Sarang Burung Truwok Pindah ke …

Pohon Melinjo di belakang rumah saya ini biasanya sejak pagi sudah banyak burung kutilang dan trotokan yang nongkrong – nangkring berkicau. Tetapi tadi pagi burung – burung pekicau itu pindah tongkrongan. Tidak jauh sih. Masih di pepohonan lain di sekitar kebun milik keluarga.

Eksistensi burung Kutilang dan burung Trotok’an ini rupanya terusir oleh kehadiran sepasang burung Truwok –bahasa Jawa, entah apa nama burung ini dalam bahasa Indonesia– yang membuat sarang di pohon Melinjo. Saya tadi melihatnya dari balik Jendela kamar. Tidak lazim memang kalau burung ini bersarang di rerantingan pohon. Mereka terpaksa menyesuaikan diri karena tempat lama bersarang, di rerumputan di pematang – pematang sawah terusir oleh manusia. Rerumputan di pematang – pematang itu dibabat oleh Pak Tani untuk pakan ternak Sapi/Kambing.

Begitulah, satu habitant terpengaruh akan kemudian mempengaruhi habitant yang lain. Berikutnya dan berikutnya membentuk rantai berantau … πŸ˜‰

Posted with WordPress for BlackBerry via Telkomsel Network

Lampu Bangjo “Moderen”

Count Down Timer Equipped Traffic Light

Count Down Timer Equipped Traffic Light

Gambar di atas adalah apa yang saya maksud dengan Lampu Bangjo Moderen. Kata “Lampu Bangjo” memang kedengaran lucu, tetapi begitulah orang – orang di Gunungkidul dan Yogyakarta menyebutnya untuk menamai suatu Lampu Pengatur Lalu Lintas. Saya menyebutnya “Lampu Banjo Moderen” karena lampu pengatur lalu lintas ini telah dipercanggih dengan tampilan angka yang berhitung mundur menandakan sisa waktu kapan masih harus berhenti dan sampai kapan kendaraan harus terus berjalan. Penghitung angka mundur ini pada jaman saya masih belajar elektronika digital di sekolah di sebut, ya Pencacah Mundur, atau istilah menterengnya Count Down Timer. πŸ˜€

Foto di atas saya ambil siang ini di depan Gedung DPR D yang berhadapan dengan Kantor Pemda Gunungkidul. Dekat dengan Kantor Pos, kantor KUA, dan kantor – kantor pangembating praja yang lain.

Pemasangan Lampu Bangjo Moderen di down town πŸ˜€ kota Wonosari ini tentu akan mencitrakan kota Wonosari sudah canggih dan tidak ketinggalan dari Kotamadya atau Kabupaten lain yang sudah makmur dalam hal memberikan pelayanan kepada masyarakat pemakai jalan. Dengan melihat angka yang berhitung mundur, pelalu lintas bisa memperkirakan kapan harus bersiap menginjak rem dan kapan bersiap dengan hati – hati menginjak/memutar pedal gas. Biar lebih tertib, santun dan enak, gitu.

Walaupun pada kenyataannya para pengemudi yang budiman malah saling adu keras menyalakan klakson ketika digit merah mulai memasuki angka lima. Weleeeh – weleeeeh …

Tidak Ada Jadwal Ronda di Gardu Siskamling

Jadwal ronda untuk lingkungan RT yang saya tempel di Gardu/cakruk yang terletak di pojok rumah saya sekarang sudah tidak ada. Pasti lah. Saya menempelnya sudah 7 atau 6 tahun yang lalu. Sampai sekarang belum ada yang membuat jadwal ronda baru. Pak RT Tasiman belum menyuruh saya lagi untuk menjadwalkan para tetangga yang budiman untuk meronda Siskamling.

Selama beberapa tahun terakhir, mungkin Β 4 tahun-an, tidak ada lagi bapak – bapak yang main kartu gaple sambilan ngobrol ngobrol ngalor ngidul sebagai selingan meronda muter – muter lingkungan RT 23. Tidak ada bunyi kenthongan. Tidak ada ada lagi suara – suara toklik. Yang ada sekarang tinggal sekali – kali bunyi tokek yang berkicau. Sedang masa hiatus meronda RT 23.

Ketiadaan ronda siskamling di lingkungan RT saya itu, menurut saya, bisa ditafsirkan menjadi 2 kitab. Aliran positif menulis tafsir bahwa dalam beberapa tahun belakangan di lingkungan RT 23 Karangmojo B – Grogol, warga melihat tidak ada ancaman maling, kecu, ataupun begal sehingga keberadaan ronda dipandang tidak diperlukan. Sementara aliran negatif mengindikasikan bahwa terjadi penurunan kewaspadaan masyarakat akan pentingnya menjaga kamtibmas di lingkungannya. Sehingga diperlukan sebuah “insiden” untuk menggugah kembali rasa kewaspadaan berkamtibmas.

Mau berkiblat pada tafsir yang mana, baik aliran positif maupun negatif, saya serahkan kembali kepada pembaca yang budiman. Sekiranya mempertimbangkan aliran barupun saya turut mempersilakan. πŸ˜€

Gunungkidul Turun Kabut

Pagi ini turun kabut. Persawahan di dekat rumah saya jadi kelihatan lebih indah dari biasanya. Dominasi warna hijau, putih dan basah. Udaranya dingin. Seolah ingin membekukan segala ketergesa – gesaan saya menjadi kemalasan.

Dengan segenap kemalasan untuk memenuhi janji yang di set lebih pagi, saya melalui jalanan yang terhalang kabut sejak dari depan rumah, jalanan Paliyan, Playen, Sampai Wonosari. Kabut turun merata. Dari dalam Angkudes yang berjalan pelan yang saya tumpangi, saya melihat hampir semua kendaraan yang berlalu lalang menyalakan lampu. Ya. Karena jarak pandang hanya sekitar 30 meter. Tidak lebih dari 50 meter barangkali.

Kalau Β situasinya tetap seperti ini Pak Polisi tidak perlu cape – cape terus – menerus mengingatkan pengendara akan kebijakan Light On -menyalakan lampu siang hari. Peringatan alam, berupa kabut lebih disegani dan diindahkan banyak orang. πŸ˜€

Saat ini saya telah hampir satu jam sampai di pabrik. Hampir jam 08:00 WIB. Kabut belum beranjak. Enaknya Teh atau Kopi Panas?

Etika Memakai Gadget Pada Meeting

Pekan lalu, ketika ada ribut – ribut tentang penyalah-gunaan fungsi galaxy tab di gedung dewan yang terhormat, seorang teman senior saya nyeletuk, β€œKenapa sih man – temen di DPR dari partai XYZ, -secara teman saya ini big fan partai XYZ– ngga bikin kode etik agar tidak pakai henpon yang mahal – mahal. Secara mereka kan hanya perlu telpon sama SMS -an doang”

Menurut saya sih ngga ada salahnya seorang anggota dewan punya gadget mahal. Asal bisa menggunakan pada tempatnya. Dan meningkatkan produktifitas kerja. Bukan meningkatkan kepuasan syahwat saja.

Sebenarnya, seberapa etis sih menggunakan gadget saat meeting. Secara saat ini, yang bukan anggota DPR pun susah untuk pisah dengan gadget. Termasuk saya, tentu saja. πŸ˜€

Kalau tiba – tiba handphone mendering – dering ditengah – tengah meeting diikuti pembicaraan telepon, maka hampir semua orang menyepakatinya sebagai perbuatan asusila. Apalagi clang cling clang cling bunyi notifikasi email+chat client pada gadget. Baca lebih lanjut

Bocoran Soal Ujian Nasional SMA / SMK Tahun 2011 Beserta Kuncinya

Berbeda dengan tahun 2010 kemarin, Ujian Nasional ( UNAS ) tahun 2011 tidaklah “terlalu” menentukan kelulusan seorang siswa SMA dan SMK. Aturan mainnya sudah berbeda. Nilai Ujian Nasional / UNAS hanya memainkan sekian persen dari faktor penentu kelulusan.

Saya tidaklah senekad itu ingin membocorkan Soal Ujian Nasional dalam blog ini. Tidak. Maksud saya hanya ingin mencoba mencari tahu apakah siswa siswi SMA/SMK masih ketakutan berlebihan akan Ujian Nasional dan berusaha menggunakan segala cara. Bila dalam 5 hari ke depan posting ini mendapat aliran traffic yang tinggi atau nge-hit, artinya “segala cara” itu masih dicoba digunakan oleh siswa siswi.

Tapi bila tidak, bisakah disimpulkan kalau siswa siswi SMA / SMK sudah mengabaikan Ujian Nasional. Bukannya memang sudah “tidak” menentukan kelulusan mereka. πŸ˜€ Minggu depan, kalau tidak lupa, angka hit dari posting ini akan saya terbitkan. Pastikan anda stayed tune di blog ini bila tertarik pada topik Ujian Nasional.

Jadi anda ingin download soal ujian nasional SMA / SMK 2011 ?

Posted with WordPress for BlackBerry via Telkomsel Network

Produk Refill : Mengurangi Sampah Plastik?

Pernah me-refillΒ cartridge printer? Sering ya πŸ˜€ Harga cartridge printer memang kelewat mahal dibanding dengan beberapa kali mengisi ulang dengan tinta refill. Bahkan ada yang jualan tinta refill dalam kemasan botol. Untuk ukuran saya, me-refill cartridge printer itu sangat menghemat duit.

Lain cerita, Β beberapa bulan yang lalu saya tertarik Β membeli isi ulang sabun cair, Vas*l*nm*n. Sebenarnya harganya tidak banyak berbeda dengan yang non refill. Kira – kira selisih 25%. Tidak banyak memang. Kemasan sabun cair itu sampai saat ini sudah 3 kali saya refill. Alasan saya me-refill itu sebenarnya cukup mulia, kalau bukan karena ikut-ikutan trend termakan iklan lingkungan hidup, yaitu untuk mengurangi sampah botol plastik.

Tetapi setelah saya pikir – pikir kok apa yang saya lakukan itu tidak cukup ber-efek. Toh kemasan plastik sabun cair untuk refill itu Β akan segera berakhir di tempat sampah … πŸ˜€

BTS Telkomsel di Desa Grogol On Air : Semoga Migunani Bagi Masyarakat

Sinyal Telkomsel di kampung tiba2 full. Begitu tadi pagi Nurdin memberi tahu saya melalui twitter. Dalam perjalanan pulang tadi saya telah melihat Antenna sudah terpasang di site BTS Telkomsel di sebelah barat Pasar Desa Grogol. Sesampainya di rumah, saya segera melakukan beberapa kali test dengan ponsel. Print Screen dari signal loc dan speedtest saya taruh di bagian bawah posting ini. Baca lebih lanjut

Ruang Untuk Difabel di Hati Orang Jogja

Saya baru saja melihat pemandangan bagus yang terjadi mulai di shelter TransJogja Terminal Giwangan. Seorang difabel, tuna netra diantar laki laki mengenakan seragam warna biru DLLAJ Dinas Perhubungan memasuki shelter dari pintu keluar. Bukan dari pintu masuk yang ada ticketing gate -nya. Petugas shelter trasJogja buru buru dengan ramah menanyakan kemana bapak bapak difable itu akan menuju dan menerima pembayaran ongkos bis transjogja. Pak Tuna Netra dipersilakan dan dibantu duduk di kursi yang kosong di dalam Halte. Kemudian penumpang lain mempersilakan Pak Difable dengan dibantu, menaiki bus dan duduk di kursi. Beberapa saat kemudian seorang ibu – ibu penumpang lain yang duduk di samping pak difable menyapa dan segera terjadi cakap – cakap akrab. Pemandangan ini ditutup dengan petugas trasJogja membantu pak Tuna Netra turun di shelter tujuan.

Estafet empati ini akan diteruskan oleh petugas shelter dan orang – orang Jogja berikutnya yang akan ditemui pak Difable. Ya begitulah orang – orang jogja berperilaku terhadap sesama. Aweh tetulung marang sapodo – podo. Perlindungan hak dan kesetaraan bagi difable. Meskipun sering kali kursi – kursi di Bus transJogja penuh sampai penumpang berdiri bergelantungan, masih ada cukup luas ruang bagi Difable di hati orang – orang Jogja.

Jauhkan Anak – Anak dari Topeng Monyet!

Saya tidak suka dengan atraksi Topeng Monyet. Β Kenapa? Orang yang mengeksploitasi monyet untuk mengais recehan, menurut saya tidak berperi-kehewanan. Mereka merampas hak dan kemerdekaan monyet untuk hidup nyaman dan berkembang biak dengan bahagia di habitat aslinya. Monyet – monyet yang sudah ditopeng-monyetkan seperti ini tidak mudah/hampir mustahil untuk bisa dikembalikan untuk hidup normal di habitat asli mereka.

Lebih biadab lagi, atraksi topeng monyet ini lebih sering disajikan sebagai tontoanan anak – anak kecil. Artinya secara tidak langsung, tetapi efektif untuk mendidik anak – anak kita untuk memperlakukan binatang sebagai barang mainan semata. Bukan sebagai makhluk yang mempunyai hak untuk hidup damai dan berbiak dengan bahagia. Atraksi topeng monyet seperti ini beberapa waktu lalu membuat saya merasa berang dan mengumpat dalam hati, “Rasain kalau si Abang Topeng Monyet itu diculik Alien dan ditopeng-monyetkan di galaxy antah barantah” 😦

Gambar dipungut dari sini