Ramadan, Pantai Drini, Indrayanti dan Pok Tunggal

Selamat Pagi dari Pantai Drini - Gunungkidul

Selamat Pagi dari Pantai Drini – Gunungkidul

Selama kurang lebih sepekan pada awal Ramadan ini, ombak tinggi di laut selatan Jawa menyapu sepanjang sempadan pantai. Banyak fasilitas dan bangunan di sepanjang pantai selatan, terutama di Gunungkidul porak poranda. Sulit ditafsir berapa nilai kerusakan akibat ombak tinggi itu.

Ketika gelombang tinggi terjadi sebenarnya saya ingin ke pantai, melihatnya secara langsung. Sayangnya saat itu saya kesulitan membagi waktu. Saya kesampaian ke pantai setelah gelombang pasang usai. Tepatnya pada pagi hari, Minggu, 12 Juni 2016.

Tulisan saya kali merupakan pemenuhan janji saya di posting ini. Sekaligus bermaksud menceritakan pengalaman pertama saya tidak tidur sehabis subuh pada bulan Ramadan. 🙂

Destinasi pertama yang saya tuju pagi itu adalah Pantai Drini. Salah satu pantai yang menurut koran mengalami kerusakan cukup serius. 

Gazebo Gazebo Roboh di Pantai Drini - Gunungkidul

Gazebo Gazebo Roboh di Pantai Drini – Gunungkidul

Apa yang dikatakan koran-koran itu benar. Kedatangan saya di sana langsung disambut dengan banyak gazebo yang roboh. Sebagaian lainnya mengalami kerusakan. Dari kerusakan parah sampai kerusakan ringan. Serakan dan onggokan pun nampak belum dibersihkan dan belum ada tanda-tanda akan diperbaiki.

Perahu-parahu nelayan di Pantai Drini pun masih dalam posisi diborgol. Dalam arti diikat agar aman, tidak saling tabrak dan tidak terseret ombak yang mengejarnya sampai daratan depan Tempat Pelelangan Ikan. Meskipun ombak sudah relatif surut, saya perhatikan belum ada tanda-tanda nelayan akan melaut.

Merenungi Kebesaran Tuhan di Pantai Drini - Gunungkidul

Merenungi Kebesaran Tuhan di Pantai Drini – Gunungkidul

Namun entah kenapa keheningan Pantai Drini pasca ombak besar itu membawa “suasana baru”. Hamparan pantai yang nampak lebih halus, bersih dan tenang. Seolah ada kedamaian bersembunyi di sana. Sedikit-sedikit mau menampakkan diri mereka.

Di Pantai Drini mungkin ini cara alam untuk mengingatkan manusia akan apa saja batasan yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan oleh alam. Agar manusia tidak semaunya sendiri. Masing-masing mempunyai hak untuk diperlakukan seimbang dan setimbang.

Pantai Drini Gunungkidul, foto diambil 2 Ramadan yang lalu

Pantai Drini Gunungkidul, foto diambil 2 Ramadan yang lalu

Kalau foto di atas adalah foto Pantai Drini yang saya ambil kira-kira 2 tahun yang lalu. Foto yang masih saya temukan di Instagram saya, hehe.

Ingin meninggalkan pantai pasir putih ini, ada saja yang membuat saya tersenyum seorangan. Adalah yang saya foto ini:

Pantai Drini Peringatan Nyampah

Sehabis di Pantai Drini, inginnya saya mengajak adik saya, Krismawati ke Puncak Kosakora di sebelah timur pantai. Tapi urung. Adik saya yang satu itu tidak cukup tanggung untuk diajak mendaki ketinggian.

Pelan-pelan saya mengarahkan kendara ke arah timur. Saya ingin melihat apa yang terjadi di Pantai Pulang Syawal atau yang terkenal dengan nama Pantai Indrayanti.

Jejak-jejak yang ditinggalkan oleh gelombang besar itu sudah bisa dirasakan oleh roda sepeda motor saya ketika saya melewati jalan-jalan di Pantai Somadeng. Berupa pasir-pasir putih yang sampai menutupi aspal jalan.

Nampak beberapa orang, mungkin warga, yang membersihkan pasir pantai dari jalan aspal di sana. Kondisi jalan berpasir itu pun sampai di Pantai Indrayanti. Terbayang bukan, betapa perkasanya gelombang besar laut selatan.

Pantai Pulang Syawal (Pantai Indrayanti) Gunungkidul

Pantai Pulang Syawal (Pantai Indrayanti) Gunungkidul

Sedikit berbeda dengan Pantai Drini, pagi itu aktivitas di Pantai Indrayanti mulai menggeliat. Mungkin tidak baru saja. Lihat bekas tapak kaki manusia di sekujur pasir Pantai Pulang Syawal. Kelompok-kelompok orang berpiknik pun ada saya lihat. Mereka nampak menikmati.

Beberapa penjual makanan dan minuman pun saya lihat mulai menawarkan dagangannya kepada pengunjung.

Di Pantai Indrayani saya dan Krismawati tidak lama. Pantai Pok Tunggal adalah yang kami tuju berikutnya.

Sisa hujan semalam kami rasakan betul pagi itu di sepanjang jalan menuju Pok Tunggal. Hawanya segar. Menjadikan perjalanan yang enak dinikmati.

Pok Tunggal yang hening adalah antara yang kami syukuri atau kami sesali. Disyukuri sebagai anugrah. Disesali karena kerusakan nampak terjadi dimana-mana. Terutama kerusakannya yang berupa longsoran fasilitas yang dibangun di sana.

Tahu betul waktu terbaik menikmati Pok Tunggal adalah matahari tenggelam di petang hari, kali ini kami ingin mencoba menikmati Pok Tunggal dengan cara berbeda. Kami ingin menikmatinya dari Bukit Tanjung. Bukit yang persis di sebelah timur pantai. Coba hamparan Pok Tunggal terlihat seperti apa dilihat dari ketinggian.

Ke Puncak Tanjung bukanlah jalan yang mudah. Saya perlu meyakinkan adik saya untuk cukup kuat dan “berani” menaiki anak tangga demi anak tangga dan jembatan bambu yang nampak menantang adrenalin.

Menyebrangi Jembatan Bambu Menuju Bukit Tanjung - Pok Tunggal - Gunungkidul

Menyebrangi Jembatan Bambu Menuju Bukit Tanjung – Pok Tunggal – Gunungkidul

Di ujung anak tangga di Puncak Tanjung kami disambut kotak tak berpenunggu. Sebuah kotak sumbangan suka rela yang dipasang warga. Warga yang secara  swadaya membangun fasilitas di dan menuju Puncak Bukit Tanjung.

Seperti yang tertera, saya memasukkan selembar atau dua lembar uang seikhlasnya. Kemudian melanjutkan perjalanan naik.

Kawasan Bukit Tanjung nampak tertata. Relatif bersih pula. Fasilitas seperti gazebo, pedagang jajanan bahkan penginapan pun ada. Apa yang tidak boleh salah adalah gazebo-gazebo di sini kebanyakan berbayar. Duduk di bangku-bangku gazebo sudah dianggap menyewa. Tarifnya bila saya tidak salah adalah Rp 20 ribu per gazebo.

Hamparan Pantai Pok Tunggal  Dilihat dari Puncak Tanjung

Hamparan Pantai Pok Tunggal Dilihat dari Puncak Tanjung

Hamparan Pantai Pok Tunggal  Dilihat dari Puncak Tanjung

Hamparan Pantai Pok Tunggal Dilihat dari Puncak Tanjung

Hamparan Pantai Pok Tunggal Dilihat dari Puncak Tanjung

Hamparan Pantai Pok Tunggal Dilihat dari Puncak Tanjung

Hamparan Pantai Pok Tunggal Dilihat dari Puncak Tanjung

Hamparan Pantai Pok Tunggal Dilihat dari Puncak Tanjung

Sungguh, Puncak Bukit Tanjung adalah salah satu spot terbaik untuk mengagumi keagungan ciptaan Tuhan berupa laut selatan yang maha luas.

Tempat dimana kita ditemani burung camar bisa menatap samudra biru, melihat aktifitas nelayan berjuang dengan perahu perahunya (bila sedang tidak terjadi ombak besar).

Di sini saya membayangkan menikmati pagi di gazebo ditemani oleh secangkir teh atau kopi panas. Eh, ingat!!!! Sedang berpuasa.

Berlama-lama di tempat seperti ini akan membuat kami betah sampai kapan saja. Hanya seiring matahari yang membawa bayang setinggi penggalah, kami memilih pulang. Kapan-kapan lagi ke sini, ke Puncak Tanjung Pantai Pok Tunggal.

Iklan

10 thoughts on “Ramadan, Pantai Drini, Indrayanti dan Pok Tunggal

  1. Terakhir Ramadhan di Pantai Drini tahun 2013. Terakhir kali ke Pantai Drini tahun 2015 udah berubah banyak banget. Tapi memang kalau ke pantai pas Ramadhan lebih bisa menikmati suasananya, lebih syahdu. Mungkin karena lebih sepi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s