Bakso Pak Markatam Lagi

Bakso Markatam

Bakso Markatam

Kemarin sore, saya makan Bakso Pak Markatam lagi. Dan kali ini untuk Lebaran Β yang kesekian kali pula saya nge-blog Bakso Pak Markatam. Saya makan Bakso tidak sendiran. Saya ditemani teman-teman saya yang menyempatkan diri mudik lebaran dari Jakarta. Saya makan bakso sambil mendengarkan cerita yang mereka bawa dari tanah rantau. πŸ™‚

Cerita-cerita kemarin sore itu asyik di dengar. Uniknya sebagaian cerita sore kemarin datang dari sudut pandang para perempuan. Mendengarkan cerita dunia perantauan dari para laki-laki sudah cukup biasa bagi saya. Lagi pula pada malam takbiran kemarin saya sudah menikmati Baso Markatam dengan beberapa teman lelaki yang sama-sama mudik dari bumi rantau.

Oh, iya. Sebenarnya kemarin saya mengajak beberapa teman. Namun ternyata teman-teman yang lain berlebaran sudah dengan kesibukannya masing-masing. Jadi hanya 3 orang yang bisa saya ajak. Kami di Bakso Markatam berempat.

Kalau ada teman-teman yang mau ngobrol-ngobrol dan berbagi cerita di Bakso Markatam insya Alloh saya siap menemani. Bila waktunya tidak bertabrakan dengan acara lain.

Salam Lebaran. Selamat Berlebaran Bahagia. πŸ™‚

Cerita Bakso Pak Markatam tahun-tahun sebelumnya bisa dibaca di sini dan di sini. πŸ™‚

Selamat Iedul Fitri 1433 H

Kalau boleh saya mengatakan Ramadhan 1433 H ini sangatlah istimewa. Istimewa sedari awal sampai akhir. Sampai Iedul Fitri hari ini.

Ummat Islam di Indonesia mengawali Ramadhan pada hari yang berbeda. Setidaknya ada yang memulai pada tanggal 20 Juli dan ada yang memulai pada tanggal 21 Juli. Dan semuanya baik-baik saja. Lebih istimewa adalah pada 10 hari terakhir Ramadhan. Tiap malam merupakan malam ganjil. Malam dimana dikisahlakn Lailatul Qadar turun. πŸ™‚

Hari ini ummat Islam berlebaran di hari yang sama. Jamnya berbeda-beda tentu saja.

Saya mengucapkan Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir Bathin. Kembali ke Fitri. Tekan tombol reset. Kosong-kosong. πŸ™‚

Shalat Iedul Fitri di Lapangan Desa Grogol

Shalat Iedul Fitri di Lapangan Desa Grogol

Shalat Iedul Fitri di Lapangan Desa Grogol

Shalat Iedul Fitri di Lapangan Desa Grogol

Ada yang sama antara lebaran tahun ini dan tahun lalu, yaitu sama-sama dilaksanakan dibawah kehangatan Matahari musim kemarau. Jadi Anda jangan suudzan mengira foto-foto ini saya ambil dari foto-foto tahun lalu hanya karena ingat Ramadhan 1432 H di sini. πŸ™‚ Anggap saja nampak sama nyata beda. πŸ˜€

 

Mudik Telah Tiba

Melalui Facebook (hehehe, lagi-lagi sumber facebook), pagi ini saya mengetahui salah seorang teman kampung saya telah tiba di rumah dengan selamat, alhamdulillah :), Β setelah menempuh perjalanan jauh mudik, pulang dari tanah rantau, Jakarta, untuk merayakan lebaran bersama keluarga di kampung tumpah darah tercinta. Selamat berbahagia.

Di desa dimana saya tinggal, yang mana kebanyakan pemuda-pemudinya mengadu nasib di rantau, mudik lebaran merupakan bagian istimewa dari ibadah Ramadhan. Rutin tiap musim lebaran. Ada yang kurang bila ibadah mudik belum tertunaikan. Mereka rela membayar ongkos mahal untuk mudik. Mudik harus dibayar dengan ongkos angkutan yang melambung, keruwetan lalu lintas arus mudik, kenaikan harga kebutuhan sampai masalah pengupahan di tempat kerja dan tunjangan hari raya yang belum bisa dinikmati semua pekerja.

Saya sendiri belum pernah menunaikan ibadah mudik. Saya termasuk pemuda di desa dimana saya tinggal yang masuk dalam pengecualian. Saya memutuskan untuk tidak merantau. Paling tidak sampai saya mengetik posting ini. Jikalau saya sering bepergian menempuh jarak yang bahkan lebih jauh belumlah bisa dianggap merantau, apalagi mengembara. Rutinitas terkait mudik yang saya lakukan tiap lebaran adalah menyambut teman-teman saya sepulang mengadu nasib.

Ini menyenangkan sekaligus mengharukan. Saya bisa belajar banyak hal dari oleh-oleh cerita yang sarat experience yang dibawa oleh teman-teman dari tanah rantau. Ada kisah sukses, ada perjalanan, ada perjuangan hidup, ada pengorbanan yang harus dibayarkan ketika keputusan meninggalkan zona aman (baca: kampung halaman) yang dibuat dengan gagah berani. Tentu saja keputusan itu tidak selalu bisa membawa pulang harapan. Tetapi pelajaran pentingnya adalah tidak ada yang bisa diharapkan tanpa keberanian (mengambil keputusan).

*Mengelus-elus jidat merasa habis ditepok*

Bukankah Nabi Muhammad dulu juga berhijrah untuk menggapai sukses berdakwah. Dalam taraf tertentu saya pikir merantau bisa diartikan sebagai hijrah. Berlebihan? Tidak ya?

Selamat Mudik. πŸ™‚

Keberuntungan Dalam Sebuah Foto

Keberuntungan Dalam Sebuah Foto

Keberuntungan Dalam Sebuah Foto

Selain kemampuan teknis dan artistik beserta dukungan alat (kamera, lensa, dan lain-lain), ada satu hal lagi yang menentukan gambar-gambar bagus ditampilkan dalam foto. Yaitu keberuntungan.

Foto di atas saya ambil di tempat biasa. Di atas persawahan tidak jauh dari rumah saya. Di tempat ini saya sering kali melihat pemandangan bagus. Langit yang berseri-seri dengan warna biru yang bersih dan awan yang menawan.

Namun pada pagi hari ini saya juga kurang beruntung. Ketika saya sedang membawa kamera yang siap digunakan, langit malah kelihatan pucat. Langit sedang murung. Mendung dan awan yang muncul pun nampak biasa-biasa saja.

Langit ceria dan keberuntungan tidak sedang menghampiri. Jadi pagi ini tidak bisa saya gandeng dan ajak ke sini untuk saya pamerkan ke Anda sekalian.

Semoga lain waktu keberuntungan yang menjemput saya. Eh saya ya yang harus menciptakan keberuntungan untuk diri saya sendiri. πŸ™‚

Buku” Pewarta Warga” dan “Buku Pegangan Jurnalisme Independen”

Pewarta Warga dan Jurnalisme Independen

Pewarta Warga dan Jurnalisme Independen

Kedua buku ini adalah buku-buku yang ingin saya baca pada minggu-minggu ini. Kedua buku itu saya dapatkan secera gratis. Buku Pegangan Jurnalisme IndependenΒ oleh Deborrah Potter merupakan pemberian dari teman saya Anandita Puspitasari (@nonadita) di PPTIK UGM pada tahun 2009 yang mana pada saat itu saya belum terlalu tertarik dengan topik Jurnalisme Independen. Baru tahun-tahun belakangan ini saja saya merasa perlu dan alhamdulillah buku ini masih dengan baik tersimpan dan bisa saya baca-baca dengan nyaman. Sedangkan Buku “Pewarta Warga” adalah pemberian Hendri Destiwanto (@mashendri) pada awal tahun ini. Saya ucapkan terimakasih kepada keduanya. Semoga menjadi amal sholeh mereka.

Saya sekarang merasa memerlukan membaca kedua buku ini bukan karena saya ingin menjadi wartawan di media. Bukan cita-cita saya pula untuk menjadi kontributor berita lepas di media masa. Baca lebih lanjut

Gosip-Gosip Pilkades

Tahun 2014 masih 2 tahun lagi. Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) atau Β Pemilihan Lurah Desa (Pilurdes) di desa dimana saya tinggal masih cukup lama. Namun saya tidak tahu ada fenomena apa ketika secara tidak sengaja Β mulai terdegar di gardu ronda, di tempat-tempat nongkrong di perempatan-perempatan desa di malam hari dan di beberapa tempat lain ada beberapa orang sudah membicarakan hal ini. Masih sebatas ngobrol-ngobrol santai yang terlalu dini sebenarnya untuk dikatakan sesuatu yang serius.

Dan bisa jadi juga bukan hal serius yang perlu diseriusi. Bisa juga hanya angin lalu yang menghalau kebosanan akan isu-isu nasional yang saban hari disuapkan oleh televisi dan media. Bisa pula sebaliknya.

Hehe, saya malah ngomong apa sih di sini. Sebagai bukan seorang yang punya kompetensi untuk menganalisis peristiwa-peristiwa sosial, ada beberapa hal yang mungkin berhubungan: Pilkada Jakarta yang menarik jutaan bola mata dari sepenjuru negeri (1), Pilkades yang baru saja diselenggarakan di desa sebelah (2), Pilurdes yang akan diselenggarakan di beberapa desa tetangga (3), Β Kepala Desa incumbent yang sudah dianggap terlalu lama, dua kali masa jabatan (4), Masyarakat yang menginginkan perubahan (5)…. apa lagi (6) hehehe

Seumur hidup, saya sudah menyaksikan 2 kali Pemilihan Kepala Desa di desa dimana saya tinggal. Pada tahun 1997 ketika saya belum mempunyai hak pilih dan pada tahun 2002 yang mana Pilkades saat itu dimenangi oleh kepala desa incumbent. Dan dua tahun lagi mudah-mudahan saya bisa menyaksikan peristiwa yang ketiga.

Coba kita lihat apa yang berbeda dengan Pilkades pada era internet sudah menjadi penduduk tetap di desa dibanding pilkades sebelumnya. πŸ˜€

Dipersulit Mengurus KTP

Seorang Warga Negara Indonesia (WNI) adalah orang yang diakui oleh UU sebagai warga negara Republik Indonesia. Kepada orang ini akan diberikanΒ Kartu Tanda Penduduk, berdasarkanΒ KabupatenΒ atau (khususΒ DKI Jakarta) Provinsi, tempat ia terdaftar sebagai penduduk/warga. Kepada orang ini akan diberikan nomor identitas yang unik (Nomor Induk Kependudukan, NIK) apabila ia telah berusia 17 tahun dan mencatatkan diri di kantor pemerintahan.Β PasporΒ diberikan oleh negara kepada warga negaranya sebagai bukti identitas yang bersangkutan dalam tata hukum internasional.

Begitulah definisi Warga Negara Indonesia sesuai yang saya dapatkan dari wikipedia. Selengkapnya bisa dibaca di sini.

Kenapa saya tiba-tiba berbicara tentang kewarganegaraan. Memang ini bukan bidang saya. Saya penasaran mencari tahu karena saya memang tidak tahu menahu. Rasa penasaran saya ini berangkat dari keluhan seorang sopir angkot yang kebetulan merupakan tetangga dusun dimana saya tinggal.

Si Sopir angkot itu menceritakan masalahnya ketika anak perempuannya yang sedang lulus SMK menemui kesulitan ketika akan melalui proses pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP) di balai desa. Surat pengantar dari RT dan Dusun dimana ia tinggal ternyata belum membantu melewati proses di kantor balai desa. Seyogyanya bila proses di kantor balai Desa Grogol sudah beres, pengurusan KTP selanjutnya adalah di kantor Catatan Sipil yang bertempat di kantor Kecamatan Paliyan.

Ketika saya tanya apa masalahnya sehingga proses pembuatan KTP menemui kesulitan ternyata adalah ayah si anak perempuan itu masih mempunyai tunggakan hutang yang terkait dengan pemerintah desa.

Bagaimana si ayah anak perempuan itu yakin kalau permasalahannya adalah masalah hutang. Cerita si sopir angkot itu adalah ketika pada suatu malam ia datang ke kediaman lurah desa untuk menanyakan hambatan pembuatan KTP si anak perempuan. Lurah desa menjelaskan ia akan segera mempermudah pengurusan KTP bila si ayah segera melunasi hutang-hutangnya.

***

Saya tidak habis pikir. Betapa apes nasib si anak. Taruhlah si sopir angkot ayah anak perempuan itu bersalah. Tetapi kenapa si anak harus turut menanggung dosa. Kenapa gara-gara kesalahan seorang ayah, hak warga negara seorang anak menjadi terhambat. Dalam hal ini adalah hak setiap warga negara untuk mendapatkan Kartu Tanda Penduduk.

Dalam urusan utang-piutang, misalnya ayah saya mempunyai hutang dengan suatu Bank. Kemudian karena alasan tertentu ayah saya tidak atau belum bisa melunasi hutang-hutangnya, apakah serta merta saya akan menerima hutang warisan. Apakah bank akan menagihkan hutang ayah saya itu kepada saya? Sepanjang yang saya tahu tentu saja tidak.

Bukan berarti saya berpihak kepada si sopir angkot. Saya setuju bahwasanya kewajiban orang yang berhutang adalah membayarkan sesuai kesepakatan mulanya. Hak orang yang meminjamkan pula untuk mendapatkan pembayaran hutang sesuai kesepakatan. Dan bukankah Indonesia adalah negara hukum yang mempunyai aturan tentang bagaimana menyelesaikan sengketa dan piutang.

Tidak dengan menyalah gunakan wewenang dan kekuasaannya sebagai Lurah Desa dengan mempersulit hak-hak kewarganegaraan seseorang untuk memaksa seseorang segera melunasi hutang-hutangnya.

Penggunaan ancaman agar segera melunasi hutang-hutang dengan pihak desa bila tidak ingin dipersulit bila mengurus surat-surat seperti KTP, KK dan lain-lain ternyata tidak hanya pernah ditujukan kepada si sopir angkot. Menurut cerita si sopir angkot sudah ada beberapa orang yang mendapatkan perlakuan serupa. Ketika permasalahan ini kemarin sore saya perbincangkan dengan Mas Tunjung dan teman-teman yang lain, ternyata Lurah Desa sudah sering mengutarakan konsekuensi bila tidak segera melakukan penyelesaian urusan hutang-piutang.

Jadi ke depan saya khawatir ancaman dan tekanan serupa bisa dikenakan kepada lebih banyak orang. Lebih dari permasalahan hutang-piutang.

Saya awam terkait permasalahan ini. Mohon pendapat dari teman-teman yang lebih mengerti hukum di Indonesia. Bukan hukum rimba tentu saja. πŸ˜€

Desa Grogol : Lomba Desa

Minggu sore, bapak ketua RT di lingkungan saya tinggal mengantarkan undangan untuk bapak saya. Intinya melalui undangan itu, Pemerintah Desa Grogol menghendaki bapak untuk menghadiri acara Penilaian Lomba Desa di Balai Desa Grogol yang berlangsung pada hari Senin 2 April 2012. Miyanto, tetangga saya, mendapatkan undangan yang sama. Baik bapak maupun Miyanto bukanlah siapa-siapa, bukan perangkat desa, bukan pula pemegang kepengurusan apapun di desa. Singkat kata bapak dan Miyanto (dan warga yang lain) diperlukan kehadiranya di Balai Desa sebagai penggembira. πŸ˜€

Lomba Desa Grogol

Lomba Desa Grogol

Foto oleh Agung Thet

Meskipun akhirnya baik Bapak maupun Miyanto tidak hadir ke Balai Desa. Bukan bermaksud mbalelo. Permasalahannya adalah apa relevansi ‘penggembira’ dengan penilaian lomba. Β Gayeng regeng?

Sentiman Terhadap Lomba Desa

Sentiman Terhadap Lomba Desa

Pertanyaan yang diposting di dinding group facebook teman-teman di desa, Konco Ndeso, Β ini adalah salah satu dari banyak diskusi baik offline maupun online terkait masih relevankah format Lomba Desa seperti yang diikuti oleh Desa Grogol tercinta sekarang ini dalam mengukur pembangunan dan pertumbuhan desa. Meminjam kata satire, Lomba Desa apa Lomba Bethek? Pembangunannya atau seremonialnya?

Saya melihat munculnya pertanyaan dan diskusi semacam ini sangat wajar. Dan arahnya positif. Dari sini paling tidak bisa digunakan sebagai indikator untuk melihat arah pertumbuhan pola pikir, terutama pemuda-pemudi di Desa Grogol.

Sebuah pertanyaan “Apa manfaatnya?” merupakan hal yang alamiah ketika kita harus mengeluarkan uang (kenyataanya ada banyak iuran baik itu yang dipungut langsung dari KK maupun pungutan dari dana kas kelompok), waktu tenaga (untuk bekerja bakti, memperbaiki pagar, sarana umum secara dadakan dan meluangkan waktu sebagai penggembira di Balai Desa pada hari H -nya) dan kondisi psikologis yang memanas karena rencana pemerintah menaikan harga BBM bersubsidi. (kenyataanya meskipun harga BBM belum jadi naik, tetapi harga-harga kebutuhan masyarakat mendahului naik)

Seorang tetangga saya yang berprofesi sebagai buruh tani, yang kebetulan menjanda, suatu kali mengeluhkan pekarangannya yang cukup luas yang dikelilingi jalan. Ia pusing dengan uang yang harus ia belanjakan untuk membeli bambu untuk gapit pagar yang jumlahnya tidak sedikit, dan masih harus membayar tenaga kerja untuk menyelesaikan bethek yang bukan jenis pekerjaan wanita.

Ala Indonesia memang apa-apa serba mendadak. Infrastruktur, sarana dan prasarana dipersiapkan ‘dalam rangka’ Penilaian Lomba Desa. Ibu Rumah Tangga tetangga saya berhari-hari lemburan mengerjakan kelengkapan dan buku administrasi kegiatan di lingkungan dimana saya tinggal. Bisa dibayangkan bila buku keuangan, dokumentasi, notulen rapat, dan sejenisnya dikerjakan lembur demi nilai. Saya tidak mengatakan mereka memanipulasikan lhooo, hehehe Β Dan lain-lain, dll dll.

Dalam hal ini saya lihat yang menjadi permasalahan adalah format Lomba Desa yang digunakan yang sepintas dari kejauhan terlihat sebagai warisan saklek dari jaman Orde Baru. πŸ˜€

Saya punya angan-angan seperti ini:

  • Dalam suatu periode Lomba Desa, Desa itu dipertandingkan dengan desa-desa lain dalam satu kecamatan atau desa-desa yang bertetangga. Misalnya Desa Grogol, Desa Plembutan, Desa Pampang, Desa Karang Asem.
  • Penilaiannya, sebaiknya penilaiannya dilakukan dalam satu tahun atau dalam 6 bulan. Bukan satu hari seperti model yang digunakan sekarang.
  • Apa yang dinilai, bisa diantaranya adalah tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan perangkat desa (instrumen dan indikatornya merupakan masalah teknis yang bisa didiskusikan bersama), pertumbuhan pendidikan, pertumbuhan perekonomian, tingkat pengembalian kredit, keamanan lingkungan, pelayanan kesehatan, indeks korupsi, dan lain-lain. Olah raga, kesenian, budaya, kehidupan beragama bisa dimasukan kedalam penilaian.
  • Apa lagi … ? (silakan ditambahkan)

Inti dari ide saya ini adalah bagaimana Lomba Desa bisa memberi manfaat sebaik-baiknya bagi masyarakat. Makin baik manfaat kegiatan Lomba Desa bagi masyarakat otomatis akan meningkatkan partisipasi dan dukungan dari elemen masyarakat tanpa rasa ngowel dan keterpaksaan.

Lomba Desa bukanlah selalu identik menang kalah dan bubar cangak gulung tenda begitu penilaian lomba selesai dibacakan. πŸ™‚

Awan Melintang

Awan Melintang di Atas Desa

Awan Melintang di Atas Desa

 

Awan melintang seperti ini, di daerah dimana saya tinggal, pada tahun 2006 sempat dikait-kaitkan dengan gempa besar yang menjadi bencana di Yogyakarta dan sekitarnya. Memang tidak ada bukti ilmiah yang bisa menjelaskan keterkaitan awan melintang dengan gempa, maka sore tadi ketika awan ini saya lihat, dan saya menfoto-foto awan itu untuk kemudian men-tweet-nya, saya memberikan hashtag #takhayul. Hal itu memang saya anggap sebagai takhayul sampai ada yang bisa memberikan penjelasan ilmiah. πŸ™‚

Langit senja tadi lama-lama menjadi kelihatan makin indah makin asyik untuk di-tweet-kan. Boleh foto-foto-nya dilihat di tweet-tweet berikut:

 

 

Selamat Sore (dari Ladang Jagung)

Karangmojo B : Selamat sore

Karangmojo B : Selamat sore

Langit sore yang indah di atas hutan di sebelah barat desaku (hutan Nggagakan) membuatku tidak tahan untuk tidak menggenapi ucapan selamat pada hari ini. Selamat sore. Dengan foto ini berarti aku sudah memuat tiga foto langit. Langit pagi Selamat Pagi, langit siang dan kali ini langit sore. Dasar pecinta langit. πŸ˜€

Ngomong-ngomong masih ingat ceritaku bertanam jagung pada awal November tahun lalu? Atau belum baca? Kalau belum atau sudah lupa silakan baca di Menanam Jagung Jangan Jemu-Jemu di sini. Ceritanya seru. hehe

Cerita itu akan segera berakhir secara Happy Ending. Sore ini tadi, aku dan adiku menengok ladang-ladang yang kami tanami jagung itu. Tanaman jagung tumbuh cukup bagus. Tongkol jagung besar-besar. Satu buah jagung yang aku coba kopas memamerkan biji-biji jagung berwarna kuning keemasan. Minggu-minggu ini sudah siap panen. πŸ™‚

Karangmojo B : Tongkol Jagung

Karangmojo B : Tongkol Jagung

Foto-foto lebih banya dapat dilihat di Album Google+ di sini.