Jalan-Jalan ke Puncak Panguk dan Jembatan Gantung Selo Pamioro

Kabut dan Matahari Terbit di Puncak Panguk Imogiri Bantul

Kabut dan Matahari Terbit di Puncak Panguk Imogiri Bantul

Bagi saya, hari ini merupakan hari istimewa pada bulan Ramadan kali ini. Istimewa karena saya berhasil menahan kelopak mata dari godaan mengantuk sesudah subuh. Seingat saya, selama Ramadan kali ini saya baru 2 kali tidak tidur setelah subuh. Ini salah satu kisahnya.

Tentang kisah habis subuh yang pertama akan saya tuliskan kelak dalam posting terpisah. 😀

Apa yang sebenarnya membuat pagi tadi saya tidak begitu mengantuk adalah pemandangan kabut pagi di Puncak Bukit Panguk yang akhir-akhir ini menghiasi Instagram. Puncak Panguk merupakan destinasi baru yang sedang ngehit di kalangan anak-anak kekinian.

Bermaksud tidak kalah kekinian, pukul 5 lebih sedikit saya berusaha memacu sepeda motor ke arah Mangunan. Jalanan naik turun, banyak kelokan dan berkabut tentu saja membuat saya berkendara tidak begitu kencang. Apalagi lampu sepeda motor saya menggunakan LED yang kurang bisa menembus kabut.

Kabut dan Matahari Terbit di Puncak Panguk Imogiri Bantul

Kabut dan Matahari Terbit di Puncak Panguk Imogiri Bantul

Perlu waktu kira-kira setengah jam bagi saya untuk sampai ke desa Mangunan. Untuk sampai ke Puncak Panguk saya masih harus menuntaskan dengan menempuh jalan yang sempit dan turunan yang lebih curam sepanjang kira-kira 3.5 km.

Sesampai di parkiran  Bukit Panguk, rupanya kendaraan pengunjung sudah berjubel. Banyak sekali. Untung di sini parkir sepeda motor ditata rapi oleh Kelompok Masyarakat Wisata.

Saya pun segera berbegas ke gardu pandang. Menyusul pengunjung yang lain yang sudah sedari tadi menikmati kabut dan sun rise di sini. Sambil tergesa saya sekaligus heran. Heran dengan pagi yang rasanya lebih dulu terbit di sini.

Kabut dan Matahari Terbit di Puncak Panguk Imogiri Bantul

Kabut dan Matahari Terbit di Puncak Panguk Imogiri Bantul

Di Puncak Panguk ini telah dibuatkan beberapa gardu pandang. Kalau saya tidak salah hitung ada 4 gardu pandang. Sayangnya kesemuanya sudah penuh digunakan oleh para pengunjung untuk berfoto-foto. Bahkan banyak yang menunggu mengantri. Dan tidak sedikit yang ditunggu pun tidak tahu kalau masih banyak orang yang sama-sama ingin berfoto-foto di anjungan gardu pandang itu, hehe. Ini terasa Indonesia sekali.

Kalau saya lebih suka memotret matahari terbit dan kabut yang mengelantung di atas Sungai Oya. Kali ini saya tidak begitu mood untuk narsis di anjungan gardu pandang. Karena tidak cukup kesempatan. hihi

Sesi Foto di Anjungan Puncak Panguk

Sesi Foto di Anjungan Puncak Panguk

Kali ini saya memotret orang-orang yang berfoto-foto di anjungan Gardu Pandang Puncak Panguk saja. Rasanya lebih seru daripada foto selfie dilihatin banyak orang.

Menikmati pemandangan di Puncak Panguk sebenarnya hampir sama dengan menikmati pemandangan di Puncak Bukit Sri Panjung. Sama-sama melihat keindahan bumi dan langit Gunungkidul dari sisi Bantul, dari seberang Sungai Oya. Ibarat gajah di pelupuk mata tak tampak, maka saya perlu mengambil jarak untuk mendapatkan keindahan Gunungkidul pertiwi.

Surga  Foto di Anjungan Puncak Panguk

Surga Foto di Anjungan Puncak Panguk

Melihat-lihat pemandangan di Puncak Panguk sambil sesekali melihat Google Maps saya jadi ngeh akan posisi dimana saya berada.

Bila saya memandang lurus ke arah timur, itu kira-kira lurus ke arah Desa dimana saya tinggal, ke arah Desa Grogol, Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunungkidul.  Bila saya melihat ke sisi selatan saya tahu itu adalah Taman Wisata Watu Payung Geoforest. Tenggara di seberang sungai ada Bumi Perkemahan yang legendaris, yaitu Bumi Perkemahan Dung Wanglu Desa Banyusoca, Kecamatan Playen. Timur Lautnya ya kawasan Wisata Air Terjun Sri Gethuk.

Tata Tertib Pengunjung Puncak Panguk BantulTata Tertib Pengunjung Puncak Panguk Bantul

Tata Tertib Pengunjung Puncak Panguk Bantul

Puncak Panguk memang sebuah destinasi wisata alam yang baru yang dikelola oleh kelompok masyarat namun bagi saya meninggalkan kesan yang bagus dan mendalam. Kesan itu terutama dari bagaimana kebersihan di kawasan itu di jaga. Menurut saya Panguk merupakan salah satu destinasi bersih yang pernah saya kunjungi. Pentataan parkir yang bagus dan terarah serta keramahan pegutas/masyarakat pun sepantasnya diapresiasi.

Mencari Jembatan Gantung Selo Pamioro

Puas menikmati pemandangan kabut dan matahari terbit di Panguk, ya karena perlahan kabut mulai lenyap dihisap matahari. Saya jadi kepikiran untuk menuntaskan jalan-jalan Ramadan ini ke jembatan gantung. Jembatan yang sudah lama membuat penasaran. Jembatan yang terlihat dari Gardu Pandang Kebuh Buah Mangunan.

Jembatan Gantung Selo Pamioro Imogiri Bantul

Jembatan Gantung Selo Pamioro Imogiri Bantul

Menurut Google Maps, jarak jembatan gantung dengan Pucak Panguk hanya beberapa mil. Tapi saya harus lewat mana, ini menjadi pertanyaan. Apalagi pertamax di motor saya menipis. Jadi daripada mengambil resiko jalan yang kurang bersahabat, saya memilih melewati kota Imogiri, sekaligus mencari pengecer pertamax.

GPS di ponsel memang cukup handal digunakan untuk menemukan peta jalan. Hanya saja saya perlu mendengarkan GPS kedua sebagai pembanding. GPS kedua ini adalah Gunakan Penduduk Setempat. Menurut penduduk yang saya temui di lapangan Imogiri, jalan termudah menuju jembatan gantung Selo Pamioro adalah dengan melewati SMP N 2 Imogiri kemudian belok kiri. Tinggal mengikuti sampai ke ujung jalan (kira-kira 10km) maka di situlah jembatan gantung Selo Pamioro.

Aktivitas Penduduk Selo Pamioro Imogiri Bantul

Aktivitas Penduduk Selo Pamioro Imogiri Bantul

Saya merasa beruntung mengikuti saran penduduk yang saya temui tadi. Dengan melewati jalan yang rata bagus dan lurus ini, di sepanjangnya saya mendapat suguhan luar biasa. Suasana alam pedesaan yang asri. Persawahan yang menghijau, terasiring yang indah, kebun bawang merah, rumah penduduk yang khas, dan segala keramahannya.

Ini semua mengingatkan saya akan acara TVRI Jogja pada era 90-an, yaitu Mbangun Desa.

Motor pun segera saya letakkan di tempat parkir yang terdapat di sebelah utara jembatan gantung.  Parkiran yang seolah memberi tahu kalau yang penasaran dengan jembatan gantung itu bukan saya saja. Sepagi ini sudah ada banyak orang yang jalan-jalan mengunjungi jembatan gantung Selo Pamioro.

Jembatan Gantung Selo Pamioro Imogiri Bantul

Jembatan Gantung Selo Pamioro Imogiri Bantul

Tidak sabar rasanya ingin segera memotret jembatan gantung yang sepi. Sayangnya yang ingin foto-foto dengan jembatan ini bukan saya saja. Sekelompok remaja nampak berfoto-foto rauwis-uwis. Suka-suka mereka sih. 😀

Daripada menunggu dengan tak pasti, saya pun mencoba melihat-lihat di sekitar jembatan. Apa yang sangat menarik. Kebuh jati dengan balai balai bambu yang nampak bersih di sebelah selatan jembatan. Saya pun  menuju ke sana untuk kemudian turun ke sungai. Bermaksud melihat jembatan dari sisi berbeda sekaligus ingin menjamah air Sungai Oya ini.

Jembatan Gantung Selo Pamioro Nampak Bawah

Jembatan Gantung Selo Pamioro Nampak Bawah

Ada perasaan sejuk sekaligus rasa damai ketika saya di bahu sungai, duduk-duduk di hamparan batu kali dan pasir kali yang kesat. Melihat jembatan dari bawah ini mengingatkan saya akan masa kecil bermain-main di sekitar jembatan Prambutan di Desa saya atau ketika saya sedang sendirian memotret landscape di bawah jembatan Gedad, hehe.

Kali ini pun saya memanfaatkan kesempatan untuk bereskperimen, memotret dan mencoba-coba fitur Pano di iPhone saya. Hasilnya tidak begitu buruk, hehehe.

Narsisme di Jembatan Gantung Selo Pamioro Imogiri Bantul

Narsisme di Jembatan Gantung Selo Pamioro Imogiri Bantul

Akhirnya … Matahari yang meninggilah yang dengan sendirinya menghalau sekelompok remaja di atas jembatan tadi. Inilah giliran saya datang, haha. Sayangnya matahari yang meninggi membuat tingkat contrast naik. Cahayanya sudah tidak ideal lagi untuk memenuhi nafsu narsis saya.

Penjaga Kebersihan di Kebun Jati Selo Pamioro Imogiri Bantul

Penjaga Kebersihan di Kebun Jati Selo Pamioro Imogiri Bantul

Ibu-ibu ini merupakan orang yang selalu menjaga kebersihan di lingkungan kebun pohon jati di sisi selatan jembatan. Sehingga kesan yang ditinggalkan adalah seperti Puncak Panguk: bersih, tertata, rapi dan ramah.

Namanya bukan saya kalau tidak doyan mencoba hal hal baru. Termasuk mencoba jalan pulang yang lain. Merasa sudah cukup siang dan cukup jalan-jalan hari ini, kali ini saya pulang tidak mengikuti jalan yang tadi saya lalui. Saya ingin mencoba pulang lewat Desa Selo Pamioro, naik ke Panggang lewat Desa Nawungan dan belok kiri di Dusun Bibal. Dari sini saya bisa langsung pulang melalui Watu Payung Geoforest.

Memandikan Sapi di Sungai Oya

Memandikan Sapi di Sungai Oya

Lagi-lagi ini adalah keberuntungan saya. Ketika dari atas motor yang meniti jalan aspal di tepian sempadan sungai melihat orang memandikan sapi, saya pun berhenti dan mendekat ke sungai. Memotret foto-foto istimewa orang memandikan sapi ini.

Jaman saya anak-anak dulu, memandikan sapi seperti ini adalah keseharian kami. Sayangnya hal seperti ini sudah jarang dan hampir punah dari desa saya. Sehingga untuk mendapatkan pemandangan seperti ini saja harus melalui momen istimewa.

Anggap saja ini sebagai berkah Ramadan bagi saya.

Memandikan Sapi di Sungai Oya

Memandikan Sapi di Sungai Oya

Nah, benar apa kata saya tadi. Bila ditarik garis lurus ke selatan, Puncak Panguk dan Watu Payung Geoforest hanya berjarak beberapa km saja. Ini buktinya. Saya memotret Puncak Panguk dari pinggir jalan yang bersebelahan dengan Watu Payung Turunan Geoforet. Nampak kecil-kecil tapi jelas. Itu yang diseberang sungai Oya.

Puncak Panguk Nampak dari Watu Payung Geoforest

Puncak Panguk Nampak dari Watu Payung Geoforest

Secara keseluruhan jalan-jalan saya pagi ini ( 26 Juni 2016 ) cukup menyenangkan, namun belum sepenuhnya memuaskan. Saya harus ke sana lagi kira-kira ketika sedang tidak ramai pengunjung. Mungkin pada Week day yang cerah, bukan weekend seperti kali ini.

Iklan

11 thoughts on “Jalan-Jalan ke Puncak Panguk dan Jembatan Gantung Selo Pamioro

  1. Penasaran sama tempatnya. Ceritanya orang jogja yang belum mengenal semua wisata jogja. Hehehe. Besok pas balik ke Jogja coba saya kesana. Hitung-hitung untuk refreshing. Maturnuwun mas informasinya

  2. Ping-balik: Ramadhan, Pantai Drini, Indrayanti dan Pok Tunggal | Gadget, Running & Travelling Light

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s