Mencari Persembunyian Curug Bangunsari

Dengan Merapal Aji Mumpung tingkat dewa, kami menuntaskan jalan-jalan Semin ke Curug Bangunsari. Rasa haus  di bawah terik setelah berkeliling Telaga Biru dan Candi Risan tidak lagi menjadi penghalang. Sekali lagi mumpung di Semin. Kalau tidak sekarang kapan lagi?

Dari arah Candi Risan kami mengambil belok kiri ke jalan desa di sebelah Gerbang Selamat Datang. Kurang lebih 1 km menyusuri jalan desa kami melihat panah ke arah curug. Ini bukan jalan aspal melainkan jalan yang terjal. Begitu terjalnya sehingga saya dan adik saya memutuskan untuk berjalan kaki saja.

Dusun Bangunsari merupakan pedesaan yang asri, teduh dan masih alami. Kanan kiri jalan yang kami titi adalah pohon-pohon besar menjulang tinggi dan rumpun-rumpun bambu yang terlihat wingit. Terasa lebih wingit ketika di sepanjang jalan jarang bertemu orang.

Merasa ragu karena kami sudah berjalan agak jauh namun tanda-tanda curug belum terasa, satu-satunya orang yang bisa kami tanya adalah seorang penambang batu. Untung saya bertanya, bila tidak, kami akan tersesat lebih jauh.

Seharusnya kami tadi berbelok ke arah jalan gang kecil, semacam lurung. Mengikutinya akan sampai ke Curug.

Panah Ke Arah Curug Bangunsari

Panah Ke Arah Curug Bangunsari

Tanda panah kecil ini terlihat melegakan. Seolah memberikan sebuah harapan yang sedikit lebih pasti. Panah ini mengarah ke sebuah sungai kecil. 

Lapak Lapak Tak Berpenghuni di Sempadan Sungai Lapak Lapak Tak Berpenghuni di Sempadan Sungai

Lapak Lapak Tak Berpenghuni di Sempadan Sungai

Di seberang sungai apa yang kami dapatkan adalah semacam padang rumput atau oro oro. Di atasnya berdiri ada banyak lapak pedagang yang tak berpenunggu. Dari lapak yang nampak seperti yang ada di banyak bumi perkemahan itu kami menduga bisa jadi di sini adalah tempat yang ramai pada hari-hari tertentu. Atau sekarang sepi karena ini adalah bulan puasa?

Dua Pria Duduk di Balai Balai Bambu di Dusun Bangunsari Desa Candisari Kecamatan Semin - Gunungkidul

Dua Pria Duduk di Balai Balai Bambu di Dusun Bangunsari Desa Candirejo Kecamatan Semin – Gunungkidul

Masih kebingungan ke arah mana untuk menuju curug, kami menuju ke arah dua pria yang sedang duduk-duduk di balai balai bambu ini. Menurut mereka saya bisa meniti jalan setapak di pinggir sungai untuk sampai ke curug.

Masih menurut bapak-bapak itu, saya seharusnya memarkir motor tak jauh dari tempat mereka duduk-duduk. Untuk mudahnya seharusnya kami tadi tidak lewat Dusun Bangunsari, melainkan lewat Kabupaten Sukoharjo. Tepatnya melewati jalan di Desa Krajan, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo.

Baiklah Pak, lain kali kalau saya ke sini lagi. 🙂

Menuju ke Curug Bangunsari

Menuju ke Curug Bangunsari

Perjalanan ke arah Curug dilanjutkan. Ini ide yang ngawur. Alih-alih melewati jalan setapak seperti yang disarankan bapak-bapak tadi, saya dan adik saya malah melewati sungai. Melompat dari satu batu ke batuan yang lain. Sesekali terpeleset itu adalah takdir. hehe

Berpose di Curug Bangunsari - Candisari Semin Gunungkidul

Berpose di Curug Bangunsari – Candirejo Semin Gunungkidul

Berpose di dekat curug adalah pahala yang dibayarkan setelah ritual pejalan kaki jauh. Sayangnya rasa cape memaksa niat untuk persis ke bawah curug urung.

Curug Bangunsari Selagi Hujan Masih Turun di Bulan Juni

Curug Bangunsari Selagi Hujan Masih Turun di Bulan Juni

Tanpa kegaduhan pengunjung, Curug Bangunsari merupakan sebuah kontemplasi. Kami dibuatnya membaur dengan alam yang bertasbih. Bertasbih dengan gemericik air, hembus angin dan sesekali kicau burung. Menjadi betah berlama-lama di sini. Karena butuh mengistirahatkan kaki yang lelah, iya …

Curug Bangunsari merupakan air sungai kecil yang jatuh di bebatuan tebing yang tidak terlalu tinggi. Sepintas ketinggian air terjun ini sekitar 5 meter saja. Tidak perlu dibandingkan dengan Air Terjun Sri Gethuk atau Air Terjun Slempret. Daya tarik utama di sini adalah suasananya yang alami dan kontemplatif.

Cukup lama kami di sini melepas lelah dan penat. Sambil mendiskusikan arah pulang, kembali ke parkiran motor yang lebih dekat. Rasanya jalan yang kami lalui tadi cukup membuat kapok. Mencari jalan alternatif saya katakan mempunyai konsekuensi. Jalan pulang bisa jadi lebih dekat. Bisa juga jadi jauh lebih jauh.

Mencari Jalan Pulang Alternatif di Curug Bangunsari

Mencari Jalan Pulang Alternatif di Curug Bangunsari

Saya dan Krismawati merupakan kakak adik yang mewarisi darah nekad dari kakek yang sama, Kakek Parto Omi. Stok keberanian (kenekadan) kami lebih dari cukup bila hanya untuk menerabas jalan alternatif.

Selamat melewati tangga dan tanjakan batu yang licin di sisi kiri Curug, apa saja kami terabas. Kami tidak butuh jalan untuk sekedar lewat. Semak, belukar, parit, ladang penduduk pun kami terabas. Pokoknya berjalan dan berjalan.

We are not a picnic-goer, but a Blusuk-er (icognito walker-about). Tame every obstacle is our nature, haha” Sssssst. Ini kata-kata penghiburan yang saya ucapkan agar adik saya tidak ngambek.

Selfie di Tengah Ladang

Selfie di Tengah Ladang

Mau menikmati keseruhan blusukan seperti kami?

 

Iklan

4 thoughts on “Mencari Persembunyian Curug Bangunsari

  1. Yang terpenting cerita perjalanannya ya mas 🙂
    Curug Bangunsari itu masuk ke dalam curug yang relatif masih sepi jauh dari hiruk pikuk liputan permedsos-an, nah itu yang dicari…. sepiii, sejuk, alami

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s