saya membuat kertas kertas tersebut teremas remas dan terlembar di keranjang sampah plastik warna hijau di pojok bawah meja kerja.

Ternyata watu 13 tahun kebersamaan kami –saya dan kompie– telah banyak melahirkan kebiasaan kebiasaan baru dan saat ini tumbuh mengikuti kehendak jaman, dan terkadang menanggalkan sesuatu yang establish lebih dulu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s