Sunset di Puncak Tertinggi Gunungkidul, Seelok Apa?

Tak terasa pekan ini berlangsung begitu cepat. Sekarang sudah akhir pekan. Saatnya (menulis tentang) jalan-jalan. Hayuuk. Siapa yang akhir pekan ini ingin pergi ke gunung menjenguk senja?

“Nampaknya cuaca hari ini bagus. Nanti jadi ke Embung Sriten. Wish sunset would show off” Ajak teman saya, Pran.

“Hayuk, jamber? Jam 4?” Tanya saya.

“Jangan, habis shalat Ashar langsung berangkat. Takutnya sampai sana kesorean” Pran, menegaskan.

“Siaaaap!” Rabu siang itu saya sangat bersemangat. Cuaca Selasa sore yang bergelimang mendung tak bersahabat yang membatalkan rencana kami sunset -an di Embung Sriten-Gunungkidul, kekecewaannya akan, akan segera terbagi.
image

Menikmati sunset dari Puncak tertinggi di sisi utara pegunungan seribu di Gunungkidul bagi saya sangatlah istimewa. Betapa tidak, Embung Sriten merupakan semacam kolam raksasa yang terletak di alam terbuka di ketinggian 898 mdpl. Terbayang bagaimana bias-bias senja menghamparkan warna keemasannya.

Ingin memaksimalkan pengalaman “mencari senja di Embung Sriten”, Baca lebih lanjut

Mau Lebih Hemat Membeli Bluetooth Headset secara Online?

Pada kesempatan-kesempatan sebelumnya saya telah menceritakan pengalaman-pengalaman menikmati konten multi media dari sisi pribadi dengan menggunakan perangkat-perangkat gadget pribadi saya pula. Tengok cerita saya di sini atau di sini.

polytron

Puas dengan menikmati film, musik, podcast dan konten multi media lainnya dengan menggunakan gadget pribadi yaitu tablet dan smartphone, rasanya pada kesempatan berikutnya saya ingin membawa pengalaman tersebut ke tingkatan yang baru. Pada tingkatan tersebut, saya ingin menikmati konten multimedia dengan tingkat kualitas audio yang lebih baik dan bebas belitan kabel atau secara wireless.

Singkatnya saya menginginkan sebuah bluetooth wireless head set dengan kualitas suara high fidelity (hi-fi) yang saat ini belum saya punyai. iPhone 5s hanya menyertakan earpod berkabel yang meskipun kualitas suaranya cukup baik namun koneksi kabelnya seringkali merepotkan dan ketika mengenakannya saya menjadi nampak tidak fashionable. Apalagi Asus Zenfone dan Asus Zenpad yang saya miliki, keduanya bahkan tidak menyertakan headset/earpod dalam paket penjualan yang saya terima.

Mau tidak mau saya harus membeli lagi perangkat bluetooth wireless headset secara terpisah. Baca lebih lanjut

Menikmati Konten Multimedia dengan ASUS Zenpad 7.0 Z370CG

Menjelang liburan pergantian tahun ini hadir anggota baru di keluarga gadget di rumah saya. Anggota keluarga baru itu adalah ASUS Zenpad 7.0 Z370CG. Seperti yang telah saya ceritakan dalam tulisan saya terdahulu di sini, tablet baru ini telah saya setup dengan mudah dan cepat sehingga bisa segera saya gunakan untuk menemani liburan akhir tahun yang akan lebih banyak saya habiskan di rumah. Alhamdulillah, anggota baru ini mampu membawa warna tersendiri bagi masa liburan saya.

wp-1451961545980.jpegNah, kali ini saya akan menceritakan keseluruhan pengalaman saya menikmati konten multimedia dengan tablet berlayar 7.0″.

Dalam paket penjualan yang saya terima ASUS Zenpad 7.0 Z370CG dikemas dengan menyertakan sebuah Audio Cover. Ini menurut saya istimewa karena biasanya perangkat asesoris dijual dalam paket terpisah. Sebuah charger 3A 5V pun tak luput disertakan dalam paket penjualan tablet ini. Memang tanpa power charger, tablet ini mau di-charge menggunakan apa? hehe. Sayangnya, earphone/headset untuk menikmati konten audio secara lebih personal luput tidak disertakan dalam paket. Ini mungkin gaya ASUS, karena di Zenfone yang legendaris pun tidak pernah menyertakan headset/earphone dalam paket penjualannya.

Saya membeli kartu perdana XL paket 2 GB untuk saya pasang di tablet ini. Agar nanti saya mudah memasang aplikasi-aplikasi yang saya butuhkan. Sebuah micro SD card berkapasitas 32 GB class 10 merk Trancend saya beli dari toko asesoris terdekat di kota saya. Saya ingin ruang penyimpan yang leluasa untuk menampung konten-konten multimedia yang ingin saya nikmati.

Untuk memasang SIM Card dan SD Card saya harus terlebih dulu membuka back cover. Ini harus dilakukan dengan cukup hati-hati karena pengait di back cover terasa sangat kuat ketika saya coba menyisirnya dengan kuku jempol saya. Memasang SIM Card dan SD Card -nya sendiri bisa dilakukan dengan cukup mudah. Apa yang terpenting diperhatikan adalah gambar penunjuk arah di masing-masing slot SIM maupun SD. Awas jangan terbalik. Toh kalau terbalik kedua kartu ini tidak akan bisa masuk dengan baik.

Penasaran dengan kualitas suara yang dibawa oleh Audio Cover, kali ini Cover ASUS Zenpad ini segera saya pasang menggantikan back cover bawaan. Sedikit catatan saya adalah bahwa Audio Cover harus dipasang secara cermat dengan hati-hati. Pasang dengan mulai memasukkan pengait di sisi bawah, kemudian berturut-turut dirapatkan dibagian atas. Tekan dengan lembut sampai terdengar bunyi “klik”.

Baca lebih lanjut

5 Tips Memilih Operator Seluler Untuk Smartphone

opselBeberapa teman saya heran dan sering bertanya-tanya kenapa saya menggunakan beberapa operator seluler sekaligus. Apa tidak ribet? Pertanyaan berikutnya kenapa saya tetap memakai layanan operator seluler pasca bayar dari operator pelat merah yang terkenal paling mahal itu.

Jawaban saya untuk pertanyaan pertama adalah: karena saya mempunyai beberapa gadget. Kalau saya hanya punya satu gadget pasti saya hanya akan menggunakan layanan dari satu operator seluler. Benar ngga? Keuntungan menggunakan beberapa operator seluler yang berbeda-beda adalah bila satu operator sedang mengalami gangguan, saya akan tetap bisa eksis dengan operator yang sedang tidak gangguan. Semua gadget saya mempunyai fitur portable hotspot/tethering yang sangat memudahkan.

Jawaban untuk pertanyaan kenapa saya setia menggunakan nomor pasca bayar dari operator pelat merah (Telkomsel) yang terkenal mahal adalah: karena nomor itu sudah lama saya gunakan. Mengganti nomer handphone utama bagi saya ibarat membakar investasi dan branding yang sudah puluhan tahun saya semai. (1) dan Operator ini mempunya coverage area tak tertandingi. Jadi kemana pun saya bepergian kemungkinan blank spot nya lebih minim. (2)

Berikut ini adalah tips-tips dari saya tentang memilih operator seluler untuk koneksi internet gadget-gadget kita. Saya percaya sekarang ini setiap satu orang mempunyai lebih dari sebuah gadget.

1. Posisi Menentukan Prestasi

Kenali lokasi kita tinggal. Kenali daerah dan lokasi dimana sehari-hari kita beraktifitas baik itu kantor, pabrik, atau tempat favorit dimana kita asyik mengerjakan pekerjaan kita (bagi freelancer).

Di lokasi-lokasi dimana kita lebih banyak beraktifitas, kenali operator apa saja yang sinyalnya di situ bagus. Bagaimana caranya? Anda bisa mengamati operator apa saja yang digunakan oleh rekan-rekan, kolega dan orang-orang di sekitar Anda. Tanya dan amati operator apa saja yang sinyalnya bagus dan koneksi internetnya cepat dan stabil. Bila cara ini belum memuaskan, pergilah ke counter pulsa/simcard, mintalah rekomendasi dan beli beberapa simcard dari operator yang berbeda sekaligus. Ujilah masing-masing operator dengan beberapa skenario, misal untuk melakukan panggilan, untuk SMS, untuk browsing, untuk streaming, untuk download, chatting dan sebagainya. Lakukan hal itu di beberapa tempat berbeda dan dalam rentang waktu yang berbeda. Operator seluler tertentu bagus untuk koneksi internet pada siang hari dan buruk pada malam hari, dan sebaliknya.  Baca lebih lanjut

4 Hal Menarik di Puncak Green Village Mertelu, Gedangsari-Gunungkidul

Bisa dibilang jalan-jalan saya kemarin sore ke Puncak Green Village yang terletak di Desa Mertelu, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta adalah sebuah perjalanan tanpa rencana. Puncak Green Village menjadi ide spontan ketika siang harinya saya ngobrol sambil wedangan di rumah dengan Maryanto, Yuliarto dan Teguh. Puncak di Desa Mertelu ini menjadi pilihan pada hari Sabtu yang memang seharusnya masih menjadi bagian liburan pergantian tahun ini.

image

Alasan utama kami ke puncak ini sebenarnya adalah potensi kemacetan di jalan-jalan menuju pantai selatan dan ke spot-spot wisata yang lebih dulu terkenal seperti Goa Pindul dan Sri Gethuk. Alasan pendukungnya adalah karena kami belum banyak mengeksplorasi (baca: memotret) sisi menarik di sebelah utara pegunungan seribu ini.

Kira-kira pukul 16:00 WIB kami berangkat dengan berkendara sepeda motor matic. Tentu saya membuka Google Map sebelum berangkat ke sana. Ada dua alternatif jalan yang bisa dilalui bila kami berangkat dari kec. Paliyan. Melalui arah Gading-Sambi Pitu-Gedangsari nampak lebih dekat. Namun Google Map memberi warna merah di sekitar pertigaan Gading. Artinya ada kemacetan. Mengingat ruas ini adalah jalan utama dari luar kabupaten. Mau tidak mau kami memilih jalan memutar dengan melewati Siyono-Wonosari-Nglipar-Gedangsari.

Perjalanan sore itu kali lewatkan dengan santai. Sore habis hujan melewati jalan berkelok yang di kiri kanannya terbentang sawah dan pepohonan yang menghijau yang menyelimuti bukit-bukit kapur akan terlalu sayang dilewatkan dengan ketergesa-gesaan. Dengan kecepatan rata-rata 40 km/jam kami tiba di Green Village sudah jam 17:00 WIB lebih. Kecepatan kami pastinya kurang dari itu. 8 km terakhir yang kami lalui adalah jalan corblok yang bersambung jalan berbatu. Pastinya tidak nyaman ditempuh oleh pemotor matic seperti kami.

Kami pun segera memarkir motor di pelataran parkir, membayar tarif parkir Rp 3000,-/motor dan tak lupa “melepas beban” ke toilet yang baru saja dibangun bersebelahan dengan pelataran parkir.

Tidak jauh dari pelataran parkir ini sudah ada banyak penjual aneka jenis minuman seperti air mineral, teh botol, minuman berkarbonasi, makanan ringan dan lain-lain. Saran saya belilah minuman dan makanan ringan secukupnya sebelum menuju puncak Green Village. Saya kira di atas sana kita akan betah berlama-lama sedangkan di atas sana tidak ada orang berjualan.

Sebenarnya apa saja sih 4 Hal Menarik di Pucak Green Village yang ingin saya bagikan? Ini:

1. Selfie dan Orang-Orang Berselfie

Di sepanjang jalan setapak dari pelataran parkir menuju Puncak Green Village saya terpesona dengan banyaknya orang-orang yang berfoto selfie. Keriangan dan wajah-wajah ceria mereka, saya tidak peduli apakah keceriaan mereka tulus atau dibuat-buat, bagi saya ini menunjukkan optimisme di awal tahun.
Baca lebih lanjut

One Last Sunset of 2015 & Pantai Kesirat – Gunungkidul

Masih ingat dengan Pantai Kesirat yang terletak di kecamatan Panggang kabupaten Gunungkidul Yogyakarta yang saya tulis pada bulan Ramadhan tahun lalu?  Bila sudah lupa silakan baca lagi tulis saya terdahulu di sini. Namun tanpa membaca tulis lama saya pun saya rasa sunset penghujung tahun yang akan saya post di sini pun saya rasa tidak kurang menarik.

Siang tahun lalu (baca: siang hari tanggal 31 Desember 2015), ini sih kemarin,  awan nampak bergerombol di langit Gunungkidul, tapi sampai Azhar tidak hujan. Cuaca bagus. Saya rasa ini adalah akhir tahun yang bagus untuk memotret sunset.

Angan angan saya untuk memotret senja di Pantai Kesirat seperti yang saya tuliskan dulu bisa saya eksekusi hari itu. Tidak apa apa meski saya hanya berbekalkan kamera ponsel. Iphone lawas 5s dan sebuah Asus Zenfone.

Karena kebetulan saudara saudara saya sedang ngumpul di rumah,  ada adik saya dan kakak anak dari pakdhe sedang liburan akhir tahun, saya pun mengajak mereka untuk menikmati senja terakhir di tahun 2015 lalu. Senangnya mereka tanpa basa basi mengiyakan ajakan saya. Kami bertiga pun menuju pantai dengan mengendarai sepeda motor. Meniti jalan yang naik turun berkelok apalagi 5 kilometer sebelum pantai merupakan jalan cor blok yang diujungnya terdapat turunan ekstrim benar-benar memacu adrenalin kami.

Sesampai di pantai yang biasanya sepi pengunjung, rupanya menjelang malam pergantian tahun ini banyak sekali orang yang ingin menikmati malam pergantian tahun di alam. Nampak banyak yang mulai dan sudah mendirikan tenda. Nampak pula banyak orang berfoto foto bersenjatakan tongsis. 

Saya pun,  dan tentunya kedua saudara saya tidak mau ketinggalan memotret apa saja.

Pemandangan pantai kesirat sore itu memang bagus. Terpapar sinar matahari air laut nampak kuning keemasan.  Sinar matahari menjelang senja yang lembut membuat rumput rumput yang mulai menghilang di awal musim hujan ini nampak lebih indah.

Nah,  ini foto foto yang saya jepret kemarin sore dengan ponsel.

image

Baca lebih lanjut