Memotret Sunrise Berbalut Kabut di Watu Payung – Gunungkidul

Memotret Sunrise berbalut kabut di Watu Payung - Turunan Geoforest Panggang Gunungkidul

Memotret Sunrise berbalut kabut di Watu Payung – Turunan Geoforest Panggang Gunungkidul

Mulanya saya mengira sunrise berbalut kabut di Watu Payung – Turunan Geoforest Gunungkidul hanya bagus dinikmati setelah bulan Mei. Setelah posisi matahari terbit mulai tergelincir sedikit ke utara.

Pengalaman beberapa kali gagal mengejar sunrise di Watu Payung ketika hujan masih turun lebat pada bulan Februari – Maret lalu yang membuat saya berpikir demikian. Saat itu pemandangan kabut tebal memang saya akui luar biasa. Kabut turun menembus rimbunnya hutan jati. Bahkan sampai bertekuk lutut ke tanah, kepada semua rerumputan yang menghuni pegunungan karst sisi utara kecamatan Panggang itu.

Masalahnya posisi matahari terbit terhalang oleh sebuah bukit (punthuk) di sebelah tenggara gardu pandang. Matahari baru nampak bila sudah naik setinggi dua atau tiga penggalah. Baca lebih lanjut

Mencicipi Kopi Gayo

Oleh Oleh Kopi Aceh Gayo

Oleh Oleh Kopi Aceh Gayo

Bila ada yang degdegan setelah minum beberapa cangkir kopi, saya belum minum kopi saja sudah degdegan. Baru mencium aroma kopi saja sudah membuat saya degdegan. Tentu bukan jenis kopi saset/kopi instan lho ya.

Apalagi kemarin petang. Ketika adik saya membuka kopi Gayo oleh-oleh dari temannya yang merantau ke Aceh. Semerbak aroma kopi itu membuat saya degdegan tak karuan. Mirip-mirip degdegan mau ketemu gebetan tapi mau nyapa duluan malu-malu. Ditawari dibikinin kopi sama adik, saya pun setengah hati. Pengen tapi takut maag kambuh. Ini derita mantan penyuka kopi tapi belakangan punya masalah lambung. Baca lebih lanjut

Kuliner Malam Paliyan: Bakmi Jawa Pak Kamto

Bakmi Jawa "Pak Kamto" Depan Pasar Trowono Paliyan Gunungkidul Yogyakarta

Bakmi Jawa “Pak Kamto” Depan Pasar Trowono Paliyan Gunungkidul Yogyakarta

Habis menikmati indahnya matahari tenggelam di Pantai Laut Bekah di Panggang – Gunungkidul, kami ingin menuntaskan perjalanan dengan menikmati kuliner malam di sekitar Pasar Trowono.

Meski di sepanjang jalan kami pulang ada banyak pilihan kuliner, namun apa yang langsung ke pikiran adalah Bakmi Jawa di sebelah barat Pasar Trowono. Saya mendadak ingat dengan nenek penjual bakmi yang pernah saya kunjungi beberapa tahun yang lalu.

Saya pun  langsung mengajak adik saya, Sumar dan Mas Teguh ke sana. Sayangnya sesampai di sana, rupanya penjual bakmi yang rasa dan porsinya tak terlupakan itu belum siap. Sudah nampak buka namun belum bisa melayani pembeli.

Daripada lama menunggu, tadi malam kami memilih untuk mencari kuliner yang lain. Sempat bingung antara sate dan tongseng dengan bakmi yang lain, akhirnya pilihannya jatuh ke Bakmi Jawa “Pak Kamto”. Baca lebih lanjut

Syawal Run, Kembali ke Jalan yang Benar

Syawal Run, I am back to the road

Syawal Run, I am back to the road

Kapan waktu terbaik untuk memulai lari lagi. Jawabannya adalah: sekarang. Sekarang itu kapan? Bagi saya, “sekarang” itu adalah kemarin pagi.

Saya sudah kembali ke jalan yang benar lagi sejak kemarin. Alhamdulillah. Pelukan kemalasan habis lebaran bisa saya singkirkan. Kabut pagi yang tebal bisa tertepiskan oleh niat baik.

Hari pertama kembali ke jalan tidak perlu jauh-jauh, hihi. Cukup lari sejauh 3 km saja dengan pace mudah. Toh tidak baik untuk memaksakan diri setelah hiatus sebulan penuh selama lebaran. Yang dipaksa kemauannya saja.

Bismillah, ini adalah bagian dari komitmen saya untuk belajar menjalani latihan dengan baik. Ujiannya tinggal beberapa bulan lagi. Ujiannya adalah Jakarta Marathon yang dijadwalkan pada hari Minggu, 23 Oktober 2016 ini.

Semangat.

Iedul Fitri 1437 H: Hari Penuh Silaturahmi

Iedul Fitri 1437H di Desa Grogol

Iedul Fitri 1437H di Desa Grogol

Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Ja alanallahu wa iyyakum minal aidzin wal faidzin. 

Semoga Allah menerima amalanku dan amalanmu. Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang kembali dan beruntung.

Iedul Fitri 1437H : Berangkat shalat Ied ke lapangan

Iedul Fitri 1437H : Berangkat shalat Ied ke lapangan

Di desa dimana kami tinggal, Hari Raya Iedul Fitri 1437H jatuh pada awal bulan Juli, tepatnya 6 Juli 2016. Bulan yang seharusnya sudah kemarau, dingin sudah mulai jatuh sejak semalam, namun aroma basah sisa hujan bulan Juni masih terasa menusuk hidung.

Iedul Fitri yang jatuh pada musim kemarau  membuat shalat hari raya leluasa dilaksanakan di tanah lapang. Tidak di dalam Masjid Pemanahan sebagaimana bila Ied di desa kami jatuh di kala hujan. Tahun-tahun ini kami mensyukuri betul nikmatnya cahaya matahari yang menghangatkan punggung-punggung ketika kami mengikuti rangkaian shalat Ied. Baca lebih lanjut

Puas Kecewa 3 Kali Bukber di Taman Kuliner Wonosari

Taman Kuliner yang baru dibuka oleh Pemda Gunungkidul hanya beberapa hari sebelum bulan puasa baru-baru ini sukses menjadi tempat pilihan orang-orang untuk menikmati Buka Bersama.

Live Music di Taman Kuliner Wonosari

Live Music di Taman Kuliner Wonosari

Sepanjang yang saya lihat, tiap jam 5 sore di sepanjang jalan baru penuh oleh sepeda motor yang telah rapi parkir berjajar. Pengunjung pun mulai tumpah ruah di area Tamkul. Tenda-tenda dan gazebo diisi oleh pengunjung yang sudah duduk menunggu waktu berbuka. Bahkan di halaman digelari tikar untuk digunakan pengunjung.

Saya sendiri selama Ramadan ini sudah 3 kali bukber di Taman Kuliner Wonosari. Kali ini saya akan menuliskan pengalaman saya bukber di Tamkul baru di Gunungkidul ini.

1. Taman Kuliner Wonosari : Sate Kambing Mbah Darmo

Sabtu sore, 11 Juni 2016 saya bukber untuk pertama kali di Tamkul. Saya mengajak adik saya, Krismawati. Tiba di Tamkul sebelum jam 5 membuat kami leluasa untuk jalan-jalan meliha-lihat dan memilih tempat duduk.

Pilihan saya jatuh ke Sate Kambung Mbah Darmo. Memilih tempatnya pun di tenda depan lapak sate ini.

Sebelum waktu berbuka pesanan kami berupa 2 porsi sate sudah tersaji di atas tikar kami. Sate Kambingnya disajikan apik dan nampak menggoda selera. Tampilan sate yang cukup fotogenik sehingga pantas dipamerkan di IG dan di sini:

sate-kambing-mbah-darmo-taman-kuliner-wonosari

Tidak hanya bagus ditampilan, sate kambing Mbah Darmo saya akui cukup enak. Hanya sedikit alot.  Baca lebih lanjut

Mencari Persembunyian Curug Bangunsari

Dengan Merapal Aji Mumpung tingkat dewa, kami menuntaskan jalan-jalan Semin ke Curug Bangunsari. Rasa haus  di bawah terik setelah berkeliling Telaga Biru dan Candi Risan tidak lagi menjadi penghalang. Sekali lagi mumpung di Semin. Kalau tidak sekarang kapan lagi?

Dari arah Candi Risan kami mengambil belok kiri ke jalan desa di sebelah Gerbang Selamat Datang. Kurang lebih 1 km menyusuri jalan desa kami melihat panah ke arah curug. Ini bukan jalan aspal melainkan jalan yang terjal. Begitu terjalnya sehingga saya dan adik saya memutuskan untuk berjalan kaki saja.

Dusun Bangunsari merupakan pedesaan yang asri, teduh dan masih alami. Kanan kiri jalan yang kami titi adalah pohon-pohon besar menjulang tinggi dan rumpun-rumpun bambu yang terlihat wingit. Terasa lebih wingit ketika di sepanjang jalan jarang bertemu orang.

Merasa ragu karena kami sudah berjalan agak jauh namun tanda-tanda curug belum terasa, satu-satunya orang yang bisa kami tanya adalah seorang penambang batu. Untung saya bertanya, bila tidak, kami akan tersesat lebih jauh.

Seharusnya kami tadi berbelok ke arah jalan gang kecil, semacam lurung. Mengikutinya akan sampai ke Curug.

Panah Ke Arah Curug Bangunsari

Panah Ke Arah Curug Bangunsari

Tanda panah kecil ini terlihat melegakan. Seolah memberikan sebuah harapan yang sedikit lebih pasti. Panah ini mengarah ke sebuah sungai kecil. 

Baca lebih lanjut

Candi Risan di Semin, Tapak Tilas Peradaban di Gunungkidul

Pak Joko dan Krismawati di Depan Pintu Gerbang Candi Risan Candisari Semin Gunungkidul

Pak Joko dan Krismawati di Depan Pintu Gerbang Candi Risan Candirejo Semin Gunungkidul

Candi Risan dan Telaga Biru terletak di desa yang sama, Desa Candirejo Kecamatan Semin Gunungkidul Yogyakarta. Seharusnya lokasi candi ini tidak jauh dari lokasi pertambangan batu. Sayangnya Google Maps yang selalu saya andalkan gagal menunjukkan dimana persisnya Risan berada. Solusi yang saya ambil adalah turn by turn bertanya kepada penduduk setempat.

Beruntungnya orang terakhir yang saya tanyai adalah Pak Joko. Beliau kemudian kami ketahui sebagai penjaga situs purbakala Candi Risan. Beliau meminta kami untuk mengikutinya ke situs Risan, membuka pintu gerbang dan mempersilakan kami agar terlebih dulu mengisi buku tamu/buku pengunjung Candi Risan.

Dari buku tamu, kami jadi tahu, bahwa Candi Risan cukup sering dikunjungi. Pengunjung tersering adalah siswa-siswi sekolah-sekolah yang ada di Kabupaten Gunungkidul dan sekitarnya. Baca lebih lanjut

Telaga Biru yang Mengharu Biru

Haru Biru Telaga Biru di Ngemplak Candirejo Semin Gunungkidul

Haru Biru Telaga Biru di Ngemplak Candirejo Semin Gunungkidul

Mungkin karena Semin terletak di ujung timur laut Gunungkidul yang membuat tempat-tempat bagus di kecamatan ini kurang dikenal (baca: kurang saya kenal). Kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo – Jawa Tengah ini memang terbilang jauh dari pusat kota Wonosari. Apalagi dari desa dimana saya tinggal.

Sampai haru biru telaga biru yang menggemparkan  Instagram membuat orang-orang menjadi penasaran. Saya pun penasaran, apa betul Semin mempunyai destinasi baru yang semenakjubkan itu.

Ingin satu kali mengayuh sepeda dua tiga tempat apik gundul timur terkujungi, sehabis makan sahur saya menuliskan pertanyaan di facebook. Kira-kira begini: selain Telaga Biru, di Semin ada tempat bagus apa saja.

Dari jawaban teman-teman maya saya mencatat tiga tempat yang hari ini (Kamis, 30 Juni 2016) ingin saya kunjungi: Telaga Biru, Candi Risan dan Curug Bangunsari. Saya ingin mengunjungi ketiganya sekaligus karena tempatnya saling berdekatan. Sama-sama terletak di Desa Candirejo.

Telaga Biru Ngemplak Candisari Semin Gunungkidul

Telaga Biru Ngemplak Candisari Semin Gunungkidul

Baca lebih lanjut

Ramadan, Pantai Drini, Indrayanti dan Pok Tunggal

Selamat Pagi dari Pantai Drini - Gunungkidul

Selamat Pagi dari Pantai Drini – Gunungkidul

Selama kurang lebih sepekan pada awal Ramadan ini, ombak tinggi di laut selatan Jawa menyapu sepanjang sempadan pantai. Banyak fasilitas dan bangunan di sepanjang pantai selatan, terutama di Gunungkidul porak poranda. Sulit ditafsir berapa nilai kerusakan akibat ombak tinggi itu.

Ketika gelombang tinggi terjadi sebenarnya saya ingin ke pantai, melihatnya secara langsung. Sayangnya saat itu saya kesulitan membagi waktu. Saya kesampaian ke pantai setelah gelombang pasang usai. Tepatnya pada pagi hari, Minggu, 12 Juni 2016.

Tulisan saya kali merupakan pemenuhan janji saya di posting ini. Sekaligus bermaksud menceritakan pengalaman pertama saya tidak tidur sehabis subuh pada bulan Ramadan. 🙂

Destinasi pertama yang saya tuju pagi itu adalah Pantai Drini. Salah satu pantai yang menurut koran mengalami kerusakan cukup serius.  Baca lebih lanjut