Trotoar Bermetamorfose (jadi Pasar)

Gerobak Nasi Uduk

Saya tidak sedang ingin membeli Nasi Uduk. Melainkan saya terpaksa berjalanan di aspalan karena jatah  trotoar buat pejalan kaki diserobot oleh ulah pedagang nasi uduk. Jadinya saya juga tanpa permisi mengurangi jatah bagi pengendara mobil dan motor.

Penjual Nasi Uduk dengan gerobak biru itu bukanlah satu satunya yang nekad semena – mena terhadap fasititas umum. Foto – foto berikut ini adalah bentuk kekerasan terhadap trotoar yang saya temua sepanjang perjalanan  kaki saya dari makan siang. 😀 Baca lebih lanjut

KTP Gratis ? Gorengan Saja Tidak Gratis

Almarhum sahabat saya, Ersad dan sahabat baik saya yang masih berumur panjang, Tunjung, pernah suatu kali menanyai seorang staf desa Grogol kecamatan Paliyan yang sedang membeli jajanan gorengan di warung. “Apakah duit yang dipakai untuk membeli gorengan itu merupakan uang urunan atau uang dari mana?” Jawab staf desa Grogol itu singkat, “Sudah ada anggarannya“. Muka staf desa perempuan itu pucat pasi dicecar dengan pertanyaan tanpa basa basi itu.

Ersad dan Tunjung, ketika menceritakan peristiwa itu pada saya, merasa penasaran  dengan perilaku suka jajan para penghuni Balai Desa Grogol. Staf itu disuruh jajan lagi setelah tidak beberapa lama berselang dari membeli jajan di tempat yang sama.

Menurut saya, Ersad dan Tunjung merupakan muka dari potret  rakyat  yang menginginkan transparansi dari pemerintah yang berkuasa di desa dimana mereka tinggal. Tetapi mereka tidak cukup mempunyai akses untuk menonton transparansi itu. Kalau memang transparansi itu ada. Ada banyak masyarakat kecil di Desa Grogol selain Ersad dan Tunjung yang penasaran ingin tahu untuk apa uang sewa tanah desa untuk tower XL, dana ADD, dan uang dari sumber keuangan lainnya, asbes dan barang-barang bongkaran SD N Karangmojo 1 dan SDN Inpres Karangmojo 3. Dan lain lain, dan lain – lain.

***

Membaca koran harian Kedaulatan Rakyat pagi hari ini  membuat saya menghela nafas panjang. Paguyupan Dukuh se Gunungkidul yang menemui Bupati Gunungkidul, Hj Badingah, S.Sos, meminta peninjauan kembali keputusan Pemda Gunungkidul yang memberlakukan penggratisan biaya KTP terhitung mulai Januari 2011. Mereka beralasan kebijakan itu akan mengurangi pendapatan aseli desa dari sumbangan suka rela pengurusan KTP.

Yang bener saja. Pendapatan Aseli Desa atau Pendapatan pribadi perangkat desa?

***

Apa …, KTP Gratis? Gorengan saja tidak GRATIS.

Pengungsi #merapi yang berada di Gunungkidul kelaparan?

Petang kemarin, saya ditelepon seorang teman. Inti telpon itu adalah mengkonfirmasi newsticker yang ia dan temannya baca di MetroTV yang memberitakan kalau pengungsi – pengungsi Merapi yang berada di wilayah gunungkidul KELAPARAN. Kelaparan?

Tentu saja saya kaget.  Dan penasaran pengin tahu. Yang diberitakan metroTV itu pengungsi di Gunungkidul sebelah mana. Atau Posko mana?  Karena saya sendiri termasuk relawan di posko pengungsian besar di Gunungkidul, yaitu di rest Area Bunder. Di Posko ini saya memastikan semua kebutuhan logistik dan pakaian aman sampai satu minggu.

Memang di Gunungkidul, posko rest area Bunder bukanlah satu – satunya yang digunakan sebagai tempat pengungsian. Pengungsi terbagi menjadi kelompok – kelompok kecil yang berjumlah antara 20 – 80 jiwa dan tersebar di hampir seluruh penjuru gunungkidul yang seluas 18 kecamatan. Pengungsi – pengungsi yang tersebar ini kebanyakan menempati rumah tinggal penduduk Gunungkidul, bangunan balai desa dan bangunan bangunan yang mereka anggap aman untuk mengungsi.

Karena jumlah jiwa per kelompok pengungsi relatif kecil dan tersebar, kelompok ini sempat luput dari publikasi dan kurang mendapatkan perhatian dari relawan dan penderma bantuan. Seorang teman juga bercerita kepada saya kalau pengungsi yang bertempat di desanya sangat kekurangan logistik. Selama mengungsi kehidupan mereka hanya mengandalkan topangan dan kebaikan hati pemilik rumah yang ditempati dan warga sekitar yang terketuk hatinya.  Agak memiriskan juga.    Karena banyak penduduk yang rumahnya ditempati pengungsi juga bukan semuanya merupakan orang yang berekonomi mampu. Warga sekitar yang rela membantupun tidak cukup meyakinkan akan sampai kapan masih bisa memberikan bantuan jatah makan.

Saya ingin mengumpulkan data tentang jumlah pengungsi yang tersebar ini. –walaupun saya juga tidak bisa berbuat banyak untuk membantu mereka. Tidak mudah ternyata mendapatkan data yang baik tentang tempat dan keadaan kelompok pengungsi ini. Data yang bisa diberikan oleh teman yang diambil dari PB Gunungkidul hanya menyebutkan jumlah jiwa pengungsi per kecamatan. Sedangkan data yang saya butuhkan adalah termasuk alamat, jumlah pengungsi per kelompok. contact person, demografi, angka difabel, sarana MCK dan lain – lain.

Berikut adalah jumlah pengungsi per kecamatan se Gunungkidul :

Baca lebih lanjut

I am Voting without Thinking, Hasil Pilkada Gunungkidul di Desa Grogol

Meski sampai waktu pencoblosan saya tetap tidak mempunyai cukup preferensi untuk mencoblos gambar pada kartu suara sebagai bentuk pilihan dan dukungan terhadap salah satu calon Kadal (Kepala Daerah gunungkiduL), saya tetap berangkat ke TPS di Kampung yang tidak jauh dari rumah.

Pertimbangan utama bagi kedatangan saya ke TPS adalah rasa tidak enak/pakewuh kepada para Panitia Pemilih yang semuanya merupakan tetangga dekat. Beginilah rasa harus ditempatkan di lingkungan dimana antar penghuni satu dengan yang lainnya akrab saling kenal. Keakraban dan perkenalan baik itu akan mendorong mereka untuk tahu siapa saja yang belum hadir ke tempat pemungutan menggunakan hak pilihnya. Dan bila waktu pemilihan mendekati akhir tidak jarang mereka akan mengontak dan mengingatkan untuk segera ke TPS.

Menjaga perasaan dan saling pengertian ketetanggaan seperti ini jauh lebih penting melebihi siapapun yang akan tercoblos pada bilik suara oleh tangan saya.

Apa yang terlihat, gambar – gambar calon Kepala Daerah pada kartu suara, sepintas saya ketahui bahwa mereka itu jompowan jompowati. Belum ada tokoh muda Gunungkidul yang tampil sebagai kader daerah. Akhirnya saya mencoblos dengan enteng tanpa banyak pertimbangan. I was voting without thinking this morning.

Sedikit saya informasikan, hasil penghitungan suara di TPS dusun Karangmojo B, desa Grogol, kecamatan Paliyan, kabupaten Gunungkidul sebagai berikut

1. Suharto : perolehan suara : 35
2. Sutrisno : perolehan suara : 47
3. Sumpeno : perolehan suara : 64
4. Yanto : perolehan suara : 9
5. Suara gugur : 2

Sedangkan hasil hitung satu desa Grogol sebagai berikut

1. Suharto : perolehan suara : 550
2. Sutrisno : perolehan suara : 303
3. Sumpeno : perolehan suara : 414
4. Yanto : perolehan suara : 55

Angka – angka yang saya cantumkan merupakan hasil penghitungan suara dan mungkin masih terjadi koreksi.

Mungkin pembaca ada yang tahu hasil di daerah lain atau hasil hitung sementara di tingkat Kecamatan dan KPU D? Silahkan berbagi

Update :

Sumber Kedaulatan Rakyat, Edisi 24 Mei 2010

Hasil Perolehan sampai jam 23:30 WIB

Pasangan No Urut 1 : 129.837 suara
Pasangan No Urut 2 : 119.765 suara
Pasangan No Urut 3 : 146.836 suara
Pasangan No Urut 4 : 11.120 suara

Apakah Presidenku Seorang Figuran?

Figuran? Bukan!

Figuran? Bukan!

Lumrah terjadi, setiap akan diadakan perhelatan pesta demokrasi, masing – masing kontestan menggunakan berbagai media untuk berkampanye. Termasuk yang mudah dilihat dari jalanan adalah Baliho, Spanduk dan Rontek. Sebelum makan siang, saya kemarin menfoto sebuah baliho yang bagi saya menarik.

Menarik bukan dalam arti ini adalah calon yang saya jagokan untuk memenangi pilkada di kabupaten dimana saya tinggal. Saya tertarik dengan sosok Presiden RI dan Gubernur D I Yogyakarta yang digunakan dalam (sebagai) latar belakang.
Baca lebih lanjut

Masjid Unik

Bisa dikatakan masjid unik, setidaknya menurut saya. Keunikan masjid ini mudah kita lihat dari interiornya yang di dominasi oleh kayu dan anyaman bambu. Ini merupakan satu – satunya yang pernah saya lihat yang mana masjid – masjid lain biasanya berdinding tembok beton.

Masjid ini saya temui kemarin petang pada saat menunaikan Shalat Maghrib diperjalanan saya dari Imogiri melalui jalan alternatif di desa Terong. Desa yang terletak diperbukitan batas antara Kabupaten Bantul dan Gunungkidul. Sayang kemarin saya lupa mengecek apa nama masjid itu.

Foto diatas saya ambil dengan Camera Ponsel. Jadi tidak bisa sepenuhnya membagikan keartistikan masjid.

Meniru Manusia dengan Wisata

Enjoy Coco at Kukup Beach

Enjoy Coco at Kukup Beach

Biasanya, pada musim liburan,  orang – orang suka mengunggah foto – foto wisata di situs jejaring sosial dan photo sharing. Hal ini sudah saya amati sejak beberapa musim liburan yang lalu. Maka biar saya dianggap sebagai manusia beneran, saya juga mengunggah foto foto di internet; hehehe.

Kukup : Panorama V

Kukup : Panorama V

Apakah saya bisa disebut manusia beneran setelah bisa meniru dan bergaya seperti manusia? Foto – foto ini, saya ambil di Pantai Kukup Gunungkidul Indonesia.

Klik untuk beberapa foto lainnya :

http://www.flickr.com/photos/40202322@N04/sets/72157623090128780/

Siyono (juga) Macet

Bukan kabar baru kalau kemacetan telah  menjadi ciri khas dan bagian dari ke-Indonesia-an, terutama di kota – kota besar. Kalau belum macet, tentulah kita belum berada di kota – kota Indonesia.

Ceritanya dua pagi hari terakhir saya berangkat kerja agak siang, kira – kira menjelang jam tujuh. Ini Hebat, pikir saya. Suatu kemajuan pesat terjadi di bundaran siyono. Tidak beda dengan apa yang sering saya temui di Jakarta, pagi ini kemacetan menjadi pemandangan sekaligus pengalaman menarik. Sekarang ini Siyono pagi hari sudah bisa disamakan dengan kota kota besar Indonesia yang lain.

Sopir angkutan umum yang saya tumpangi yang seenaknya mengklakson dengan suara menyalak, telah membuat lengkap sudah.

**Mudah mudah proses download yang saat ini mencapai 94% tidak ikutan macet. Amiin

Proyek Air Bersih di desa Grogol

cleanwaterpro

Proyek Air Bersih, Pembuatan Sumur Bur ini, saat ini sedang dibangun dan memasuki tahap pengeboran. Bertempat di dusun Senedi. Tepatnya di pekarangan Bapak Ngadiyono, Pak Aman, Ayah dari saudara Beby Agung.

Proyek ini merupakan titik cerah harapan masyarakat desa Grogol, khususnya dusun Senedi dan sekitarnya untuk mendapatkan pasokan Air Bersih dengan biaya tidak Mahal. Saat ini sebagian besar masyarakat harus merogoh uang sejumlah sedikitnya 65 ribu rupiah untuk membeli satu tangkiberkapasitas 6000 liter air bersih untuk kebutuhan air minum dan sanitasi.

Menurut Bapak Ngadiyono, diperlukan pengeboran dengan kedalaman lebih dari 80 m dari permukaan tanah untuk mencapai sumber air. Dan pada Minggu sore ketika saya mengambil gambar ini, pengeboran baru mencapai kedalaman sekitar 10 meter. Proyek Air Bersih yang di danai APBD ini nantinya pengelolaannya akan di serahkan kepada Perangkat Desa dan Pendistribusian/Pipanisasi akan diserahkan untuk di swadayai masyarakat.

Semoga Proyek Air Bersih ini benar memberikan manfaat kepada segenap masyarakat Desa Grogol. Amiiin

Temperatur yang Kontras : Tantangan Kebugaran

Beberapa Minggu ini, cuaca malam di desa saya menjadi sangat dingin. Sementara di siang harinya Temperatur kembali menukik. Ini merupakan tantangan bagi kebugaran tubuh. Terutama tubuh yang kemampuan adaptive nya tidak maksimal seperti tubuh saya.

Bila cuaca boleh dikambing hitamkan, maka paling tidak perubahan temperatur yang kontras antara siang dan malam telah menyakiti kesehatan saya sehingga terpuruk meler selama seminggu. Tetapi, alhamdulillah, mulai saya menulis posting ini, tanda tanda perbaikan kesehatan telah mulai terasa.

Kemudian seiring memasuki lebih jauh musim kemarau, tantangan kesehatan yang tidak kalah ganasnya adalah debu musim kemarau yang menyertai musim kering berangin. Ini merupakan signal intelegen yang harus dapat saya terjemahkan menjadi sesuatu yang kongkrit berupa tindakan antisipasi agar kesehatan dan aktifitas saya tidak sampai terganggu dan melumpuh 😀

Sumber :

http ://bmg.go.id
http ://weather.com