Angin Kencang dan Pohon Tumbang

Desember sampai pertengahan Januari ini cuaca di desa dimana saya tinggal hanya menyisakan beberapa hari saja dengan cuaca cerah. Selebihnya mendung, hujan dan hujan lebat. Bahkan mulai kemarin malam dibuat dramatis oleh angin kencang. Situasi seperti ini tidak hanya terjadi di desa dimana saya tinggal ya? Apa yang saya baca di twitter dan facebook, angin kencang terjadi dimana-mana di banyak tempat.

Saya tidak tahu itu jenis angin kencang apa. Yang jelas angin yang mulai bertiup kencang sejak tengah malam kemarin (hari Rabu malam) sampai kemarin petang telah merobohkan banyak pepohonan di lingkungan tinggal. Tentu saja pepohonan yang tumbang itu banyak yang menimpa rumah, kandang-kandang serta tanaman. Celakanya lagi pepohonan tumbang itu juga menimpa jaringan listrik. Jadi listrik yang mati karena kerusakan jaringan kabel menjadikan petang kemarin terasa sangat mencekam. Suasana mencekam sedikit berkurang setelah sekitar jam 8 malam petugas PLN berhasil mengatasi masalah jaringan.

Angin kencang yang menyertai musim hujan seperti kemarin, mudah-mudahan angin kencang ini tidak berkepanjangan, bukan terjadi untuk yang pertama kalinya. Beberapa tahun yang lalu juga pernah terjadi. Angin kencang sebagai “ketentuan alam” yang belum banyak mengerti tentu tidak banyak yang bisa dilakukan kecuali masyarakat berusaha meminimalkan kerusakan akibat angin dan segera memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan.

Seperti kemarin warga di desa dimana saya tinggal segera menyingkirkan pepohonan yang tumbang dan segera memperbaiki atap-atap rumah yang rusak tertimpa pohon. Atap rumah yang bocor tentu saja harus diperbaiki segera. Akan tidak nyaman sekali air hujan menerobos masuk rumah melalui bocoran atap.

memangkas_pohon

memangkas_pohon_2

 

 

Musim Bertanam Padi Tiba

Meski agak terlambat, tetapi musim tanam padi sawah di desa dimana saya tinggal akhirnya tiba. Musim hujan tahun ini memang terlambat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Terlambat sekitar satu setengah bulan. Sudah begitu, sampai saat ini curah hujan juga belum begitu bagus.

Musim hujan yang kadang terlambat kadang datang lebih cepat dan curah hujan yang kadang kurang kadang berlebih adalah realitas. Kenyataan yang selalu bisa dihadapi dengan wajah bersahaja oleh petani, terutama petani yang ada di desa dimana saya tinggal. Bagaimana pun petani wajib berusaha, harus “menanam”. Bukankah rejeki itu sudah ada yang mengatur. Tuhan. 🙂

Mencangkul Sawah

Mencangkul Sawah

Menanam Padi

Menanam Padi

 

Perlakukan Air Seperti Dirimu Ingin Diperlakukan, Demi Kualitas Kehidupan

Di desa dimana saya tinggal, kekeringan dan pemenuhan kebutuhan air bersih adalah masalah tersendiri bagi masyarakat. Masalah yang sudah terjadi sejak jaman nenek moyang. Masalah yang salalu berulang setiap tahun. Sampai sekarang belum ditemukan solusi terpadu yang benar-benar bisa mengentaskan masyarakat di desa dimana saya tinggal dari permasalahan ketercukupan air bersih. Kabar akan dibangunnya pipa-pipa jaringan distribusi air bersih oleh pemerintah untuk mengalirkan air dari situs Ngobaran, kabar pengangkatan air dari sungai bawah tanah di gua  Bribin dan kabar-kabar manis yang lain, semua sebatas masih kabar burung yang begitu cepat dibawa angin lalu.

Masyarakat di desa dimana saya tinggal tidak perlu diajari bagaimana berhemat air. Alam sudah mengajarkanya dengan baik, kalau tidak bisa disebut alam memaksakan bahwa hemat air itu prinsip. Bagaimana tidak, di desa dimana saya tinggal, setiap tahunnya air akan segera menghilang beberapa waktu begitu musim hujan berakhir, begitu musim kemarau tiba. Apalagi bila terjadi kemarau panjang, seperti yang baru saja berakhir bulan ini. Lapisan tanah berbatuan kapur pegunungan dimana di atasnya desa saya berdiri tidak pernah bisa menahan kandungan air dalam jumlah yang cukup dalam waktu lama.

Sumur-sumur tadah hujan tradisional yang dibuat oleh masyarakat di desa dimana saya tinggal, baik itu sumur-sumur yang digali di pekarangan masing-masing maupun sumur-sumur umum yang dibuat di tempat-tempat yang diperkirakan merupakan sumber air, dirasakan saat ini menjadi lebih mudah kering begitu musim kemarau tiba. Air di sumur-sumur dirasakan lebih cepat habis dibandingkan 5 apalagi 10 tahun yang lalu. Padahal sumur-sumur inilah penopang utama kebutuhan air bersih untuk air minum, kebutuhan rumah tangga, sanitasi dan lain-lain.

Bila air di sumur-sumur ini dirasakan mulai menipis, maka sebagian masyarakat di desa dimana saya tinggal akan mulai memanfaatkan air di sungai yang membentang membelah desa kami. Masyarakat di desa dimana saya tinggal terpaksa berbagi menggunakan air yang yang tersisa di sungai. Jangan membayangkan air mengalir di sungai ini di musim kemarau. Air pada musim kemarau di sungai ini merupakan air yang diam dan sudah tidak jernih, tidak mengalir karena sungai ini dibendung agar air tidak cepat habis. Dan jangan pula  membayangkan air yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga itu melewati proses pengolahan air seperti yang kita lihat di instalasi pengolahan air bersih seperti milik PT Jababeka Water Treatment Plant di Bekasi itu. Bahkan air kebutuhan rumah tangga merupakan air yang sama yang digunakan untuk mencuci, menyiram tanaman, mandi dan memandikan hewan ternak sekalipun.

Bagi Anda, saya percaya akan sulit untuk membayangkan bagaimana hidup sehat dan higienis di sini dijaga. Baca lebih lanjut

Pohon di Hutan Pindahan ke Desa

Inline image 1

Mengambil foto panorama tidak semudah yang saya bayangkan. Saya mencoba beberapa kali sampai mendapatkan foto yang agak nyaman dilihat. Masih jauh dari indah, apalagi artistik. Memang saya hanya memanfaatkan fitur panorama sederhana di ponsel Android saya.

Foto di atas saya ambil sore tadi di lokasi Lor Cangkring. Lor Cangkring dulunya merupakan hutan. Sekarang statusnya masih hutan. Hutan kayu putih yang oleh pihak kehutanan diserahkan kepada masyarakat petani untuk menggarapnya dengan sistem tumpang sari.

Dari tanah Lor Cangkring saya memutar pandangan dari arah paling barat sampai sudut paling timur. Di sebelah barat terlihat tanah Budha, tanah Bangsal, tanah Glempeng, dan lain-lain. Sementara di timur merupakan pedesaan. Desa dimana saya tinggal. Desa Grogol.

Ada sesuatu yang menarik bagi saya ketika melihat-lihat panorama alam dari lokasi tanah Lor Cangkring ini.

Di sebelah barat saya melihat lahan sangat terbuka. Sedangkan di bagian timur, di pedesaan, terlihat rimbun dengan pepohonan tinggi yang mulai menghijau. Secara sekarang sudah tiba musim hujan.

Hal bagus bahwasanya di pedesaan sekarang ini masyarakat sudah banyak menanam pepohonan di kebun mereka. Pepohonan yang beraneka ragam. Mulai pohon Jati, Mahoni dan sebagainya. Ada banyak pohon jati yang telah ditanam di desa dimana saya tinggal.

Menjadi terlihat ironis di sini barat yang hampir tidak ada pepohonan tinggi adalah tanah yang seharusnya diperuntukan sebagai hutan.

Konon dahulu kala jaman para nenek moyang, di tanah Nggagaan, Budha, Lor Glempeng, Lor Bangsal, Ngoro-Oro merupakan hutan lebat dengan pepohonan jati yang besar-besar. Pepohonan beraneka yang tinggi di hutan itu masih terjaga baik sampai seingat saya, saya berusia Sekolah Dasar.

Hutan sebelah barat desa dimana saya tinggal mengalami kerusakan besar-besaran ketika penjarahan marak pada sekitar tahun 1997/1998. Entah kenapa pada saat itu hampir semua orang, baik penduduk desa maupun orang yang tidak jelas datang darimana semua kalap menjarah kayu-kayu hutan. Aparat keamanan hutan pada saat itu tidak cukup berdaya mengatasi penjarahan itu.

Kini semuanya serba terbalik-balik. Tanah yang seharusnya hutan tidak berpepohonan. Sementara tanah yang digunakan untuk pemukiman malah banyak ditanami pohon. Idealnya memang pemukiman pun harus banyak pepohonan. Dan pepohonan lebih banyak lagi seharusnya di tanah hutan.

Desa Grogol, Mencukupi Kebutuhan Air Bersih

Di desa dimana saya tinggal –hehe, entah kenapa saya suka sekali menggunakan frasa “di desa dimana saya tinggal”– sumur merupakan sumber utama air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Turun temurun dari nenek moyang sudah begitu. Tidak banyak yang berubah sampai sekarang. Bila ada yang berubah itu adalah jumlah sumur yang ada sekarang jauh lebih banyak. Seperti yang pernah saya tuliskan di sini.

Seperti halnya di desa-desa lain di Gunungkidul yang terkenal kering, masalah yang sama juga dihadapi oleh masyarakat di desa dimana saya tinggal. Masalah air atau kekeringan pada musim kemarau seperti yang terjadi sekarang ini. Masalah yang umum terjadi rutin berulang setiap tahun. Masalah yang tidak mudah diselesaikan oleh masyarakat desa dimana saya tinggal.

Untuk bertahan hidup dan menenuhi kebutuhan air, apa yang bisa dilakukan oleh warga –anggota masyarakat– baru diantaranya membuat sumur di hampir di tiap rumah tangga dan baru-baru ini membuat bak-bak penampungan. Bak-bak penampungan itu ada yang dibangun sendiri oleh warga dan ada pula yang dibangun dengan berbagai program pemerintah dan bantuan sosial. Sumur dan bak penampungan air itu digunakan untuk tandon/menyimpan air tangki yang dibeli oleh warga bilamana air sumur sudah habis.

Belum ada upaya terintegrasi untuk mengatasi masalah air bagi masyarakat. Sampai sekarang.

Sedikit harapan akan jawaban bagi permasalahan air di musim kemarau pernah ada pada tahun 2009. Ketika di pekarangan Pak Ngadiyono, Pejabat Keamanan Desa Grogol, ditemukan sumber air. Di tempat dimana sumber air itu berada kemudian dibangunlah sumur bor dan dibangun instalasi untuk mengangkat air tanah. Menara penampungan air sudah dibangun, begitu pula dengan pompa air bertenaga diesel sudah terpasang dan air pada saat itu bisa diangkat.

Beberapa waktu kemudian masyarakat makin optimis dengan keberadaan sumber air dan instalasi eksploitasi air bersih di pekarangan rumah Pak Ngadiyono di dusun Senedi. Masyarakat kemudian bahu membahu dengan berbagai cara membangun jaringan pipa untuk mengalirkan air bersih yang diangkat dari sumber air di pekarangan rumah Pak Ngadiyono. Jaringan itu seyogyanya akan digunakan untuk mengalirkan air bersih ke bak-bak penampungan air di beberapa tempat di dusun Senedi dan dusun-dusun tetangga termasuk dusun Karangmojo B. Bapak saya pun dulu bersama-sama warga yang lain turut bekerja bakti membangun jaringan pipa.

Proyek pembangunan jaringan air bersih itu dulu pernah saya ceritakan di sini.

Sayangnya entah kenapa, Instalasi pengangkat air bersih di lokasi pekarangan rumah Pak Ngadiyono sejak beberapa lama sudah tidak berfungsi. Bahkan sebelum banyak warga yang bekerja bakti memasang jaringan pipa turut menikmati percikan kesegaran air bersih itu. Saya tidak tahu apa masalah terhentinya aliran air bersih itu. Apakah ada kerusakan mesin. Atau sumber air yang sekarang habis.

Nah, akhir-akhir ini, masyarakat di desa dimana saya tinggal sedang semangat-semangatnya membangun jaringan air bersih yang bersumber dari dusun Toboyo desa Plembutan, dari sumur milik Mas Su. Masyarakat membangun jaringan itu bisa dikatakan secara swadaya, dengan ongkos jaringan yang bervariasi. Biaya ditentukan diantaranya oleh jarak rumah dengan ketersediaan jaringan pipa yang sudah ada. Kalau tidak salah antara 1,5 sampai 2,5 juta. Pembangunan jaringan pipa air bersih ini dulunya dimulai oleh penduduk dusun Grogol. Sekarang jaringan sudah meluas sampai dusun Karangmojo A, Karangmojo B, Senedi, bahkan akan ke dusun Gerjo.

Saya sendiri memang belum ikut memasang jaringan pipa air bersih ini. Namun apa yang menarik adalah kegigihan masyarakat desa Grogol untuk menyelesaikan permasalahan air secara mandiri. Tanpa mengharapkan bantuan dari pihak lain. Apalagi bantuan pemerintah.

Dalam ngobrol-ngobrol saya dengan Agung beberapa waktu lalu, kami pun belum tahu pasti kebijakan pemerintah desa Grogol seperti apa terkait pemenuhan kebutuhan air bersih untuk masyarakat. Permasalahan air bersih merupakan permasalahan masyarakat. Kebutuhan Air Bersih adalah hal strategis. 🙂

Tulisan terkait:

Karangmojo B Menyembelih Hewan Kurban

Begitu selesai melaksanakan shalat Ied di Lapangan Desa Grogol, jamaah segera bergegas ke masjid masing-masing untuk melakukan penyembelihan hewan kurban. Penyelesaian hewan kurban pada hari itu harus bergegas mengingat hari kurban bertepatan dengan hari Jum’at. Seyogyanya masyarakat/jamaah menginginkan daging kurban selesai dibagikan sebelum waktu shalat Jum’at.

Saya dulu pernah mendengar jikalau shalat Ied bertepatan dengan hari Jum’at, maka bagi pria yang sudah melaksanakan shalat Ied tidak dikenakan kewajiban shalat Jum’at. Saya sendiri memang tidak tahu pasti apakah hal itu benar. Jadi untuk amannya kami tetap shalat Jum’at. Lagi pula sekarang masjid jami’, masjid yang digunakan untuk shalat Jum’at ada dimana-mana dan mudah dijangkau. Termasuk di dusun dimana kami tinggal.

Informasi Perolehan Korban di Desa Grogol

Dusun Grogol 6 sapi 6 kambing
Dusun Karangmojo a 4 sapi 7 kambing
Dusun Karangmojo b 4 sapi 2 kambing

Dusun Senedi 2 sapi 11 kambing
Dusun Gerjo 4 sapi 5 kambing
Dusun Tungu 4 sapi 11 kambingTotal 24 sapi 42 kambingJumlah ini bisa bertambah sewaktu-waktu

Informasi perolehan kurban ini kemarin diumumkan oleh Pak Edhi Kusmiyanto menjelang dilaksanakan shalat Ied. Persis seperti yang kemudian saya posting di group facebook Konco Ndeso. Jadi bila Anda ingin mendapatkan update tentang apa yang terjadi di desa bisa bergabung di group ini.
Jumlah hewan kurban yang banyak ternyata bukan halangan untuk menyelesaikannya sesuai target sebelum shalat Jum’at. Begitu pun di Masjid At Taqwa Karangmojo B yang di’pangegani’ oleh Pak Suradi. Tentu saja dengan partisipasi semua warga.
Benar bila ada yang mengatakan bahwa Kurban sebenarnya merupakan ibadah sosial. Dalam penyelesaian hewan kurban semua masyarakat berpartisipasi. Tua muda remaja bahkan anak-anak. Tidak ada kelas-kelasan sosial. Semua turun tangan memegang daging tulang bahkan jeroan hewan kurban. Kecuali saya, saya malah asyik foto-foto. hehehe
Berikut ini cerita saya dalam foto ponsel:
Penyembelihan Hewan Kurban di Dusun Karangmojo B

Penyembelihan Hewan Kurban di Dusun Karangmojo B

Pak Suradi, penyembelihnya adalah yang berkaos merah

Pak Suradi, penyembelihnya adalah yang berkaos merah

Foto-foto lebih banyak bisa dilihat di Album Google + saya di :

https: //plus.google.com/u/0/photos/110405561136709185275/albums/5803468131848642001

Iedul Adha 1433 H / 2012 M

Di desa dimana saya tinggal, di desa Grogol, shalat Iedul Adha tahun ini diselenggarakan pada hari Jum’at, 26 Oktober 2012 di lapangan desa Grogol. Di desa ini, shalat Ied memang diselenggarakan di tanah lapang, kecuali bila turun hujan. Bila turun hujan maka terpaksa dilaksanakan di Masjid Ki Ageng Pemanahan yang tentu saja tidak cukup untuk menampung jamaah satu desa.

Lapangan Desa Grogol, Tempat diselenggarakan Shalat Ied Adha

Lapangan Desa Grogol, Tempat diselenggarakan Shalat Ied Adha

Shalat Ied kali ini dilaksanakan pada pukul 06:30 WIB mengingat saat ini masih musim kemarau yang panas. Panitia Shalat Ied tidak ingin kekhusukan shalat tertanggu oleh terik panas bila shalat dilaksanakan pada pukul 07:00 WIB seperti biasanya.

Nampak di bawah ini jamaah yang sudah berduyun-duyun menuju lapangan desa.

Menuju Lapangan Desa

Menuju Lapangan Desa

Selanjutnya foto-foto berikut adalah sebagai ganti untuk melanjutkan cerita dari paragraf-paragraf sebelumnya:

Memilih Shaf yang lebih depan

Memilih Shaf yang lebih depan

Korban tahun sebelumnya:

 

Wacana Pencalonan Kepala Dusun (Dukuh) Karangmojo B

Kira-kira 2 tahun lagi, masa jabatan Kepala Dusun (atau disebut Dukuh) di dusun dimana saya tinggal yaitu dusun Karangmojo B akan berakhir. Apabila masyarakat menginginkan untuk memiliki seorang kepala dusun atau dukuh yang baru maka setelah berakhirnya masa jabatan kepala dusun saat ini akan diadakan pemilihan kepala dusun baru.

Pemilihan kepala dusun baru untuk pedukuhan Karangmojo B sebagai penerus kepala dukuh yang akan berakhir masa jabatannya akhir-akhir ini menjadi wacana yang mulai dibicarakan oleh beberapa warga yang peduli dengan masa depan dusun Karangmojo B. Di antaranya hal inilah wacana yang menjadi diskusi dengan Pakdhe saya yang sudah sepuh. Untuk diketahui Pakdhe saya, Pakdhe Tasiman adalah seorang ketua RT yang telah lebih dari 20 tahun mengabdikan diri.

Wacana tentang kepala dusun Karangmojo B ini bahkan dua tahun yang lalu pernah menjadi diskusi antara saya, Ersyad ‘Bagong’ dan teman-teman saya yang lain. Saat itu Ersyad menceritakan tentang pengalamanya menanyai seseorang yang pernah berkeinginan menjagokan diri sebagai calon kepala dusun Karangmojo B.

Pertanyaannya kira-kira begini, “Apakah kelak kamu akan jadi mencalonkan diri sebagai dukuh?” tanya Ersyad. “Kalau aku masih belum punya kerjaan yang baik seperti sekarang, iya” jawab seseorang itu. “Jadi kamu mencalonkan diri sebagai dukuh itu mung sak emplokan (hanya demi sesuap nasi), bukan karena jiwa pengabdian untuk memajukan dusun?” Ersyad menutup pembicaraan itu.

Tentu saja kesimpulan Ersyad adalah seseorang yang ditanyai itu sama sekali bukan orang yang layak untuk menjadi kepala dusun Karangmojo B.

Pakdhe Tasiman pun dalam pandangannya telah ‘njlentrehke‘ betapa tidak mudahnya mencari calon kepala dusun yang baik dan berjiwa pengabdian. Ada banyak hal menurut pakdhe Tasiman mengapa pemuda-pemuda yang dipandang layak menjadi kepala dusun tetapi enggan tidak mau mencalonkan dan dicalonkan sebagai kepala dusun.

Salah satu hal mengapa mencalonkan/dicalonkan sebagai kepala dusun tidak menarik bagi pemuda yang baik-baik adalah biaya. Hitungan kasar Pakdhe saya, untuk menjadi seorang kepala dusun memerlukan biaya setidaknya 20 juta. Uang 20 juta untuk ukuran dusun dimana saya tinggal adalah nominal yang tidak kecil. Apalagi dibandingkan dengan gaji dan jatah tanah bengkok (lungguh) untuk seorang kepala dusun.

Uang 20 juta itu digunakan untuk apa? Pertanyaan saya lagi kepada pakdhe saya yang dijawab bahwa uang itu nantinya akan digunakan untuk diantaranya kepanitiaan pemilihan kepala dusun –panitia kepala dusun akan terdiri dari pemerintah desa, LMD, tokoh masyarakat, dll–, kampanye agar dipilih masyarakat dan pelantikan kepala dukuh.

Jadi secara kasar dan sementara keberadaan panitia pemilihan dan pelantikan kepala dusun lah yang menjadi faktor penyebab mahalnya menjadi kepala dusun/dukuh.

Bagi saya sendiri muncul beberapa  pertanyaan dan ide agar proses pemilihan kepala dusun Karangmojo B bisa menjaring calon-calon kepala dusun yang berkualitas. Bukan calon kepala dusun yang mencalonkan diri demi pekerjaan dukuh sesuap nasi. Bagaimana bila pemilihan kepala dusun Karangmojo B dibuat semurah mungkin. Bagaimana bila panitia pemilihan kepala dusun disusun dari orang-orang yang mau berjuang tanpa pamrih. Kata Pakdhe saya dan teman-teman malah menegaskan bahwa yang membutuhkan kepala dusun itu masyarakat Karangmojo B, bukan Panitia Pemilihan Kepala Dusun. Saya kira di dusun Karangmojo B dan di Desa Grogol masih ada orang yang berhati mulia tulus ikhlas memajukan peradaban umat manusia. Bagaimana bila pelantikan kepala dusun nantinya dilakukan secara sederhana semurah-murahnya. Bagaimana bila nantinya bentuk dan teknis kampanye diatur untuk meminimalisasi money politic dan segala bentuk pemborosan.

bersambung

e-KTP Sampai Sekarang Belum Jadi, Terus Kapan Jadi?

Pada tanggal 24 November 2011 saya menuliskan tentang pengalaman saya sendiri mengikuti tahapan dari proses pembuatan e-KTP di kecamatan Paliyan yang sudah saya tuliskan di sini. Mengherankanya sampai hari ini tanggal 1 Oktober 2012, sudah hampir satu tahun dari proses pembuatan e-KTP itu, saya belum menerima e-KTP.

e-KTP saya belum jadi. Sama seperti nasib banyak warga di desa dimana saya tinggal yang sampai saat ini belum menerima e-KTP. Saya sendiri tidak menganggap aneh proses pembuatan e-KTP yang tidak jelas akan selesai kapan. Meskipun saya akui saya juga berharap dapat segera memegang e-KTP. 🙂

Beberapa unek-unek saya mengenai e-KTP pernah saya tuliskan di sini, di sini, di sini, di sini dan yang ini. 🙂

Regenerasi “Jayeng”

Telah saya tuliskan berulang-ulang, bahwa sejak dulu, di desa dimana saya tinggal, teh merupakan minuman default untuk setiap acara. Apa yang saya lihat di hajatan pada beberapa waktu lalu pun belum berubah. Termasuk siapa peramu sajian teh (jayeng) untuk acara hajatan di desa dimana saya tinggal. Masih bapak-bapak yang ini dan itu saja. Bapak-bapak yang sudah mengabdi sebagai jayeng desa sejak saya masih kecil.

Jayeng di Acara Hajatan

Jayeng di Acara Hajatan

Tidak ada regenerasi. Sampai sekarang belum kelihatan ada pemuda yang berminat meneruskan pengabdian bapak-bapak itu untuk menyajikan kekhasan wedhangan dalam acara-acara hajatan, gotong-royong, sambatan, rembug desa, dan lain-lain. Dulu sebenarnya saya berharap kepada teman saya, yaitu Si Kus dan Sutan yang di antara teman sebaya adalah yang paling piawai dalam meramu teh. Namun mereka sekarang telah memilih jalannya untuk mengadu nasib di rantau.

Saya jadi termenung membaca komen Pak Hery Nugroho di suatu foto yang saya unggah di jejaring sosial. Kalau tidak ada regenerasi, akankah kelak wedhang teh ini kedudukanya dalam sebuah hajatan, sambatan, gotong-royong, gugur gunung dan acara rembug desa akan digantikan oleh teh botol dan teh kotak.

Bukan hal yang mengada-ada karena saat ini gelas-gelas air putih di meja prasmanan telah digantikan oleh botol-botol air kemasan ukuran gelas.

Pramu Ladi/Juru Ladi di Acara Hajatan

Pramu Ladi/Juru Ladi di Acara Hajatan

Masih di acara hajatan yang sama di desa dimana saya tinggal. Seharusnya Pramu Ladi/Juru Ladi merupakan tugas para pemuda di suatu desa. Namun foto di atas bercerita sebaliknya. Dengan wajah-wajah lama yang tetap eksis. …

Ada satu pertanyaan, apa tugas-tugas seperti ini memang sudah sampai pada masanya di-out sourcing-kan? Dimana keluarga yang punya hajatan tinggal membayar sejumlah uang kepada penyedia layanan pesta dan terima beres saja tanpa keterlibatan lingkungan sosial dimana mereka tinggal. 🙂 Dengan kata lain sistem sosial yang makin individualis menjadi mudah diterima.