Friday The 13th (2009)

Malam ini saya tidak perlu keluar rumah kecuali ada sesuatu yang sangat genting. Memastikan pintu kamar dan jendela terkunci rapat – rapat. Taruh golok di tempat yang mudah diraih pada saat mendadak terjaga dari tidur. Jangan matikan lampu kamar. Atur speed dial pada ponsel untuk menghubungi kantor polisi terdekat. Jangan – jangan Jason nyerang saya. Hiiiiiiiy. Status siaga SATU.

Kewaspadaan, kalau tidak boleh dibilang paranoid berlebih yang mendadak muncul sebagai hikmah dari nonton Friday The 13th.

Dalam film ini, Marcus Nispel, sang sutradara, berhasil memompa detak jantung dan mengobok – obok rasa jijik dengan mempertontonkan pembunuhan demi pembunuhan secara vulgar. Saya sudah merasa muak duluan pada adegan Whitney, Mike, Richie, Amanda dan Wade terbunuh secara misterius tanpa sisa.Dari sini saya sudah mual mau muntah dan hilang akal seolah – olah saya ingin segera berhenti menonton.

Bisa jadi anda akan menggerutu seolah saya terlalu mual berlebihan nonton Friday the 13th. Ya! Saya memang hampir tidak pernah suka nonton film ber-genre horor. Saya tidak suka sadisme, horor dan tahayul. Saya nonton film ini hanya karena ingin mengingat degdegan nonton serial tv dengan judul sama pada era 90-an, semasa saya masih SD. Friday the 13th adalah film tersadis vulgar setelah pada sekitar tahun 2000-an saya pernah nonton I still remember what you did last summer. Tetapi kayaknya film ini tetap yang tersadis yang menjadi polusi di benak saya. Keindahan panorama Crystal Lake sebagai setting cerita seakan sama sekali tidak membekas.

Apakah Jared Padalecki, Amanda Righetti, Danielle Panabaker dkk bermain bagus dalam film ini. Entahlah, sekali lagi saya hanya ingat golok yang menancap di dahi, leher terbabat, kapak melesat, leher tertusuk, darah, darah dan darah, hiiiiy …

Apabila anda pecinta film horror, nampaknya saya perlu mendengar pendapat dari Anda. Tetapi bila anda bernyali ciut dan ngga tahan dengan pameran sadisme dalam pace yang cukup cepat, sepertinya anda perlu dampingan kawan anda yang sudah dewasa.

Sangat berbeda dengan serial Friday the 13th yang tayang di TVRI pada era 90 -an, Friday the 13th (2009) sangat tidak layak untuk dijadikan tontonan di ruang keluarga. Bukan melulu pertontonan pembunuhan tak kenal segan, adegan sex pun ditampilkan tanpa malu – malu …

Rating? Saya memberi 4 bintang dari sekala 0 – 10.

Posted with WordPress for BlackBerry.

One thought on “Friday The 13th (2009)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s